Setidaknya, seseorang itu masih berusaha untuk mencoba mencari jalan keluar. Mencari apa yang jadi sebab dan akibat.
Menunggu cukup lama dengan banyak kata sabar. Yuni rasa tidak ada orang di rumah itu. Lalu beberapa menit kemudian saat Yuni dan Riyan memutuskan untuk kembali pulang saja. Bima, malah muncul menyapa mereka di batas pintu pagar.
“Lho! Yuni! Riyan! Kok kalian ada disini?” tanya Bima melihat dengan heran.
“Bima! Kamu dari mana aja sih?” Yuni malah bertanya.
Riyan melihat situasi mneguntungkan ini. Ia pun segera mengatakan niat mereka datang kesini untuk bercerita sesuatu. Mengatakan secara langsung ke topik utama tanpa berbelit panjang lebar.
“Kalau gitu, kita bicarakan di dalam rumah aja yuk!” ucap Bima.
Yuni menggeleng. “Mending kita ngobrol tu di tempat yang rame aja.”
Bima memandang heran. Dirinya pun mengangguk tanda setuju.
Mereka bertiga akhirnya pergi ke kafe terdekat. Memesan tiga cangkir kopi pekat, karena kebetulan baik Yuni maupun lainnya, sama-sama bisa dan mau meneguk minuman hitam itu.
“Jadi, ada apa sih? Kenapa kalian berdua sampai ngajak aku ke tempat ini. Aku kan jadi bingung,” ucap Bima. Ia masih belum paham benar dengan perkataan Riyan yang memang hanya sekilas.
Riyan menatap sejenak pada Yuni. “Kamu atau aku aja yang cerita?” tanyanya.
Yuni masih bingung. “Emang nggak papa, kalau aku cerita juga sama dia?” hatinya jadi ragu mendadak sambil memperhatikan raut wajah Bima.
Iya kalau Bima mau percaya. Kalau tidak, bisa jadi makin stres tingkat lanjut Yuni. Kemarin saja ia harus meminta maaf karena berkata jujur tentang apa yang terjadi terhadap dirinya di ruang Pak Haris pada Varo dan Imas. Lalu pada Bima, mana bisa ia minta maaf lagi kalau sampai dikira hanya mengatakan kebohongan.
“Cerita aja Yun! Emangnya kenapa? Kamu nggak percaya sama aku kalau aku bisa jaga rahasia. Aku ini cowok lho, bukan cewek yang ember,” terang Bima. Ia memang menangkap sinyal keraguan di wajah Yuni.
“Ih! Bima, cowok juga ada kok yang mulutnya ember,” sahut Yuni. Ia lalu menghela nafas. Menatap bergantian pada Riyan dan Bima. “Ya udah, dengerin aku ya. Jadi aku mau cerita, dan mau minta pendapat kamu gimana tentang cerita itu. Aku soalnya udah nggak ngerti lagi harus berbuat apa. Juga nggak tahan sama apa yang sedang terjadi.”
Bima menatap tajam pada Yuni. “Maksud kamu?”
Alur cerita Yuni dan kisah mistisnya pun dimulai. Ternyata tidak hanya Bima saja yang jadi pendengar yang baik, tapi Riyan juga.
Ada beberapa hal yang belum Riyan tahu, hingga membuat pria yang jadi teman kerja Yuni itu jadi ikut memperhatikan dan mendengar semua yang dicurahkan oleh Yuni.
“Aku percaya kok. Kalau cerita kamu tadi nggak bohong. Tapi, yang aku jadi pertanyaan, kok bisa ya, kamu dihantui terus-terusan,” ucap Bima. “Kenapa aku jadi curiga ada sesuatu sama Pak Haris ya?”
“Kok bisa?” tanya Yuni.
“Iya, soalnya kamu mimpiin dia kan?” tanya Bima.
“Kan cuma mirip. Lagian dalam mimpi itu namanya juga bukan Haris.” jawab Yuni.
“Okey! Mari kita hubungkan, aku pernah lihat mahasiswi malam-malam pas jaga lagi jalan menuju perpustakaan kemudian dia ilang. Sedangkan kamu Yun. Kamu merasa kayak pernah datang dan cukup akrab sama perpustakaan kampus, seolah-olah pernah ada di situ. Jangan-jangan waktu itu kamu dirasuki lagi sama mahasiswi yang aku liat ilang di perpus itu.”
“Hah! Nggak kok, tapi, apa waktu itu aku nyium aroma melati ya,” pikir Yuni. Ia tiba-tiba jadi merinding memikirkan jika ucapan Bima tadi bisa saja benar.
“Gini aja, jadi aku pernah tanya ayahku, tentang penampakan mahasiswi yang hilang pas aku kejar ke perpustakaan. Tapi, Ayah bilang nggak tau. Padahal menurutku ayah pasti tau. Aku akan coba tanya itu sama Ayah. Siapa sih cewek mahasiswi itu. Kalau udah dapat titik terang, aku akan cerita sama kalian.” Bima menatap Riyan dan Yuni dengan sangat serius.
“Boleh!” jawab Yuni dan Riyan bersamaan.
**
Fajar yang telah muncul di awal hari ini, membangunkan orang-orang untuk mulai melakukan kegiatan.
Yuni rasanya sulit tertidur pulas. Sejak keluar dengan Riyan, dan bercerita semua hal yang sudah ia alami pada Bima. Dirinya malah kepikiran terus akan hal itu.
“Kenapa aku jadi takut gini sih!” Dilihat jam di ponsel, heran saja mengapa alarm di ponsel tersebut belum juga berbunyi. Ternyata memang belum pukul lima. Yuni pun memutuskan untuk bangun saja daripada berbaring dan makin membuat ia lemas dan malas untuk melakukan apa-apa.
Mandi dan bermain ponsel. Yuni coba menghabiskan waktu terlebih dahulu. Hingga akhirnya mengganti bajunya dengan seragam cleaning service.
Sambil menatap diri di depan cermin. Yuni harap bisa bertemu titik terang masalahnya. Tiba-tiba saja ia ingat mimpi yang menampakkan wajah pak Haris saat masih muda.
“Kayaknya emang ada kaitannya sama Pak Haris. Mungkin nggak kalau Pak Haris itu punya kembaran,” ucap Yuni menerka. “Apa aku juga cari tahu saja tentang itu ya. Mungkin nggak sih ada dokumen semacam itu yang bisa aku temukan di ruang kerjanya sebagai petunjuk."
Melihat jam yang sebenarnya belum waktunya untuk berangkat kerja. Karena sudah pasti keadaan kampus masih sangat sepi dan belum ada dosen maupun mahasiswa yang datang.
Yuni putuskan untuk berangkat saja saat itu. Ia yakin, pasti ada sesuatu di ruang kerja Pak Haris. Selama ini semua keanehan yang ia alami juga seperti bermula dari sana.
“Ayo Yuni, kamu harus berani. Kalau kamu emang salah, kamu harus minta maaf sama penunggu kampus. Kalau nggak, aku pasti akan dihantui sepanjang hidup kalau masalah ini belum bisa selesai.”
Yuni berjalan dengan begitu cepat ke tempatnya bekerja. Ia merasa harus datang saja pagi ini ke ruangan pak Haris. Tidak peduli keadaan nanti yang pasti akan sangat sepi sekali. Akan tetapi, ia harus tetap berani.
Benar dugaannnya, bagian depan kampus. Bahkan pagarnya saja belum dibuka. Yuni coba memeriksa. “Duh, masih dikunci lagi. Mana ya pak satpam yang jaga pagi ini.”
Yuni melempar pandang. Ternyata satpam itu tampak baru selesai membeli makanan dan baru kembali.
“Lho pagi banget Yun? Yang lain aja pada belum datang.” Satpam itu mulai menyapa.
"Iya Pak, lagi pengen. Bukain dong Pak pintu gerbangnya. Aku mau masuk nih!"
“Oh iya! Siap-siap!” Pak satpam itu mengambil kunci di saku celananya dan membuka pintu pagar itu. Tidak perlu menunggu lama. Akhirnya Yuni bisa masuk juga.
Tak mau lagi membuang waktu, entah kemana rasa takut Yuni. Tampaknya sudah ia hempaskan tak bersisa perasaan tersebut. Lalu dengan tekad dan keinginan kuat untuk bisa mencari petunjuk. Yuni akhirnya bisa membuka pintu ruang kerja Pak Haris.
Rasanya seperti masuk ke dunia lain. Kaki Yuni melangkah dengan sedikit gemetar. ‘Apa ini?’ batinnya. Ada juga wangi yang mengganggu indera miliknya.
Seperti masuk ke dunia dengan zonasi yang auranya sangat lain. Ia seperti melihat ada kehidupan sebelum ini yang ada di dalam ingatan, dan mungkin terjadi di dalam ruang kerja pak Haris. Merasa suasana semakin aneh, tapi kaki masih dipaksa untuk masuk dan mencari tahu. Bayangan masa lalu seperti muncul menampakkan ingatan yang tertimbun. Ada sosok mahasiswi yang ada dalam mimpi Jihan muncul menyapa seperti melakukan adegan nyata di hadapannya.
“Dia memang hidup, dan dia pernah ada di sini,’ batin Yuni. Ia melihat mahasiswi itu tersenyum dan melihat ke arah tumpukan kertas lama yang ada di ujung, tepatnya di samping lemari yang ada celah kecil untuk menyimpan folder lama.
Sadar kalau Yuni sedang mengalami halusinasi. Mungkin karena terlalu kepikiran. Jadi, ada bayangan seperti itu muncul. Meski ia merasa ini seperti petunjuk. Segera memejamkan kedua matanya dengan kuat dan berusaha menghilangkan ilusi yang sedang dialami, saat mata tersebut terbuka, dan memang bayangan yang tampaknya pernah terjadi di masa lalu itu seketika menghilang. Akan tetapi, Yuni langsung melihat ujung ruangan pak Haris tersebut. Tempat folder lama berada dan ditumpuk dengan begitu rapi.