Bab 3

986 Kata
"Baiklah mbah, mungkin saya akan bersabar juga dan di saat ini masih bisa di bilang menjadi beberapa kejadian satu sama lainnya. Saat ini saya harus segera pulang dan bertemu dengan wanitaku juga."  "Ya, semoga niatmu untuk kebaikan dirimu menjadi berkah selalu ya. Kau harus bisa tenang." Ucap Mbah Parno. Saat ini Urdha masih memikirkan kesehatan wanita yang dia cintai. Anjani yang saat itu masih terus berada di jalan membayangkan wajah Urdha masih memikirkan kejadian ini. Abraham melihat dari kejauhan Urdha yang saat ini masih terus berada di dalam hatinya sangat gelisah. "Kasihan sih ada apa dia sebenarnya? Aku semakin bingung dan juga berada di dalam hati ini menjadi beberapa keadaan juga." Ucap Abraham di dalam hati juga. Urdha masuk ke dalam mobil dia merasa kalau semuanya bisa di katakan lagi, perasaan ini masih terus berjalan demi keyakinan juga. Setiap masalah Abraham lah yang berusaha menemaninya juga. "Bos, bagaimana?"  "Huh... aku juga bingung harus bagaimana lagi, memikirkan kejadian yang sudah terjadi selama ini bisa di lakukan berjalan demi berjalan tanpa beban juga. Sebuah kenyataan ini bisa di tentukan satu sama lainnya berjalan demi keyakinan satu sama lainnya. Harapan tanpa keyakinan berjalan satu sama lainnya." Ucap Urdha. Sampai sedemikian rupa Abraham itu bisa berjalan dengan baik pula, keadaan ini bisa di tentukan sampai ada beban terjadi juga. Perjuangan Urdha semakin kuat tanpa beberapa jika di dalam perlahan, kalau setiap masalah perjuangan di sini. "Siap, saya hanya bisa doakan yang terbaik nanti kepada Nyoya Anjani." Ucap Abraham yang saat ini masih terus berjalan dengan baik juga. "Setelah ini akan berjalan dengan baik pula, kejadian ini bisa di tentukan sampai ada harapan terjadi satu sama lainnya. Kalau setiap permasalahan bisa di lakukan juga, beberapa kejadian sudah bisa di tentukan kalau berada ingin menjadi sebuah kenyataan juga." Ucap Urdha. Mereka akhirnya bisa di lakukan tanpa memikirkan kejadian satu sama lainnya, kalau sebuah kenyataan juga beberapa sudah di sini menjadi kenyataan juga. Saat ini kalau setiap permasalahan sampai begitu untuk bertemu dengan Anjani di rumah. Urdha bertanya kepada Abraham dan dia saat ini masih bingung juga, " Abraham, apa kau Anjani sudah pulang? Soalnya dia sama sekali belum mengangkat telepon aku atau pun mau mengabari aku dengan cepat juga." "Nyonya, belum pulang dan di sini palingan bentar lagi pulang juga dan harapan di sini telah ada beberapa kejadian satu sama lainnya, kalau setiap permasalahan terjadi bisa di tentukan satu sama lainnya juga." Ucap Abraham juga bisa di lakukan. "Secara perlahan demi keyakinan sekarang dia bisa sehat saja, dan juga merasa dia tidak memiliki sakit apa-apa juga. Beberapa hari ini sikapnya begitu membuat penderitaan juga di dalam diri ini menjadi satu sama lainnya." Jelas Urdha yang saat ini masih terus bisa di lakukan lagi. Akhirnya mereka sampai di dalam hatinya bisa di lakukan demi kejadian satu sama lainnya, di rumah Urdha melihat ada mobil Anjani yang sudah berada di depan teras. Anjani berusaha membuat suasana yang membaik juga, di dalam hatinya begitu menjadi satu sama lainnya. Dia berharap tidak membuat ada masalah dengan Urdha. "Anjani, dari mana saja? Dari tadi aku menelepon tapi tidak ada jawaban yang terjadi satu sama lainnya. Kalau setiap sama lainnya." Tanya Urdha. "Hmmm... itu tadi aku..." "Iya, aku paham kau pasti bersama Noah, iya sudah yang penting kau sudah berada di rumah saat ini juga, lain kali kalau mau pergi beri tahu aku kalau tidak beritahu Abraham agar tahu ke mana." Ucap Urdha yang langsung memutuskan pembicaraan Anjani. Anjani langsung tertunduk dan dia merasa bersalah, Urdha langsung menghampiri istrinya tersebut dengan tatapan sendu. "Iya sudah lah, sekarang kau segera mandi dan aku juga mau istirahat nanti kita akan malam di luar saja, Abraham akan menyiapkan semuanya untuk kita berdua ya."  Anjani kembali tersenyum dan dia merasa tidak bisa lagi menganggap semuanya akan bisa baik-baik jika ada sesuatu yang bisa di lakukan demi kejadian mendalam, suatu kejadian ini bisa berjalan dengan baik pula kalau saat ini bisa di tentukan juga. "Serius malam ini?" "Iya dong sayang, aku mau menghabiskan waktu bersamamu sudah lama kita berdua tidak makan malam romantis kan hehe..."  "Iya deh terima kasih honey... memang terbaik deh. Kalau begitu aku mau siap-siap." Ucap Anjani kepada Urdha.  Urdha langsung tersenyum dia berusaha untuk memberikan terbaik untuk istrinya yang dari tadi membuat diri nya menjadi nyata juga tanpa memikirkan kejadian satu sama lainnya. Harapan pria tersebut bisa di bilang menjadi sebuah kenyataan yang ada satu sama lainnya di dalam diri ini bisa berjalan dengan baik pula. "Kalau setiap permasalahan tersebut bisa di tentukan menjadi nyata juga. harapan tanpa memikirkan kejadian ini berjalan dengan baik, aku melakukan agar dia bisa tidak bosan juga." Ucap Urdha di hadapan Abraham. "Enggak apa-apa bos, itu sangat baik untuk dirimu dan juga jangan memikirkan kejadian satu sama lainnya. Dengan cara itu semuanya akan berjalan dengan baik pula, terlihat wajah Nyonya begitu sangat bahagia dan juga masih berpikir akan menjadi nyata juga satu sama lainnya di dalam diri ini berjalan satu sama lainnya berjalan dengan baik pula." Jelas Abraham sengaja memberikan semangat untuk bos terbaiknya itu. "Iya aku juga melihat dia sangat bahagia, padahal aku merasa hanya ini saja aku berikan tapi tidak ada memerlukan demi kejadian satu sama lainnya, harapan aku ingin membuat dia selalu betah." Ucap Urdha. "Iya sudah kalau begitu anda pergi beristirahat dan nanti langsung bersiap, semuanya akan saya siapkan di tempat yang terbaik untuk makan malam romantis ini saat ini juga aku berharap banyak agar berjalan dengan baik pula juga." Abraham berkata kepada Urdha. Tatapan Abraham begitu sangat bahagia dan juga dia merasakan kalau setiap yang di inginkan berjalan dengan baik, kalau setiap masalah yang datang tidak akan menjadi beberapa hal itu. Anjani merasa sangat bersalah saat Urdha melakukan yang terbaik untuk dirinya terus. "Aku merasa bersalah saja, padahal dia sangat baik kepadaku dan juga tidak ada yang di lakukan satu sama lainnya. Perubahan diri ini sampai menderita juga di dalam keyakinan aku bisa berjalan dengan baik pula." Ucap Anjani di dalam hatinya yang sudah membuat suaminya semakin sedih juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN