Petunjuk Pertama

1158 Kata
Mereka hanya bisa saling menatap tanpa bicara. Ada suasana lain yang mulai menyelimuti sebagai atomosfer yang bisa dirasakan setiap orang yang ada disitu. Baik Riyan maupun satpam yang sedang ada bersama-sama pun merasa lidahnya tiba-tiba keluh tak bisa berbicara. Entah apa yang membuat semua itu terjadi. Tapi, Yuni juga merasa seperti ada yang lain dari dalam dirinya. Hatinya tiba-tiba berdebar, mungkin kalau ia merasakan itu sambil melihat ke arah riyan. Bisa jadi dirinya sedang jatuh cinta. Tapi, kondisi ini sangat beda jauh dari keadaan tersebut. Tidak ada tatapan selain saling diam satu sama lain, sambil memperhatikan dengan seksama. Mereka bertiga tahu ada yang aneh. “Yun! Apa kamu perlu minum?” tanya Riyan, ia merasa dirinya harus berani. Meski desiran angin yang terasa siang ini juga lain saat tersentuh kulitnya. Bukannya nyaman malah seperti dibuat merinding oleh suara dan gerakan angin yang tertiup oleh dedaunan di sekitar lingkungan kampus. Yuni menggeleng. “Nggak!” Yuni kemudian menatap Riyan dan satpam itu dengan pandangan mata lain. Seperti sudah ada yang mengambil alih tubuhnya. “Kenapa ceritanya berhenti. Aku juga mau dengar lagi. Cepetan cerita!” nada bicaranya sedikit meninggi. Riyan menelan saliva, ia melihat lagi lebih teliti pada Yuni. ‘Apa jangan-jangan Yuni?’ batin Riyan bertanya. Riyan pun segera menyenggol satpam itu agar sadar dan tidak ikutan melamun. Menurut Riyan, mungkin itu yang jadi salah satu faktor Yuni juga bisa berubah dalam detik ini. “Pak! Cepetan cerita lagi, jangan tiba-tiba ikut bengong dan diam aja. Aku juga ingin tahu.” Riyan mengejutkan satpam itu, sontak pak satpam terhentak dan mulai sadar kalau salah juga jika dirinya ikutan diam. “I-iya! Jadi, yang dibilang Yuni tadi ada benernya kok! Kalau dulu disini itu mahasiswanya dikit karena kebanyakan kalau nggak kaya banget nggak bisa kuliah. Sekarang aja, rame banget. Mungkin karena udah banyak orang kaya kali ya!” “Iya, kaya secara instan!” sahut Yuni, pandangannya matanya makin kosong dan datar. Tidak ada gurat garis wajah yang menunjukkan kalau dirinya ikut berekspresi dalam setiap pembicaraan yang ada. Riyan kembali merinding. “Pak Satpam udah lama ya kerja disini?” “Ya udah lah, sejak saya bujang!" “Jadi tahu dong banget tentang seluk beluk tempat ini?” tanya Yuni. “I-iya! Tahu, nggak banget sih! Tapi cukup lumayan tahu,” sahut satpam itu. “Ngomong-ngomong kebanyakan yang kesurupan minta apa Pak?” tanya Yuni kali ini. Satpam itu malah kikuk saat akan memberikan jawaban. Ia malah merasa disudutkan oleh Yuni hanya lewat tatapan mata saja. “Minta!” Riyan ikut makin penasaran. Ia tak habis pikir kesurupan yang terjadi malah minta sesuatu. Bukannya mereka yang ada dan tidak terlihat sudah putus dengan segala urusan di dunia ini. mengapa malah meminta sesuatu. “Pak! Jawab dong!” ucap Riyan. Sambil tersenyum kecil dan coba menghibur kondisi siang yang tiba-tiba jadi suram. Satpam itu terlihat menelan saliva agar tenggorokannya tidak lering. “Yang paling sering mereka minta jalan-jalan di sekitar kampus ini.” “Jalan-jalan?” sahut Riyan dengan nada bertanya, bingung juga mengapa malah minta jalan-jalan. “Iya! Aneh kan. Saya sendiri juga nggak tahu kenapa mereka malah minta jalan-jalan. Padahal kalau logika seharusnya mereka bisa jalan-jalan kemana saja yang mereka mau ‘kan!” “Itu karena ada tempat yang disembunyikan disini. Mungkin agar manusia tahu kalau sepintar-pintarnya mereka menyembunyikan sesuatu pasti akan ketahuan juga,” sahut Yuni. Lagi-lagi pandangan matanya kosong dan datar. “Yuni, kamu kok ngomong kayak gitu?” Riyan memberanikan diri bertanya. “Iya! Karena memang nyatanya seperti itu. Udah lama tersembunyi, sampai sudah ganti generasi dan generasi yang menyembunyikan itu udah dekarag udah datang!” Yuni melihat lurus ke depan tanpa berkedip sedikitpun. Riyan makin dibuat ketakutan, tapi saat ini ia tak bisa lari. Cemas saja dengan kondisi Yuni yang membingungkan. Hingga ada Pak Haris muncul dari pintu pagar masuk ke arah kampus. Entah darimana orang tersebut. Saat itu, Riyan masih melihat ke arah wajah Yuni dengan sisa keberanian yang ada. Rasanya sejak tadi ia sudah dibuat spot jantung dengan setiap mendengar cara bicara Yuni yang biasanya naik turun tak beraturan nadanya. Ini malah datar dan tak berirama. Wajah Yuni yang terus saja memandang ke depan, tiba-tiba menunduk dalam hitungan sepersekian detik. Tak lama setelahnya, Yuni lalu memandang lagi ke arah Riyan. “Kok diam aja, si Varo sama Imas udah balik belum? Kok lama banget sih! Jangan-jangan Varo sama Imas pacaran lagi?” ucap Yuni. Riyan memandang kaget. Yun! Kamu ternyata udah balik?” Diraih kedua pundak Yuni untuk dipegang kuat dengan sedikit digoyangkan oleh Riyan. Teman kerjanya itu sangat merasa lega mendengar cara bicara Yuni yang sudah kembali seperti biasanya. “Lha! Aku dari tadi ada disini ‘kan!” Yuni memandang heran dan tajam pada Riyan. “Nggak! Iyakan pak?” Kali ini wajahnya dihadapkan pada satpam yang sejak tadi menemani pembicaraan mereka. Satpam itu hanya mengangguk. “Kamu tadi kayaknya kemasukan deh Yun! Aneh cara bicara sama cara pandang kamu lihat kami berdua tadi.” Yuni memegang tengkuk lehernya, seketika merinding mendengar pernyataan dari satpam tersebut. “Jangan bicara sembarangan dong pak. Kalau aku kemasukan sesuatu jelas aku bakalan pingsan.” “Ya, mana saya tahu. Toh Riyan juga jadi saksinya.” Yuni menatap Riyan yang juga mengangguk. “Iya kamu tadi kemasukan Yun!” ucpa Riyan.. Nyatanya obrolan mereka berdua diamati dan cukup bisa didengar oleh Pak Haris yang sedang lewat. Pria yang jadi dekan di kampus itu pun menghentikan langkah dna berjalan menghampiri Riyan juga Yuni. “Siapa yang kemasukan? Maksudnya kemasukan itu kerasukan makhluk halus?” tanya Pak Haris yang sontak juga tanpa diduga dan membuat terkejut setiap orang yang ada disana. “Aduh! Saya harus cek pintu gerbang dulu kayaknya,” ucap satpam yang rasanya juga tidak nyaman saat diajak bicara dekan yang baru beberapa waktu menjabat di kampus ini. Satpam itu tersenyum dan langsung kabur. Riyan pun menjawab seperlunya saja. Sedangkan sebagian pikirannya masih tertuju pada Yuni yang kerasukan tadi. Ia juga agak aneh mengapa Pak Haris bertanya dengan sangat peduli dan ingin cari tahu apa yang sudah terjadi. .. “Yun! Kamu kok bisa kerasukan sih?” tanya Riyan Mereka berdua sedang berdua di lorong koridor kampus, kebetulan suasana sedang sepi. “Aku juga nggak tahu Riyan, nggak tahu sama sekali. Bahkan rasanya itu nggak terasa kalau ada yang merasukiku.” Riyan menarik nafas panjang. “Aneh tahu nggak! Kamu kerasukan tapi bisa diajak bicara. Kamu bahkan jelasin situasi di tempat ini. Apa kamu sebelumnya pernah datang kesini?” ditatap dengan tajam mata Yuni. “Ya nggak lah!” “Kamu nggak bohong?” “Nggak!” “Terus kamu tadi juga sempat bilang kalau ada tempat yang disembunyikan disini? Maksudnya apa?” “Yan! Aku mana ngerti sih. Lagian kamu ngotot banget sih tanya hal itu. Aku ini cewek yang punya ketakutan juga sama kayak Imas, meski nggak separah Imas,” ucap Yuni agar tak dicecar pertanyaan lagi oleh Riyan. Ia rasanya kesal saja karena semua itu terjadi tanpa setahu dirinya sama sekali
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN