4 Sebuah Kecemasan

1743 Kata
Yuni merasa tidak bisa bergerak. Terlihat kilauan sebuah benda yang terbuat dari logam diterpa sedikit sinar matahari. Ia ingin menjauh dari benda itu. Tapi, usahanya gagal. Benda itu, semakin lama semakin mendekat. Ada yang berusaha menakuti dirinya dengan benda tajam tersebut. Perlahan benda tadi seperti akan melukai lehernya. Bukan, ternyata ia salah. Yang dilukai adalah urat nadi di pergelangan tangannya. "Jangan, hentikan, aku nggak mau ada bagian tubuhku yang terluka. Stoppppp!!!!! Ibuuuuuu, tolong aku! Aku nggak mau berakhir." Yuni berusaha menyeret kakinya yang tiba-tiba kaku. Ia tak bisa bergerak cepat seperti biasa. "Kamu akan aku lenyapkan," ucap pria asing di hadapannya. Pria yang membawa benda menakutkan itu. "Tidakkkkkkkkkk," teriak Yuni semakin kencang. Yuni terbangun. Ia baru sadar jika apa yang barusan terjadi adalah sebuah mimpi. Ada peluh yang membuat dirinya tak nyaman. Segera ia bangun. Diminum segelas air agar lebih tenang, kemudian berlalu ke kamar mandi. 'Mimpi apa aku barusan. Kenapa mimpi tadi seperti nyata,’ batin Yuni. Ia mencuci wajahnya di wastafel. Kemudian bercermin dan melihat pantulan baju seragam cleaning service yang akan digunakan besok di gantungan pintu yang ada di di belakangnya. Tiba-tiba baju yang tergantung itu jatuh. Seperti ada sekelebat bayangan yang menjatuhkannya dengan cepat. Bayangan putih yang berjalan seperti kilat. Yuni berusaha memperhatikan. Ia mendadak merasa pening dan ingin rasanya pingsan. Namun, dicegah keinginan itu. Sebisa mungkin ia menguatkan diri untuk berdiri dan memutar tubuh berjalan menuju baju yang terjatuh tadi. Tangannya semakin bergetar, ia sentuh dan diambil perlahan baju tadi. ‘Kenapa? Ada apa dengan baju ini? Kenapa tiba-tiba jatuh? Apa mungkin jatuh sendiri. Terus apa yang ku lihat tadi. Mungkinkah itu cuma ilusi. Ahhh, yang benar saja.’ YUni berbicara sendiri dalam hati. Ia tak mengira dalam sekejap kepalanya jadi semakin berat. Dikembalikan baju tadi ke tempatnya. Ada bagian hati mengatakan, seperti ada yang melihat dari salah satu sudut ruangan yang sedang digunakan Yuni itu. ‘Nggak ada apa-apa. Mimpi cuma bunga tidur. Sekarang aku lebih baik tidur lagi. Nggak baik kepikiran mimpi yang mungkin cuma kebetulan.” Yuni berusaha menguatkan hatinya. Dihilangkan segala pikiran buruk yang baru saja menghantui tiba-tiba. .. Pagi datang dengan caranya yang sudah diatur Tuhan. Pemandangan langit perkotaan yang jingga dengan kumpulan asap hitam terlihat pagi ini. ‘Itu pasti yang namanya asap pabrik,’ batin Yuni di teras kamarnya. ‘Beruntung aku nggak kerja di sana.’ Ia pun turun dari tangga kamar kos. Menuju tempatnya mengikat tali sepatu untuk mulai berangkat kerja. Ada yang aneh, setiap ingatannya muncul tentang kampus di mana Yuni bekerja. Bayangan pria yang ada di dalam mimpinya semalam selalu datang. Dengan membawa benda tajam yang selalu membuat Yuni takut. ‘Apa mungkin itu hantu di kampus ya. Tapi, kenapa dia datang dan mau membu,’ batin Yuni yang tak ingin melanjutkan kata-katanya sendiri. Ia terlalu takut untuk kembali memikirkannya. .. Selangkah demi selangkah, Yuni akhirnya tiba di kampus keperawatan, tempatnya bekerja. Sedikit pun, ia tak bisa lupa dengan mimpinya semalam. Ingin rasanya ia bercerita. Namun, ketakutan seketika merajai hatinya. Lidahnya keluh untuk berbicara tentang hal tersebut. “Ahhh sial, otakku jadi nggak bisa berpikir waras.’ gumam Yuni sambil mencari teman kerjanya. Suasana kampus masih sangat sunyi. Sepertinya, ia terlalu pagi untuk datang. Diperhatikan pos satpam tak ada siapapun di sana. Yuni jadi berpikir buruk lagi. Ia sebenarnya tidak ingin sendirian. Sekeliling, angin bertiup begitu sejuk. Ada aroma yang kembali muncul. Terhirup mengganggu pernafasannya. Tidak membuat sesak. Tapi, itu cukup membuat diri seorang Yuni merasa ngeri dan merinding. Aroma melati yang sempat tercium olehnya saat pertama kali datang ke sini. Padahal, ia sudah melupakannya. Namun sekarang tanpa diingat, aroma harum khas bunga itu muncul tanpa diketahui dari mana asalnya. Yuni menutup hidungnya. Ia mencoba mencari oksigen yang lain. Di saat yang bersamaan, sebuah tangan menyentuh pundak begitu mengejutkan. “Hah!” Yuni terkejut. Ia langsung memutar tubuhnya mencari tangan siapa yang menepuk bahu miliknya. “Kamu, kenapa ngagetin sih?” Yuni tampak tersengal-sengal nafasnya. Ia seperti bukan Yuni yang biasanya selalu ceria. Bibirnya terlihat pucat. Matanya yang biasanya berbinar ceria. Agak sedikit terlihat lelah. “Kamu kenapa Yun?” tanya Bima yang ternyata bertugas menjadi satpam sejak kemarin malam. “Lain kali jangan bikin aku terkejut ya Bima. Perasaanku lagi nggak enak.” Yuni mengatakannya tanpa mau melihat Bima yang tampaknya merasa cemas. “Aku nggak ngagetin kamu. Kamu dari tadi diam bengong di sini. Aku kan jadi heran lihatnya. Kamu kenapa sih? Kalau sakit, kenapa nggak ambil cuti. Istirahat di rumah.” Yuni menarik nafas cukup dalam. “Aku nggak mau gajiku dipotong! Lagian aku juga nggak lagi sakit." Tak lama kemudian, Riyan datang dengan Varo. Yuni melihatnya dengan penuh penasaran. “Kok cuma berdua. Mana Imas?” tanya Yunu setibanya Riyan dan Varo ada di dekatnya. “Hari ini, dia nggak masuk. Katanya sakit. Jadi, hari ini, kita bagi tugasnya Imas buat kita bertiga,” terang Riyan. .. Tanpa peduli dengan apa yang akan terjadi. Karena Yuni sendiri tak mau mengingat mimpinya semalam sebagai pertanda apa. Yang paling penting, sekarang ia harus bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Beberapa menit yang lalu. Saat Riyan membagi tugas pada Varo dan Yuni. Yuni mendapatkan bagian untuk membersihkan ruangan rektor baru, ruangan Pak Haris. Dengan santai dan tenang, ia bersihkan perlahan ruangan itu. Namun, saat tangannya begitu lincah mengelap meja rektor tersebut. Tanpa sengaja tangan tersebut menyenggol foto keluarga Pak Haris. Alangkah sakit, hatinya melihat keharmonisan keluarga itu. Lengkap sekali anggota keluarganya. “Haris, enak banget kamu. Udah punya satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Terus, apa kabar denganku?’ batin Yuni. Dalam sekejap, gadis itu berusaha menghilangkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ia tak sadar dengan bibirnya yang baru saja mengucapkan kalimat yang tak masuk akal seperti barusan. Ia mengucapkan kalimat tadi seperti bukan dirinya. “Ada apa sih sama aku. Kenapa aku jadi begini.” Yuni merasa semakin bingung. Disaat yang bersamaan kedua netranya menangkap sesuatu di atas meja. Sebuah dompet berwarna coklat tua, terbuat dari bahan kulit. Yang pasti menurut Yuni, harganya cukup mahal. Tampak tergeletak di atas meja. Yuni tertarik, ia pun meraih dan melihat isi dompet tersebut. Sebuah kartu identitas ada di sana. Entah dorongan dari mana. Yuni tanpa ragu mengambil kartu tersebut, membacanya dengan teliti tanpa peduli benda itu bukan miliknya. Seketika matanya terbelalak. Ada foto begitu cantik dengan senyum yang memikat. Yuni merasa kagum untuk beberapa detik. Namun, saat kedua matanya kembali membaca lebih jauh lagi, ada hal yang yang tak kalah mengejutkan. Ternyata identitas tersebut memiliki tanggal lahir yang sama dengan dirinya. "A … apa-apaan ini. Kok tanggal lahirnya sama denganku." Yuni tiba-tiba merasa tegang. Ia merasa dirinya ada yang mengawasi. Diwaktu yang bersamaan, samar terdengar suara panggilan dari jauh. Memanggil nama Yuni. "Si ... siapa di situ?" Yuni merasa takut. Kedua matanya langsung menyapu ke seluruh ruangan. Adakah orang selain dirinya di situ. Tiba-tiba, ada yang membuka pintu ruang rektor tempat Yuni sedang bekerja. "Yuniiiii!!!!" panggi Riyan bersamaan dengan dirinya membuka pintu. Yuni merasa begitu terkejut. Ia yang tidak tenang dan sedang tidak fokus, sontak menjatuhkan dompet yang dipegangnya tadi. Dompet itu kemudian tergeletak di lantai. Dalam keadaan berceceran. "Eh, Riyan," sahut Yuni. Yuni tampak pucat. Ia merasa ketakutan. Selain itu, dirinya juga cemas jika kelancangannya karena membuka dompet dengan sembarangan akan ketahuan Riyan. 'Lebih baik aku bereskan nanti dompetnya,' batin Yuni. "Kamu kenapa? Kok kelihatan terkejut banget." Riyan berjalan mendekat. Ia terlihat cemas melihat kondisi Yuni. "Enggak kenapa-kenapa. Aku kaget aja lihat kamu tiba-tiba muncul." Riyan memperhatikan sekeliling. Tampaknya semua sudah hampir selesai dan terlihat sangat bersih. "Ada yang bisa aku bantu nggak? Aku udah selesai soalnya," ucap Riyan. "Nggak perlu. Aku tinggal bersihkan yang ini. Udah, kamu lanjut aja di gedung sebelah. Kan di sana ruangannya banyak." Yuni terbata-bata. Ia hampir sulit mengucapkan kalimat demi kalimat. "Kamu kenapa sih Yun?" Riyan semakin cemas. Ia khawatir terjadi sesuatu terhadap temannya itu. "Aku nggak papa. Udah kamu keluar aja dulu. Cepet-cepet aku selesaikan yang ini." Yuni berjalan mendekati Riyan. Ia langsung mendorong perlahan tubuh Riyan agar keluar dari ruangan. "Percaya deh, aku nggak papa. Kamu keluar aja dulu. Aku segera menyusul." Riyan terpaksa menurut. Ia pun keluar dari ruangan dengan langkah yang berat. Sementara itu, di dalam ruangannya. Yuni segera berlari ke meja dan mengecek bagian kolongnya. Kedua matanya dengan cepat mencari benda yang dijatuhkan tadi. "Hah! Kok nggak ada. Dompetnya tadi di mana?" Yuni begitu terkejut. Ia merasa dirinya hanya menjatuhkan di sekitar situ. "Ahhh, mana lagi dompetnya?" teriak Yuni sedikit histeris. "Aduh, gimana ini. Kok nggak ada sih!" Gadis itu mulai cemas. Ia pun semakin cepat mencari dan mengecek di bagian bawah lain kolong meja. "Nggak ada, dimana benda itu. Arrgghh, gimana ini?" Yuni semakin bingung. Ia kira benda itu tidak akan jatuh jauh dari tempatnya berdiri tadi. Sayangnya, dicari berkali-kali, benda itu tidak kunjung ditemukan. 'Mana sih. Ya Allah, kalau dompet itu ada banyak duitnya, gimana?' tanya Yuni dalam hatinya. "Dompet itu pasti milik Pak Haris. Si rektor itu. Ya Allah kok ada aja sihhhhh yang namanya masalah." Yuni merasa menyesal karena sudah berbuat lancang. Pintu yang tertutup tiba-tiba terbuka oleh seseorang. Yuni yang mendengar decitan pintu tadi, sontak saja terkejut. "Jedug!" Kepala Yuni terbentur bagian bawah meja. Ia segera keluar dari sana. Terlihat oleh Yuni, ternyata pak Haris yang datang. Ia pun buru-buru beres-beres dengan segala peralatannya. "Belum selesai ya?" tanya Pak Haris pada Yuni. "Udah kok Pak. Silahkan kalau Pak Haris mau duduk!" ucap Yuni. Pak Haris segera mendekati mejanya. Ia memperhatikan seluruh bagian ruangan. "Tunggu Yuni!" Yuni menghentikan langkahnya ada perasaan tidak enak mendengar pak Haris memanggil namanya barusan. "Iya pak, ada apa?" "Jadi, apa hari ini yang membersihkan ruangan ini kamu?" tanya pak Haris. "Ehmm, iya Pak, saya yang membersihkan. Soalnya si Imas, yang biasanya membersihkan ruangan pak Haris nggak masuk. Jadi, tugasnya saya yang selesaikan." "Kalau gitu, mulai besok, kamu aja ya, yang membersihkan ruangan saya. Saya suka hasil kerja kamu," ucap Pak Haris. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah Yuni sambil merogoh sakunya. "Terimakasih Pak. Tapi saya bilang dulu sama Riyan. Dia yang mengatur dan membagi tugas kami soalnya," terang Yuni. Gadis itu masih terpaku di tempatnya berdiri. "Iya bilang dulu juga nggak papa. Saya harap kamu bawa kabar baik. Kalau gitu, ini buat kamu ya. Saya suka sekali hasil kerja kamu." Pak Haris mengambil dompet di saku bajunya. Ia hendak memberikan sejumlah uang kepada Yuni karena hasil kerjanya yang begitu mengesankan 'I ... itukan dompet yang aku jatuhkan tadi. Ke … kenapa ada di tangannya Pak Haris." Yuni sontak bingung. ‘Bu …bukannya tadi jatuh' batin Yuni sekali lagi. Rasanya ia ingin pingsan di tempat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN