Arzhou? Kenapa kau pulang di saat perutku membesar karena orang lain? Aku tidak ingin kau melihatku. "Mu-chan, maafkan aku. Ayo kita bicara." Kenapa dia minta maaf? Apa itu sebuah sindiran? Tapi tidak. Jika Arzhou yang mengatakannya, aku yakin itu pasti tulus. Masih berurai air mata takut, kuberanikan diriku untuk menemukan wajahnya. Dia, tidak berdiri gagah seperti seorang tentara yang pulang saat usai memenangkan perang. Priaku itu bersimpuh, menjatuhkan ujung lututnya dengan bahu bergetar. "Zhou, maafkan aku. Maafkan aku,"erangku meraung tajam dan berusaha menghindar saat ia berjalan mendekatiku hingga tepian ranjang. Rambut cepak dan kulitnya yang kecokelatan mungkin terasa asing bagiku, tapi aroma tubuhnya tetap sama. Membangkitkan segala kenangan yang telah lama selesai. "Mu-ch

