"Berbaring." Takeshi menerobos masuk dengan sekeranjang buah segar. Tingkah soknya mengingatkanku akan banyak hal buruk yang ia lukis sepanjang hidupku. Bukankah seharusnya ia lebih dulu menanyakan kabarku? Kenapa sih, dia tidak bisa bertingkah lebih normal seperti orang kebanyakan? "Aku tidak mau. Di sini dingin. Aku butuh minuman panas daripada buah segar." Tolakku mendorong mundur tangan Takeshi yang mengulurkan sepotong apel hijau padaku. Mengupasnya saja tidak bersih. Ukh. Apa dia sudah cuci tangan? Bisa saja ia baru bersentuhan dengan anggota badan seorang jalang sebelum ke sini. "Ini bersih dan aku tidak pernah bercinta dengan sembarang wanita. " Oh ya ampun! Apa dia punya kemampuan membaca pikiran seseorang? "Kau tahu? Setiap kau mengernyit, mengumpat dan berteriak entah k

