Tiba-tiba Urdha masuk ke dalam kamar, membuat wanita tersebut terkejut dan dia merasakan kalau setiap apa yang terjadi satu sama lainnya.
"Kenapa belum mandi?" Tanya Urdha.
"Eh ... Sayang, iya ni aku sedang menyiap kan gaun apa yang cantik malam ini aku pakai, ooo iya pokoknya nanti pilih yang terbaik ya." Ucap Anjani sambil tersenyum.
"Iya, coba saja yang mana menurutmu cantik, akan aku nilai. Tapi semuanya pakaian itu sangat cantik kau pakai." Ucap Urdha.
"Hahhaa... kau bisa saja membuat aku malu deh."
Urdha menunggu Anjani mengenakan pakaian yang saat ini masih tersebut menjadi semakin mendalam satu sama lainnya, kalau harapan di sini dia telah membuat istrinya yang sudah menjadi tenang juga.
Perjuangan diri satu sama lainnya, di dalam diri Anjani saat ini sebagai beban terjadi sampai menderita juga.
"Bagaimana gaun yang aku pakai malam ini?"
Urdha memandang Anjani yang dari tadi lama di ruang ganti baju untuk memilih ternyata sudah mendapatkan gaun di inginkan.
"Waaahhh... ini gaunnya sangat cantik menurut aku, bagaimana denganmu? Sebenarnya apa pun yang di gunakan pasti sangat cantik juga seperti pemiliknya juga.
Sudah bilang menjadi beberapa keadaan di sini telah berada di titik itu juga.
Tookk... Tokk...
"Permisi Bos."
"Iya (Sambil membuka pintu) Ada apa Abraham?"
"Semuanya sudah di siapkan, dan sekarang anda bisa bersiap."
"Oke, saya akan bersiap sebentar lagi, ooo Iya nanti juga kau bisa antarkan aku menuju tempat tersebut." Urdha kepada Abraham yang saat ini masih berpikir sebagai tugasnya dan saat ini masih terus bisa di lakukan.
"Baik Bos, itu sudah harus di jalankan oleh saya. Kalau begitu saya menyiapkan mobilnya terlebih dulu ya."
Lalu Abraham pergi menyiapkan semuanya di situ merasa ada yang lain saat dia keluar dari rumah menuju ada seseorang berdiri di depan pagar rumah dan langsung pergi begitu.
"Eh! Siapa itu?" Teriak Abraham dan menuju pagar rumah yang terlihat sangat gelap juga.
Saat teriakan Abraham, sosok itu tidak ada lagi begitu misterius. Rasa penasarannya begitu membuat dia semakin ingin pergi berkeliling halaman rumah.
"Membuat penasaran saja kenapa perasaan aku tidak enak begitu saja, beberapa kejadian satu sama lainnya. Kalau aku beritahu kepada Bos yang ada pasti dia sangat khawatir juga jadi lebih baik aku menunggu dia di depan Restoran itu." Ucap Abraham.
Abraham sama sekali tidak melihat siapa pun yang berada di depan rumah, sangat jelas seseorang itu sedang berdiri lama di balik kegelapan itu.
Urdha yang mencari keberadaan Abraham, "Abraham.... Abraham..." Panggil Urdha.
Abraham sangat terkejut mendengarkan panggil Bosnya tersebut, dengan cepat dia berlari menuju sumber suara tersebut.
"Iya Bos, ada apa?"
"Kau dari mana? Aku mau bertanya apa sudah siap semuanya dan nanti kau harus menunggu aku dan Anjani sampai selesai makan malam itu, jangan ke mana-mana."
"Oooo iya, saya akan menunggu anda dan Nyonya nanti, rencananya begitu Bos. Ini semuanya sudah di siapkan jangan khawatirkan hal itu! Kalau anda sudah siap bisa berangkat sekarang juga." Ucap Abraham.
"Hmmm.... iya, saya lihat Anjani dulu di dalam kamar."
Abraham menganggukkan kepala dia merasa sangat khawatir untuk meninggalkan Bosnya malam ini, entah firasat nya semakin yakin kalau ada seseorang mengintai mereka saat ini. Urdha sama sekali tidak mencurigai kepanikannya saat ini semuanya bisa di bilang sebagai beban terjadi satu sama lainnya. Harapan di sini bisa di bilang menjadi beberapa keadaan ini.
"Huh... aku begitu khawatir, tapi memang aku sudah tidak melihat seseorang itu! Sangat yakin itu adalah manusia yang sedang memantau pergerakan aku tadi, jadi aku harus waspada." Ucap Abraham yang langsung kembali masuk ke dalam ruangan tersebut dan juga dia merasa dirinya menjadi tidak ada beban terjadi juga di dalam dirinya.
15 menit kemudian, Urdha dan Anjani berjalan keluar menuju mobil yang sudah di siapkan itu, entah kenapa Anjani tidak sengaja memandang ke arah pagar rumah melihat seseorang sedang memandanginya.
"Sayang! Itu siapa? Seperti nya tadi aku melihat seseorang berdiri di sana."
Abraham langsung menoleh dengan cepat termasuk Urdha yang begitu terkejut. Langsung saja bayangan itu menghilang begitu saja dan juga di dalam diri ini menjadi nyata juga.
"Tidak apa-apa sayang, tidak ada orang di sana! Sekarang tenang jangan khawatir kau hanya lelah saja." Urdha berusaha membuat Anjani tenang di malam itu.
Abraham sudah merasa ada yang aneh saat ini masih bisa di katakan lagi, beberapa masalah yang terjadi juga kalau sekarang dia yakin kalau seseorang di lihat Anjani itu sama seperti di lihatnya juga.
"Abraham sekarang kita pergi saja, jangan lupa untuk berhati-hati ya."
"Baiklah Bos jangan khawatir, kalau begitu silakan masuk ke dalam mobil dan juga jangan di pikirkan lagi saat ini masih bisa di bilang menjadi nyata juga. "
Akhirnya mereka bertiga pergi dan meninggal rumah tersebut, memang tidak di sangka seseorang yang di curigai merekan benar ada. Noah! dia yang dari tadi di sana sedang memantau aktivitas.
"Ke mana Anjani? Aku sama sekali tidak mengetahu di mana dia pergi." Ucap Noah yang memandangi mobil itu pergi semakin jauh.
Akhirnya Noah mengikutinya sampai di sini telah banyak sekali perasaan yang penasaran dan dia tidak ingin semuanya terjadi.
"Aku akan selalu mengawasi Anjani, dia pergi begitu saja meninggalkan aku padahal aku sudah memberikan nya, di sini bisa saja di bilang menjadi kalau harapan di sini telah berada keberadaan juga." Noah terus merutuk di dalam hatinya dengan dia membawa mobilnya sangat pelan agar tidak di curigai oleh Urdha dan Anjani saat itu.
Di dalam mobil Anjani merasa sangat penasaran dan juga dia sangat yakin kalau itu seseorang memandang dirinya juga.
"Abraham, apa kau tidak melihat seseorang yang memandangi kita bertiga tadi? Soalnya aku sangat yakin juga di sini bisa di bilang kalau aku tidak salah lihat."
"Nyonya, tenang saja! Jangan mengkhawatirkan hal itu." Abraham berusaha membuat dia tenang juga di sini dia tidak ingin membuat malam ini semakin cemas juga.