Yuni terpaku dengan wajah datar, duduk lesu memandang lurus kedepan dengan perasaan yang terbang kemana-mana. Ia merasakan ada rasa sepi karena saat ini ia sedang berpikir sendiri. Meski lalu lalang mahasiswa yang ada membuat ia harusnya merasa ada keramaian. Akan tetapi, ia seperti tidak mendengarnya.
Pikiran yang terbang, membuat Yuni mengingat sedikit demi sedikit kejadian yang telah terjadi. Setiap kejadian yang akhir-akhir ini dialami sungguh di luar nalar. Ia tidak bisa berpikir jernih.
Awalnya pekerjaan yang ia lakukan berjalan dengan lancar saja. Perjumpaan dengan teman-teman kerja membuat hari-harinya lebih indah dan ceria. Apalagi teman kerjanya adalah anak-anak yang baik. Mengingatkan dirinya untuk bisa selalu tersenyum meski pekerjaan sesulit apapun.
Lalu, melakukan pekerjaan dan menyelesaikan semuanya dengan tepat waktu. Meski hanya pekerjaan sebagai tukang bersih, tapi ia merasa senang sekali. Hingga beberapa hal aneh datang silih berganti, tanpa ia sadari kalau ada benang merah dari hal aneh yang satu dengan hal aneh lainnya. Entah mengapa tiba-tiba siang ini ia berpikir demikian.
‘Pertanyaannya cuma satu, kenapa harus aku yang alami?’ batin Yuni bertanya.
Dalam keadaan yang kesepian itu. ia melihat mahasiswa yang berjalan di hadapannya. Awalnya terlihat biasa-biasa saja. Seperti langkah kaki normal layaknya orang sedang berjalan. Akan tetapi, tiba-tiba ada yang kembali terasa aneh untuk dirasakan. Lalu lalang mahasiswa itu seperti berjalan cepat. Kemudian aroma suasana kampus tempat Yuni bekerja malah sedikit demi sedikit seperti mengalami perubahan.
Yuni melihat ada sepasang mahasiswa dan mahasiswi yang sepertinya punya hubungan begitu dekat. Saling bertukar buku dan memberi penjelasan tentang apa yang sedang dibicarakan. Karena terlalu memberi penjelasan, seorang dari mereka malah mengajak duduk tepat di sebelah Yuni, dan Yuni masih mencermati.
Masih sibuk untuk meneliti apa yang sedang terjadi, dalam hati Yuni penasaran juga siapa mahasiswa dan mahasiswi yang tengah berada di samping tempat duduknya. Karena selama berada disini, rasanya ia belum pernah jumpai wajah mereka berdua.
Ia pun sibuk dengan pemikiran itu, merasa ada aroma lain yang pernah muncul saat Yuni pertama kali datang ke tempat ini. Aroma bunga, tapi sedikit berbeda. Aroma yang ia hirup lebih condong seperti aroma parfum, dan semakin lama. Semakin detik yang berjalan untuk tetap dalam kondisi itu, Yuni mulai mencium aroma lain, aroma bunga melati.
‘Bau ini?’ batin yuni mulai merasa tidak bisa bergerak. Ia seakan kaku dan mematung. Tak ada kekuatan untuk menggerakkan anggota tubuh, bahkan hanya sekedar bicara juga tidak bisa. Kecuali kalau hanya untuk mengerjapkan mata. Mungkin cuma itu yang bisa dilakukan.
Diri seorang Yuni sudah terjebak. sepasang matanya terpaksa harus melihat kegiatan sepasang mahasiswa tadi. Tapi, entah mengapa ada rasa seram sendiri yang menghantui dirinya kalau tetap menyaksikan kegiatan mereka. Padahal mereka berdua masih berwujud layaknya manusia.
“Ya Allah, ini aku kenapa. Tolongin aku siapapun, please! Riyan! Kamu ada dimana? Bukannya kamu tadi mau ngajak aku buat bersihin perpus. Cari aku Riyan, bangunin aku. Aku terjebak, bener-bener terjebak.’ Hanya suara hati Yuni yang mampu bicara, matanya digunakan berkedip-kedip dengan sekuat tenaga. Hanya berharap itu hingga perlahan suara memanggil namanya sedikit terdengar masuk ke panca indra.
“Yuniii, yuniiii, Yunnn! Yuniiiii!” Awalnya samar-samar suara itu terdengar, dan mulai semakin keras dan jelas.
“Yuniii, Yunn, Yuni, kamu kenapa sih? Yuni!” Semakin meninggi nada bicara Riyan memanggil nama temannya itu. Ia sampai harus menggoyangkan pundak Yuni dengan cukup keras. Karena Yuni sangat sulit disadarkan. Padahal sepasang matanya masih terbuka dan berkedip tanda ia masih sadar.
Pada akhirnya ada tarikan nafas yang mendadak diambil dengan cukup mengejutkan. Yuni segera merasa normal dengan pernafasannya. Tidak tahu tapi tadi sedikit terasa ia seperti kesulitan bernafas. Hingga akhirnya wajahnya menghadap Riyan dan sadar akan ada kehadirannya.
“Ya Allah Riyan! Aku pikir aku nggak akan ketemu kamu lagi!” ucap Yuni tiba-tiba dan langsung memeluk pria itu.
Riyan membalasnya. Ia merasa senang dan lega melihat Yuni sudah kembali bisa berinteraksi lagi. Rasanya pelukan itu jadi makin erat dan mencuri perhatian dua temannya yang ternyata sudah menunggu di perpustakaan, dan karena saking lamanya menunggu. Imas dan Varo akhirnya mencari keberadaan Yuni dan Riyan. Lalu memergoki mereka berdua sedang berpelukan.
“Ya ampun, jadi kalian malah pacaran disini? Dilihat dosen itu, nggak malu apa?” celetuk Varo yang tiba dan mengintai mereka berdua sejak tadi.
Baru sadar Yuni kalau mereka berdua sedang berpelukan. Ia pun segera melepas dan pura-pura tidak melakukan hal yang membuat orang salah paham.
Riyan sadar kalau yang tadi itu adalah sebuah bentuk spontanitas. Tadi memang cukup menegangkan dan menakutkan kalau sampai Yuni tidak bisa bangun, yang diherankan oleh Riyan. Ia merasa saat tadi, seperti tidak ada sama sekali orang yang lewat. Hingga akhirnya ia hanya fokus saja menyadarkan Yuni.
“Kalian kalau mau pacaran nanti abis kerja. Jangan sekarang!” tambah Varo yang menggoda Riyan dan Yuni.
“Nggak gitu Varo! Tadi itu kayak!” ucap Yuni yang coba menjelaskan tapi tiba-tiba terpotong oleh Riyan.
“Ya udah kita kerja aja dulu. Yang tadi itu anggap aja lah iklan siang hari. Masak cuma sinetron aja yang ada iklannya,” sela Riyan sambil tersenyum. Ia memaksa keadaan agar tidak tegang baik bagi dirinya maupun Yuni dan langsung menepuk pundak teman perempuannya tersebut. Berharap dengan begitu Yuni bisa segera bangun dan mengikuti langkah kaki untuk segera menuju perpustakaan, tempat yang siang ini akan dibersihkan.
“Ciyeee elah, pokoknya kalau nanti ada yang jadian, jangan lupa traktirannya ya, aku yakin kalau kalian berdua beneran cinlok! Alias cinta lokasi,” gurau Imas.
Yuni hanya diam saja, ia lalu menoleh pada Riyan.
“Udah kita kerja aja dulu!” ucap Riyan lirih. Akan tetapi, ia yakin kalau Yuni sudah bisa cukup jelas untuk mendengarkan.
“Aku nggak mau mereka salah paham,” balas Yuni. Ia maiysh berjalan di sebelah Riyan.
“Nggak papa, jangan banyak bicara dulu. Aku ngerasa kalau kita sedang diawasi kayaknya udah sejak tadi.” Riyan kembali menjelaskan dengan suara yang tetap pelan.
“Hah! Masak!” Saat itu juga Yuni hanya bisa menghela nafas, satu-satunya cara agar perasaannya biar bisa tenang. Ia sungguh tidak menyadari hal itu. Mungkin karena baru terjebak di alam yang membingungkan karena terlihat dari suasana dan orang-orangnya yang berbeda, hanya menyisakan banyak kebingungan dalam hatinya. Lagi-lagi butuh waktu untuk memproses semua yang sudah terjadi.