Menceritakan Kejadian Di Perpus

1180 Kata
Yuni merasa Mikha sudah pergi. Ia hanya mematung sampai sadar kalau langkah kaki ke perpustakaan sudah dekat dan hampir menghampiri dirinya. Tersadar kalau ada petunjuk yang masih ditinggalkan oleh Mikha. Melihat ceceran debu di lantai, dan juga kalimat yang bisa dibaca dengan jelas, mungkin nanti akan dibaca juga oleh orang yang kebetulan lewat. Yuni sempatkan untuk mengambil foto dari tulisan pesan dari Mikha. Ia akan memberitahu Riyan tentang ini, mungkin termasuk Bima juga. Setelah berhasil mengambil foto, segera dihapus kalimat pesan dari Mikha tersebut. Ia acak debu yang memenuhi lantai dan berhasil menjadi kacau tulisan tadi. “Yun, kamu lagi ngapain. Ada debu bukannya disapu kok malah diinjak ama kaki?” tanya Riyan. Ternyata yang masuk tadi adalah Riyan dan Varo. Ah! Salah satu teman kerjanya itu masih saja memasang wajah yang tidak bersahabat. Tidak tahu mengapa, tapi Yuni harap pria itu dan Imas bisa merasakan apa yang ia rasakan. Rasa ketakutan yang berlebihan. “Iya, aku kesel aja debu kok ada tersu sih disini!” ucap Yuni. ia tersenyum saja setelah itu. Lalu memegang tengkuk lehernya yang mungkin agak nyeri karena menunduk barusan. “Mending aku ambil sapu sama cikrak deh!” Berlalu Yuni ke belakang dan segera ambil sapunya. Varo yang melihat hanya memicingkan mata seakan sedang begitu kesal pada Yuni. Ia merasa, Yuni itu kerjaannya hanya bermain-main saja. Mendekat setelah itu, kepada Riyan. Ia seperti membisikkan sesuatu. “Lihat Riyan, Yuni itu kebanyakan main. dia itu cari alasan aja kalau sedang dihantui atau ketemu hal mistis dan lainnya. Dia pasti makin menjadi buat bisa kerja santai. Secara kamu sekarang udah jadi pacarnya. Ngerasa punya tameng dia buat perlindungan,” ucap Varo. Ia kesal saja pada Yuni yang terlihat semakin berlagak seenaknya sendiri. … Riyan mengikuti langkah kaki Yuni saat pulang bekerja. Ia hanya diam dan berjalan saja. Sambil menunggu saat yang tepat untuk bicara dengan gadis itu. Tidak tahu mengapa rasanya ada mata yang mengawasi. Mungkin karena perkatan var tadi juga membuat hatinya jadi agak bimbang jika mau mendekati Yuni. Takut mereka malah menganggap Riyan pilih kasih. ‘Tapi, kayaknya aku nggak boleh juga bersikap begini sama Yuni. Gimana juga dia itu nggak bohong dan bicara jujur. Kasian Yuni dari tadi aku cuekin,’ pikir Riyan. Ia pun sudah tak peduli lagi kalau ada yang melihat. Langkah kakinya dibuat cepat agar bisa segera menyusul Yuni. “Yun! Tunggu!” panggil Riyan. Ia akhirnya berhasil menyusul Yuni, sedikit berlari, dan saat itu. Terlihat Yuni yang mendengar panggilannya menoleh ke belakang sambil tersenyum. “Yuni! Tunggu!” Yuni menghentikan langkah. Ia pun memutuskan untuk menunggu pria itu. Yang sepertinya agak menjauh sejak berada di dalam perpustakan tadi. Entah benar atau hanya perasaan. Tapi, Yuni merasa demikian. “Ada apa?” tanya Yuni dengan suara yang lelah. Lelah sekali karena sejak tadi, Riyan seperti tak mau menemani dirinya. Ia bahkan mengira kalau mungkin tak akan pulang bersama pria itu lagi. “Yun! Kamu kenapa? Kok lemes banget. hari ini emang banyak kerjaan, tapi nggak kayak kemarin kan!” “Iya lagi lemes aja, lemes jiwa raga.” “Kenapa?” tanya, saat itu ia agak tersentil. Berpikir kalau yang membuat Yuni seperti ini adalah dirinya. “Iya! lemes aja, soalnya perasaanku kayak nggak ada lagi yang peduli sama aku, apa karena, aku nggak berhasil buat minta maaf sama Imas dan Varo. Makanya kamu agak menjauh. Apalagi pas di perpus tadi. Jadi, berasa yang paling patut disalahkan,” jelas Yuni. Ia pun hanya memandang saja datar lurus ke depan. Tak ingat lagi kalau ia punya sesuatu yang seharusnya diceritakan pada Riyan. Riyan menatap pada Yuni. “Iya, maaf aku nggak bermaksud gitu. LAgian kenapa sih kamu tadi malah main-main sama debu. Udah tahu lagi jam kerja malah mainin sepatu buat ngacak-ngacak debu di lantai.” Riyan mencoba cari kesalahan yang mungkin seharusnya tidak dilakukan lagi oleh Yuni. Yuni langsung merubah ekspresi wajahnya. “Ah iya! Aku hampir lupa Riyan. Kamu sih, lain kali jangan cuekin aku, bilang kalau aku punya salah.” “Ya! Ini aku kan uda bilang barusan!” “O iya, kita ketemu sama Bima sekalian yuk! Ada yang pengen aku bicarakan juga sama dia.” Yuni jadi bersemangat. Ia langsung saja menghubungi mahasiswa yang sudah jadi teman mereka berdua itu. Sebuah tempat dipilih untuk mereka bertiga berkumpul. Yuni, Riyan dan juga Bima. Menempati sebuah meja yang ada di di sebuah kafe terbuka. Riyan agak kesal karena Yuni mengajak Bima. Melihat mereka berdua bicara juga tampak sepertinya semakin dekat. “Sebenarnya ada apa sih Yun! Kok harus ada Bima juga?” tanya Riyan. Tatapan matanya agak malas melihat ke arah Bima. “Iya! Soalnya aku sekalian mau tanya sama dia. Apa ayahnya bisa kasih petunjuk sesuatu tentang apa yang aku alami. Ternyata enggak!” “Kamu pasti berharap banget ya Yun! Maaf ya! Aku nggak bisa dapat info apa-apa.” Bima memelas, ia menatap menyesal karena tak bisa membantu apa-apa. “Biasa aja kali ekspresinya. Terus cuma itu aja?” tanya Ryan usai memberi komentar pada Bima. Yuni menggeleng. “Jadi, aku tadi ketemu sama Mikha!” ucap Yuni. “Mikha,” sahut Riyan dan Bima bersamaan. “Bukannya Mikha itu nama korban di surat kabar. Jadi, kamu ketemu sama han …,” ucap Riyan yang hanya saja bingung. Yuni mengangguk. “Kamu ketemu dia kapan?” tanya Riyan. “Terus, emangnya bisa kalian bicara terus tegur sapa gitu?” tanya Bima. Terlihat jelas mereka berdua kebingungan. Yuni ternyata lebih memilih untuk mengaktifkan dulu ponselnya, dan mencari gambar yang dia ambil tadi. “Coba lihat ini!” Ditunjukkan layar tampilan berupa tulisan dari Mikha yang ada di lantai perpustakaan. “Aku ambil ini tadi siang di perpustakaan. Waktu itu, di perpus lagi sepi nggak ada orang. Sampai akhirnya kamu datang sama Varo!” ucap Yuni sambil menatap pada Riyan. “Jadi kamu waktu ngilangin debu pakai sepatu tadi, maksudnya ini?” Yuni menghela nafas panjang. Ia lalu menatap serius pada Riyan. “Kamu nggak ngerti kan tadi kenapa aku melakukan itu. Ya, karena ku mau ngilangin apa yang ditinggalkan Mikha buat aku.” Riyan mencoba mengamati apa yang terlihat di layar ponsel tersebut. Ia merasa tidak percaya. Satu per satu tulisan terbaca. Biam masih mencoba sabar, tai ia juga ingin tahu apa yang terlihat di layar ponsel Yuni. “Riyan! Coba lihat, aku juga pengen tau!” Bima coba untuk mengintip. “Bentar!” ucap Ryan dan memastikan untuk membaca kalimat dengan benar dan ia ingat jelas. “Yun! Jadi ini pesan buat kamu?” tanya Riyan dengan hati yang berdebar. Yuni mengangguk. Sedangkan Bima merasa sudah tidak sabar untuk meminjam ponsel milik Yuni. “Aku juga pengen lihat!” ucap Bima. Riyan akhirnya memberikan ponsel tersebut. Ia coba membaca apa yang tampak di foto dalam ponsel Yuni. Sejenak ia merasa ada yang memang harus ia ingat dengan detail. “Jadi, kamu dapat ini waktu di perpustakaan?” tanya Bima. “Iya!” jawab Yuni. “Tapi, tunggu dulu. Kalian nggak akan mikir kalau apa yang ada di ponselku ini bohongan kan!” Yuni tiba-tiba saja merasa kalau ada kemungkinan dua teman pria ini akan tidak percaya pada dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN