Entah dari mana energi luar biasa melesak dari dalam dadaku, mengeluarkan sebuah teriakan yang memekakkan telingaku sendiri. Aku terduduk di kedua lututku dengan telapak tangan berusaha mempertahankan kedua batu Phosperium itu tetap berada di rongga mataku. Meski desakan kuat seolah hendak melontarkan batu itu melompat dari rongga mataku. Aku mendengar langkah Jayen mendekat, lalu dia mendekapku. “Eran … apa yang terjadi? Eraaan!” Dia menepuk-nepuk pipiku, dan desakan isi kepalanya menyeruak masuk ke dalam kepalaku. Sisa memory-nya setelah sebelumnya sudah aku copas semua. Aku melihat ingatannya ketika membaca semua buku-buku tebalnya. Semua tentang Kaburu tiba-tiba memenuhi kepalaku. “Eran, kau bisa berdiri?” Rasa sakit di kedua rongga mataku itu perlahan mereda. Mungkin bersamaan d

