Karena semakin lama, apa yang dialami nyatanya semakin tidak wajar. Mungkin bisa saja dua pria di depannya ini tidak percaya pada apa yang ditunjukkan Yuni. Sialnya Yuni telah menunjukkan hal itu.
“Kami berdua percaya Yun! Kenapa kamu tiba-tiba mikir kita nggak percaya tentang apa yang kamu sampaikan?” tanya Bima.
“Ya, ini makin jauh dari kata realistis,” ucap Yuni.
Riyan paham, mungkin karena dirinya tadi juga sempat menjauhi Yuni. Karena hal itu, bisa juga membuat Yuni jadi berpikir seperti itu.
“Tenang aja! Kamu berdua percaya kok. Aku rasa ini pesan yang ingin Mikha sampaikan. Bukannya dari kemarin kamu selalu minta penjelasan?’ tanya Riyan.
“Penjelasan!” Yuni agak bingung.
“Iya penjelasan, kenapa bisa kamu mengalami hal aneh. Apa yang diinginkan dari kamu, dan ternyata ini kan!” jelas Riyan.
Sontak Bima ikut menyela. “Iya, mungkin karena tanggal lahir kamu yang sama dengan hantunya. Jadi, dicoba komunikasi sama kamu, bisa aja 'kan cuma kamu yang bisa ngerti dia. Makanya memorinya kadang ditransfer ke kamu Yun!”
“Iya, itu bener juga sih!” tabah Riyan.
Yuni pikir itu ada benarnya. Tapi, tetap saja ini semua rasanya sulit dipercaya.
Pertemuan itu akhirnya berakhir. Riyan lagi-lagi mengantarkan Yuni ke kos tempat tinggalnya.
“Makasih ya Riyan! Kamu selalu anterin aku kemana pun! Aku juga minta maaf soal status kita sekarang ini! Jadi ngerepotin kamu di kampus, nggak enak juga sama anak-anak. Apa kita bikin pengumuman aja ya, kalau kita udah putus!” Yuni menatap Riyan yang masih berada di atas motornya.
“Apa!” kaget Riyan mendengar itu, ia lalu turun dan melepas helmnya. Berdiri menatap Yuni yang memang wajahnya tampak sedih. Mungkin gara-gara status itu Yuni memang agak berat dalam bekerja. Secara tatapan mata intimidasi dari Varo dan Imas. Begitu juga pemikiran mereka yang menganggap Yuni selalu jadi pusat perhatian Riyan, mendapat perlakuan yang istimewa mungkin darinya. Itu bisa saja mengganggu perasaan Yuni sendiri.
“Kamu terganggu sama itu?” tanya Riyan. Ia coba mencari tahu. Padahal ia berharap status pacaran ini bisa jadi nyata. Bukan pura-pura, hanya saja apa yang terjadi saat ini membuat Yuni mungkin tidak pernah memikirkan itu.
Yuni hanya mengangguk. Raut wajahnya jelas terlihat tidak mendukung untuk itu.
Ingin sekali rasanya Riyan menyatakan perasaannya saat itu. Tapi, ia yakin Yuni pasti akan langsung menolaknya. Tapi, kalau sampai pacaran pura-pura ini, tiba-tiba jadi putus. Riyan juga tak ingin hal itu sampai terjadi.
“Yun!” panggil Riyan dengan suara lirih, namun bisa terdengar cukup jelas. “Kita nggak perlu putus. Biarkan aja mereka tau kalau aku sama kamu pacaran. Dengan begitu Imas dan Varo juga bakal sungkan sama kamu.”
“Sungkan gimana sih? Udah jelas mereka berdua bahkan nganggap aku ini dapat perhatian dan perlakuan lebih dari kamu. Mending kasih tau mereka kalau kita udah putus, atau aku aja yang minta putus sama kamu di depan mereka berdua. Biar mereka tau kalau di antara kita udah nggak ada hubungan apa-apa.” Yuni ngotot ingin melakukannya.
“Gini aja, kalau mereka berdua udah bisa dan mau ngobrol lagi sama kamu. Apa kamu mau mengakhiri pura-pura pacarannya kita. Ini yang bikin kamu lolos juga dari pak Haris kemarin. Masak iya baru pacaran langsung putus. Kalau pak Haris sampai curiga, gimana?” tanya Riyan.
Dalam sepersekian detik, Yuni diam memikirkan itu. Ia merasa ada benarnya juga apa yang didengar dari Riyan. ah! Kadang pria memang lebih panjang dalam berpikir sebelum mengambil keputusan. Yuni jadi bingung dan sedih salah tingkah agak malu pada Riyan. Temannya itu ternyata benar-benar memikirkan nasib dirinya.
Melihat Yuni masih saja diam. Riyan hanya bisa menarik nafas panjang. Lagi, dalam hal yang sudah seperti ini, Riyan hanya akan coba mengerti. “Udah kamu jangan mikirin aku atau pendapat anak-anak. Ketimbang itu, kalau pak Haris sampai tau, kamu cari sesuatu di ruangannya. itu akibatnya, kamu bakal dipecat. Dan kamu akan kehilangan pekerjaan.”
“Ya udah, kalau gitu aku coba bertahan. Iya, yang penting aku masih bisa bekerja. Lha wong diganggu Mikha aja aku bertahan. Masak sama Varo dan Imas yang jelas kelihatan itu orang, aku malah oleng banget gini sih.” Yuni sekilas menatap Riyan.
‘“Iya! Jangan terlalu dipikirkan ya. Ada aku kok, aku bakal bantuin kamu terus kalau lagi sulit.”
Yuni mengangguk. "Terimakasih ya Riyan. Kamu teman yang baik banget. Kalau gitu, aku masuk kos dulu ya. Kamu hati-hati kalau balik!"
"Iya!"
Riyan pun melihat Yuni pergi berlalu. Ia melihatnya sampai benar-benar hilang dari pandangan.
'Yuni, coba aja kamu tau gimana perasaanku sama kamu. Aku sebenarnya mau kita pacaran beneran,' batin Riyan berbicara. Ia kemudian mulai mengambil helm dan mengenakannya. Segera saja meluncur lagi di jalanan. Rasanya ia juga ingin pulang. Lelah sekali mendapati semua masalah ini.
**
Tentu saja pagi yang datang dan membawa sinar matahari cerahnya akan membuat siapa saja semangat. Termasuk Yuni. Mungkin ia bisa melihat sebuah batu besar menghalangi jalan hidupnya. Apalagi banyak gangguan saat ia harus bekerja di kampus keperawatan ini.
Akan tetapi, langkah kakinya pagi ini bisa semangat lagi. Ia merasa tidak sabar bertemu Riyan untuk mengucapkan terimakasih. Atas apa yang disampaikan kemarin saat dirinya akan masuk ke kos. Nyatanya itu cukup membekas dan mengesankan bagi seorang Yuni.
"Hay Yun!" Sapa Bima.
"Oh Hay! Pagi banget datangnya Bim?"
"Iya Yun, ada janji sama dosen."
Mereka berusaha terlihat akrab, dan ada Varo yang melihat.
"Wah, pagi gini udah cari perhatian sama anak kampus. Nggak ingat sama Riyan," ucap Bima kemudian pergi meninggalkan Yuni dan Bima begitu saja.
Bima bingung dengan apa yang dikatakan Varo. Memang, kenapa harus ingat sama Riyan.
"Hahhhh …." Terdengar Yuni menghembuskan nafas panjang.
Bima menatapnya. "Yun! Ada apa?"
Yuni membalas tatapan itu sekilas. Ia merasa ini adalah hal buruk untuk dirinya memulai hari. Padahal tadi ia sudah merasa semangat.
"Nggak ada apa-apa. Cuma emang ada masalah sama Riyan."
"Masalah apa?'" tanya Bima. Tampaknya dirinya sedikit ingin tahu.
"Ah masalah kecil. Cuma masalah …." Yuni yang ingin menjelaskan saat itu. Tiba-tiba hidungnya malah menghirup aroma sesuatu. Aroma yang biasanya ia tahu kalau akan ada hal horor di sekelilingnya. 'Bau ini, bau bunga." Yuni bicara dengan hatinya dan langsung melihat sekeliling. Saat itu, mata Yuni hanya tertuju pada orang-orang yang baru datang dari halaman parkir mobil. Ada pak Haris, dosen dan petugas perpustakaan.