Mengerjai Dimas

2336 Kata
Mungkin kalian menyebutnya lebay, tapi aku merasakan hal teramat dalam di hati ini ketika bisa memijakkan kaki di Jakarta. Oke, terlepas dari bising, padat, macet, dan lain sebagainya, ada sesuatu yang membuatku rindu. Rumah. Ya, rumah dan keluarga adalah alasan mengapa seseorang harus kembali. Pagi-pagi sekali aku langsung on the way studio. Pasti Dimas nggak menyangka kalau aku bisa bangun pagi dan masuk kerja lebih awal. Ngomong-ngomong soal pekerjaan. Bagaimana nasib pemotretan Dito di Jepang kemarin, ya? Apa dia akan membayar studio Dimas? Ya, memang kami batal foto prewed untuk seterusnya, tapi kan waktu itu sempat foto-foto juga. Dimas sudah habis banyak untuk menggarap proyek ini. Aku mengembuskan napas. Kuputar lagu dari pemutar musik di dalam mobil. Cukup enak didengar, jadi nggak perlu diganti channel-nya. Lagu lawas, aku suka. Lagunya Letto ini memang syahdu. Suaranya lembut, bikin hati wanita meleleh. Biar begitu, aku tetap slankers sejati. Satya sering protes kalau aku kedapatan memutar lagunya slank di kamar dia. Mau bagaimana lagi, di kamarku sudah penuh dengan alat potret. Jadi, aku malas mengisinya dengan tape atau pemutar musik lainnya. Palingan, aku pasang earphone bluetooth-ku ketika ingin mengangguk-angguk. Tahu sendiri kan, kalau memutar musik lewat salon lebih membahana? Jadi, aku senang singgah di kamar Satya kalau dia lagi nggak di rumah. Selain Satya, ada Bu Rossa Chandraningsih yang paling tak berhenti mengomel. Katanya, aku ini cewek, tapi sukanya lagu metal. Bu Rossa Chandraningsih memang suka aneh, kadang menyebut metal, kadang rock. Begitulah mamaku, ajaib. Seseorang yang sangat aku sayang, meskipun kami lebih banyak adu argumen, sih. Jam 7 tepat aku sampai di studio. Ternyata di pintu kaca itu sudah terpasang tulisan "buka". Aku langsung masuk saja, karena memang biasanya seperti itu. Di meja depan aku disapa oleh seseorang. Eh, siapa dia? "Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya orang itu. Dia mendekatiku. Tentu saja aku langsung merasa aneh. Apa dia karyawan baru di sini? "Kenalin, saya Rea, salah satu pegawai juga di sini," kataku ramah. Tak lupa kuulurkan tangan untuk menyapanya. Cewek ini menerima uluran tanganku. Dia manis, kalau senyum meninggalkan lubang di pipi kanannya. "Saya Intan, Mbak. Saya pegawai baru di sini. Maaf, saya nggak tau kalau Mbak Rea kerja di sini juga." Aku tersenyum. "Ga pa-pa, santai aja kali. Oh iya, bos udah datang belum?" tanyaku sambil melihat-lihat ke ruangan Dimas. Tak sabar ingin bertemu dengan cowok songong itu. "Tadi udah, Mbak. Katanya mau cari sarapan." Aku mengangguk-angguk. Okey, sepertinya aku harus ke ruangan Dimas saja, menunggu cowok itu datang, lalu menghabiskan jatah sarapannya. Membuat Dimas kesal adalah salah satu hal yang aku rindukan. "Nanti kalau Dimas datang, jangan bilang aku di dalam, ya. Kejutan," kataku pada Intan. Gadis itu mengangguk. Lalu, aku meninggalkannya. Melenggang ke ruangan Dimas lebih seru. Aku juga ingin tahu, ada perubahan apa saja di ruangan itu. Jangan bilang masih sama. Pintu ruangan terbuka. Mataku dikejutkan oleh sebuah gambar. Seharusnya aku biasa saja, toh itu foto yang sudah tidak terpakai. Tissa dengan Dito tengah saling pandang di dalam foto itu. Ya ampun, ingatanku tentang kejadian di museum waktu itu sama sekali tak bisa kulupakan. Apalagi aku sampai membayangkan menciumnya. Dih! Lama sekali Dimas. Aku memainkan ponsel, stalking akun sosmed. Siapa tahu mendapat inspirasi untuk proyek berikutnya. Namun, aku belum mendapat kabar dari Dimas tentang proyek tersebut. Apa mungkin belum ada klien? Aku berharap, setelah prewed Tissa, job yang kami dapat bisa meledak. Eh, malah gagal total begini. Memang belum rezeki. Saat mata ini seperti melihat bayangan seseorang dalam sekelebat, langsung saja tanganku kembali mengulangnya, menggeser layar ke bawah. Tadi, seperti ada foto Tissa. Apa aku salah lihat? Hei, benar! Ini Tissa. Ya ampun, cantik sekali. Ternyata, dia nggak seperti yang aku bayangkan. Dia memang berpakaian seksi, tetapi tidak terlalu terbuka. Kata Dito, cewek itu adalah model majalah dewasa. Ah, iya. Majalah dewasa, bukan majalah por'no. Otakku seketika traveling ketika mendengar itu. Aku sangat menyayangkan pilihan Tissa. Klek! Terdengar suara pintu dibuka. Aku langsung menoleh. Sepertinya itu Dimas. Oke, pura-pura tidak mendengar saja, lalu serius dengan ponsel. "Astaga!" Aku langsung menoleh ketika mendengar suara itu. Terdengar sangat terkejut. "Pus, lo di sini? Kapan datangnya?" Dimas mendekat, meletakkan bungkusan dalam plastik bening ke mejanya—juga meja yang kini ada depanku. "Dih, sok kaget lo! Biasa aja kali." Dimas duduk di kursinya setelah tadi ditarik maju. "Maksud gue, lo naik apaan? Mobil di depan tadi punya lo? Mobil baru, ya?" "Iya, baru keluar bengkel. Ck, nggak asyik lo, Dim! Tanyain kabar gue, kek. Atau apa gitu?" dumalku kesal. Dimas hanya nyengir kuda di sana. Kam'pret nggak, sih? "Ya, sorry. Kali aja setelah pulang dari Jepang bisa beli mobil. Ya, 'kan?" Dimas mengambil pen, memainkannya. Tawaku berderai. Tawa miris, semiris-mirisnya. Setelah itu, aku langsung menatap Dimas tajam. Mungkin sudah seperti singa yang ingin menerkam mangsanya. Lihat saja, bosku itu sampai berdidik, barangkali dia ngeri melihatku yang berubah jadi Mak Lampir ini. Bagimana tidak? Dengan entengnya Dimas bertanya soal mobil baru. Aku ini baru saja menghadapi keadaan yang sangat buruk, menanyakan kabar saja enggak. Pastilah aku marah. Lagi pula, aku bukan anak pemilik showroom yang bisa gonta-ganti mobil sesukanya. "Elo tu, ya. Kalo gue tau klien kita waktu itu Dito, gue gak bakal mau nerima tawaran lo. Sumpah, lo tega banget sama gue, Dim. Sahabat macam sih lo?" semburku. Sementara itu, di sana Dimas cengengesan. Apa dia merasa nggak bersalah sama sekali? "Ya, kan, niat gue baik, Pus. Lo bisa belajar mengahadapi kenyataan." "What?! Belajar lo bilang?" tanyaku tak percaya dengan apa yang aku dengar. Dimas tampak berpikir. "Ya, iya. Lo bisa menguji seberapa tingkat ke-move on-an lo juga, 'kan?" Benar-benar sahabat kutu kupret. "Heh, Bambuang! Yang ada ni ya, gue ngenes tiap hari. Lo bayangin aja, gue yang belum move on ini ngeliat orang yang gue sayang bermesraan di depan mata gue. Gimana perasaan gue selain hancur, Dimas? Lo nggak mikir ke sana apa?" Serius, aku masih mengamuk. Ingin sekali mencakar wajah Dimas yang terlihat tanpa dosa itu. "Latihan, Pus. Latihan. Gue kan bilang latihan. Melatih diri untuk bisa menerima kenyataan, bahwa orang yang lo sayang itu udah ada yang punya. Gimana, sih?" Dimas masih berkata seringan kapas. Seakan-akan tak ada dosa sama sekali telah mengirimku ke neraka. "Latihan, latihan! Lo kira gue mau jadi tentara, harus tahan banting gitu? No!" amukku. Dimas menatapku lama, kemudian mengembuskan napas panjang. "Iya deh iya, gue minta maaf udah bikin lo patah hati," katanya. "Telat! Gue udah terlanjur kit ati gara-gara lo!" "Terus, gue harus gimana?" tanya Dimas. "Lo harus tanggung jawab, traktir gue makan bakso urat di depan. Titik!" Aku memukulkan tangan ke meja, sampai menimbulkan sedikit guncangan. Dimas tampak menelan ludah, terlihat dari jakunnya yang naik turun. "Segitu doang? Oke, siapa takut!" katanya mantap. Berani juga dia menerima tantanganku. Awas saja, aku akan mengerjainya balik. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padanya. Duh, rasanya nggak sabar untuk segera jam makan siang. Oh, iya, Intan diajak nggak, ya? Ajak sajalah, biar tahu rasa si Dimas. Mau main-main sama Puspita Anggreani. Biar aku tunjukkan cara mainnya! "Kenapa lo senyam-senyum gitu? Kerasukan lo?" Pertanyaan Dimas membuatku tercekat. Ih, jangan sampai dia menci'um aroma balas dendamku. Bisa berantakan nanti. * Akhirnya, jam makan siang pun tiba. Tadi aku sudah kongkalikong dengan Intan. Dia harus pesan banyak untuk mengerjai Dimas. "Nggak enak ah, Mbak. Aku kan anak baru. Nggak berani aku," kata Intan tadi sebelum kami keluar studio. Dimas sempat memergokiku ngobrol dengan Intan. Namun, aku bilang kami hanya kenalan. Semoga saja Dimas percaya. Penolakan Intan tak berarti apa-apa bagiku. Jangan sebut namaku Rea kalau nggak bisa merayu orang untuk menuruti mauku. Jurus terjitu saat ini untuk mengancam Intan adalah, dipecat. Ha ha ha, aku memang sekejam itu, sih. Nggak mungkin Intan akan menolak permintaanku dengan ancaman tersebut. Mana ada orang yang rela kehilangan pekerjaan saat mencari kerja saja susah? Cerdas! Kupuji diriku sendiri. Akhirnya, Intan menuruti keinginanku juga. Kupaksa saja dia untuk membelikan keluarganya. Ini memang terkesan norak, sih. Intan pasti takut dibilang ndeso oleh Dimas. Sebuah gerobak bakso favorit telah berada di depan mata. Kami bertiga mendekat, memilih duduk di dekat tukang baksonya saja. Kebetulan jam makan siang seperti ini banyak pelanggan yang antre. Penjual bakso ini tidak memasang tenda atau apa pun, dia hanya mangkal di bawah pohon trembesi yang cukup besar. Jadi, terasa sejuk dan tidak panas ketika siang begini. Angin juga bisa bertiup tanpa penghalang. Aku suka makan di tempat ini. Sudah bertahun-tahun, dan tak pernah ada yang berubah—kecuali pelanggannya pasti. "Pak, bakso seperti biasa lima porsi, ya," kataku. Tak peduli dengan tatapan Dimas yang aneh itu. Mungkin dia kaget karena