"Puspita?" lirih Dimas ketika Rea tiba-tiba muncul di hadapannya. Tentu saja dengan mata sembap dan pipi basah. Dimas yakin, Rea habis menangis. "Lo nangis?" tanya Dimas. Pertanyaan bodoh yang seharusnya tak dia ucapkan. "Apa yang lo sembunyiin dari gue?" tanya Rea, dingin. Dimas tak mampu berkata-kata. Dia membeku, seperti tertimpa es yang disertai badai salju. "Apa yang lo sembunyiin dari gue?!" ulang Rea. Kali ini dengan nada ditekan penuh emosi. "Gue bisa jelasin ke elo." Dimas menoleh kanan dan kiri, melihat situasi. "Ikut gue!" Dia tak mau Papa Fredy atau Mama Yeni melihatnya. Akhirnya, Rea menurut. Dia mengekor di belakang Dimas, hingga sampai ke kantin. "Duduk dulu. Lo mau minum apa?" tawar Dimas. Dia mencoba sesantai mungkin, padahal harinya bergetar seperti genderang peran

