Affection

1383 Kata
Tian menatap Emma dengan tatapan penuh kekhawatiran. Mengusap air matanya perlahan meski ada kecanggungan dan keraguan dalam setiap gerakannnya. “It’s okay… Aku boleh gendong kamu ya…” tanyanya dengan lembut dan diangguki oleh Emma yang mulai menjulurkan lengannya ke tengkuk suaminya tersebut. Jangan tanyakan betapa hebatnya jantung Bastian ketika pertama kali ia bisa menyentuh Emma seperti ini. Sedekat ini dengan wanita yang telah bertahun- tahun lamanya mencuri hatinya secara diam- diam. Dengan perlahan ia mulai mengangkat tubuh Emma yang seperti sangat enteng saja baginya. Lengan kekarnya menopang punggung dan paha istrinya dengan penuh perlindungan seolah tidak ingin membiarkannya terluka lagi. Dan dalam hati ia menyalahkan dirinya sendiri karena lalai dan membiarkan istrinya yang sedang hamil tersebut bisa sampai terluka. “Aku ambil jaket kamu lalu kita ke dokter.” ucap Tian setelah Emma duduk di sofa dan ia telah meletakkan satu bantalan kursi untuk menjadi sandaran bagi Emma dan membuatnya sedikit lebih nyaman. “Tian, nggak usah… Aku baik- baik aja.” Tian menatap Emma dan memperhatikan luka yang ada di kening istrinya. “Aku nggak mau kalian kenapa- kenapa. Kita ke dokter biar lebih yakin, Emma.” “Nggak perlu, Tian. Aku… Hanya terbentur dan asam lambungku hanya naik aja. Bukan masalah sama bayinya.” “Tapi kamu kesakitan. Dan itu lebih penting. Coba aku lihat.” ucap Tian sambil menyeka sedikit peluh yang ada di kening sang istri lalu memperhatikan benjolan keciil yang memerah tersebut. “Awwwhhhh… Sakit, Tian.” seru Emma meringis. “Maaf… Tapi ini berdarah, Emma. Akan lebih baik kalau—“ “Tapi rumah sakit jauh. Puskesmas nanti— Sudahlah, kamu saja yang obatin aku. Punya kotak obat kan?” “Punya. Tunggu sebentar biar aku ambil” jawab Tian lalu segera beranjak. Emma menghela nafas karena akhirnya Tian mengalah dan tidak membawanya ke rumah sakit atau puskesmas. Ia hanya tidak ingin masyarakat ataupun kenalan Tian di desa kecil tersebut nantinya akan mengetahui jika ia kini tengah hamil muda sedangkan pernikahan mereka berdua baru berlangsung seminggu yang lalu. Tentu hal itu akan membuat Tian dan keluarganya menjadi bahan omongan orang sekampung. Kehamilan sebelum pernikahan tentu adalah sebuah aib bahkan untuk masyarakan modern sekalipun. “Sini aku bersihkan…” ucap Tian yang kini duduk di samping kaki Emma yang ia terlentangkan tadi. *** Emma Pov Aku menatap Bastian yang kini nampak telaten mengobati luka di keningku. Jantungku berdetak hebat karena sedekat ini dengannya. Aku benci perasaan ini setiap kali berdekatan dengannya. Aku benci karena ia memperlakukanku sangat baik dan penuh perhatian. Rahangnya yang tegas, tatapan mata sendu penuh perhatian, senyumnya yang manis, lengannya yang selalu siap menuntun dan melindungiku, dan nafas lembutnya yang menerpa wajahku membuatku seperti merasa sangat aman dan nyaman. Dan iya, aku benci memiliki perasaan ini karena aku seolah mengkhianati Elgar. Jujur, andai saja aku tidak sedang hamil anak orang lain, dan keadaanku datang ke tempat ini sedikit berbeda, mungkin aku akan sama seperti wanita- wanita yang aku temui sejak beberapa hari lalu. Wanita- wanita yang terpesona dan jatuh cinta padanya. Yang tentu saja bukanlah hal yang sulit meskipun Tian hanya seorang petani. Perhatian, kebaikan, kelembutan, dan sikap lelaki sejatinya mampu membuat siapapun luluh begitu saja. Dan wajah tampan serta tubuh atletisnya adalah sebuah bonus luar biasa yang ia miliki. Namun, bagian terbaiknya adalah, ia bukanlah tipe pria yang tebar pesona atau petantang petenteng mendekati semua orang lain dengan genit. Jantungku berdetak hebat ketika Tian meniup keningku dan mengusap pipiku dengan lembut. Kedua mataku tertuju pada bibirnya yang nampak kemerahan tersebut. “Kamu baik- baik aja? Masih ada yang sakit?” Aku menggeleng perlahan. Kedua mata kami saling beradu, saling menatap penuh makna. Dan detik selanjutnya aku mulai menciumnya. Menciumnya dengan lembut sambil kedua tanganku memegangi rahangnya yang tegas. Dan tentu saja, suamiku membalas ciumanku tak kalah lembutnya. Bibirnya yang lembut membelai bibirku yang semakin meminta lebih. Aku bersyukur ia paham keinginanku dan mulai menjulurkan lidahnya dengan perlahan. Aku menyukai ia mengabsen rongga mulutku dengan lidahnya yang kini mulai membelit lidahku. “Oh sayang…” gumamnya ketika aku semakin mendekatkan diriku padanya dan memeluknya dengan erat. Ciuman kami terhenti ketika ia mulai menciumi pipiku lalu menjalar ke bawah bagian leherku. Aku pasrah saja dan menyukainya. Aku bahkan kini telah duduk di atas pangkuannya. Satu tangan besarnya mulai menyentuh bagian dadaku. Meremasnya dengan lembut dan membuatku meremang. “Sayang…” bisiknya lalu kembali melumat bibirku masih dengan lembut dengan telapak tangan yang kini mengusap lembut pahaku dari balik dress yang aku kenakan. Telapak tangan yang teras sedikit kasar pada kulit pahaku. Telapak tangan yang semakin ke intens ke bagian atas pahaku seiring ciumannya yang semakin menekan dan menagih bagiku. “Ngghhhh, Tian…” desahku diantara ciuman kami ketika tangannya mulai membelai pahaku bagian dalam. Menyentuh pakaian dalamku yang mulai lembab dan membuatku sedikit malu. Namun di dalam hati aku semakin menginginkan ia melakukan lebih. Aku menyukai apapun yang ingin ia lakukan saat ini. Dan ketika tangannya mulai memasuki pakaian dalamku, ciumanku padanya juga semakin membara. Terlebih lagi saat perlahan jemarinya mulai menyentuh—“ “Emma… Emma… Kamu baik- baik aja kan?” tanya Tian lagi sambil sedikit mengguncang pundakku. Kedua mataku kembali fokus dan menatap Tian yang keningnya nampak berkerut dan menatapku khawatir. “Kamu pasti shock berat. Kita ke dokter saja. Aku khawatir sama kesehatan kamu.” ucap Tian lalu berdiri. “Jangan, Tian… Aku nggak apa- apa.” Refleks aku langsung menarik telapak tangannya. Dan iya, jantungku kembali berdetak hebat membayangkan telapak tangan tersebut. “Tapi kamu sampai kayak tadi itu bukan hal biasa, Emma. Kamu habis terbentur, kamu jatuh, kamu benjol, kamu nggak respon aku panggil, jelas sekali kalau kamu butuh ke dokter.” jelas Tian yang nampak khawatir. “Aku… Aku hanya sedang menghayal aja. Bukan karena shock atau apa, Tian.” “Oh ya? Memangnya apa yang kamu pikirkan saat ini sedangkan kamu dan bayi kita aja sedang kesakitan.” DEGH… Bayi kita Aku menyukai kata- kata itu saat Tian mengucapkannya. Seolah kami berdua memang bukanlah beban baginya. Hanya saja, bayiku masih memiliki ayahnya sendiri. Ayah yang akan datang menjemput kamu segera. “Aku… Aku hanya menghayal apa yang bakalan terjadi kalau… Kalau saja kamu nggak pulang cepat. Mungkin… Mungkin aku akan duduk disana sampai ada orang yang akan datang dan menemukan aku.” jawabku asal karena tidak mungkin aku menjawab jika aku sedang menghayal bercinta dengannya. “Tidak akan ada orang yang datang ke rumah kita tanpa ngasih tahu aku sebelumnya. Aku juga sudah melarang petani untuk ke rumah disaat aku nggak ada di rumah. Yang entah aku lakuin itu untuk keamanan kamu atau malah bahaya buat kamu.” “Ini bukan salah kamu, Tian. Aku aja yang nggak hati- hati.” ucapku. “Lagian kamu ngapain ke kamar gudang? Disana lembab dan kurang bagus buat kamu.” “Aku mau berenang! Ya tentu aja aku masuk ke sana karena nyari barang. Aku bosan nungguin kamu untuk makan siang jadi aku mau beres- beres rumah saja. Aku nyari sapu dan sekop sampah tapi terjepit sama garpu rumput itu. Lalu jatuh dan pas aku mau berdiri perut aku nyeri banget.” jelasku dengan sedikit emosi. “Perut? Perut kamu nyeri dan kamu baru bilang sekarang? Oh Tuhan, Emma…” ucap Tian lalu kembali ingin membopongku. “Mau kemana lagi?” tanyaku heran ketika ia sudah membungkuk di hadapanku dan satu lengannya sudah berada di bawah pahaku. “Dokter kandungan. Nggak masalah kalau jauh, tapi aku mau kita yakin kalau bayi—“ “Tian, daripada kamu bawa aku jauh- jauh ke dokter di kota, mending kamu bawa aku ke meja makan aja. Perut aku nyeri bukan karena ada masalah sama kehamilan aku.” “Lalu karena apa?” tanya Tian dengan heran. “Karena aku belum makan sejak pagi, tuan Sebastian Adrian Mahesa. Karena kamu ninggalin aku buat sarapan dan aku nungguin kamu pulang makan siang.” “Hah?! Kamu belum makan sejak pagi?” “Udah, jangan hah hah aja. Aku udah sangat lapar. Please bawa aku ke meja makan saja.” ucapku yang kemudian ku sesali karena bersikap manja pada Tian yang nampak tersenyum dan mungkin menertawakan kekonyolanku. Dan dengan sigap, ia menggendongku ke arah meja makan. Meletakkanku dengan perlahan di kursi kayu tersebut penuh hati- hati. “Aku panaskan makanannya dulu. Sebentar aja.” ucapnya lalu dengan sigap mengambil makanan untuk ia masukkan ke dalam microwace.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN