"Silakan anda jelaskan inti dari barang komplementer." Lana tergugu. Jemarinya bertaut dengan kerongkongan macet. Tubuhnya menggigil ditatap mahasiswa seisi kelas. "Barang komplementer…Setau saya, u-um, barang yang sifatnya-" "Bukankah ini materi minggu lalu?" Althaf menyela. Dipandanginya Lana dengan sorot tegas. "Setahu saya, yang dikelompokkan menjadi barang komplementer, memiliki sifat melengkapi barang lain mungkin, Pak." Ucapannya berbelit-belit, ia lirik Althaf yang tampak menikmati kegugupannya. "Anda yakin dengan jawaban itu?" "Ya, saya yakin." Lana berdusta. Batinnya merutuk sebab keterlambatan pagi ini membuatnya disidang depan umum. Lagipula ini bukan sekolah, cara Althaf menghukum terlalu klise. "Cara menjawab anda terlalu subjektif, penggunaan kata 'mungkin' atau

