Alone

1305 Kata
POV Emma Sejak tadi aku hanya mondar mandir di dalam kamarku. Sedikit bosan karena Tian sudah pergi ke kebun sejak tadi. Aku bahkan tidak sempat bertemu dengannya karena setelah selesai menyiapkan sarapan, aku kembali ke kamar untuk mandi dan saat turun ke bawah, ia sudah berangkat. Aku cukup senang karena Tian menghabiskan sarapan yang aku buat. Kali ini aku membuat roti lapis dengan isian telur rebus yang aku campur dengan jagung manis dan saus mayonais. Menu kesukaanku saat kuliah. Mengingat masa kuliahku, membuat aku kembali memikirkan semua yang telah terjadi. Begitu banyak hal yang seandainya tidak aku lakukan saat itu. Salah satunya adalah, melanggar prinsipku sendiri karena kebodohan semalam. Ingatan yang kini senakin bisa ku ingat dengan jelas. Karena aku seperti bukanlah diriku karena kelalaianku sendiri. Aku dan Elgar telah lama menjalin hubungan. Dia adalah senior di kampus yang sama denganku meski jurusan kami berbeda. Kami saling mengenal karena berada di dalam satu naungan komunitas mahasiswa pendatang dari Asia. Dan ia tahu aku dari keluarga yang cukup konservatif. Ia salah satu orang yang selalu menjaga, menolong dan memahamiku. Selama dua tahun bersama, kami hanya sebatas saling memeluk dan berciuman saja. Ciuman biasa tanpa hasrat atau keinginanku untuk melakukan hal yang lebih. Namun aku sangat menyukai saat harus menghabiskan waktu berduaan dengannya. Elgar sendiri juga tidak berusaha memaksaku meski aku tahu ia terkadang menginginkan lebih yang bisa aku rasakan dari tekanan pada lidah dan juga pelukannya yang semakin erat. Namun, aku selalu bisa mengakhiri semuanya sebelum kami semakin jauh. Entahlah, aku hanya merasa belum waktunya melakukan hal yang lebih itu dengannya. Hingga suatu malam, aku bertengkar dengannya karena ia cemburu pada salah seorang pria di kelasku. Dan itu membuatku muak karena sebenarnya pria itu sama sekali tidak tertarik padaku. Namun Elgar yang sangat posesif saat itu, sangat memojokkanku dan akhirnya membuatku mengatakan ingin berpisah saja darinya. Awalnya ia menerima dan selama dua hari kami tidak lagi saling menghubungi. Aku cukup sedih karena sudah terbiasa dengan rutinitas kami berdua. Dan tentu, aku merindukannya. Lalu pada malam harinya, salah seorang rekan sekamarku di asrama mengajak kami semua ke pesta di salah satu club malam karena sedang berulang tahun. Dan dengan malas, aku akhirnya ikut juga untuk sedikit bisa melupakan Elgar. Sepanjang pesta, aku tetap memikirkannya dan sedikit menyesali keputusan perpisahan kami. Aku terus meminum minuman yang disuguhkan meski tidak begitu menyukainya. Namun tiba- tiba, Elgar muncul dihadapanku dan menangis memintaku kembali bersamanya. Ia mengajakku ke salah satu kamar yang memang disediakan di tempat tersebut untuk bisa berbicara lebih leluasa dan tidak begitu riuh. “Aku mohon… Jangan tinggalkan aku. I love you so much.” ucapnya terisak sambil memegangi kedua lututku yang sedang duduk di sebuah sofa di kamar. Suara dentuman musik masih samar- samar terdengar. “Elgar… Aku—“ “Aku tahu aku salah. I was wrong. Tapi kasih aku satu kali kesempatan lagi, babe… Aku nggak bisa tanpa kamu. Aku bodoh, aku egois dan terlalu posesif. Aku hanya takut kehilangan kamu. Maafin aku, sayang… Aku salah, aku bodoh” isaknya sambil memukuli kepalanya sendiri yang tentu membuatku sedikit shock dan takut ia menyakiti dirinya sendiri. “Elgar kamu apa- apaan sih… Aku… Aku memaafkan kamu. Tolong jangan kayak gini.” ucapku sambil menahan kedua lengannya dan melupakan kemarin aku melihatnya seperti sedang berciuman dengan seorang gadis berambut pirang. “Really? Kamu maafin aku, sayang?” Aku mengangguk perlahan meski sebenarnya aku ingin menanyakan hal yang kemarin aku lihat tersebut. Elgar mencium kedua telapak tanganku masih dengan posisi berlutut tepat di hadapanku. Entah karena aku mulai mabuk atau karena terbawa suasana, namun entah mengapa pertahanan diriku seolah runtuh begitu saja. Lalu tiba- tiba ia memelukku dengan kuat dan mulai menciumku. Dan sayangnya aku membalasnya dengan tak mau kalah. Ciuman lembut yang semakin lama semakin membuatku nyaman. Ciuman lembut yang membuatku semakin menginginkan lebih dan menyukai saat tangan Elgar mulai bergerak kesana kemari. Hingga akhirnya, hal terakhir yang aku tahu adalah, kami berbaring saling berpelukan di dalam satu selimut yang sama dan tanpa mengenakan apapun pada tubuh kami. Aku berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahku karena merasa kurang enak badan. Hatiku gelisah dan tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Setelah itu aku keluar dari kamar dan menuju lantai bawah dengan perlahan. Aku ingin menyibukkan diri dengan mulai menyiapkan makan siang sebelum Tian pulang. Paling tidak, aku bisa berguna untuknya dalam hal ini. Karena itulah kemarin aku membeli beberapa bahan makanan untuk aku simpan di kulkas sebagai persediaan. Meski aku tak begitu pandai dalam memasak, namun makanan buatanku cukup layak untuk dinikmati oleh orang lain. Kali ini, aku memutuskan untuk memasak chicken katsu untuk bisa kunikmati bersama Tian siang ini dan juga untuk malam nanti. Aku tidak tahu apa makanan kesukaannya, namun apapun yang aku masak, sepertinya ia selalu menghabiskannya. *** Makan siang telah kusajikan di atas meja makan namun Tian belum juga pulang padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Akhirnya, aku memutuskan untuk membereskan rumah saja karena meski aku kadang sudah biasa makan sendirian selama ini, namun di rumah ini aku selalu merasa sangat kesepian jika harus menikmati makanan sendirian. Aku berjalan ke arah belakang dapur dan membuka pintu ruangan yang kemarin Tian gunakan untuk menyimpan wortel- wortel yang membuatku mual tersebut. Dan ruangan tersebut benar- benar telah bersih bahkan tidak ada lagi bau wortel sedikitpun yang tersisa. Aku tersenyum dalam hati mengingatnya. Aku lalu berkeliling ruangan ini untuk mencari letak sapu atau apapun yang bisa kugunakan untuk membersihkan lantai yang akhirnya kutemukan di dalam sebuah lemari yang cukup besar bersama beberapa alat kerbersihan lainnya. Harus aku akui, rumah ini cukup rapih dan bersih untuk seorang petani bujang yang tinggal sendirian. Aku kemudian sedikit berjongkok untuk mengambil serokan sampah yang sepertinya terjepit dengan benda lainnya dan menariknya cukup keras hingga membuat sebuah garpu jerami jatuh tepat diatas kepalaku. Hal itu spontan membuatku berteriak dan menangis karena kaget dan juga kesakitan. Dan ketika aku hendak berdiri, tiba- tiba perutku terasa nyeri dan membuatku menangis tak berdaya. “Tiaaan… Toloooong…” isakku. “Tian… Kamu dimana?” Aku semakin menangis ketika sadar jika aku benar- benar sendirian. Tak ada siapapun yang peduli padaku dan tak ada siapapun yang menyayangiku. Orangtua, saudara, kekasih, juga suamiku, semuanya seperti meninggalkaku dan tidak peduli akan keadaanku. Mereka tega membiarkanku sendirian di tempat sepi ini. Aku mencoba menahan nyeri di perutku juga keningku yang terasa berdenyut. Sepertinya garpu jerami tadi mengenai kening sebelah kiriku dan beruntungnya bukan bagian besi tajamnya. Aku mencoba berdiri sambil memegangi sisi lemari dan sambil mengusap air mataku. Aku tidak ingin siapapun mengasihaniku apalagi memandangku dengan pandangan tak berdaya. Aku yakin, aku akan keluar dari semua ini secepatnya. Namun, baru saja melangkah satu kali, rasa nyeri di perutku kembali menyerang dan kini aku merasa sangat mual. Aku kembali duduk di lantai dan bersandar pada lemari besi tersebut dan mencoba mengatur nafasku. Aku baru sadar jika aku belum makan sejak pagi tadi. Karena melihat Tian sudah pergi, aku kembali ke kamarku dan tidak jadi menikmati sarapanku sendiri. Sayup- sayup aku mendengar suara mesin kendaraan milik Bastian yang membuatku menyeka air mataku dengan cepat namun entah mengapa air mata tersebut semakin mengalir deras. Aku bahkan berusaha menyekanya dengan ujung dress yang aku gunakan. Aku tidak ingin Tian melihatku tak berdaya dan semakin mengasihani nasibku. Suara pintu rumah terbuka dan tertutup kembali, namun aku ragu apakah harus memanggilnya atau membiarkan ia menemukanku sendiri. Tapi bagaimana bisa ia mengetahui keberadaanku jika ia mengira aku pasti sedang berada di dalam kamar. Dan ia tidak mungkin lancang masuk ke kamar tidurku sama sekali. Menyadari hal itu, air mataku jatuh lagi dan kembali berusaha untuk bisa berdiri. Toh Tian tidak akan peduli dimanapun aku saat ini. “Emma?!!!” seru Tian ketika masuk ke ruangan tersebut dan menemukanku duduk menangis. Dan yeah, air mataku ini semakin ingin mempermalukanku dengan mengalir deras saat Tian menghambur duduk bersimpuh di hadapanku dengan wajah panik juga khawatirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN