Waktu akhirnya menyadarkan kalau sudah saatnya untuk pulang. Senja telah berganti menjadi warna gelap di langit. Ada bintang yang berkedip membuat hati senang bisa melihat itu.
"Tumben, langit cerah," ucap Riyan yang sedang melihat ke arah langit, kedua kakinya tengah mengayuh sepeda hias berkeliling lapangan pasar.
"Iya mungkin biar kita yang lagi jalan jadi seneng."
Riyan menoleh setelah itu pada Yuni. "Jadi, Kamu seneng dong, jalan sama aku?"
Yuni spontan menatap Riyan, lalu tersenyum. "Ya seneng lah, perasaanku itu selalu seneng kali abis jalan sama kamu."
Mendengar itu Riyan benar-benar tak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Ia rasanya gemas sendiri melihat Yuni. "Selagi ada aku, apa aja masalah kamu, cerita aja. Jangan mikirin semuanya sendiri ya!"
Yuni mengangguk. "Makasih! Aku jadi beneran ngerasa punya teman dekat dan baik."
"Teman?"
Yuni akhirnya sampai di kos tempat tinggalnya. Ia merasa lelah sekali.
Bu Slamet menunggu di teras, wajahnya terlihat lain.
"Jam segini baru pulang?" tanya Bu Slamet.
Yuni menatap dengan sungkan. Entah mengapa tiba-tiba Bu Slamet ada disini. Tidak seperti biasanya.
"Iya, diajak makan dulu sama Riyan tadi."
Yuni lalu melepas sepatunya. Kemudian berjalan akan masuk menuju tangga samping yang akan langsung mengantarkan dirinya ke depan pintu kamar.
"Yuni. Tunggu!"panggil Bu Slamet.
"Iya Bu! Ada apa?"
"Kamu jangan terlalu sering ngabisin waktu di kampus tempat kami kerja itu. Malah aku saranin. Lebih baik kamu pindah aja. Setelah ini, akan ada yang banyak ganggu pikiran kamu," ucap Bu Slamet.
Yuni agak terkejut, mengapa lagi-lagi Bu Slamet mengatakan sesuatu yang ada kaitannya dengan kampus tempatnya bekerja. Memangnya kelihatan kalau ia punya masalah. Cuma masalah yang ada juga bukan masalah yang bisa dibicarakan. Tapi, harus dicari lalu dipelajari disusun baru mungkin ada hal lain yang bisa mencerahkan misteri tentang kasus itu. Seperti itu pikiran Yuni.
Ingin rasanya bertanya pada Bu Slamet. Tapi, waktu itu Yuni masih sibuk sendiri dengan pikirannya. Ia malah membeku, dan tanpa sadar Bu Slamet malah sudah pergi meninggalkan dirinya.
"Ah! Apa emang aku nggak boleh tanya ya. Tapi, kalau sampai disuruh pindah dari sana. Kan cari kerjaan sekarang susah banget," ucap Yuni. Ia pun masuk saja dulu ke dalam kamar. Cuci tangan dan kaki, terus pergi tidur. Istirahat yang cukup untuk melakukan kegiatan besok yang mungkin akan lebih berat.
...
Pagi ini udara berhembus lebih dingin dari biasanya. Yuni coba melakukan aktifitas seperti sedia kala
Menganggap hal yang terjadi kemarin adalah sesuatu yang memang seharusnya tidak diketahui oleh siapapun. Kecuali Riyan mungkin. Yuni kira ia harus minta maaf lagi.
"Ya hal menyebalkan terjadi kemarin dan hari ini. Bagaimana dengan besok dan besoknya lagi," ucap Yuni sambil mengikat tali sepatu yang lepas. Saat itu, ia sudah da ada di depan pos satpam. Melihat sekeliling, entah mengapa rasanya sudah banyak yang mahasiswa yang datang.
Yuni pun masuk saja dan langsung menemui Riyan. "Kok udah banyak mahasiswa yang datang?"
"Iya. Mendadak ada acara galang dana disini. Tadinya diadakan di balai teknik. Tapi, nggak tahu tiba-tiba dipindah kesini. Lebih baik kita kerja cepet. Imas dan Cari juga udah datang."
"Oke!"
Yuni fokus saja menyelesaikan pekerjaan. Di tengah kegiatan kerja kerasnya. Ia selalu saja merasa diawasi setiap melakukan hal yang tengah dilakukan.
Perasaan itu mulai dibiarkan saja menemani saat-saat dirinya bekerja. Ia tak bisa merasa terganggu secara terus menerus. Lalu menanamkan lagi ketakutan tersebut. Lagipula kalau dicari-cari. Pastinya bukan Pak Haris yang mengawasi. Yuni merasa itu kemungkinan adalah Mikha.
Entah sejak kapan hatinya meyakini itu. Karena meski merasa diawasi, dicari-cari juga tidak ketemu. Sejak itu, Yuni merasa yang mengawasi memang bukan dari sebangsanya.
"Mungkin apa yang dikatakan Riyan kemarin benar. Ah! Kerja aja lah. Pikiranku tambah kemana-mana."
Pekerjaan berjalan begitu cepat, dan secepat itu juga hari sudah mulai siang. Yuni berpapasan dengan Imas. Sungguh ia ingin menyapa. Tapi, acuh saja sikap Imas.
"Imas, please aku nggak bermaksud buat bikin kami takut. Aku mohon lupain aja yang aku bilang kemarin. Aku kelelahan, sampai nggak bisa mikir," ucap Yuni. Ia berusaha membujuknya supaya hubungan sebagai teman, dan rekan kerja bisa kembali seperti semula lagi.
Akan tetapi Imas hanya melirik kesal. Mulutnya seakan terkunci malas untuk bicara.
"Imas! Kita ini teman kerja kan. Imas, masak sih kita nggak bisa bicara lagi kayak kemarin-kemarin. Ali minta maaf lagi deh. Please. Kita kayak biasanya ya!" Yuni memohon dan menatap seakan Imas akan berubah pikiran dan kembali berbaik hati lagi pada dirinya.
Sayangnya, Imas malah seperti baru saja menghembuskan nafas dengan kasar, tepat berada dihadapan Yuni. Ia menunjukkan wajah yang menyimpan amarah.
"Aku nggak suka tau, kalau ada yang bilang-bilang hal mistis, atau sejenisnya. Dari dulu aku emang begitu. Dan apa yang kamu lakukan kemarin, itu udah keterlaluan. Kamu bahkan berharap kalau aku bakal ngalamin hal yang buruk. Iya kan!"
Yuni memejamkan mata sejenak lalu membukanya lagi. Ia menatap Imas dengan lebih memelas. "Aku nggak sengaja, aku emosi dan kesal. Aku capek!"
"Sama, aku juga capek dan kesel, pengen marah. Khususnya sama kamu." Imad menatap tajam.
Saat itu, Yuni seperti sudah tak punya harapan. Ia diam secara otomatis dan hanya memandang kosong ke arah Imas. temannya itu ternyata tidak mau lagi memaafkan dirinya karena hal kemarin.
Imas tanpa mengatakan apa-apa lagi. Langsung saja melangkah pergi. Ia seketika berbalik dan berjalan begitu saja tidak peduli Yuni yang mematung saking syok dengan perkataan dari perwujudan sebuah emosi dari Imas.
Saat itu, saat Yuni sudah sendiri. Ia masih saja diam. Menyesali mengapa kemarin sampai terjadi hal seperti itu.
'Aku harus gimana. Aku pasti bakalan ngerepotin Riyan nanti, kalau nggak bisa akur sama Imas juga Varo. Ah kenapa juga aku kemarin terlalu emosional,' batin Yuni. Ia menyesal.
Bima yang melihat semua kejadian antara Yuni dan Imas pun jadi sedikit bingung dan penasaran. Mengapa dua orang yang ia tahu adalah sudah saling menganggap teman malah saling diam dan seperti tidak peduli. Ia pun bergerak mendekati Yuni.
"Yun!" panggilan pertama dari Bima itu ternyata tidak digubris. Yuni masih mematung. Memandang kosong tak berekspresi.
Bima menggelengkan kepala. Ia merasa Yuni memang hobi melamun. Ingin sekali langsung dikejutkan. Tapi, jahil sekali rasanya, kalau dirinya melakukan hal tersebut.
"Yuni! Kamu bisa denger panggilan aku nggak?" Kali ini sedikit lebih keras suara Bima. ia berharap Yuni tidak terkejut.
"Hah, apa sih. Dengarlah." Yuni sontak menatap Bima. Ia sedikit terkejut. Tapi, coba ditutupi.
"Ada apa sama Imas. Kok nggak kayak biasanya?"
"Itu, soalnya …."Yuni menatap Bima. Ia lalu berniat bercerita dengan sesingkat-singkatnya pada Bima.
Bima ternyata pendengar yang benar-benar baik. Usai menjadi mendengar penjelasan dari Yuni. Ia malah semakin kasihan saja pada wanita yang bekerja sebagai cleaning service di kampusnya tersebut.
"Aku pengen nolongin kamu Yun. Tapi, gimana caranya. Aku sendiri nggak ngerti banyak tentang kejadian yang pernah ada dan terjadi di kampus ini. Tapi, apa itu berlaku buat Ayah. Aku yakin ayah pasti tau sesuatu. Tapi, kenapa ayah nggak mau kasih tau." Bima meracau sendiri. Ia sudah berada di salah meja di kelas dan sibuk dengan catatan pelajaran kampusnya.
Berharap memang Bima pada Ayahnya yang memang tahu sesuatu. Ia akan coba nanti sepulang dari jam kuliah. Mungkin akan pulang larut, karena masih ada kegiatan di kampus juga.
"Ya semoga ayah mau cerita, setelah aku ceritain kisahnya Yuni." Berharap sekali hati Bima akan hal tersebut. Ia lalu melupakan sejenak apapun yang jadi beban pikiran dan kembali membaca catatan miliknya.
Sepulang dari kampus. Bima benar-benar berencana akan bertanya pada ayahnya. Tak tega mengingat wajah Yuni yang diacuhkan oleh Imas.
Ternyata Ayahnya sedang cuti jaga. Namun, tetap tidak ingin bercerita apapun tentang kampus keperawatan.
"Ayah, please. Aku cuma kasihan sama Yuni, cleaning service yang kerja di kampusnya Bima. Ayah kenal kan sama dia?" tanya Bima.
"Iya, ayah kenal. Memangnya dia kenapa. Apa hubungannya kaisham sama Yuni dengan kejadian yang pernah terjadi di kampus. Ayah nggak paham!"
Bima kemudian menarik nafas panjang. "Ya, kalau ayah mau denger ceritaku dulu. Aku akan kasih tau. Tapi, tolong. Bima mohon. Kalau ayah tau sesuatu. Tolong kasih tau ya!"