mendengar jumlah pesananku. Mengingat kami cuma bertiga. "Nggak salah, Pus?" tanya Dimas ketika kami sudah duduk. "Enggak. Kenapa memangnya? Kurang, ya? Oke." Aku mengangkat tangan. "Pak, tambah tiga ya." Dimas semakin terlihat linglung. Ha ha ha ha, rasakan! Intan tampak menyimak tanpa berani berkata-kata. Aku sudah mengingatkannya tadi untuk tidak perlu ikut ngomong, kecuali tentang kerjaan. Kejam nggak, sih? Bodo amatlah. Ini semua juga hanya untuk kali ini saja. Kecuali, kalau memang nanti akan ada drama-drama berikutnya yang mengharuskan Intan untuk bersandiwara. "Lo laper apa kalap, sih? Yang bener aja, masa pesen bakso hampir sepuluh porsi. Siapa yang mau ngabisin?" protes Dimas. "Gue. Kenapa? Gue mau balas dendam. Soalnya, selama di Jepang gue nggak makan bakso," jawabku santai. "Iya, tapi nggak sebanyak itu juga kali. Emangnya lo habis pesan makanan sebanyak itu?" "Gampang. Dibungkus kan bisa. Kayak nggak tau gue aja lo." Tak ada lagi percakapan di antara kami. Intan sibuk dengan ponselnya. Aku juga malas ngobrol dengan Dimas. Sementara itu, pemuda berahang kukuh itu terlihat menyedot minuman gelas kuat-kuat. "Haus lo?" tanyaku sedikit mencibir. "Enggak, biasa aja. Gue udah kenyang ngebayangin lo makan bakso kek orang keranjingan gitu." Dimas bergidik. Bakso siap. Lima mangkuk tersaji di meja kami. Asapnya mengepul dan menciptakan aroma yang membuat perut keroncongan. Tak sabar rasanya melahap habis bakso-bakso ini. "Pus, lo sehat, 'kan?" tanya Dimas ketika aku mulai menuangkan saus dan teman-temannya mangkuk. "Gue nggak sehat kalo lo ngajakin gue debat mulu. Dah, makan aja tu bakso. Intan, makan baksonya." "Iya, Mbak." Gadis itu tampak tak enak hati. Terbaca sekali gesturnya. Pasti dia segan dengan Dimas. "Intan, yang lahap makannya. Gratis kok ini, tenang aja. Iya, kan, Dimas?" kataku yang aku buat secentil mungkin. Tentu saja sambil menaik turunkan alis. Dimas memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan bersih. "I-iya, Intan. Tenang aja." Setelah berkata seperti itu, Dimas menatapku. Seakan-akan ada omelan di sana. Syukurin! Aku memberi kode untuk Intan supaya menjalankan bagiannya. Namun, dia terlihat seperti orang ketakukan. Hih, gemas sekali sama Intan ini. Oke, biar aku saja yang mengambil bagiannya. "Dimas, Intan mau beliin bakso juga buat keluarganya. Ada lima orang katanya. Sekalian bayarin ya. Kasian dia," kataku seolah-olah begitu prihatin kepada Intan. Padahal, dalam hati aku tertawa puas melihat Dimas keki. "Nggak usah, Mbak," tolak Intan. Aih, dia nggak ingat ancamanku tadi, ya? "Nggak perlu sungkan, Tan. Dimas itu orangnya baik banget. Dia paling suka sedekah. Apalagi soal makanan, Dimas paling dermawan, deh." Langsung saja kuserobot sebelum Intan beneran menolak. Dimas juga terlihat senang tadi saat Intan menolak. Dasar! Setelah makan, Intan pamit duluan ke studio. Ada yang sesuatu yang belum selesai dia kerjakan. Dia dapat kerja bagian apa saja ya dadi Dimas? Kenapa terlihat sesibuk itu? Sosok Intan yang menenteng kantong kresek itu telah raib dari pandanganku. Kini, sisalah aku dengan Dimas. Baru aku sadari, tatapan Dimas begitu membunuh. Aih, dia kenapa dah? "Ngapain lo ngeliatin gue sampe segitunya? Kalo kangen sama gue, bilang aja kali. Atau gue terlalu cantik sepulang dari Jepang, sampai lo terpesona kayak gitu?" Tuk! Dimas memukul keningku, menimbulkan suara kesakitan dari mulut ini. "Kenapa, sih?" tanyaku tak terima. "Elo tu, ya. Ngerjain gue di depan anak baru." "Dih, siapa juga yang ngerjain lo? GR!" kataku pura-pura. "Udah, deh. Ngaku aja. Kebaca tau nggak?" "Kepedean banget sih lo? Kurang kerjaan banget gue sampe ngerjain elo segala?" Aku menyedot teh yang masih setengah. "Kok lo bisa sampai diculik gitu gimana ceritanya?" tanya Dimas tiba-tiba. Tahu dari mana dia? Bukannya aku belum cerita? "Panjang ceritanya. Udahlah, lupain aja. Males gue inget-inget itu." "Apa itu ada hubungannya dengan Dito?" Aku hampir tersedak. "Iya. Udah ah. Gue males." "Gue denger-denger, Dito udah putus sama tunangannya. Bener?" Serius, deh. Dimas tahu dari mana semua itu? "Iya. Karena itu juga dia nggak bayar kita, 'kan?" Nada bicaraku turun satu oktaf dari sebelumnya. Aku sangat merasa bersalah di sini. "Sorry, gara-gara gue, semuanya jadi berantakan. Kita nggak akan bangkrut, 'kan?" tanyaku melow. "Insya Allah, enggak. Tenang aja." "Gue tahu, lo pasti kecewa banget. Seharusnya dari sini kita bisa ngiklan lebih gencar, dan bisa menggaet banyak pelanggan. Tapi ... semua malah kacau kek gini." Aku menunduk. "Apaan, sih, lo? Santai aja kali. Belum rezeki. Biarpun Dito membatalkan semuanya, kita masih bisa kok cari pelanggan lain." "Lo nggak usah sok tegar gitu, Dim. Gue tau gimana perasaan lo." "Dih, sotoy!" Dimas menoyorku sambil tertawa. Entah kenapa nadanya begitu sumbang di telingaku. Kami kembali bercanda tawa. Seperti biasa, saling ejek dan debat tak pernah lekang oleh waktu. Kalau ada yang bilang persahabatan antara cewek dan cowok tanpa melibatkan perasaan itu nggak ada, aku yang akan berteriak paling kencang menepis semuanya. Bukan apa-apa, aku sendiri saat ini sedang menjalani persahabatan dengan seorang cowok. Ki baik-baik saja tanpa melibatkan perasaan. Bahkan, hubungan Dimas dengan pacarnya pun berjalan aman-aman saja. Memang sih, pacar Dimas agak posesif. Namun, buktinya mereka awet sampai sekarang. Bertengkar dalam sebuah hubungan itu biasa. Kata Bu Rossa Chandraningsih, hal itu bisa membuat ikatan antar keduanya semakin erat. Kau yakin, Dimas dengan pacarnya juga pasti seperti itu. Aku selalu berdoa agar Dimas dan pacarnya itu tak pernah terpisah. Aku juga selalu berharap mereka berjodoh. Tak ada kebahagiaan yang menyenangkan selain melihat sahabat kita bahagia. Betul bukan? "Iya, deh, iya. Yang dilamar mah sekarang songong!" Hei! Dimas ngomong apa barusan? "Mentang-mentang udah mau celebek aja nggak cerita ke gue," kata Dimas ketika aku menatapnya penuh keheranan. "Lo tau dari mana?" tanyaku kemudian. Dimas menunjuk dengan dagunya. Arah yang ditunjuknya itu berada di belakangku. Segera aku menoleh. Dito? Dia sudah berdiri di belakangku dengan gagahnya. Dia sedang apa di sini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN