Yuni masih coba berdiskusi dengan Riyan. Tidak tahu mengapa rasanya, dirinya juga jadi merinding sendiri. Ia melihat situasi sekitar yang ada. Benar-benar tidak apapun yang mengintai. Akan tetapi, insting Yuni mengatakan seperti ada yang mengawasi dirinya saat bicara dengan Riyan.
“Ada apa sih?” tanya Riyan yang melihat Yuni melempar pandang ke segala penjuru. Ia kemudian bangun dari duduknya di sofa, berdiri tepat di hadapan Yuni yang terlihat kebingungan, ekspresi wajah teman kerjanya itu, hampir sama seperti saat berada di perpustakaan tadi sore.
“Nggak tahu kayak ada yang ngawasi, hawanya kayak kita pas lagi ada di kampus. Agak gimana gitu. Kayak bikin takut dan was-was.” Yuni coba menerangkan apa yang dirasa, ia melihat sekeliling lagi untuk memastikan. Dipegang tengkuk lehernya yang tiba-tiba merinding, bulu kuduk ikut berdiri. Padahal jelas mereka sedang ada di tempat selain kampus yang terkenal horor itu.
Riyan mulai merasakan hal yang sama. Semilir angin yang tadinya tertiup lembut menemani dirinya yang sendiri menunggu kedatangan Yuni. Sekarang malah tertiup membuat kulitnya menggigil. Padahal ada jaket yang dipakai. Tapi, bagian kulit yang tidak tertutup, seakan ditabrak udara dingin yang tidak henti-hentinya menerpa kulitnya. Riyan ikutan melihat sekeliling untuk mencermati apa yang mungkin bisa membuat suasana jadi menyeramkan seperti ini. Ia bahkan sampai berpikir, mungkinkah cuaca telah berubah dan akan turun hujan.
Tiba-tiba Bu Slamet keluar dari rumahnya. Ia membuka pintu dengan begitu mengejutkan. Entah mengapa, dan apa yang sudah terjadi pada wanita yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu. Tatapan matanya terlihat melotot, dan kemudian melihat segala sudut teras rumahnya. Ia melihat ke arah Riyan. Lalu pandangan matanya tertuju pada Yuni. Saat itu juga, Yuni merasakan seperti ada udara yang sedang berjalan sangat cepat sekali di belakang punggungnya. Ia pun sontak menoleh ke belakang.
Bu Slamet masih dengan menatap tajam. Tertuju pada Yuni. Ia langsung menengok dengan begitu dekat ke arah belakang punggung Yuni. “Apa kamu nggak merasakan sesuatu di belakang punggung kamu Yuni?” tanya Bu Slamet. Ia masih menatap tajam.
Yuni hanya bisa bingung, di satu sisi ia merasakan sekelebat seperti angin berjalan cepat dan seperti menghilang begitu saja di belakang punggungnya. Tapi, saat akan menjawab dan coba menjelaskan pada Bu Slamet. Entah mengapa rasanya berat sekali. Seperti terkunci bibirnya tanpa ia mau.
“Yuni! Kenapa kamu diam aja.Emangnya kamu nggak merasakan sesuatu . Kalian disini nggak cuma berdua aja lho dari tadi,” ucap Bu Slamet. ia memberitahu kalau mereka tidak hanya berdua saja.
“Maksud Bu Slamet apa sih?” tanya Yuni.
“Emangnya kamu nggak merasakan juga?” tanay Bu Slamet sambil melirik juga ke arah Riyan.
Saat itu, Riyan hanya mengangguk. Sepatah kata pun tak ada yang keluar dan terucap dari bibirnya.
“Asal kailan tahu. Kalian ini ada yang mengikuti. Khususnya kamu Yuni. Ibu itu udah merasakan sejak beberapa hari terakhir ini. Makanya tiap kamu dari luar selalu bu Slamet ingatkan untuk cuci segala kaki dan tangan. Jangan sembarangan buat nggak cuci, kalau sudah jelas kamu dari luar. Nanti. kalau sampai ada yang nempel dan jadi lengket sama kamu. Bisa bahaya. Apalagi tempat kerja kamu yang ….” Perkataan Bu Slamet tiba-tiba terhenti. Ia masih menatap dengan tajam lurus ke depan, tapi bibirnya seakan tertutup tidak mau bicara lagi, dan kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Menghilang tanpa berpamitan pada Riyan juga Yuni.
“Yun! Ada apa sih sama Bu kos kamu?” tanya Riyan.
Yuni mengangkat kedua bahunya, yang juga bingung dengan ucapan Bu Kosnya. “Dari awal dia tahu aku kerja disitu, d8 kampus itu. Dia selalu pesan sama ku buat hati-hati dan ngingetin kalau di sana emang angker,” ucap Yuni. Ia coba mengingat beberapa hal yang telah terjadi semenjak, dirinya datang kesini dan bertemu Bu Slamet. Ia kira Bu Slamet juga tidak punya maksud untuk menakuti. Mungkin memang ia harus berhati-hati. Lihat saja sekarang, ia juga terjebak dengan hal yang sulit dipercaya di kampus itu.
“Ya udah, kalau gitu gimana ini. Kita jadi nggak ke rumahnya Bima. Mumpung masih belum terlalu malam juga!” ucap Riyan. Ia lalu melihat jam di pergelangan tangannya.
Yuni rasa mungkin bisa juga mereka cari tahu pada Bima. Ia pun mengangguk, tanda dirinya setuju.
“Ya udah! Kalau begitu ayo berangkat sekarang!” ajak Riyan. Ia kemudian melangkahkan kakinya dulu keluar agar untuk menuju ke sepeda motornya.
**
Yuni sambil memikirkan apa yang telah terjadi. Selalu terbesit di dalam hatinya. Mungkinkah ia memang punya salah hingga, beberapa kali mengalami hal aneh.
Namun, satu hal yang belum disadari. Kehadiran Pak Haris lah, yang sesungguhnya membuat itu terjadi. Yuni tak menyadari dan berpikir mungkin ini hanya kebetulan. Yang pasti memang ada hal semacam itu. Hal yang tak kasat mata, tapi bisa melakukan sesuatu yang berkaitan dengan manusia yang masih hidup.
Motor akhirnya berhenti, cukup mengejutkan Riyan saat harus menghentikan laju motornya, karena rem mendadak. Hingga membuat Yuni kaget.
“Ada apa Riyan? Apa kita udah sampai. Bukannya ini masih jalan raya ya?” tanya Yuni yang langsung mencermati sekeliling, dan memang motor itu belum sampai di tujuan menurutnya.
Riyan tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka kaca helmnya, dan coba memperhatikan jalanan dengan lebih tajam. Agar tidak ada yang terlewat. Tapi, usai dicermati, terlihat semuanya baik-baik saja.
“Nggak ada apa-apa, udah kita lanjut aja jalannya,” ucap Riyan lalu menutup kaca helmnya. Ia merasa seperti ada yang akan lewat dan hampir saja tertabrak. seperti hewan, tapi saat di cek. Tidak ada apa-apa.
Aldi pun menyalakan lagi motor sportnya, dan segera meluncur ke rumah Bima. Riyan bahkan mengendarai motornya dengan kecepatan yang lebih cepat dari yang tadi.
Karena hal itu, terpaksa Yuni dengan sangat kuat berpegangan pada tubuh Riyan. Ia harap kecepatan ini akan membuat mereka bisa segera sampai di tujuan dengan selamat. Tidak tahu mengapa rasanya ketakutan itu muncul lagi menyeruak dalam hatinya. Mungkin karena cara Riyan membawa motor yang tidak senyaman tadi.
Pada akhirnya, motor itu berbelok pada sebuah jalan yang menyempit, sudah bukan jalan raya lagi yang dipenuhi banyak kendaraan umum.
Kecepatan motor mulai menurun. Hingga akhirnya sebuah rumah yang terdiri dari dua lantai. Ukurannya rumahnya juga tidak terlalu luas. Ada pot bunga yang cukup harum aromanya. Membuat Yuni ingat akan sebuah aroma yang pernah dihirup dan mirip dengan aroma ini.
‘Tapi aku nggak takut pas ngehirup aroma ini,’ batin Yuni. Ia melihat bagian depan rumah itu hanya ada kursi panjang dan meja kecil. Tidak ada tempat parkir motor yang luas. Hingga terpaksa motor milik Riyan diletakan aja di depan pagar rumah.
“Riyan!” panggi Yuni dengan suara lirih.
“Hemb! Ada apa?” tanya Riyan yang coba melihat-lihat. Seperti tidak ada penghuninya saja rumah itu.
“Jadi ini rumahnya Bima?”
“Iya!”
“Kok sepi banget! Jangan -jangan Bima nggak ada lagi. Jangan-jangan dia lagi jaga di kampus, gantikan ayahnya.” Yuni coba menebak, karena memang sepi sekali rumah itu kelihatannya.
“Kayaknya enggak! Aku lihat tadi yang jaga satpam yang satunya. Udah kita coba aja ketuk pintu dan bilang salam. Assalamualaikum!” ucap Riyan. Ia pun hanya bisa melakukan itu. Karena tidak ada bel untuk memberitahu orang yang ada di dalam rumah itu kalau ada tamu.
“Assalamualaikum!” ucap Yuni ikutan. Ia sangat berharap kalau Bima yang muncul. ‘Please Bima, keluar dong!’ batin Yuni memohon.