Belum Berani Berbicara Jelas

1282 Kata
Dengan hati yang sudah berusaha pasti. Kalau semua yang terjadi tentu bukan karena dirinya yang salah. Yuni tahu kalau tempatnya bekerja memang bukan tempat sembarangan. Bahkan mungkin setiap tempat di dunia ini, pasti memiliki penunggu yang dianggap keramat dan horor. Tapi, kalau dirinya tidak melakukan apapun yang bersifat mengganggu terhadap mereka yang tidak kasat mata. Tentu saja harusnya Yuni tidak menerima insiden yang membingungkan dan membuat seram dirinya. Terkadang kalau sudah begitu, ingin rasanya berhenti dan pulang saja. "Kamu nggak usah takut Yun. Aku bakalan ada kok buat kamu." Riyan membantu membereskan buku-buku perpustakaan berdebu yang sudah dilap bersih. Ia meletakkan di rak buku bagian paling atas. Karena Yuni tidak sampai kalau harus menaruh disitu. Hingga bagi tugas terjadi dan Yuni mengerjakan bagian memberikan saja. "Tapi, kamu nggak mesti bisa ada buatku terus Riyan. Kamu tahu nggak yang tadi itu, aku rasanya kayak patung yang nggak bisa bergerak, aku kaku banget." Yuni coba menjelaskan apa yang tadi terjadi dan dirasakannya. Ia merasa seperti beku. "Aku tadi juga takut banget. Kamu kayak cuma tinggal raga doang waktu aku panggil tadi." Riyan menatap Yuni yang duduk di bawahnya. "Kamu jangan sering melamun Yun. Disini itu tempatnya serem. Tapi emang selama aku sama anak-anak yang kerja disini. Nggak pernah ada gangguan juga. Baru semenjak …!" Ucap Riyan terhenti dan mengingat hal yang mungkin tidak seharusnya dikatakan disini. Ada rasa was-was yang kembali muncul. Rasa yang merasa diawasi. Rasa yang curiga terhadap sesuatu yang entah apa itu. Semuanya terasa begitu membingungkan. Yuni melihat ke arah Riyan. Ia menunggu teman kerjanya itu melanjutkan bicaranya. Tapi, selama sepersekian detik belum ada juga ucapan yang diteruskan. "Riyan, kok diam. Kamu mau bilang apa. Semenjak apa. Kamu nggak lagi kesambet apa-apakan?" tanya Yuni. Ia malah ikut cemas saat memperhatikan Riyan yang tiba-tiba diam seperti sedang terjadi sesuatu. Riyan menggeleng dan fokus lagi pada Yuni. Ia kemudian tersenyum. "Nanti kita jalan lagi yuk!" Yuni menyipitkan mata. Menilai raut wajah Riyan yang seketika berubah. "Ngomong nggak dilanjutin malah ngajak keluar," gumam Yuni agak kesal. Karena ada separuh hatinya penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Riyan. Riyan lalu menunduk dan mendekat ke arah wajah Yuni. Ia seperti akan membisikkan sesuatu. "Kamu masih ngerasa diawasi nggak sih." Mendengar pernyataan itu, Yuni langsung menatap pada Riyan dan sontak saat itu wajah mereka saling bertemu. Berdegup hati Yuni bisa melihat sedekat ini wajah Riyan. Ia merasa seketika berdebar dan agak sedikit was-was. Cemas dan takut jadi satu. Takut kalau jarak itu makin pendek dan pasti akan ada sentuhan tak sengaja terjadi. Takut yang lain, tentunya merinding rasanya tapi Yuni suka. Cukup mengejutkan. "Ehm … lanjutin kerjaan aja dulu." Segera Yuni menormalkan lagi kondisinya agar hatinya tak kacau karena Riyan. Riyan mengangguk menurut. Ia memang tak seharusnya sedekat itu dengan Yuni, apalagi di tempat seperti ini. ** Senja di langit yang begitu jelas terlukis. Ada rasa lelah memenuhi seluruh persendian saat melangkah pulang ke kos tempat Yuni tinggal. Ia melangkah dengan pelan, merasakan letih yang amat menghujani kedua pundaknya. Kaki juga terasa seperti sbaru selesai lari jarak jauh, lelah sekali. Pintu pagar hijau terbuat dari besi dibuka pelan dan mengeluarkan suara decitan karena termasuk besi yang sudah usang. Suara decitan itu seharusnya membuat ibu kos alangkah baiknya untuk mengganti saja pagarnya. Karena bagi Yuni suaranya sedikit seram seperti suasana saat kerja di kampus. “Mungkin nggak sih, demit yang ada di kampus itu ngikutin aku sampai sini. Kenapa rasanya horor terus,” gumam Yuni. Ia merasa masih agak merinding. Diraba tengkuk lehernya dan segera masuk ke teras kos tempatnya tinggal. Melepas sepatu yang sedang digunakan sambil duduk di sofa panjang yang sudah usang. “Yuni! Kamu baru sampai ya?” tanya Bu kos yang baru muncul dari balik pintu utama rumah. Sepertinya bu Kos akan membersihkan tanaman hias yang ada di depan pagar. “Iya bu Slamet, bu Slamet mau ngapain?” Bu Slamet yang tadinya menyapa Yuni malah diam saja, terhenti dengan kaki yang juga tidak melangkah kemana-mana. Ia dengan sapu lidi kecil yang dipegang erat di tangan, malah menatap ke arah Yuni tanpa berkedip. Wajahnya datar tak ada garis ekspresi sedikitpun. Yuni yang seketika merasa terlalu diperhatikan oleh bu kos. Ia mendadak jadi merasa semakin aneh. “Ada apa ya Bu? Apa ada yang salah sama saya?” tanya Yuni dengan ragu. Ia lalu melihat seluruh bagian tubuhnya dari atas hingga bawah. Mungkin saja melakukan kesalahan. “Kamu pulang sendirian atau ada yang nganterin?” tanya Bu Slamet. Yuni sedikit bingung. Jelas kalau dirinya hanya pulang sendiri, tidak ada yang menemani. “Saya jalan kaki kayak biasanya kok Bu!” “Oh! Kalau gitu, cepetan mandi, bersihkan tubuh kamu itu. Bau keringat jadi satu ruangan kalau kamu nggak segera mandi!” Bu Slamet berkata dengan nada yang terkesan keras, dan memaksa Yuni agar segera melakukan apa yang disuruhnya barusan. Yuni coba melempar senyum. “Iya Bu! Kalau gitu saya langsung mandi aja!” Yuni bergegas bangun dan naik ke lantai atas untuk masuk ke kamarnya. Ia merasa takut saat melihat ke arah Bu Slamet. Sepertinya mata bu Slamet sepert tidak melihat ke arahnya saat bicara tadi. Tapi, entahlah Yuni sudah tak mau mengingatnya. “Mending aku emang kudu cepetan mandi. Lagian tubuhku juga bau keringat banegt.” Sementara itu, Bu Slamet masih berada di teras rumah dan sedang mencabuti rumput liar yang tumbuh didalam pot tanaman. Tidak terlalu lebat hanya saja cukup mengganggu pemandangan bagi seorang pecinta tanaman hias akut seperti bu Slamet. Ia benar-benar tak suka kalau ada yang tumbuh di dalam lingkup kuasanya. “Harusnya kamu nggak ikut datang kesini, apalagi kalau buat tinggal, bisa aku cabut kamu kayak rumput liar ini. Tapi, kenapa kamu malah muncul mengiringi anak itu. Yuni bahkan tidak mengerti sama sekali apa yang telah pernah terjadi. Itu juga sudah lama.” Bu Slamet berbicara sendiri, raut wajahnya tenang tapi terlihat seram. Bersamaan dengan itu, ada sepoi angin yang berhembus sedikit kencang. Meniup secara satu arah tertuju pada Bu Slamet. Cukup bisa membuat tanaman hias yang sedang dipegang Bu Slamet bergoyang. Bu Slamet masih coba tenang. ia mulai menghirup nafas panjang, dan menghembuskannya dan menatap ke arah sumber angin yang menabrak dirinya. “Lebih baik, kembali ke tempat asal. Kamu sudah tidak ada sangkut paut dengan tempat ini. Satu lagi, aku mohon, jangan ganggu Yuni. Dia itu, anak yang baik yang tidak mungkin bisa jadi media untuk balas dendam. Sekalipun kamu menemukan ikatan dengan dirinya.” Diangkat wajah Bu Slamet dan menatap tajam seakan ada sosok yang bisa diajak bicara dihadapannya. Padahal jelas tidak ada siapa-siapa, selain ruang kosong. Waktu yang berjalan, akhirnya mulai merubah warna langit hari ini. Malam hari menjelma menjadi malam yang begitu indah. Ada ragam bintang di langit terlihat kecil menemani Yuni berada di teras kamarnya. Ia sedang diam, menunggu sebuah kedatangan. Tak lama awan hitam menutupi keindahan itu. Yuni merasa kehilangan, tapi segera tergantikan dengan kedatangan Riyan. “Iya, aku turun sekarang. Tunggu aja di depan pagar. Mungkin bu Slamet lagi makan! Jadi nggak tahu kalau ada yang datang!” ucap Yuni di sambungan teleponnya. Ia pun segera mematikan panggilan ponsel dari Riyan itu, dan segera menuju teras. Ternyata sudah ada Riyan, dan sedang berdiri santai tepat di depan pintu pagar. “Kirain bakalan lama turunnya?” tanya Riyan. Ia melihat Yuni sudah muncul sambil tersenyum. "Enggak lah. Aku udah siap dari tadi." "Kalau gitu kita pergi makan dulu aja." Dengan motor matic yang bersih sekali. Riyan akan membonceng Yuni. Ia memberikan helm dan melihat Yuni berusaha memakainya. "Sini aku bantu." Riyan coba memberi bantuan. Yuni hanya tersenyum kecil. Minimal ia bisa merasakan hati yang berdebar-debar bukan hanya karena takut dengan tempatnya bekerja yang memang menyeramkan. Tapi, juga karena rasa lain yang mengisahkan perasaan. "Udah selesai. Kita meluncur sekarang!" ucap Riyan mengajak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN