12. Rencana Keberangkatan

1129 Kata
Jayen datang sore hari saat hujan gerimis. Kurasa dia sekarang lebih sering jalan-jalan ketika hujan turun. Padahal Cherry begitu menjagaku dari air hujan yang masih asam. Awan-awan polutan masih kerap menggantung di angkasa, padahal banyak pabrik di kawasan kota yang sudah di-shutdown. Sepertinya kawasan industri yang sudah dilokalisir di daerah selatan mulai berproduksi lagi. Jayen menyalamiku seolah menunjukkan bahwa tangannya basah. Lalu dia mengusapkan tangan basahnya di pipiku sembari tersenyum. “Aku yakin Cherry masih mengurungmu saat hujan, kan?” Kata-katanya seperti biasa kalau tidak menyindir yang mengejek. Memang dari dulu kami selalu seperti itu. Meski apa yang diucapkannya benar, aku tak pernah tersinggung. Aku menyadari bahwa semua ini adalah kesalahan dalam hidupku yang aku tidak bisa mengelak. “Kamu kelihatan lebih segar,” Jayen duduk di sebelahku. Menopang sebelah kepalanya dengan tangan bertumpu di sandaran sofa. Satu kakinya ditekuk dan ditopankan di kaki lainnya. Kali ini aku bisa melihat gaya duduknya seolah kami berdua nongkrong di taman. Selama ini, aku tidak tahu bahwa dia bisa sesantai ini berada di rumahku. Hanya mendengar suaranya di sebelahku. “Air kelapa.” Cherry muncul dengan membawa sesuatu. Bila dia menyebut air kelapa, pasti dia telah mengupas dua buah kelapa untuk aku dan Jayen. Kulirik Jayen merapikan duduknya begitu Cherry masuk. Meski kami berdua akrab, ternyata dia menghormati Cherry, sebagai istriku. Sebelumnya, Jayen memposisikan Cherry sebagai terapis utusan kesatuan. Dia seenaknya saja memerintah Cherry ini dan itu bila sedang bertamu. Sekarang, dia terpaksa harus membiasakan diri untuk menghargai Cherry sebagai Nyonya Eran. “Terima kasih, Nyonya Eran.” Jayen mengucapkan dua kata terakhirnya dengan sedikit penekanan. Kulihat Cherry tertegun. Segera kuinjak kaki Jayen yang kebetulan bersebelahan dengan kakiku. Jayen mengaduh tapi berusaha ditahan. “Bagaimana aku harus memanggilmu?” tanya Jayen kemudian, berusaha memperbaiki situasi yang tiba-tiba menegang. Cherry tampak tidak suka dipanggil dengan sebutan Nyonya. “Cherry saja, seperti biasa.” “Oh, oke Cherry. Terima kasih kelapanya.” Jayen langsung mengambil kelapa jatahnya dan menyeruput airnya melalui sedotan yang sudah disediakan Cherry. Cherry berlalu meninggalkan aku dan Jayen.  “Dia galak?” tanya Jayen sembari berbisik padaku. “Setahuku waktu jadi terapistmu dia … tegas dan disiplin.” “Memang begitu. Dia tegas dan disiplin, jadi jangan membuat ulah.” Aku dan Jayen tertawa kecil. Aku memindai sekelilingku. Dengan pandangan mata Phosperium yang hanya bisa menembus besi--sungguh aneh, aku tidak mendapati gestur Cherry karena tembok rumahku bukan dari besi apalagi baja. Dia pasti sudah berada di dapur untuk menyiapkan makan malam. Sejak menikah, Cherry selalu menyiapkan makanan yang beraneka macam. Tidak lagi makanan monoton untuk pesakitan seperti aku sebelumnya. Mungkin karena dia sudah menjadi istriku, dia merasa berkewajiban untuk memanjakan lidahku. Sekali lagi, aku sedikit menyesal. Kenapa tidak sejak dulu aku menikahi Cherry. Mungkin karena Alia masih hidup, meski dia jarang berkabar. Sebulan sekali belum tentu dia mengirim pesan suara yang dititipkan ke kesatuan, dan Jayen yang bertugas membawanya padaku.  “Eran, bagaimana rencana keberangkatan kita? Kamu sudah siap?” Jayen memulai perbincangan masalah misi berdua kami, berkeliling dunia. Pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar. “Kamu sanggup?” Aku belum bisa menjawab. Jenderal Baron mengatakan, Bangsa Kaburu adalah misi utama yang harus dirahasiakan dari Jayen. Jadi hanya aku yang tahu bahwa bangsa itu adalah bangsa prioritas Kesatuan untuk diberangkatkan ke Mars. Aku sendiri belum tahu kenapa Kesatuan ingin merahasiakan ini dari Jayen, partnerku untuk misi ini. “Jayen, apa kamu punya bahan literasi untuk semua bangsa yang akan kita kunjungi?” Jayen mengangguk. “Aku sudah mengumpulkan semuanya. Kau tahu sendiri, hanya itu keahlianku. Pergi ke Mars adalah impianku, namun tentu saja itu mustahil. Maka memberangkatkan manusia ke sana, aku sungguh merasa berjasa.” Cita-cita yang sederhana. Karena terbatas dengan kemampuan dan keahlian, Jayen tak pernah bercita-cita muluk. Dan aku, dipaksa untuk demikian. Fisikku tak lagi sama dengan Kapten Eran sebelum kecelakaan. Cita-cita dan keahlian itu terkubur dalam selama dua tahun ini. “Kalau begitu aku benar-benar mengandalkanmu, Jayen. Kau tahu kan orang buta seperti aku, apa yang bisa kuperbuat?” “Hei!” Jayen menepuk bahuku. “Kau tahu aku paling tidak suka dengan orang pesimis. Kau berada dalam misi ini karena Kesatuan yakin hanya kau satu-satunya yang bisa melakukannya. Tidak ada satupun yang bisa bernegosiasi tanpa pertumpahan darah selain Kapten Eran. Bahkan di Kesatuan beredar rumor, bila Bumi hendak diserang oleh Alien, cukup mengirim Kapten Eran sebagai negosiator dan para Alien itu akan mencari planet lain.” Aku terbahak, benar-benar geli dengan cerita khayalan yang diceritakan Jayen. Bukannya aku tak pernah mendengarnya, cerita itu berkali-kali sampai di telingaku saat aku baru keluar dari rumah sakit dengan kursi roda. Aku tahu mereka hanya menghiburku, karena indikasi depresi saat itu sudah menunjukkan gejala padaku. “Kondisiku berbeda, Jayen. Aku hanya bisa melihat makhluk hidup. Yang bernyawa. Selebihnya dunia ini hanya biru.” “Aku tahu itu.” “Bukankah dengan kondisi ini, akan banyak kesulitan yang akan kita hadapi? Tabiat dan karakter tiap bangsa itu tidak sama, Jayen. Kita harus punya ribuan teknik negosiasi, karena tidak semua bangsa mendukung Mars. Apalagi, Bumi sudah mulai membaik dengan turunnya hujan.” Jayen menggeleng. “Aku tidak yakin Eran. Di Kesatuan ada desas desus tentang kehancuran Bumi yang tidak akan lama lagi.” “Oh ya?” Jayen memang punya banyak telinga. Di kepalanya tersimpan banyak berita dari berbagai kesatuan. Bahkan berita drama rumah tangga anggota kesatuan pun dia bisa tahu dengan detil. Dia memang lelaki yang jiwa sosialnya tinggi. Mungkin karena belum berkeluarga, jadi dia bebas pergi mengunjungi tiap departemen dan meluangkan banyak waktu mengobrol dengan anggota. “Aku kurang begitu yakin, karena hanya menguping.” “Ah, kebiasaan lama.” Jayen terkekeh. Dengan menguping, dia banyak mendapat data yang aku yakin berguna suatu ketika. “Aku akan meminta beberapa alat pendukung ke Kesatuan, Eran. Aku kenal orang di bengkel pesawat, dia juga bekerja di Satuan Peneliti Senjata. Aku minta rekomendasi alat pendukung ke dia, aku yakin pasti dibuatkan olehnya. Baru kita ajukan ke Jenderal Baron. Bagaimana?” “Alat seperti apa yang kau maksud?” “Yah, mungkin kacamata untuk menutupi mata hitammu itu. Senjata yang bisa dengan mudah melumpuhkan bila nanti kita diserang oleh bangsa primitif. Kursi roda yang bisa terbang sehigga aku tidak perlu memanggulmu bila melewati sungai.” Aku kembali terbahak. Jayen terlalu naif untuk urusan ini. Tentu saja tidak akan pernah ada kursi roda. Kesatuan menyiapkan lebih baik dari semua yang disebutkan Jayen. Tiba-tiba terdengar suara aneh dari dapur. Sepertinya Cherry kesakitan, terdengar seperti memuntahkan sesuatu. Mungkin dia tersedak. Aku dan Jayen saling berpadangan. “Jayen? Bisa minta tolong kau lihatkan ke dapur? Kurasa itu Cherry. Aku tidak boleh lari ataupun berjalan cepat.”  Jayen bangkit dan berlari menuju ke dapur. Sejurus kemudian, dia kembali, tanpa Cherry. “Mana Cherry?” tanyaku khawatir. “Eran, kurasa kau akan punya anak,” ucap Jayen sembari tersenyum lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN