Tinggal Serumah.

1156 Kata

Gagasan itu tentu saja disambut positif. Ratih mengiyakan dengan senyum terulas. Mengabaikan ekspresi Lana yang bergurat kasar, marah, dan cemas. "Apa-apaan sih, lo?!" Lana meledak. Ia dorong bahu Darrel. "Tinggal bareng-tinggal bareng mata lo! Nggak sudi gue lo atur-atur!" Tubuh Darrel terdorong kasar ke belakang. Namun seringai kecil justru terbit di bibirnya. Sang ibu menyela, "Lana, stop." "Mama juga! Emang aku barang dagangan yang bisa dioper dan diobral?" "Ini buat kebaikan kamu, Lana. Putuskan hubungan dengan kakak ipar kamu. Paham dengan maksud kakak ipar, kan?" ucapannya penuh penekanan. Lana memanas melihat wajah Ratih. Kalimat itu membakar sesuatu di hatinya, seperti tiupan ke api tungku. Bibir si gadis bergetar ingin melawan. "Maafkan Lana ya, Darrel. Kamu sebaiknya pu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN