Coba Tidak Merasa Takut

1031 Kata
Berusaha bekerja seperti biasa. Yuni memulai kegiatan pagi ini. Ia berusaha keras melupakan bunga tidurnya semalam. Lebih baik, ia melangkahkan dengan segera sepasang kakinya untuk menuju kampus tempat dirinya bekerja. Lalu memikirkan akan bertemu Riyan. Ingatan tentang pria itu saat tidak mengenakan seragam cleaning service sungguh terlihat keren dan tampan. Aroma angin segar dari pepohonan yang hijau dan menyejukkan suasana sekitar kampus, tempat Yuni bekerja, menyambut kedatangan dirinya. Menyegarkan untuk ukuran kebersihan udara di kondisi perkotaan padat penduduk ini. Yuni merasa seperti berada di kampung saja. Sejenak diregangkan kedua tangan dan berusaha melepas lelah karena berjalan cukup jauh dari kos tempatnya tinggal. Ia mengamati juga sekeliling. Angin yang tertipu membuat dedaunan seakan melambai memberi perintah menyuruh dirinya pergi. 'Lagi-lagi kenapa firasatku nggak enak,' batin Yuni. Ia melihat sekeliling, rasanya angin yang berhembus pagi ini semakin dingin. Menelusuri kulitnya yang agak membeku karena hal itu. "Apa jangan-jangan aku masih tidur, terus mimpi buruk lagi," gumam Yuni yang sudah seperti orang gila. Bicara sendiri dengan wajah kebingungan seperti kehilangan arah. Kakinya beku seperti terpaku. Rasanya ia seperti tak bisa jalan, apalagi untuk lari. “Yun!” seseorang menyebut nama itu dengan tiba-tiba. Yuni merasa pundaknya ada yang menyentuh. Tapi, saat dilihat sungguh ia begitu terkejut manakala sepasang matanya melihat ada wajah yang tidak asing. ‘Haydar!” ucap Yuni. “Yuni, Kamu tadi panggil aku siapa? Haydar! Haydar siapa?” Ternyata Riyan yang ada di belakang Yuni saat itu. Ia sontak bingung saat Yuni memanggil nama Haydar. “Yuni! Kamu kenapa sih?” Riyan melihat Yuni tampak kebingungan. Ia pun kembali menggoyahkan pundak Yuni lagi lebih keras. Baru setelah itu, Yuni sadar kalau yang ada di hadapannya bukan Haydar. melainkan Royan yang juga baru datang sama seperti dirinya. “Riyan!” panggil Yuni. “Hey! Kamu kenapa? Kamu nggak papa kan?” Yuni menggeleng. “Aku nggak papa kok!” tapi, saat itu nafas Yuni terasa sedikit sesak. Ia merasa sejenak tadi sempat tersesat dengan pikiran yang masih dipengaruhi mimpi semalam. "Yun!" Panggil Riyan lagi. "Mending kita masuk kerja aja dulu." Yuni mengalihkan pikiran pada tujuannya berangkat ke tempat ini. Ia pun coba melupakan lagi tentang apa yang telah terjadi. Sampai di deretan gedung perkantoran kampus, juga ada ruang dekan. Sayup-sayup terdengar sunyi sekali. Yuni coba tidak peduli. Ia harus kerja. Peduli amat dengan mimpi semalam dan semua perasaan yang muncul gara-gara mimpi tersebut. Sejak tadi ia hanya bisa merasa ketakutan dan seram sendiri. "Yun! Kami bersihin ruang pak Haris kan?" "Iya!" "Ini alatnya." Riyan memberikan sebuah sapu. "Ternyata Vari dan Imas udah masuk. Lap dan lainnya udah ditaruh di depan pintu masing-masing. Ya udah yuk! Sekarang kita kerja." Saat Riyan akan pergi dari hadapan Yuni. Tiba-tia Yuni mencegah. "Yan! Aku masih ngerasa aneh." Riyan berbalik. "Nanti aku bantuin kamu kalau belum selesai." Coba diberikan ketenangan pada Yuni agar bekerja seperti biasanya. Yuni mengangguk, dan mulai masuk ke lantai gedung perkantoran kampus. Hanya saja sejenak mungkin semangat untuk bekerja keras itu masih ada. Awalnya masih sangat jadi dorongan agar mau berusaha. Namun, waktu yang berjalan begitu perlahan. Agak sedikit menggoyahkan perasaan dan rasa yakin itu sendiri. Di bawah alam sadar Yuni, sewaktu ia membersihkan meja Pak Haris. Ilusi tentang dompet itu masih ada dan pikirannya juga ingat nama pak Haris yang bukan Pak Haris. Melainkan nama yang tidak kalah asing yakni Haydar. Tidak tahu mengapa, rasanya ada keinginan untuk mencari tahu nama itu. Haydar C. Sebuah nama yang bahkan sekalipun tidak pernah diketahui selama berada di sini. "Haydar C. Ngomong-ngomong, apa ya yang C. Chandra, atau Cici. Ah, aku jadi ngelantur ngawur." Yuni mengoceh sendiri. Rasanya ia jadi seperti detektif dadakan kalau ingat itu semua. Kegiatan kembali berlanjut, ada tugas yang menunggu untuk diselesaikan. Sampai selesai, Yuni tidak mengalami masalah apapun. Ia juga mulai semangat lagi, meski tadi sempat merinding tapi hanya sesaat. Terik mentari yang ada siang ini, membuat Yuni dan lainnya beristirahat sejenak di dekat pohon besar yang ada di samping pos satpam. Ada satpam juga yang ikut menemani siang mereka untuk istirahat. "Lah, kalian ini hebat lho. Kalian g pernah ditakuti apapun kan. Kalau cleaning servis yang dulu, sering banget kesurupan." "Ah! Masak sih Pak?" Yuni dengan segala keingintahuannya malah bertanya balik dengan nada yang amat sangat tidak percaya. Imas seketika merinding sendiri. Mendengar kata kesurupan, bulu kuduknya berdiri tak beraturan. "Udah dong jangan bahas gituan. Kan jadi ngeri. Ntar aku malah mogok kerja lho." Riyan yang sadar kalau Yuni sebenarnya sedang berusaha mencari sesuatu. Hanya bisa berusaha menenangkan Imas. Ya, temannya yang satu itu memang memiliki rasa takut yang sangat besar. "Mas! Katanya kamu mau beli cilok di depan. Beli sana gih. Nih aku ada duit. Minta anterin Cari aja." Riyan memberikan selembar uang untuk Imas. Imas menerimanya. Dia berwajah senang campur bingung dengan apa yang dilakukan Riyan. "Tumben kasih uang. Mimpi apa semalam?" Riyan melirik kesal. "Mimpi ketemu bidadari dari kahyangan. Udah ribet banget tinggal terima duit aja." "Ya udahlah Imas. Kita beli sekarang aja. Nanti keburu masuk jam kerja kan susah juga kita." Varo bergerak bangun dari duduknya dan menatap Imas untuk mengajak pergi sekarang. "Iya! Ya udah aku beliin. Tapi jangan salahin kalau duitnya abis," ucap Imas sambil menunjukkan selembar uang biru pada Riyan. "Iya!" Jawab Riyan yang merasa terserah. Imas dan Varo pun akhirnya pergi. Tinggal Yuni dan Riyan juga satpam yang kebetulan berjaga siang ini. "Pak! Lanjutin dong, ceritanya. Emang disini seserem itu ya?" tanya Riyan mengingatkan pembicaraan yang sempat terpotong tadi. Satpam itu mengangguk. "Bukan hanya serem, tapi angker banget. Makanya kalian berdua, dan juga lainnya. Kalau kerja jangan melamun. Bahaya. Nanti malah ketempelan gimana." "Ih, tapi sekarang ama dulu kan beda banget suasana kampus ini Pak. Kalau dulu kan, emang nggak banyak mahasiswanya, cuma orang kaya aja yang sanggup bayar sini," sela Yuni. Ia berkata-kata seperti sudah tahu saja bagaimana kondisi kampus saat dulu. "Lha! Kamu kok bisa tahu Yun?" tanya satpam itu. Riyan ikut menatap pada Yuni. Ia sontak merasa aneh dengan apa yang dikatakan temannya barusan. "Kamu kan baru aja kerja disini. Kok bisa ngomong begitu?" Yuni merasa tersudut. Ia mengerjapkan mata karena bingung juga dengan apa yang dikatakan barusan. Ia sontak menutup mulut dengan telapak tangannya sendiri. "Kayaknya yang bicara tadi, bukan aku." Yuni berkata-kata sambil terus menutup mulutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN