Tak ada yang membekas dalam kenanganku akan sosok Mako Yoshida. Selain kekejaman juga keculasannya akan berbagai hal, sifat baik, sama sekali tidak tertinggal. Momentku setiap bercinta dengan Takeshi, kerap terganggu dengan banyaknya sayatan di punggung juga bekas tusukan pada perut kirinya. Entah kenapa aku menjadikan ayahnya sebagai dalang dari semua luka itu. Prasangka tak berdasarku , kini menguap bersama asap hio sebagai bentuk penghormatan terakhirku untuknya. Puluhan pelayat di belakangku mulai berjajar rapi menunggu gilirannya menuju tempat sembahyang. Di sudut kotak persembahan, Akechi menatapku, ia nampak beringsut menuju bagian lain ruang duka. Menunggu sembari mengibas hakama hitamnya, ia akhirnya duduk di antara kursi kayu panjang yang tertata di dekat kumpulan karan

