Penggemar

1304 Kata
“Makan disini saja nggak apa- apa kan?” tanya Tian ketika mereka memasuki salah satu rumah makan yang cukup ramai di tempat tersebut. “Iya. Nggak masalah.” jawab Emma seadanya. Ia tidak lagi terlihat bersemangat seperti pagi tadi. Tian lalu nampak berbicara pada seorang pria yang Emma yakini pemilik rumah makan tersebut dan kini tersenyum kepadanya. Tak lama kemudian Tian sudah menuntunnya untuk berjalan ke salah satu meja makan yang terletak di sudut ruangan tersebut. “Duduk disini saja.” ucapnya dan hanya dijawab anggukan oleh Emma. “Kamu capek? Mau pulang saja?” tanya Tian. “Nggak. Saya hanya… Rindu rumah.” “Apa… Kamu mau menelpon keluarga kamu dulu?” tanya Tian dengan hati- hati namun dalam hatinya menyimpan tanya. Pasalnya, ia sempat melihat Emma mengantri di toko penyedia layanan telepon tadi. Dan itu cukup membuatnya bertanya- tanya. “Nggak usah. Tadi saya sudah menelepon kak Eva.” jawab Emma. “Saya ingat kak Eva. Dulu, dia sering ngasih permen ke saya.” ucap Tian yang membuat Emma sedikit tertarik. Hal yang juga membuat Tian bersyukur karena istrinya tersebut jujur dan tidak melakukan hal yang ia khawatirkan. “Kamu kenal kak Eva?” “Tidak kenal sih… Hanya saja sewaktu saya kecil, saya ingat sekali dia sering ngasih saya permen. Hanya itu yang saya ingat tentang kak Eva. Dia orang yang ramah.” “Dan saya? Apa dulu kita pernah ketemu juga?” tanya Emma sedikit penasaran. “Tentu saja...” “Hah?! Serius? Kok saya nggak ingat apapun?” ujar Emma yang semakin tertarik dengan topik pembicaraan mereka. Kedua sudut bibirnya kembali terangkat dan ia kembali bersemangat. Hal itu juga memberikan kebahagiaan tersendiri untuk Bastian. “Ya karena kamu masih kecil. Kamu dulu sering banget nangis. Makanya saya nggak begitu suka main sama kamu. Saya lebih suka main sama kak Eva.” “Jahat banget sih… Terus saya mainnya sama siapa dong?” “Kamu lebih suka main sendiri. Dan kalau kamu main sendiri, kami akan datang gangguin kamu.” jelas Tian yang seolah membayangkan kembali kenangan masa kecilnya. “Usil banget… Itu waktu kami liburan kesini?” “Bukan. Saya yang liburan ke rumah kalian.” “Hah?! Serius? Kamu pernah ke rumah? Saya kok nggak ingat apapun ya…” “Makanannya sudah datang. Makan dulu ya… Kamu nanti bisa masuk angin.” ucap Tian yang mengalihkan pembicaraannya. “Wowww… Makanannya enak sekali. Saya nggak tahu kapan terakhir kali makan makanan seperti ini. Sop ayam ini persis seperti masakan orang yang pernah jagain saya di rumah. Sop ayam kampung dengan kuah bening dan kocokan telur yang kayak lumut ini loh… Dan ayam goreng kecap ini. Waah…” ujar Emma dengan kedua mata yang nampak berbinar. “Iya, semua ini memang resep ibu saya.” ucap pria yang membawa nampan makanan tersebut yang ternyata adalah orang yang tadi Tian ajak mengobrol. “Serius? Ini masakan bu Inha?” “Resepnya memang asli dari mendiang ibu saya. Dan tebak ibu saya menamakan masakan ini menjadi apa?” Emma menatap Tian yang hanya tersenyum dan kemudian menatap pria yang masih berdiri tersebut. “Apa?” “Sop ayam kuah lumut” jawabnya dengan tersenyum. “Serius? Ih… Jadi kangen bu Inha.” ucap Emma dengan sedikit terharu. “Iya… Ibu juga sering sekali cerita tentang mbak Emma.” “Emma saja.” ucap Emma dengan sopan. “Dan siapa sangka, akhirnya saya bisa ketemu sama anak kesayangan ibu saya. Yang bahkan rela ninggalin saya di sini dan dirawat sama bude karena ibu malah nggak bisa ninggalin nona Emma kesayangannya.” canda pria tersebut. “Maaf sekali ya… Saya benar- benar minta maaf kalau—“ “Nggak apa- apa. Saya senang ibu saya bisa disayangi sebesar itu sama mbak dan juga keluarga. Kalau begitu… Silahkan dinikmati makanannya dan semoga bisa sedikit mengobati kangen akan mendiang ibu saya.” “Makasih ya, mas Bud…” ucap Tian dengan sopan. “Mari makaaan…” ucap Emma dengan menepukkan kedua tangannya tanpa suara dan terlihat sangat bersemangat. *** “Ya Tuhan…” desah Tian yang membuat Emma memalingkan wajahnya pada suaminya yang sejak tadi diam tersebut. “Ada apa?” “Kamu tunggu saya di mobil saja. Ayo saya antar. jawab Tian yang terlihat tidak nyaman. “Ada apa sih?” “Nggak ada apa- apa. Ayo jalan aja.” ucap Tian yang berjalan lebih cepat. “Mas Tian… Lama nggak ketemu.” Sapa salah seorang dari empat orang wanita yang sedang berjalan berpapasan dengan mereka. Tian yang hanya tersenyum sepintas seolah tidak memperdulikannya kembali berjalan tanpa menoleh sedikitpun. “Wah… Pengantin baru sombong sekali rupanya.” sambung wanita tersebut dengan nada tidak enak. “Sayang sekali kamu menikah diam- diam dan nggak ngundang aku, mas. Kalau tahu, aku pasti akan datang.” “Mas Tian, ada yang mau aku omongin.” ucapnya lagi sembari melangkah mengikuti Emma dan Tian. Tian akhirnya menghentikan langkahnya dan menghela nafas dengan berat. “Kamu mau tunggu di mobil saja atau…” “Ada masalah?” tanya Emma penasaran sambil sedikit melirik ke arah wanita yang nampak terlalu menor untuk suasana pasar ini. Tidak jauh berbeda dengan wanita yang pertama kali menyapa suaminya pagi tadi. “Nggak ada. Hanya… Salah seorang langganan perkebunan.” “Oke… Kalau begitu saya mau di toko itu dulu. Saya mau beli sesuatu.” “Baiklah. Hati- hati…” ucap Tian dengan lembut dan sedikit khawatir. Ia tidak ingin Emma kelelahan karena struktur tanah pada pasar tersebut memang tidak rata dan berbukit. Tian kemudian berjalan ke arah Lintang dengan eksperesi wajah datar seperti biasanya. Ia tidak ingin terlibat masalah lagi karena wanita bersuami tersebut. “Ada apa, bu Lintang?” tanya Tian dengan sopan dan jarak yang cukup jauh. “Ya ampun, ngobrolnya jauh amat. Istrinya marah ya mas kalau kita dekat?” godanya dengan tersenyum diikuti oleh ketiga kawannya yang juga mengiyakan. “Maaf, saya sedang buru- buru. Istri saya kelelahan. Ibu Lintang ada yang bisa saya bantu?” “Iya, saya mau hajatan mas minggu depan. Ponakan saya mau nikahan. Bisa nggak ya kalau mas Tian anterin barang pesanan saya ke villa?” “Memangnya mau berapa banyak ya bu sampai harus langsung ambil dari saya? Ibu nggak mau saya bantu pesan ke salah satu langganan saya?” tanya Tian dengan heran. Pasalnya, perkebunan miliknya lebih sering melayani pembelian dalam jumlah banyak yang biasanya dari pabrik ataupun pedagang- pedagang besar. “Ya cukup banyak sih. Dan saya mau semuanya fresh makanya nggak mau ambil dari pasar.” jawab Lintang dengan tatapan penuh percaya diri. Tian menggaruk tengkuknya karena tidak tahu lagi bagaimana menolak permintaan tersebut. “Kalau gitu, nanti akan saya infokan ke Haris, bu ya. Biar Haris yang bantu kebutuhan ibu.” “Ya udahlah ya… Kalau gitu, nanti biar mas Tian ya b antar. Lebih percaya kalau langsung mas Tian yang urusin. Urusin aku, mas…” candanya. “Ibu bisa saja… Kalau gitu saya permisi, bu. Kasihan istri saya sudah menunggu.” “Istrinya cantik ya, mas… Orang kota sih emang cantik- cantik. Coba kalau kelamaan di desa nanti juga jadi ibu- ibu desa. Kalau teh Lintang sih udah lama di desa, tetap nggak kalah sama perempuan kota.” ucap salah satu kawan Lintang. “Ah kamu bisa aja, Wik.” ucap Lintang malu- malu sambil mengaitkan rambutnya di telinga. “Ya kalau nggak cantik dan seksi, gimana pak Ibram nggak kecantol loh.” imbuh yang lainnya. “Kalau gitu saya permisi ya ibu- ibu. Sudah siang. Silahkan dilanjutkan ngobrolnya.” Ujar Tian dengan sopan. Berada diantara ibu- ibu muda tersebut membuatnya sangat tidak nyaman. Tian lalu melangkah menjauh bahkan tanpa repot menunggu reaksi selanjutnya dari para wanita tersebut. “Satu hari nanti, dia bakalan jadi milik saya.” ucap Lintang dengan yakin dan ikut didukung oleh ketiga sahabatnya. “Asal jangan sampai ketahuan pak Ibaram aja, Lin.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN