11. Jendearal Baron

1125 Kata
Surat rekomendasi dari Profesor Nomad ada di tanganku. Aku memainkannya sejak tadi, membolak-baliknya di telapak tangan, sembari berusaha menyeruak ke dalam hati dan pikiranku. Apakah aku siap kembali ke Kesatuan dengan kondisi buta seperti ini? Aku sendiri malah tidak tahu jawabannya. Yang jelas, mustahil aku mengandalkan tunjangan dari Kesatuan lagi. Selama aku sakit Kesatuan tidak mengijinkan aku resign, malah memberikan tunjangan pokok setiap bulan. Dan tunjangan Alia diberikan untuk upah Cherry.  Bila Alia masih hidup, aku bisa merasakan betapa dia akan sakit hati. Patah hati berkeping-keping mengetahui bahwa terapist suaminya yang digaji dengan uang tunjangannya akhirnya menikahi suaminya. Apalagi, aku dan Alia baru sepekan menikah ketika kecelakaan itu merenggut segalanya dariku. Kami baru saja mereguk manisnya bulan madu ketika seluruh dunia menjadi hancur bagiku. Menatap pintu ruang kerja Jenderal Baron, mengingatkanku pada Alia. Di depan pintu ini, aku melamarnya, beberapa detik sebelum kami berdua dipanggil Jenderal Baron untuk menandatangani kontrak kerja berangkat ke Mars dengan Frontier XI. Semua team sudah melakukannya sehari sebelumnya, tinggal aku dan Alia. Saat itu, Alia tidak sempat menjawab lamaranku karena pintu Jenderal Baron terbuka. Tapi aku bisa melihat mata berbinar dan mulut menganga tak percaya, adalah jawaban yang melebihi ribuan kata-kata. Alia, maafkan aku. Menikahi Cherry adalah pilihan terbaik saat ini untuk mengenangmu. Aku lelaki yang logis, bukan egois. Tak hendak menumpuk dosa karena senantiasa menatap gestur Cherry melintas dan merasakan sentuhannya setiap hari. Semula, itu semua kuanggap sebagai bentuk kinerja dia sebagai terapist. Tapi saat mata Phosperium ini membantuku melihatnya, aku harus mengambil keputusan ini. Semoga kamu tenang di alam baka Alia. Bila kau berkenan, tunggulah aku di pintu surga dengan senyum jelitamu yang telah membuatku jatuh cinta saat pertama kali melihatmu. Frontier XI adalah misi terakhir yang seharusnya kupimpin. Menanam Entity Core sebagai inti kehidupan di Mars. Dan itu mendulang sukses besar, sebagaimana yang aku perkirakan. Selain mulai memicu Mars menjadi kembaran Bumi, juga mendapatkan Big Data untuk memperbaiki Bumi yang sekarat. Jadi, Bumi dan Mars akan bertumbuh bersama menjadi dua planet yang akan membaik, menjadi tempat hunian bagi manusia Bumi.     Pintu ruang kerja Jenderal Baron terbuka, deritnya terdengar jelas di telingaku. Lalu gestur biru agak tambun tahu-tahu muncul di hadapanku. “Kapten Eran? Aku baru mau pergi, ada perlu denganku?” Aku bangkit dari bangku perlahan, lalu memberikan penghormatan padanya. Jenderal Nomad mengangguk, lalu menyilakan aku masuk. Melihat aku masuk dengan bantuan tongkat, dia lalu menggamit lenganku dan mendudukkanku di sofa. “Terima kasih, Jenderal,” ucapku ketika merasakan dudukan sofa yang lembut dan empuk. “Kupikir kau datang bersama Cherry?” “Dia menunggu di lantai bawah, Jenderal.” Jenderal Baron duduk di hadapanku, agak jauh. Kurasa ada meja di antara kami yang membuat kami berjarak. Sambil meraba aku meletakkan amplop dari Professor Nomad. Kulihat Jenderal Nomad mengambilnya. “Surat rekomendasi dari Professor Nomad?” Aku mengangguk. Sementara aku memindai ruangan, aku mendapati ada gestur lain di sudut ruangan, sekitar lima meter dariku. Dia duduk di belakang meja, hingga aku tidak bisa mengenalinya. Dia tidak ingin aku mengetahui keberadaannya, jadi sebaiknya aku tidak usah memindai sampai ke sana.  Ikan-ikan tampak beterbangan di belakang Jenderal Baron yang sedang membaca surat rekomendasiku. Aku pernah mendengar, bahwa Jenderal Baron pernah memanggang ikan hiasnya di ruangan ini menggunakan heater, karena ditemukan mengapung. Dan dia memakannya ketika terjadi konsleting dan memadamkan listrik di seluruh perkantoran kesatuan. “Sudah kuduga.” Jenderal meletakkan surat yang sudah dibacanya itu di meja, lalu menyandar punggung hingga perutnya sedikit membukit. “Kau memang layak untuk misi ini.” Jayen sudah mendapatkan bocoran lebih dulu. Pastinya, kondisiku sudah lebih dulu diketahui Jenderal meski tanpa surat rekomendasi. “Kau akan menandatangani kontraknya, untuk lima tahun. Bagaimana?” “Kalau boleh tahu, misi apa ini Jenderal?” Jenderal Nomad menghela napas sejenak, lalu menumpu lengan di kedua lututnya. Dia akan berbicara serius, aku sudah hapal gerak tubuhnya. “Ada sebuah bangsa yang sudah punah, namun kesatuan meyakini bahwa bangsa ini masih ada. Dia adalah bangsa yang layak menghuni Mars pertama kali. Kau harus merayunya untuk bisa bergabung dengan Frontier. Mereka diyakini mampu membentuk peradaban baru di Mars karena karakter mereka adalah karakter survivor dan inisiator. Bahkan mereka bisa hidup berhari-hari tanpa makan dan minum, tetap sehat dan … waras.” Waras, itu adalah kata yang tepat untuk hidup di planet baru yang segalanya dimulai dari nol. Sejak Frontier IV, di Mars sudah mulai dibangun cluster-cluster untuk pemukiman berupa dome-dome dengan fasilitas penunjang kehidupan. Nyaris separuh Mars sudah berhias dengan dome-dome yang salient terhubung satu sama lain. Dan Entity Core adalah triger pemula kehidupan di sana. “Mars sudah siap dihuni, Kapten Eran.” Jenderal Baron terdengar sangat bangga mengucapkan kalimat itu. “Dua tahun lalu, kita sudah menerima data dari berbagai negara yang mengajukan diri untuk memulai kehidupan di Mars. Sudah menandatangani kesepakatan bahkan ada yang sudah memberi Down Payment. Namun itu semua masih belum membuatku yakin.” “Kenapa, Jenderal? Bukankah semua sudah siap? Entity Core pun sudah membuktikan, bukan?” Jenderal Baron menghembus napas panjang. “Kau tahu, aku bukan orang yang religius. Aku lebih percaya pada ramalan. Mars adalah ramalan yang aku dengar dari Bangsa Kaburu, puluhan tahun yang lalu. Saat aku masih berusia sepuluh tahun, dan bangsa Kaburu sudah punah. Kau lihat sendiri bagaimana ramalan itu mulai terbukti.” “Kalau begitu, tinggal memberangkatkan bangsa-bangsa yang sudah bersepakat.” Jenderal Baron menggeleng. “Tidak sebelum Kaburu sendiri yang tinggal lebih dulu di sana.” “Kenapa? Bahkan di setiap dome tidak perlu manusia survivor, Jenderal. Dome sudah disiapkan bahkan untuk orang cacat seperti aku.” “Karena ada satu ramalan yang ditakutkan oleh Baron.” Suara di pojok ruangan itu akhirnya menunjukkan keberadaannya. Dan dia langsung bangkit dan memperpendek jarak denganku. Sialnya adalah, dia seorang wanita karena ternyata mempunyai gestur yang lebih indah dari Cherry. Gestur itu berdiri di samping Baron dan melipat tangan. Aku berusaha mengenali wajahnya, tapi terasa asing di mata Phosperiumku. Aku tak pernah mengenalnya. “Ramalan? Tentang apa?” tanyaku penasaran. Bila seorang Jenderal tidak religius dan hanya percaya pada ramalan, beginilah jadinya. Dia tidak pernah yakin dengan keputusan kesatuan dan kepercayaan bangsa-bangsa di muka bumi ini. “Tugasmu mencari tahu. Karena dia menyebutkan tentang kehancuran Mars sebelum menjadi planet yang lebih indah dari bumi.” Jenderal Baron menyilakan gestur baru itu untuk duduk tidak jauh darinya. Gestur itu mengangguk, dan sejurus kemudian duduk tak jauh dari Baron. “Untuk menemukan Kaburu, kamu harus mengikat bangsa-bangsa yang belum sepakat dengan program Frontier untuk mengisi kesepakatan. Bila semua bangsa di planet ini mendukung, maka berangkat ke Mars akan menjadi sebuah kesempatan paling mudah dan gratis.” “Namun bila ada bangsa yang menolak, maka Frontier hanya akan memberangkatkan Kaburu dan anggota Kesatuan. Semua orang di kesatuan, termasuk kamu, sudah punya tempat di sana.” Aku tidak tahu harus tersenyum atau meringis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN