Rea POV Semua yang terjadi terlalu tiba-tiba dan datangnya bersamaan. Hati ini terasa tak sanggup untuk melewatinya sendirian. Untung ada Bu Rossa yang sudi meminjamkan bahunya. Ada Intan juga yang ternyata mau mendengar curhatanku. Aku sangat bingung harus bagaimana. Dimas. Dia sahabatku sendiri, tapi tega-teganya membohongiku selama ini. Dia anak orang berilmu tinggi, sedangkan aku? Aku hanyalah orang awam yang semaunya. Apa aku ini terlalu bodoh dalam mengerti dan memahami seseorang? Malu. Ya, sejujurnya aku malu dengan diriku sendiri. Belum lagi soal Dito. Bagaimana bisa aku mengira dia sakit parah? Sedangkan dengan mata kepalaku sendiri aku melihat dia baik-baik saja? Keluar masuk rumah sakit? Bukankah dia orang kaya yang bebas mau ke mana saja dan ngapain saja? Dia juga bebas

