10. Kemampuan Baru

1158 Kata
“Masuk ke situ lagi?” Aku meraba kapsul yang lebih besar dari kapsul sebelumnya, yang meledak saat aku masuk ke dalamnya. “Profesor yakin benda itu tidak meledak lagi?” “Ini dari baja, Kapten,” sahut Profesor meyakinkanku. Baja tidak akan meledak begitu saja, apalagi baja dari bahan yang sama persis dengan Frontier XI yang sudah berkali-kali menembus atmosfer. “Memangnya waktu meledak itu, apa yang terjadi, Prof?” tanya Cherry. Dia memang tidak tahu kejadiannya, karena waktu itu aku memintanya menunggu di ruang Laboratorium, di lantai satu. “Sepertinya batu Phosperium itu memicu arus pendek. Dan kurasa bukan sekedar arus pendek, karena kapsul itu pecah, dari dalam. Dan suamimu ini baik-baik saja,” ujar Professor Nomad sembari menunjuk wajahku.  Cherry menoleh ke arahku, aku pun menoleh ke arahnya. Kami berdua sama-sama tersenyum. “Kau yakin dengan penglihatanmu?” Professor Nomad pasti melihat kami saling menatap dan tersenyum. Meski bola mataku yang menatap Cherry berupa bola mata hitam pekat. Namun Cherry yakin, aku melihatnya. “Dia melihatku berupa gestus cahaya biru, Prof,” ucap Cherry membantuku menjelaskan, “Namun hanya pada makhluk hidup. Pada benda-benda, dia tidak bisa melihatnya. Kurasa batu itu memindai hawa panas.” Professor Nomad mengusap dagu tanda dia sedang berpikir. Sejatinya dia memang selalu berpikir hingga membuat rambut tak betah berada di kepalanya. Dari kejauhan, Professor Nomad selalu mudah dikenali karena botak mengkilatnya. “Apa kamu bisa melihat api, lampu atau bahkan matahari?” Aku menggeleng. Tentu saja aku tidak bisa melihat itu semua. “Semua tidak lagi hitam, Prof. Tapi biru seperti langit. Hanya pada manusia, aku melihat warna biru itu menjadi lebih tua dan membentuk gradasi menyesuaikan bentuk tubuhnya.” “Jadi kau melihatku dengan benjolan di ketiakku?” Professor Nomad mengembangkan tangan, dan aku bisa melihat benjolan menggantung di bawah lengan kanannya, tepat di pangkal ketiak. Baru kali ini aku tahu kalau dia punya benjolan sebesar kepalan tangan. Karena di tempat tersembunyi, tentu saja tidak pernah ada yang tahu. “Pantas saja kau menikahi Cherry,” ucap Professor Nomad sembari menatap kami bergantian. “Dia melihat gestur tubuhmu setiap saat, seolah melihatmu tanpa baju, Cherry. Hanya saja berwarna biru.” Aku yakin wajah Cherry merah padam, karena kurasakan remasan tangannya begitu kuat di tanganku, sampai aku meringis kesakitan. Dia lalu mencubit telapak tanganku. Aku menoleh ke arahnya, lalu mendaratkan ciuman di pipinya. Kuharap hal itu bisa menenangkannya. “Lanjutkan, Prof,” ucapku setelah Cherry menjadi lebih tenang. Professor Nomad kulihat tersenyum geli melihat kami berdua. “Kamu tidak melihat warna biru itu sebagai indikasi panas tubuh, tapi ruh. Nyawa.” Aku tertegun. Benar saja, semua makhluk bernyawa memang tertangkap mataku. Semut, cicak bahkan nyamuk. Bila aku memukul nyamuk sampai mati, maka warna birunya pun hilang. “Kamu bisa melihat kehidupan dengan Batu Phosperium itu. Kurasa kesatuan akan menempatkanmu di garda terdepan bila kamu punya kemampuan seperti ini, Kapten. Akan sangat berguna pada misi-misi penting untuk mengidentifikasi apakah ada kehidupan di suatu wilayah.” Aku mengendik bahu. “Aku tidak yakin. Jayen bilang, kesatuan menempatkan aku dan dia untuk berkeliling dunia. Kau tahu kan, Prof? Program Frontier I yang dulu sempat terhenti karena mendapat gelombang protes dari berbagai negara.” Professor Nomad mengangguk. Semua orang di Kesatuan mengetahui sejarah kelam itu. Kerugian yang ditanggung atas kerusakan aset dan tewasnya anggota karena kerusuhan masih terekam di kepala Jenderal Baron. Setiap kali dia hendak memberangkatkan misi Frontier, dia selalu mengingatkan masa kelam itu sebagai masa terbaik.  Kalau itu tidak pernah terjadi, maka Frontier tidak akan pernah mencapai mars. “Kurasa itu hanya satu lompatan untuk langkah yang lebih besar, Kapten. Aku yakin kamu bisa menunjukkan bahwa nama Kapten Eran akan dikenang sepanjang masa, tidak tenggelam seperti tahun-tahun seperti yang telah berlalu.” Dua orang petugas Lab masuk ke dalam ruangan, mengatakan kalau kapsul sudah siap. “Baiklah, kita lihat bagaimana kedua matamu bisa melihat.” Professor Nomad bangkit dari duduknya dan menuju kapsul di tengah ruangan. Aku dan Cherry menuju ruang ganti. Cherry mengganti bajuku dengan baju khusus untuk masuk ke dalam kapsul. Cherry mengelus pipiku lembut sebelum kami keluar dari ruang ganti. “Jangan kau ledakkan lagi kapsul itu, sayang.” “Tidurlah di sini.” Profesor Nomad tampak menepuk sesuatu, dan aku pun duduk di atasnya. Cherry membantuku berbaring, meski aku bisa melakukannya sendiri. “Kau tidak melihat tepinya, sayang. Kau duduk di ujung papan ini. Bila kau berbaring, jangan salahkan aku bila terjungkal.” Cherry tertawa kecil, diikuti Profesor. Lelaki botak itu pun maklum bahwa aku tidak akan bisa melihat benda-benda mati. Jadi sebenarnya, aku masih mengalami kebutaan parsial. Rekomendasi dari Professor Nomad yang nanti akan dipakai oleh Kesatuan untuk menugaskan aku kembali.Yang jelas tidak lagi mengendalikan pesawat Frontier menuju Mars.  Saat aku sudah berbaring, Cherry menciumku lembut. Ah, kenapa tidak sejak dulu aku menikahinya. Dia pantang menyerah merawatku dan akhirnya berhasil membuatku menjadi lelaki kembali. Tadi pagi dia mulai mengajakku untuk berjoging ringan, katanya untuk mulai melatih kedua kakiku agar kuat menopang tubuhku lebih lama. “Aku sayang kamu,” bisikku. “Aku juga sayang kamu,” balas Cherry. Kami seolah dua orang yang akan berpisah saja. Bahkan saat tempatku berbaring bergerak menuju kapsul, aku masih saja tidak bisa melepaskan tatapanku pada Cherry. Perasaanku mengatakan, aku akan meninggalkan dia. Tapi entah kenapa aku tidak takut kehilangan dia.  Apakah dulu perasaan Alia seperti ini saat dia hendak menuju Mars? Bahwa dia tidak akan kembali lagi padaku? “Eran, aku akan mencobakan banyak obyek, katakan bila kau melihatnya. Sementara kamu tidak akan melihat makhluk hidup apapun. Di dalam situ aku yakinkan tidak ada semut, nyamuk, kecoa atau serangga lainnya.” Aku hanya bisa menyengir mendengar suara Professor Nomad dari mikorophon. Kulihat Cherry juga tersenyum-senyum tidak jauh dariku. Professor Nomad benar. Setiap manusia yang kulihat, adalah gestur tubuh mereka tanpa pakaian, karena yang aku lihat adalah bentuk kehidupan mereka. Sedangkan pakaian adalah benda mati. Saat ini, gestur perempuan yang kukenali adalah Cherry. Bila aku bekerja di kesatuan, aku akan melihat banyak gestur yang sama. Ini benar-benar konyol bila nanti aku akan menganggap semua adalah Cherry. “Kau melihat sesuatu?” tanya Professor Nomad di mikrofon. “Katakan apa.” “Aku melihat Cherry. Dia menggaruk pipinya.” Kulihat Cherry membungkam mulutnya sendiri. Kurasa dia tertawa geli. “Hm, coba yang ini.” Ah, aku sepertinya tidak akan pernah fokus bila selalu melihat Cherry. “Tidak ada. Aku hanya melihat istriku sejak tadi, Prof. Sebaiknya kau tutup saja kapsul ini. Kau bilang dari baja kan? Kenapa tidak ditutup saja, biar aku fokus.” Terdengar suara mike yang sepertinya berpindah tangan, agak berisik. Tapi kemudian tenang. “Kapten Eran. Anda hanya melihat Cherry di situ?” Aku memang hanya melihat istriku. Kupikir ini karena kami baru menikah. Perhatianku hanya pada dia. “Cherry yang paling dekat. Yang lainnya jauh, sepertinya di luar ruangan. Sebaiknya ditutup saja kapsulnya.” “Kapten, kapsul sudah kami tutup sejak tadi.” “Loh masa sih?” tanyaku heran. “Kapten Eran, anda bisa melihat menembus baja.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN