Bercerita Saja

1287 Kata
Wajah Yuni dan Riyan sama-sama sedang dalam mode serius. Mereka berdua sedang bersiap kan menyantap makanan yang telah dipesan. Akan tetapi, makanan yang siap dilahap itu malah dibiarkan saja. Yuni merasa ada beban yang masih sulit diceritakan pada Riyan. “Sebenarnya aku tadi malam juga mimpi aneh, aneh banget.” Sesaat kemudian Yuni menarik nafas dulu. Mungkin berat hatinya bercerita. “Aku tahu kalau kampus tempat kita kerja itu emang angker. Tapi kan harusnya nggak kebawa sampai mimpi, dan pas pulang tadi sore. Aku lihat bu Kosku serem banget. Nggak biasanya dia pasang wajah nyeremin. Kayak pas lihat aku dia pengen marah aja. Apa ada yang aneh sama aku pas kita pulang tadi?” Gagap Yuni merangkai semua kata barusan. Ia merasa sulit untuk mengungkapkan isi hatinya, mungkin karena rasa takut yang muncul merebak di hatinya. “Aku lihat kamu biasa-biasa aja tadi pas pulang. Mungkin bu kos kamu lagi sakit gigi. Makanya dia lihat kamu waktu pulang tadi bawaannya pengen marahin kamu.” Riyan coba menetralkan suasana yang tiba-tiba terasa membuat bulu kuduk merinding. Ia tersenyum. “Udah kita makan yuk!” Mengambil sendok dan akan melahap. Akan tetapi, tiba-tiba tangan Yuni mencegahnya dan menatap serius sekali pada Riyan “Riyan, tapi aku masih mau cerita lagi.” Riyan menatap serius lagi pada Yuni. “Iya! Kamu cerita aja! Aku bakal dengerin kok, kan meski kita lagi takut tetep kudu harus isi perut kita sama makanan kan!” “Iya sih!” “Ya udah cerita aja. Aku dengerin terus kok!” Yuni menarik nafas lagi dengan panjang. Ia coba mengingat memori yang sengaja dilupakan agar hari-harinya bekerja di kampus bisa tenang dan berjalan normal. “Aku pernah ngilangin dompetnya Pak Haris pas pertama kali bersihin ruangannya.” “Hah! Apa! Terus Pak Haris gimana?” Baru juga beberapa suapan dimasukkan kedalam mulut Riyan. Ternyata laju sendok itu malah kembali terhentikan. Makan disaat seperti ini memang sulit. “Iya! Pak Haris nggak gimana-gimana. Malah anehnya, aku lihat dompet pak Haris itu lagi ternyata udah ada di dalam sakunya Pak Haris. Padahal jelas-jelas dompetnya aku jatuhin ke lantai dan isinya keluar berserakan semua. Kamu bisa bayangin nggak, gimana kaget dan syoknya aku?” Yuni mulai menelan saliva. Ada hati yang takut saat dirinya sudah sedikit bisa menyusun kalimat untuk menceritakan sedikit demi sedikit kejadian yang sudah dialami. “Mungkin aja Pak Haris cepet-cepet beresin dompetnya dan dibawa.” Royan coba menebak alur cerita yang dikisahkan oleh Yuni. “Ya, nggak mungkin lah Riyan. Jadi, aku itu baru aja membersihkan meja Pak Haris. Terus aku nemu dompet itu dan aku buka. Aku lihat juga ada kartu mahasiswa yang tanggal lahirnya sama kayak tanggal lahir aku. Terus ada kamu datang, dan bikin aku kaget. Spontan aja, itu dompet aku jatuhkan dan isinya berhamburan di lantai. Aku terus nemuin kamu, dna nyuruh kamu nunggu di luar. Dan nggak lama aku balik dompetnya udah nggak ada. Eh, di luar ruangan udah ada pak Haris mau masuk. Terus, menurut kamu, gimana caranya pak Haris ambil dompetnya yang udah berantakan tanpa ketahuan kita, padahal kita lagi ada di pintu waktu itu. Sedangkan udah jelas kalau Pak Haris masih di luar ruangan.” Yuni menatap serius, terlihat ia sampai menelan saliva agar hatinya tidak terlalu takut dengan apa yang barusan diceritakan. “Yun! Kok aku tiba-tiba merinding gini sih!” Riyan malah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Ia ikut menelan saliva. “Ya udah sambil makan aja, biar nggak terlalu terasa merindingnya.” Yuni memandang kesal karena Riyan malah membuat suasana meja seperti tidak hanya berdua. Ia merasa seperti ada yang ikut mendengarkan mereka berdua berbicara. “Eh! Tapi, jangan-jangan ada hubungannya lagi. Antara tanggal lahir yang sama dengan kamu, sama alasan kenapa kamu sempat kerasukan pas di kampus tadi.” Riyan coba menebak. Kali ini ia sempatkan untuk melahap satu sendok makanannya. “Bisa jadi sih! Dan satu lagi Riyan, aku tu rasanya benci banget sama Pak Haris. nggak tahu apa alasannya, padahal ketemu juga baru disini.” “Kok bisa gitu, apa jangan-jangan yang merasuki kamu itu yang punya rasa itu. Makanya identitas tanggal lahir yang sama dengan kamu ada di dompet Pak Haris. Bisa jadikan kalau ada benang merah antara hal itu sama yang udah terjadi sama kamu dan kamu bilang pernah mimpi buruk juga 'kan.” Yuni coba meneguk minumannya dan berpikir makin serius. “Kalau ada benang merahnya. Terus ada nggak alasan kenapa sampai yang merasukiku itu benci banget sama Pak Haris.” Sekelebat bayangan mimpi buruk tentang dirinya yang sedang ada dalam ruang gelap di salah satu kampus kembali menyeruak. Ia sedikit sesak, rasanya kejadian dalam mimpi itu seperti nyata dan amat sangat seram untuk diingat. ** Meski hari akan terasa sulit dilewati. Akan tetapi, pagi ini Yuni tetap harus semangat. Bagaimanapun juga tujuan dirinya untuk datang ke kota adalah untuk bekerja dan mendapat uang. Sejenak rasa takut itu dihilangkan untuk yakin bisa melalui hari dengan baik. Yuni pun segera menyelesaikan acara mandinya dan segera keluar dari kamar mandi. Mengambil seragam kerja yang selalu mengingatkan ia tentang segala hal pekerjaan dan keseraman yang sering sekali muncul akhir-akhir ini. “Kenapa juga sih harus aku yang digangguin. Kan di kampus ada banyak orang.” Yuni masih menggerutu dan menyesal mengapa harus dirinya yang kena masalah. Ia mengancingkan baju seragam cleaning service yang sedang dipakai dan segera merapikan rambutnya, mengikatnya dengan sangat kuat. “Selesai!” ucap Yuni yang melihat pantulan dirinya di cermin. Ia melihat dirinya sudah sangat siap. Sesaat kemudian ia menghela nafas, rasanya harus ada harapan. Agar dirinya nanti pasti akan melewati hari dengan baik. Tak akan ada lagi kerasukan atau pembicaraan yang ngelantur dan tidak terarah. “Yang penting aku nggak boleh melamun, nggak boleh pikiran kosong. Nanti biar nggak dirasuki lagi. Enak banget dia. Memangnya aku manusia apaan. Keluar masuk kayak rumah sendiri.” Yuni pun segera keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Ia melihat Bu Slamet sedang membeli bungkusan nasi di tukang sayur yang sedang lewat. “Yuni! Kamu cantik banget hari ini,” ucap Bu Slamet menyapa. Yuni tersenyum. “Bu Slamet bisa aja!” sambung Yuni sambil tetap terus menatap wajahnya Bu Slamet yang tidak seperti kemarin sore. Pagi ini wajah Bu Slamet terlihat sangat bersahabat seperti hari-hari yang lalu. “Iya kamu cantik banget, kelihatan semangat sekali. Kalau gitu, ini kamu bawa buat sarapan. Kamu pasti belum makan sama sekali,” ucap Bu Slamet lagi sambil memberikan sebuah kantong plastik berisi sebungkus makanan. Yuni agak sungkan untuk menerimanya. “Nggak usah Bu, biasanya kalau pagi gini say beli gorengan aja sama teman-teman.” Bu Slamet tersenyum lagi. Ia perlihatkan kalau dirinya sangat ingin membantu Yuni. Diraih tangan kanan Yuni dan memaksa kantong plastik itu pindah ke tangan tersebut dari dirinya. “Rezeki nggak baik kalau ditolak, malah dijauhin sama rezeki lho nanti.” “Iya udah deh Bu Slamet. Kalau begitu terimakasih banyak!” “Iya!” Yuni segera mengambil sepatu dan segera memakainya. Ia pun dengan cepat sudah akan bersiap akan pergi. “Eh! Tunggu dulu Yun!” panggil bu Slamet lagi, membuat langkah kaki Yuni yang akan keluar rumah harus berhenti dulu. Yuni menatap lagi ke arah Bu Slamet. “Iya Bu! Ada apa?” “Kamu jangan banyak pikiran ya, kalau emang mau kerja. Ya kerja aja, nggak usah mikir yang macam-macam.” Bu Slamet coba mengingatkan. Ia sebenarnya cemas sekali pada Yuni yang sepertinya memang sedang diganggu sesuatu. Deg Hati Yuni seperti menerima pernyataan itu dengan sedikit terkejut dan tersentil. Karena kalimat barusan dari Bu Slamet adalah nasehat yang sangat tepat sebenarnya. ‘Kok Bu Slamet bilang begitu, padahal aku kan selama ini, nggak pernah cerita apa-apa, kok perasaanku nyambung sih,' batin Yuni. Ia pun memaksa untuk tersenyum membalas nasehat baik dari pemilik kosnya tinggal itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN