Mungkin ada perdebatan yang akan terjadi kalau saja Bima tak bisa mengatakan sesuatunya dengan kepala dingin. Hampir saja ia memancing masalah dengan ayahnya, dorongan kuat untuk bisa membantu Yuni sungguh membuat Bima ingin mencari sesuatu yang rasanya memang sengaja disembunyikan.
“Ayah, nggak tau apa-apa.”
“Ayah bohong kan! Yah, aku tau gimana ayah kalau lagi ada sesuatu yang ayah sembunyikan. Ayo dong Ayah! Bantu Bima, kasihan Yuni. Dia bakal keluar dari kerjaannya kalau tetap dapat teror terus, kan kasihan kalau sampai dia nggak punya kerjaan.”
Ayah dari Bima, sebut saja namanya pak Cipto mulai tersentuh dengan apa yang disampaikan oleh bima. Sepertinya memang Bima ingin membantu. Tapi, memang amat sangat disayangkan, Pak cipto sendiri sulit untuk menjelaskan apa yang telah pernah terjadi.
“Maaf ya Bima, tapi Ayah emang nggak tau apa-apa. Jadi, jangan paksa ayah untuk certa apapun lagi ya!” Pak Cipto segera berlalu, meninggalkan Bima yang ada di ruang tamu.
Bima hanya bisa kecewa. Tampaknya, ayahnya memang tak mau membantu sama sekali.
“Maafin aku Yun!”
..
Sehubungan dengan acara yang kemarin diadakan di kampus keperawatan, Yuni dan kawannya hari ini, mendapatkan banyak sampah yang berserakan.
“Kerja berat makin berat kalau harus sama Imas yang terus diam aja dari kemarin. Padahal kan aku udah minta maaf,” keluh Yuni. Ia sedang mengambil botol plastik air mineral di dekat Riyan berada.
“Aku juga ingin bantu, aku udah ngomong sama Imas. Dia malah …!” ucap Riyan yang tidak dilanjutkan. Agak malas mengingat hal yang bisa buat mood buruk untuk menjalani hari penuh pekerjaan berat.
“Malah apa? Kok nggak dilanjutin ngomongnya?” tanya Yuni. Ia hanya bisa melihat sekilas pada Riyan agar mau segera meneruskan kalimatnya barusan.
“Dia malah mikir aku orangnya terlalu berpihak sama kamu, secara kamu kan pacarku,” ucap Riyan.
Yuni menghela nafas kesal. “Ah! Tapi, kita kan cuma pacaran pura-pura.”
Yuni lalu melanjutkan pekerjaan saja. Biarkanlah hatinya tersiksa dengan kondisi yang ada. Mungkin ini yang namanya hidup yang tidak bisa berjalan mulus, semulus jalanan aspal tol.
Aldi menatap kepergian Yuni. Andai gadis itu tahu. “Aku maunya pacaran betulan Yun! Ternyata kamu belum peka ya sama perasaanku.”
Sementara itu, batin Yuni rasanya tidak terima dengan hal yang sedang terjadi. Bagaimana bisa ia malah dihadapkan keruwetan bukan hanya berkaitan dengan dunia nyata. Tapi, juga dunia tak kasat mata.
“Hahhhh!” Menghembuskan nafas panjang agar bisa sedikit lega. Tapi, kelegaan yang hanya sesaat. Ia melihat lagi, ternyata masih ada tumpukan sampah yang mengganggu pemandangan.
“Mau gimana lagi namanya juga kerja jadi cleaning service, ya gini kan!”
Lagi, Yuni hanya bisa pasrah. Hingga akhirnya panggilan dari seorang yang Yuni tahu, itu adalah petugas perpustakaan.
“Iya, ada apa pak?” tanya Yuni.
“Itu di perpustakaan ada banyak sampah juga, kalau bisa segera bersihkan dulu itu ya. Ganggu banget nih Yun!”
Yuni tersenyum saja. “Iya deh, saya bersihin yang itu dulu.”
“Iya, pumpung sepi, nanti kalau ada mahasiswa rame banget, malah nggak maksimal hasilnya kamu bersihin perpus.”
“Baik pak!’
Yuni lalu mendekat lagi ke arah Riyan. Ia memberitahu Riyan kalau dirinya membersihkan perpustakaan dulu.
“Iya udah, nanti aku susul. Kalau disini udah selesai.”
“Iya!” jawab Yuni. Ia pun segera berlalu sambil membawa sapu dan lap di tangan, berjalan dengan segera menuju ke perpustakaan.
Benar apa kata petugas perpustakaan tadi. Suasana perpustakaan memang sedang sepi. Entah kemana mahasiswa yang biasanya nongkrong dan bersantai disini, meski kadang terlihat mereka tidak sedang membaca buku.
Dihempaskan dulu tubuh Yuni untuk duduk di salah satu kursi. Rasanya capek sekali, ingin mengeluh, tapi inilah resiko pekerjaan.
“Sepi banget ya!” ucap Yuni sambil melihat tiap sisi ruang perpustakaan. Tidak ada seorangpun yang menemani dirinya di dalam ruangan super besar itu.
Yuni pun memutuskan segera memulai pekerjaan. Ia mulai bangun dan melihat setiap tempat sampah yang ada di tiap ujung perpus.
Sesaat muncul lagi memori yang bukan milik Yuni, memori tentang perpustakaan ini. Keramaian saat dulu pernah ada di dalam ruangan ini, sangat penuh dengan mahasiswa dan para peminjam buku. Waktu itu, suasana ramai sekali.
Hingga wajah Mikha itu muncul seakan sedang meminjam buku juga. Mengambil sebuah buku yang Yuni tahu, buku itu pernah dibersihkan oleh dirinya beberapa waktu lalu.
“Udah stop!!!” Yuni akhirnya berteriak. Ia mencoba tak mau ingat ataupun tahu lagi tentang memori itu. Rasanya sudah cukup apa yang dilihat dan ia tahu. Lagipula untuk apa.
“Udah dong, jangan ganggu aku dengan ingatan kamu disini. Ini zamannya udah beda. Lagian apa gunanya kalau aku tau ingatan kamu. Hah! Mending kamu muncul deh, tunjukan diri kamu yang nggak kelihatan itu. Kasih tahu aku, apa mau kamu!" Yuni akhirnya marah. Ia kesal dan diluapkan saja. Lagipula di dalam perpustakaan juga tidak ada siapa-siapa. Kosong hanya ada dirinya seorang. Jadi, tidak akan ada yang berpikir buruk tentangnya. Karena saat ini, mungkin dirinya bisa dibilang gila sebab bicara sendiri.
Tiba-tiba hal aneh pun terjadi, ada kursi bergeser perlahan, tapi suaranya berdecit ngeri dan membuat bulu kuduk berdiri. Yuni segera melihat ke arah kursi tersebut.
“Okey! Kalau kamu emang ada disini. Coba kasih aku jawaban, kenapa kamu ganggu aku dengan segala ingatan itu, yang seakan-akan aku pernah ada disini?”
Tiba-tiba sebuah buku jatuh, buku tebal yang masih begitu kotor dengan debunya yang menempel kuat. Ya, Yuni memang belum membersihkan rak bagian itu.
Yuni agak terkejut, tapi tidak terlalu terkejut seperti yang pertama tadi. Ia pun berjalan mendekat ke arah buku yang jatuh itu. Tapi saat buku itu telah dipegang Yuni. Buku tersebut seolah-olah dijatuhkan sesuatu.
Yuni melangkah mundur, alhasil di lantai tempat buku itu jatuh. Jadi, dipenuhi dengan debu tebal dan tampak semakin kotor.
“Terus apa?” tanya Yuni. Ia masih bicara sendiri. Sambil sepasang matanya menatap ke arah lantai kotor penuh debu. Heran campur takut, tapi rasanya masih harus dihadapi untuk mencari tahu.
Ternyata di lantai penuh debu itu, mulai ada sesuatu yang dituliskan seperti dengan ujung tangan, dan membentuk sebuah kalimat yang bisa dibaca.
Yuni mulai mengeja dan dengan sabar menunggu hingga tulisan itu selesai. “Tolong tangkap Haydar!” ucap Yuni membaca pesan tulisan tersebut.
“Haydar??” Yuni bingung, ia saja tidak tahu siapa Haydar.
Segera dilempar pandangan ke seluruh penjuru lagi. Mungkinkah sosok yang diajak bicara itu masih ada disini dan memperhatikan kebingungan dirinya.
“Aku nggak tau siapa Haydar. Memangnya kenapa orang yang namanya Haydar itu, kenapa harus ditangkap?”
Tak lama kemudian, sebuah buku jatuh lagi, membentuk sekumpulan debu yang menempel di lantai dan pastinya bisa ditulisi oleh siapa saja. Karena akan meninggalkan jejak pastinya.
Yuni mendekati lantai kotor itu. Hatinya berdebar dan ia melakukan hal yang sama dengan tadi. Ia mulai mengeja lagi dan tertulis kalimat dari Mikha. "Dia telah menghabisi aku."
Deg
Mulai mengerikan untuk Yuni yang harus merasakan semua itu sendiri, rasanya merinding dan ketakutan menghujam hatinya. Ia memutuskan untuk kembali saja bertanya dengan keberanian yang ada dan tersisa. Bagaimana juga ia butuh alasan mengapa sampai ini terjadi. Kalau ia sudah tahu apa maunya Mikha, mungkin setelah itu ia bisa cari cara untuk membantunya.
“Apa! Apa Haydar itu ada disini?” tanya Yuni dengan gagap.
Sama seperti sebelumnya. Ada sebuah buku jatuh lagi dan membentuk kotoran berdebu di lantai.
Yuni menatap hal itu, dan sungguh di luar dugaan. Yang tertulis di sana adalah sebuah jawaban singkat.
“Ya!”
Semakin membuat Yuni gemetar. Ia rasa ini bukan hal yang baik. Lagi pula setahunya selama bekerja disini. Tidak ada nama Haydar. Lalu bagaimana ia menangkapnya. Mana mungkin Yuni bilang kalau dirinya telah disuruh oleh arwah tak kasat mata.
"Tapi disini nggak ada nama Haydar. Kamu jangan bercanda. Apa jangan-jangan kamu cuma mau ngerjain aku."
Saat itu juga, seperti ada angin berjalan cepat ke arahnya dan sesuatu membuat leher Yuni tercekik. Ia mulai merasa kehabisan nafas dan sampai harus berjalan mundur.
"Ahhh, aku nggak bisa nafas, lepasin aku!" ucap Yuni memohon sambil memegangi lehernya.
Akhirnya, leher Yuni terasa normal lagi. Ia mulai bisa bernafas tanpa ada hambatan.
"Oke, aku akan bantu. Jangan apa-apain aku lagi. Kalau begitu, kasih aku petunjuk. Kalau Haydar ada disini. Beritahu aku, orangnya yang mana?"
Lalu buku terjatuh, membentuk debu tebal di lantai untuk kesekian kalinya.
"Okey, aku akan baca pesan dari kamu."
Namun, tiba-tiba ada suara langkah kaki menuju perpustakaan dan makin lama makin dekat.
Bersamaan dengan itu, ada angin berjalan cepat menabrak Yuni dan menghilang ke sisi kiri Yuni. Angin itu seperti berjalan dan pergi.
"Apa itu tadi? Mikha, kamu masih ada disini?" tanya Yuni, ia merasa Mikha telah pergi seiring ada orang yang akan masuk ke perpustakaan tadi.