Lana tersenyum. Kakinya maju selangkah untuk menarik leher Darrel. Bibir mereka berbenturan, si gadis raup belahan merah suaminya macam menyesap apel. Pagutan basah itu makin dalam. Lana mencengkram celana sang lelaki, tepat di kejantanannya. Si lelaki melenguh sampai melompat mundur. "Lo gila?!" "Ya, gue emang gila. Gue nggak waras." seloroh Lana, ia kembali maju dan mengecup leher suaminya. "Kenapa, Darrel? Lo yang minta gue buat tunduk, kan? Kenapa justru lo yang ketakutan?" Darrel mengerjap cepat. Jakunnya naik-turun dengan kulit mengilap keringat. Gadis itu benar, kenapa malah dia yang takut? "Aku istri kamu, kan?" Lana mengubah cara bicaranya. Jemarinya berusaha meraih celana Darrel lagi. "Nggak di sini. Lo gila—" "Oh, lupain honeymoon-nya. Kalau lo mau, kita bisa lakuin i

