Akhirnya, setelah perdebatan panjang dengan Dito yang berakhir di kekalahanku, hari ini aku bisa pulang juga ke Indonesia.
Selama masa pemulihan, aku merasa Dito begitu perhatian. Dia menungguiku, menyuapi makan, dan lain-lain. Dia sangat baik. Ya, memang dari dulu baik. Maksudku, sejak kami putus, dia berubah dingin. Sekarang dia berbeda. Apa cuma perasaanku saja?
Namun, entah mengapa perasaanku masih sulit menerima kebaikannya. Seperti kemarin, saat dia memutuskan menginap di rumah sakit untuk menemaniku.
"Awas kalo kamu macam-macam," kataku saat itu dengan ketus.
"Macam-macam gimana?" tanya Dito yang menurut sok polos.
"Ya, jangan macam-macam! Awas, kalo kamu berani nyentuh aku!" ancamku sambil mengepalkan tangan ke arah Dito.
Sementara itu, pemuda di hadapanku ini hanya tersenyum miring. "Aku nggak akan nyentuh kamu sebelum halal."
Maksudnya? Aku mengerutkan kening.
"Udah, tidur aja. Nggak usah mikir macem-macem biar cepet sehat."
Iya juga, sih. Kata dokter juga aku harus banyak istirahat supaya kondisiku segera pulih. Lebam di keningku masih terasa nyut-nyutan.
"Untung aja kamu nggak trauma setelah kejadian ini," sambung Dito.
Aku langsung menatap pemuda itu. "Aku cuma trauma sama kamu," jawabku sekenanya. Duh, mulut ini!
Alis Dito menaut. "Kenapa?"
Bahas, jangan?
"Nggak pa-pa. Sekarang kan jamannya kang ghosting. Siapa tau kamu cuma mau ghostingin aku."
"Nggak mungkin," jawab Dito pelan.
Aku mendengkus. "Segala kemungkinan itu bisa terjadi. Aku udah nggak percaya lagi sama omongan-omongan kosong tanpa bukti, Dit. Kapok aku dulu percayain hatiku sama kamu."
Duh, lentur sekali bibir dan lidah ini kalau bicara. Ada rasa tak enak hati, tetapi entah kenapa aku ingin sekali membuatnya merasa bersalah. Dia memang salah, bukan?
"Jadi, ini alasan kamu menolak menikah denganku?" tanyanya kemudian.
Eh? Kok, jadi ke sana?
"Nggak sepenuhnya benar. Kamu baru aja putus dari Tissa, lalu ngelamar aku. Kali aja aku cuma pelarian. Ya, 'kan?"
Dito tak menjawab. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.
"Istirahatlah. Aku juga mau istirahat. Besok kita ada penerbangan."
Aku tak menanggapi ucapan Dito. Dia seakan-akan menghindar dari topik yang kuangkat. Biarlah, aku senang besok pulang. Nggak sabar mau nguyel-nguyel Dimas. Dia target pertamaku untuk melampiaskan kekesalan. Awas saja!
*
Perjalanan ke Indonesia tak begitu melelahkan. Entahlah, beda sekali saat akan ke Jepang waktu itu. Dalam bayanganku setelah tiba di Indonesia, diri ini akan minta kepada Bu Rossa Chandraningsih untuk masak makanan favoritku, lalu ke studio atau ke rumah Dimas. Aku tak sabar menceritakan segalanya kepada cowok songong itu. Asli, aku ingin sekali menjambak dia sepuasnya. Gara-gara dia, aku menderita batin dan sampai diculik Rafandra.
Btw, apa kabar dengan Rafael? Dia tinggal di mana, ya? Aku berharap bisa bertemu dengannya, lalu mengucapkan terima kasih. Dia sudah baik sekali kepadaku.
"Aku antar kamu pulang, karena Tante Rossa nggak bisa jemput. Adik kamu masih kuliah."
Dari mana Dito tahu semua itu? Aku memicing ketika menatapnya.
"Aku telepon Dimas aja. Dia pasti bisa jemput aku." Maksudnya, aku menolak tawaran Dito. Aku nggak lama-lama bersama dengannya.
"Dimas juga sibuk. Dia ada jadwal mengisi tausiyah."
Jadwal tausiyah? Aku salah dengar kali, ya. Berada dalam pesawat mungkin bisa memengaruhi pendengaran ini.
"Dimas tausiyah? Maksudnya, dia menghadiri tausiyah gitu?" tanyaku yang masih tak percaya.
Seorang Dimas tidak mungkin menjadi pengisi acara, apalagi ceramah. Oh, ya ampun! Mau ceramah tentang apa cowok konyol itu? Aku terbahak membayangkannya.
"Kamu ini sahabatnya, tapi masa nggak tau, sih?"
Dito juga sepertinya sedang sakit. Mana mungkin aku sampai nggak tahu tentang Dimas? Pastinya aku tahu banyak hal tentang cowok itu. Salah satunya tentang pacar dia yang posesif dan semena-mena itu.
"Kamu meremehkan aku? Dimas itu paling males ke masjid, masa iya jadi penceramah? Ceramah soal apa?" Tawaku berderai. Kali ini aku benar-benar tak bisa menahannya.
Dito hanya menggeleng ketika aku menjawab demikian. Iyalah, Dito sok tahu saja tentang Dimas.
Kami sudah melewati pintu arrival. Dito berhenti dan menelepon seseorang.
"Di pintu tiga belas," katanya, lalu menutup panggilan. Dia menatap jam merk mahal di pergelangan tangan, lalu mengalihkan fokus ke sebuah mobil putih yang mendekat. Aku mengikuti arah pandangnya.
"Masuk!" kata Dito, sopan.
"Aku mau minta dijemput Dimas. Kamu duluan aja."
Baru saja ponsel ini kuletakkan di telinga, tetapi Dito sudah menyeret lenganku, memanduku–lebih ke memaksa sebenarnya–untuk masuk ke mobil.
"Tolong masukkan kopernya ke bagasi," kata Dito ke sopir berkumis tebal itu. Dandannya juga rapi, memakai seragam hitam ala-ala supir gedongan.
Aku hanya memperhatikan dari mobil, kacanya kubuka karena masih menyorotkan kejengkelan ke Dito yang suka memaksa. Diri ini baru menyadari sikapnya yang mirip Dimas, suka memaksakan kehendak. Apa semua cowok seperti itu? Atau hanya Papa yang menurut dan memberi banyak ruang untuk Bu Rossa Chandraningsih dalam memilih sesuatu yang dia suka?
Akhirnya, mobil yang kami tumpangi melandas, setelah sebelumnya Dito meminta sopir untuk menutup kaca di sebelahku.
"Aku nggak suka dipaksa, ya," kataku ketus.
Dito tak menanggapi.
"Aku nggak suka kamu maksa kek gini."
Dito masih diam.
"Aku minta turun. Sekarang!"
Masih tak ada tanggapan.
"Dito, kamu b***k, ya?" kesalku sambil menggerutu. Aku ini bicara dengan dia, tetapi malah dianggap angin. Kan, sebal!
Hening. Dito hanya fokus pada layar ponselnya saja sejak tadi. Kekesalanku semakin bertambah bila diabaikan seperti ini.
"Pak, berhenti di sini sekarang juga," pintaku pada seseorang di belakang kemudi. Dia menatap layar spion yang menggantung di plafon mobil. Maksudnya apa? Oh, mungkin dia meminta persetujuan bosnya.
Diri ini langsung melirik Dito tajam. Eh, ternyata dia juga menatapku. Duh!
"Kamu bisa nurut nggak, sih? Diem, nurut, gitu. Nggak bisa?"
Kok jadi Dito yang ngegas?
"Dari awal, kan, aku udah bilang mau minta dijemput Dimas, kenapa kamu maksa buat bareng?" ketusku sedikit tersulut emosi.
"Dimas, Dimas, Dimas, Dimas terus!" Dito berkata penuh penekanan.
Aku memundurkan kepala, mengerikan juga melihat Dito emosi seperti ini. Apa aku sudah keterlaluan?
"Kamu ngerti nggak, ini kita sedang ada di jalan tol. Kamu tahu aturannya, 'kan? Jadi, diamlah!"
Serius. Dito kalau sudah marah memang mengerikan, hampir mirip dengan Dimas, walaupun lebih menyeramkan Dito, sih. Aku tak bisa berkata apa pun, cukup diam dan mengikuti saja. Sesak rasanya dibentak seperti itu, di depan sopirnya lagi. Dasar tembok hotel tak berperasaan!
Sepanjang perjalanan aku hanya diam, dongkol banget, hingga tibalah kami di rumah. Segera diri ini keluar mobil, tak lupa menyeret koper yang sudah dikeluarkan oleh sopirnya Dito.
Tanpa kusadari, ternyata Dito mengekor. Tiba-tiba saja dia ada di belakangku ketika diri ini hendak meraih gagang pintu.
"Rea!"
Bu Rossa Chandraningsih tampak mempercepat langkah, memangkas jaraknya denganku. Beliau memelukku, erat. Tak lupa mencium kedua pipi dan kening ini.
"Kamu sehat, kan, Sayang? Ya, ampun! Kamu ini ke Jepang kenapa nggak ngomong sama Mama? Bikin Mama khawatir aja. Bahasa Inggris-mu saja masih mengeja, kok sok-sokan ke Jepang. Kalo kamu nyasar gimana? Bisa-bisa kamu disangka turis ilegal, lalu dipenjara di sana. Kamu mau bikin mamamu ini mati kejang-kejang?"
Allahu Akbar! Menginjak lantai di dalam rumah saja belum, ini sudah disembur aneka pertanyaan yang membuat kepala keliyengan.
Aku menoleh ke Dito, di sana dia menahan tawa. Sialan!
"Mama gimana, sih? Biarin Si Kucing ini masuk dulu, kali, Ma. Masa baru sampai udah dibom pertanyaan," sahut adikku, Satya.
Terkadang adikku satu-satunya ini memang perhatian.
"Oh, iya, Kak? Mana oleh-oleh buat gue?"
Astaga! Ternyata dia sama Bu Rossa Chandraningsih memang sebelas dua belas. Rasanya aku ingin pingsan saja. Kuarahkan bogem mentah ke wajah adikku ini. Dia lari terbirit sambil berteriak pamit ke Bu Rossa Chandraningsih. Ke Dito juga, sih.
"Hati-hati!" pesan Mama sedikit berteriak.
"Eh, Nak Dito. Masuk, masuk! Maaf lho udah ngerepotin. Rea ini memang begitu orangnya, kepala batu."
"Sekali saja puji Rea di depan orang kenapa, sih, Ma?" protesku sambil menghempaskan diri di sofa ruang keluarga. Jaraknya tak jauh dari ruang tamu, dan masih dalam satu ruangan.
"Kamu itu lho, Re. Seharusnya kamu bilang terima kasih sama Nak Dito. Dia udah mau nganter kamu. Padahal dia orang sibuk."
Salah sendiri memaksa!
"Tadinya juga aku mau pulang sendiri, Ma. Tapi Dito maksa." Aku melirik ke Dito, lalu kembali fokus ke Bu Rossa Chandraningsih.
"Lho, yo harus dipaksa. Kamu itu kalo nggak dipaksa suka seenaknya. Ngawur kamu itu."
Sudah lama hidup di Jakarta, tetapi Bu Rossa Chandraningsih masih saja medok. Bahasanya juga campuran. Es campur sih menyegarkan tenggorokan, kalau Bu Rossa Chandraningsih membuat tenggorokan kerontan.
"Terserah Mama, deh."
Lelah. Akhirnya aku pasrah. Berdebat dengan Bu Rossa Chandraningsih tidak akan ada habisnya. Justru akan menguras tenaga, membuat haus, dan lapar. Ngomong-ngomong soal lapar, aku ingat keinginanku sebelum pulang.
"Ma, nanti masakin aku soto Betawi, ya. Sama ketoprak, gado-gado, sayur sop, bayam, tempe goreng, tahu bacem, dan ikan bakar."
Mama yang tadinya pamit ke Dito mau buat minum pun berhenti bergerak.
"Heh, perutmu itu karung opo piye? Makan itu mbok ya secukupnya. Masa semua kamu suruh masak dalam sehari? Memangnya siapa yang mau makan? Apa kamu bisa, makan sebanyak itu dalam sehari? Perutmu opo muat?" kata Bu Rossa Chandraningsih panjang lebar.
"Ya, seporsi aja, dong, Ibu Rossa Chandraningsih yang menolak tua di usia hampir enam puluh tahun," jawabku sambil menggerakkan bola mata.
"Seporsi, seporsi! Memangnya yang makan kamu sendiri opo? Mama, Papa, dan Adikmu nggak makan, gitu? Beli sana. Wong tabunganmu juga banyak. Jangan Mamaaa terus yang kamu todong."
Dito terlihat senyum-senyum sejak tadi, sedangkan diri ini hanya memperhatikan Bu Rossa Chandraningsih yang menggebu-gebu. Akhirnya aku bisa melihatnya lagi. Rinduku sedikit terobati. Mama kembali melenggang ke dapur.
"Nanti biar Dito yang belikan, Tante. Nggak jauh dari sini, kan, ada penjual makanan yang mangkal." Tanpa persetujuan, Dito ikut nimbrung.
"Hello! Kamu mau beliin aku makanan pinggir jalan?" kataku dengan congkak.
"Halah, gegayaan kamu itu, Re! Lha wong biasanya juga nongkrong sama Dimas di sana gitu lho. Ra usah gengsi. Gengsi ora isi!"
Astaga! Aku lupa kalau percakapan kami masih bisa didengar oleh Bu Rossa Chandraningsih, meskipun beliau ada di dapur. Aku menepuk jidat.
Bu Rossa Chandraningsih memang tidak bisa diajak kompromi! Sekali saja dia membela anaknya gitu, apa salahnya, sih? Ini malah dipojokin.
"Silakan diminum, Nak Dito. Maaf lho, cuma seadanya."
Bisa kulihat dari ekor mata, Bu Rossa Chadraningsih duduk. Aku memainkan ponsel, mengabari Dimas bahwa aku sudah tiba di rumah.
"Terima kasih sudah mengantar Rea, ya. Maaf kalau selama di Jepang dia selalu bikin repot. Dia memang susah diaturnya, Nak Dito. Kalo punya suami, entah gimana itu nanti. Tante berharap suaminya kuat aja ngadepin dia." Mama melirikku sekilas.
"Ya, ampun, Ibu Rossa. Masa gitu banget sama anak sendiri?" protesku. Diri ini bangkit. Mendekati Mama.
"Lha kamu kalo nggak berubah, nanti bisa-bisa suamimu mati muda," kata Mama.
Aku menatap Dito. Lamarannya di rumah sakit saat itu membuat diri ini galau.
"Aku akan sabar kok, Tante."
Hei, Dito mencuri start!
"Maksudnya apa ini, Nak Dito? Kamu mau menikahi anak tante?"
"Bila direstui, insya Allah Dito mau melamar Rea secepatnya, Tante."
Diri ini tersedak ludah sendiri ketika mendengar ucapan Dito. Dia benar-benar serius dengan keputusannya. Aku harus bagaimana sekarang?
Tiba-tiba saja hati ini ragu. Oke, di sisi lain, aku memang senang dia melamarku. Namun, apakah ini tidak terlalu cepat? Maksudnya, dia baru saja putus dari Tissa, lalu secara tiba-tiba mengikat komitmen dengan cewek lain. Aku butuh curhat ke Dimas. Secepatnya diri ini harus menemui cowok konyol itu.
"Tante, sih, terserah Rea saja. Cuma, tante berharap memang Rea itu segera menikah. Karena tante nggak sabar mau nimang cucu."
"Mama." Aku sedikit menekan ucapan, malu.
"Tante takut Rea dibilang perawan tua sama orang-orang. Soalnya teman-teman dia udah banyak yang menikah. Nggak tau nih Rea malah belum punya pacar. Dimas melulu yang main ke sini, jadinya dikira orang-orang pacarnya Rea. Kan, tante jadi bingung mau jawab apa." Mama seakan-akan tak peduli dengan rasa keki ini.
"Jawab aja bukan. Repot amat Ibu Rossa, ih!" celetukku. Kini aku mulai beranjak, mendekati Bu Rossa Chandraningsih dan Dito. Pembicaraan mereka harus segera diakhiri sebelum terlalu dalam.
"Dit, emangnya kamu nggak capek habis perjalanan jauh? Aku aja rasanya pengin tidur seharian."
Aku berjingkat ketika merasakan sakit di pinggang. Tangan Bu Rossa Chandraningsih cepat sekali menempel di pinggangku.
"Jangan hiraukan Rea, Nak Dito. Dia memang suka gitu, mulutnya minta dilakban."
"Sebenarnya, Dito juga lagi ada urusan yang harus segera diselesaikan, Tante. Jadi, Dito pamit undur diri dulu."
"Hati-hati, Dit," sambarku secepat kilat sebelum Bu Rossa Chandraningsih berkata-kata lagi. Wajahnya tampak keki ketika Dito pamit undur diri menyalaminya.
"Kamu itu mbok ya sing sopan. Tamu kok malah kamu usir. Dia itu calon mantu Mama."
"Memangnya siapa yang mau menikah sama dia?" tanyaku pura-pura tak tahu.
Bu Rossa membuat kepalaku sedikit miring karena telingaku ditarik. "Gimana mau laku, kalau ada yang ngelamar malah denger omongan kamu yang pedes itu?"
"Udah deh, Ibu Rossa yang masih cantik jelita. Jodoh itu sudah ada yang mengatur."
"Selalu saja bilang begitu kalo dibilangin mama. Kurang apa, sih, Nak Dito? Dia baik, sopan santunnya bagus, ganteng, tinggi, mapan, poin plus-nya dia kaya. Kamu mau cari yang kayak gimana lagi?" tanya Mama bertubi-tubi.
"Ibu Rossa tersayang, cinta itu berdasarkan rasa nyaman."
"Bukannya dia mantan kamu? Mau cari alasan nyaman dari sisi mana lagi?"
Aku lupa kalau Mama tahu masa laluku dengan Dito.
"Justru karena mantan Rea, makanya Rea mikir-mikir kalo dekat sama dia lagi."
"Halah, kebanyakan mikir kamu! Awas, pilih-pilih tebu, mengko tibo bosok."
Aku menelan ludah ketika Bu Rossa Chandraningsih sudah berkata-kata. Pedas, tetapi ada benarnya. Terlalu banyak memilih, bisa-bisa dapat yang tidak baik. Pengalaman dari temanku saat SMA dulu, dia sudah janda di usianya yang kedua puluh tahun dengan dua anak yang masih piyik. Namanya Aruna, dulu dia primadona sekolah. Cantiknya sebelas dua belas dengan Tissa.
Namun, nasib Aruna malang, suaminya selingkuh dengan janda kaya. Bukan tanpa sebab, menurut rumor yang kudengar, Aruna matre. Jadi, suaminya tak mampu menuruti kemauannya. Aruna yang dulu disukai Dimas, kini menyesal. Kami sempat bertemu setahun yang lalu, Aruna menceritakan semua masalahnya kepadaku.
Diri ini turut prihatin, kasihan sekali melihat dua anaknya itu. Namun, dia tetap tegar menghadapi cobaan hidupnya. Aku salut padanya. Dia hebat.
Bu Rossa Chandraningsih meninggalkan kebisuan di sekitarku. Entahlah, hati ini seakan-akan tidak bisa menerima begitu saja lamaran Dito. Ck!