“Kamu terkenal juga ya… Banyak disukai orang. Terutama perempuan.” ucap Emma dengan santai.
“Oh bukan… Mereka semua kenalan lama saya. Yang tadi pagi itu, Melda. Dia kerja di bank tempat transaksi keuangan perkebunan. Jadi kami cukup sering ketemu. Dan kalau yang tadi… Lintang… Dia itu istri salah satu tuan tanah di kampung sini.” jelas Tian sambil mengenakan sabuk pengamannya.
“Oohh… Tian, boleh saya tanya sesuatu?”
“Boleh. Ada apa?”
“Kamu marah ya sama saya? Sejak tadi kamu kelihatan tidak seperti biasanya. Apa saya punya kesalahan? Yeah tentu saja memaksa kamu menikahi saya yang sedang hamil anak orang lain juga suatu kesalahan. Tapi—"
“Tunggu… Pertama, pernikahan kita bukan kesalahan. Dan saya tidak merasa terpaksa. Saya bukan anak kecil yang bisa diseret untuk menikahi kamu. Kedua, kamu tidak punya kesalahan apapun. Saya hanya masih menyesuaikan diri dengan kehidupan kita yang baru. Dan please… Jangan pernah membicarakan hal seperti ini di tempat umum.” jawab Tian dengan ekspresi yang sulit Emma pahami. Namun yang jelas, Tian tidak suka akan pertanyaannya barusan.
“Maaf… Saya hanya mau bertanya…” ucap Emma sendu dan menoleh untuk menatap jalanan ke luar sisi jendela. Hal yang membuat Tian menyesali sikapnya.
Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya terdiam dan bahkan tidak ada suara lantunan musik seperti pagi tadi. Masing- masing mereka sibuk dengan pikirannya sendiri.
POV Tian
Aku menyesali kalimat yang baru saja aku ucapkan pada Emma. Aku sungguh tidak ingin melukai hatinya. Terlebih lagi sekarang ia pasti sedang sangat berusaha memperbaiki keadaan kami. Terutama, keadaan mentalnya. Aku paham jika situasinya saat ini sedang kacau.
Namun, aku juga tidak tahu bagaimana harus bersikap pada istriku tersebut. Aku selama ini hidup sendirian dan sudah cukup lama tidak terlibat hubungan asmara dengan wanita manapun. Tapi memang ada hal yang mengganggu fikiran ku beberapa hari ini. Pasalnya, kemarin mertuaku mengirimkan pesan pada ponselku. Dan aku baru membacanya semalam karena aku jarang mengeceknya sejak ada perbaikan pada menara provider telekomunikasi di desa kami.
“Selamat atas pernikahan kalian. Papa berharap kehidupan rumah tangga kalian akan selalu bahagia. Tian, papa ucapkan banyak terima kasih sama kamu dan berharap kamu sedikit bersabar mengahadapi Emma. Dia anak yang baik dan hanya butuh sedikit kamu arahkan. Tolong jaga dia baik- baik. Dan jika papa masih bisa meminta sesuatu, tolong jauhkan Emma dulu dari dunia luar. Jangan biarkan dia menghubungi siapapun untuk sementara. Papa yakin kamu bisa memenangkan hatinya kelak.”
Kalimat- kalimat tersebut membuatku banyak bertanya dalam hati. Apakah Emma masih mengharapkan mantan kekasihnya untuk bisa kembali bersama? Apakah bagi Emma pernikahan kami hanyalah lelucon belaka? Hal- hal yang tidak mungkin bisa ku pertanyakan langsung kepadanya. Karena bagaimanapun, saat ini kami masih sangat asing.
Setelah membersihkan diri, aku membalas pesan ayah mertuaku dan memintanya untuk jangan khawatir. Lalu aku memutuskan ingin berbicara dengan Emma dan meminta maaf atas sikap kasarku tadi padanya. Aku tidak ingin ia merasa bahwa aku orang yang keras dan tidak bisa ia ajak berdiskusi. Sungguh, aku tidak ingin menyakiti hatinya sama sekali. Aku… Sangat menyayangi istriku tersebut.
***
Tian melambatkan langkah kakinya menuruni anak tangga ketika ia mendengarkan suara sibuk yang berasal dari arah dapur. Wangi semerbak makanan juga mengisi indra penciumannya. Yang biasanya memasak untuknya hanyalah Haris dan itu tidak mungkin saat ini karena Haris masih berada di kebun. Dengan segera ia mempercepat langkah kakinya ke arah dapur dan terkejut mendapati Emma yang nampak sedang berdiri dan sibuk sambil memunggunginya.
Gerakan Emma yang dalam penglihatan Bastian saat ini bagaikan seseorang yang sedang menari dengan wajah cantiknya, membuat ia akhirnya hanya diam mematung sambil mengamati betapa beruntungnya ia mendapatkan wanita secantik istrinya tersebut. Wanita yang membuatnya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, yang sebenarnya sudah ia sukai sejak mereka remaja. Dulu, ia memang pernah melihat sosok Emma di foto keluarga mereka yang mendiang ibunya pernah tunjukkan. Namun, ia tahu jika dunia mereka sangat jauh berbeda.
“Eh… Kamu udah turun…” sapa Emma yang baru menyadari kehadiran Bastian dan membuat suaminya tersebut langsung salah tingkah karena kedapatan mengagumi istrinya tersebut.
“Iya… Kamu lagi ngapain?” tany Tian sambil berjalan ke arah Emma.
“Aku lagi buat makan malam buat kita.” jawab Emma dengan santai dan membuat Tian tersenyum dalam hati. Kalimat itu membuat hatinya merasa hangat.
“Butuh bantuan?” tanya Tian sambil menggaruk tengkuknya.
“Nggak usah. Sudah selesai kok. Mau makan sekarang?”
“Ng… Dikit lagi deh. Tapi kalau kamu lapar, kamu makan saja duluan.”
“Aku juga masih belum mau banget. Kamu mau aku masakin sesuatu?” tanya Emma lagi dengan tatapan polos tepat ke dalam manik mata suaminya tersebut. Mungkin bagi Emma tatapan dan kalimat tersebut hanyalah hal biasa. Namun bagi Bastian, tatapan dan kalimat barusan adalah harapan baru untuknya. Harapan untuk bisa terus mencoba memperbaiki hubungan mereka. Harapan untuk bisa memenangkan hati wanita cantiknya.
“Nggak ada. Memangnya kamu masak apa saja?” tanya Tian yang melirik ke arah dapur yang cukup berantakan sambil mengulum senyumnya.
“Hanya nasi goreng dan telur dadar.” jawab Emma sambil cengengesan dan sadar akan kekacauan yang sudah ia perbuat.
“Tenang… Aku akan tanggung jawab.” canda Emma yang membuat mereka berdua tersenyum.
Emma kemudian mengangkat piring saji masakannya dan
“Emma… Soal yang tadi… Aku minta maaf ya. Aku nggak bermaksud menyakiti hati kamu dan bersikap kasar. Hanya saja tadi aku cukup stress dan aku memang kurang begitu suka kalau kita harus membicarakan masalah pribadi kita di tempat umum.”
“Oh… Santai saja. Tapi jujur, aku juga nggak suka orang yang melampiaskan suasana hatinya begitu saja ke orang lain. Kamu sudah dewasa dan aku rasa kamu cukup bisa mengontrol emosi kamu. Nggak semua orang bisa memaklumi isi hati kamu. Dan aku juga minta maaf karena membahasa masalah kehamilan aku di luar rumah. Aku nggak mikir kalau siapa tahu aja ada seseorang yang dengar dan itu bisa merusak nama baik kamu.”
“Bukan… Aku sama sekali nggak malu soal itu. Aku justru sangat bangga mengakui kamu adalah istri aku dan juga kenyataan kamu sedang hamil. Lagipula… Bukan nama baik aku yang sedang aku jaga. Justru aku sangat menjaga kamu”
“Sudahlah… Kalau gitu… Kita makan sekarang yuk.” ucap Emma yang salah tingkah. Sikap Bastian, selalu menghangatkan hatinya.
“Oke… Kamu butuh bantuan?”
Emma mengulum senyumnya lalu melirik ke arah kompor dan bak cuci piring yang terlihat cukup berantakan tersebut.
“Oke oke… Karena kamu sudah masak, aku akan bagian cuci piring.” ujar Tian dengan tersenyum. Senyum manis dengan satu lesung pipi yang membuat ketampanannya meningkat.
“Kalau orang lain melihat dapur ini, pasti mereka ngira kamu habis masak untuk hajatan.” sambung Tian sambil membawa teko kaca berisi air putih dan dua gelas untuk mereka berdua.
“Aku akan anggap itu sebagai pujian.” jawab Emma dengan santai.
“Aku akan bersabar menunggu dia membuka hatinya untuk aku. Aku akan terus mencoba memperbaiki rumah tangga kita, Emma. Tolong jangan menyerah bahkan jika nanti keadaannya akan sulit. Aku yakin kita akan baik- baik saja” batin Tian sambil mengamati istrinya yang terlihat sibuk mengatur alat makan untuk mereka berdua.
“Tian, besok kamu sibuk nggak?” tanya Emma setelah duduk dan mulai mengambil beberapa sendok nasi goreng untuk ia letakkan di piring makan miliknya.
“Lumayan sih… Awal pekan memang aku cukup banyak kerjaan. Aku juga janjian ketemu sama pemasok pupuk.”
“Ke kebun?”
“Iya. Kenapa?”
“Aku boleh ikut nggak?” tanya Emma dengan mulai hendak menikmati nasi gorengnya tanpa repot menuangkan makanan untuk Tian yang sebenarnya sedang menunggu hal tersebut.
“Kamu mau ikut ke kebun?” tanya Tian sambil tersenyum karena harapannya yang belum terkabulkan.
“Iya… Boleh nggak?”
Tian kemudian nampak berpura- pura berpikir sejenak lalu mengangguk dengan santai. Tentu saja ia bahagia jika Emma mau melihat tempat ia bekerja selama ini.
“Tenang aja, kali ini aku nggak akan salah kostum kok.” canda Emma yang membuat mereka berdua tertawa kecil.