Menyusuri jalanan yang sudah mulai ramai. Ada sinar matahari mengiringi langkah kaki Yuni menuju ke kampus tempatnya bekerja. Ia berusaha bersemangat meski sempat sedikit oleng juga karena nasehat dari Bu Slamet, si ibu kos yang perhatiannya kadang lain. Tapi, untuk pagi ini Bu Slamet kembali baik dan terlihat tidak menyeramkan.
Sambil terus berjalan, Yuni nyatanya tidak semudah itu untuk lupa begitu saja pada hal menyeramkan yang sempat terjadi. Semua itu masih terasa bagai sebuah misteri. Lalu saat kerasukan kemarin, sungguh dirinya tak sadar dan tidak ingat sudah bilang apa saja.
Akhirnya langkah kaki Yuni sampai juga di kampus tempatnya bekerja. Ia berusaha untuk fokus dan melupakan apapun. Dilempar pandangan ke segala arah, mencari keberadaan siapapun yang dikenal.
“Masih sepi ya!” gumam Yuni. Saat yang bersamaan malah muncul Bima, seorang mahasiswa yang ayahnya adalah seorang petugas satpam di kampus itu.
“Yuni! Cari siapa?” tanya Bima yang kemudian berjalan mendekat ke arah Yuni yang masih berdiri di depan pagar kampus yang hanya terbuka sedikit. Maklum, ini juga masih pagi untuk mahasiswa berangkat kuliah. Jadi, pagar sengaja tidak terlalu dibuka.
“Cari anak-anak cleaning service yang lain. Kok belum ada yang kelihatan sih!” keluh Yuni.
Bima tersenyum. “Kamu itu udah dikasih tahu, kalau berangkat terlalu pagi ya gini jadinya. Masih sepi.” Bima lalu melihat ke arah tangan Yuni. Tampaknya gadis itu seperti sedang memegang sesuatu. “Kamu mau sarapan dulu?” tanya Bima.
Yuni mengangguk.
“Kalau gitu, kita sarapan bareng yuk di pos jaga. Kebetulan juga aku mau makan nih. Laper banget dari semalam belum keisi ini perut,” ucap Bima sambil mengusap perutnya yang datar.
Yuni tersenyum. Ia melihat Bima memang sedang membawa makan juga, seperti yang dibawa di tangannya. “Ya udah kalau gitu, kita sarapan bareng.”
Bima dan Yuni pun akhirnya masuk ke tempat pos jaga satpam kampus, ukurannya tidak terlalu besar. Tapi, ada meja dan dua kursi yang bisa dipakai Bima makan bersama dengan Yuni.
"Bim! Selama ini kamu selalu gantiin jaga ya kalau malam?" tanya Yuni. Ia memasang wajah serius seakan butuh sesuatu yang ada kaitannya dengan pertanyaannya barusan.
Bima coba menelan sisa makanan yang sedang dilahap. “Iya! Kalau malam, terus ayah lagi malas, biasanya aku gantiin dulu. Lagian akhir-akhir ini, ayahku sering sakit kalau keseringan jaga malam. jadi aku bantuin jaga aja. Lagian pihak kampus juga nggak keberatan.” Bima coba menjelaskan. Ia lalu melihat ke arah wajah Yuni yang menunduk. Tapi, tidak menikmati makanannya. “Yuni kamu kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa. Kamu hebat ya, bisa kuliah sambil gantiin ayah kamu kerja.”
Bima tersenyum malu. “Ah kamu bisa aja!” sahutnya lalu melanjutkan makan.
“Eh! Tapi, kalau malam kamu nggak ketakutan gitu ada di kampus ini. Denger-denger kampus ini ‘kan banyak hantunya!”
“Nggak! Aku nggak takut. Kalau sama makhluk yang begitu, asal kita nggak mengganggu dan nggak melakukan keonaran. Aku rasa semua akan baik-baik saja.”
Yuni tersenyum saja, lalu makan lagi. Sungguh saat itu ia ingin sekali bercerita. Tapi, tak mudah juga bercerita pada orang yang baru ditemuinya beberapa kali itu. Memangnya ucapan yang ada kaitannya dengan hal seperti itu bisa dengan mudah dipercaya. Ia takut malah terkesan mengada-ada dan malah ditertawai.
“Kenapa? Apa kamu pernah lihat mereka?” tanya Bima.
“Nggak tahu, tapi rasanya sejak kerja disini perasaanku sering banget takut.”
“Kalau gitu ilangin rasa takut kamu. Jangan biarin kamu malah ketakutan sendiri.”
“Iya, maunya juga gitu. Tapi kamu pernah nggak sih lihat mereka. Mereka yang nggak kasat mata?”
Bima terlihat menghela nafas, lalu tatapan matanya datar dan wajahnya seketika tidak berekspresi apapun. Ia kemudian menatap pad Yuni. “Kalau boleh jujur. Aku pernah lihat satu sosok, mahasiswi cantik. Aku kira dia manusia. Jadi, aku cari mungkin butuh pertolongan karena waktu itu udah malam banget. Tapi, dia tiba-tiba masuk ke perpustakan yang jelas-jelas pintunya kekunci. Saat itu, aku baru sadar, kalau mungkin it bukan mahasiswi.’
Yuni saat itu hanya bisa diam. sambil membayangkan alur cerita dari Bima yang sedang didengarkan saat ini.
“Yun! Kamu kok melamun, makan gih! Ntar keburu anak-anak datang lho!” ucap Bima mengingatkan.
Yuni baru sadar kalau makannya masih banyak. Ia pun segera mengambil lagi suapan untuk dimakan. “Kamu cepet amat makannya. Punyaku kok kayak nggak habis-habis gini.”
“Ya, abis kamu makan sambil ngelamun sih.”
Yuni tersenyum.
“Udah jangan dipikirin ceritaku tadi. Cuma itu aja yang terjadi. Dan setiap ada mahasiswi itu muncul, selalu hilangnya ya di depan pintu utama perpustakaan itu.”
‘Apa mungkin ada sesuatu sama perpustakaan ya. Waktu itu, aku mimpi ketemu sosok pak Haris dengan nama Haydar juga di perpustakan,’ batin Yuni. Ia lalu menghilangkan sejenak pikiran yang saling ingin menyambungkan apa yang sudah pernah terjadi. Karena, tampak di jalanan yang ada di dekat pos satpam sudah ada Imas dan Varo yang datang.
**
Pekerjaan pagi coba dibuat secepat mungkin untuk bisa selesai. Yuni masih coba fokus dan tak mau kehilangan kesadaran, hingga membuat kendali dirinya menghilang lagi.
“Mending aku nyanyi aja deh,” ucap Yuni.
“Nananananananana ….” Yuni mulai bernyanyi ala nada sesuka hati. Ia mulai menikmati irama itu saat sedang sendiri membersihkan ruang kerja Pak Haris.
Akan tetapi, saat suara itu mulai terasa bisa menghibur hati Yuni agar tidak merasa sendiri. Ternyata ia memang tidak sedang sendiri di dalam ruangan itu. Seiring nadanya yang mulai bergelombang dalam mengalun untuk memecah kesunyian, di saat itulah seperti ada suara lain yang mengiringi. Yuni sontak terkejut dan merasa tidak percaya.
Yuni menelan saliva dan menghentikan konser tunggalnya yang baru berlangsung beberapa menit. Ia kemudian menarik nafas akan memulai lagi konser itu. Dirinya ingin melanjutkan saja karena merasa mungkin apa yang didengar barusan tadi, bisa jadi hanya suara angin.
Berlanjut lagi Yuni menyanyikan lagunya. Saat itu ia benar-benar yakin kalau memang ada suara lain, suara yang bukan miliknya. Ia masih berlanjut untuk bernyanyi. Antara menantang dan ingin kabur tapi masih ingin memastikan.
Suara itu semakin terdengar jelas dan mengiringi tiap nada yang diambil Yuni. Di tengah kesibukannya menyapu lantai. Ia coba melihat ke semua sisi ruangan Pak Haris. Tapi, memang tak ada siapapun, di dalam ruangan itu hanya ada dirinya saja.
Yuni memperlambat temponya dalam bernyanyi. Ia juga menghentikan kegiatan menyapunya. Hingga saat sepasang matanya menatap ke arah meja kerja Pak Haris. Saat itulah dengan begitu cepat, tanpa ada angin yang lewat. Tiba-tiba pigura Pak Haris yang berisis foto keluarganya jatuh menutup di atas meja.
“Brakkk!”
Sontak Yuni terkejut dan membuat mulutnya seketika bungkam. Hati yang sudah berdebar semakin berdebar dan takut melihat lagi sekeliling. Tapi, ia coba berani dan mendekat ke arah meja.
“Ada sama foto ini?” tanya Yuni. Ia lalu melihat sisi ac yang mungkin menyala dan terlalu kencang anginnya hingga membuat bingkai foto ini tumbang.
“Aku nggak pernah ganggu kok. Tapi, kenapa aku terus diganggu sih. Kalau aku punya salah, kasih tahu. Jangan nakuti gini. Please, aku cuma pengen kerja dan dapat uang buat dikirim ke kampung.” Yuni bicara seakan ada seseorang yang mendengarnya. Padahal ia tahu jelas kalau di ruangan itu hanya ada dirinya saja. Sementara kursi yang jadi pendamping meja Pak Haris sedikit bergeser dan terlihat jelas oleh Yuni yang ada di dekatnya.
‘Jadi, mereka itu beneran ada.’ Batin Yuni, rasanya ia sudah ingin kabur saja saat itu