Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Benar-benar menyebalkan, ketika akan naik pesawat aku justru muntah-muntah di toilet. Jayen dengan sabar menungguku di luar toilet, ketika untuk ketiga kalinya aku kembali masuk untuk memuntahkan isi perutku.
“Kamu ketularan Cherry? Sama-sama morning sickness?”
Aku mengindahkannya, hanya beralasan salah makan tadi pagi. Meski hal itu mustahil terjadi. Cherry tidak akan melakukan kesalahan terutama untuk urusan kebutuhan gizi mantan pasiennya, atau kesatuan akan memecatnya.
Aku benar-benar mual membayangkan akan mengudara, berdua saja dengan Jayen. Melintasi benua dan lautan, selama enam bulan ke depan. Mengunjungi beberapa list bangsa dan negara yang asing bagiku.
“Kenapa kamu, Eran?” makiku pada bayangan biru cermin di depanku. Ini sama sekali bukan diriku. Kendaraan apapun tak pernah berpengaruh pada psikis dan fisikku sejak aku kecil. Apakah karena trauma kecelakaan yang aku alami? Bisa jadi demikian. Karena kecelakaan itu telah membuat aku lumpuh. Sekarang saja masih kurasakan seperti aliran listrik halus bila lebih dari dua jam aku berdiri atau berjalan. Cherry yang paling cerewet bila aku melewati batas waktu itu.
Tapi yang paling membuat aku gugup dan aku sendiri menganalisanya sebagai ketakutan tak beralasan adalah, aku hanya bisa melihat makhluk hidup. Bila bepergian dan jauh dari rumah, aku buta parsial bila ada makhluk hidup dan buta total bila sekelilingku adalah benda mati.
“Kapten?”
Gestur kepala Jayen muncul di balik pintu masuk toilet. Sepertinya di sudah tidak sabar menunggu lebih lama lagi. Meski pesawat itu berangkat tanpa jadwal dari kesatuan. Terserah aku dan Jayen mau berangkat kapan.
“Aku baik-baik saja. Cuma perutku yang tidak bisa berkompromi.”
Aku membasuh muka berkali-kali, berusaha menghilangkan rasa gugup. Jayen berjalan mendekat dan dia membasuh tangan dengan santai. Aku menatap bayangan kami berdua di cermin. Dua gestur biru yang sungguh berbeda. Jayen ceking dan jangkung, sedangkan aku dengan postur yang sama dengan sebelum kecelakaan. Bahu lebar dan d**a bidang. Tapi tidak lagi berotot seperti dulu.
“Kau tidak perlu khawatir, Kapten. Aku yang akan melindungimu dengan taruhan nyawaku. Aku adalah mata dan tanganmu.”
Aku mengerti kalau Jayen menduga aku mengalami travel sickness. Setelah lama hanya mengurung diri dan menjalani terapi di rumah, kini tiba-tiba harus menaiki pesawat. Jadi lebih baik aku tidak perlu mengatakan apapun padanya. Karena aku yakin wajahku pasti sudah pucat karena tiga kali muntah.
“Kau tahu Kapten,” ucap Jayen sembari menyugar rambut dengan jemarinya. Dia menggunakan air sebagai minyak rambutnya. “Kurasa, bila suatu ketika aku ditunjuk berangkat ke Mars, aku tidak hanya muntah-muntah seperti Kapten. Tapi bisa opname dan diinfus. Mars itu jauh dan menujunya seperti menuju kematian, tidak akan lagi kembali ke bumi. Bagaimana bila terkatung-katung di udara, hanya bisa melihat Bumi dan Mars, tapi tidak bisa mencapi keduanya. Membayangkan hal seperti itu saja, membuatku diare. Tapi kecintaanku pada Kesatuan, membuatku tidak bisa meninggalkannya.”
Ya, Jayen adalah Kepala Departemen Literasi. Bahasa keren dari petugas perpustakaan. Tapi jangan disepelekan daya rekam otaknya terhadap sejarah. Bahkan bila masa sebelum masehi sempat tercatat oleh nenek moyang, aku yakin Jayen menghapalnya di luar kepala.
“Itulah kenapa, berkutat dengan buku itu lebih menyenangkan. Meski tiap malam aku mengintip Mars dengan teleskop di balkon kamarku.”
Jayen masih mengoceh beberapa lama, aku tidak terlalu memperhatikannya. Yang jelas dia memang akan menjadi mata dan tanganku. Jadi, sebaiknya aku berbaik-baik padanya. Selama aku lumpuh, dia tetap baik padaku, meski di masa-masa awal aku kerap mengusirnya.
Sepertinya, Jayen berstatus sama dengan Cherry. Ditugaskan untuk menyembuhkan psikis dan fisikku agar siap kembali ke kesatuan. Aku akan menganggap bahwa hal itu tak pernah terlintas dalam pikiranku. Maka aku menggamit lengan Jayen.
“Ayo berangkat.”
“Oke, Kapten.” Jayen dengan sigap berjalan di sebelahku, membuatku tidak memerlukan tongkat untuk memandu jalanku.
Semua orang di Kesatuan, dari Jenderal sampai tukan kebun, hanya tahu bahwa aku bisa melihat mereka dengan gestur biru. Bahwa aku bisa melihat menembus baja adalah rahasia Profesor Nomad dan Cherry. Sedangkan kemampuan untuk mengcopy memory, tetap menjadi rahasiaku. Aku tidak yakin bila orang-orang terdekatku mengetahuinya, mereka masih mau berada di dekatku.
***
Selama di pesawat, Jayen membaca buku. Buku-buku tebal adalah bekalnya dalam perjalanan ini. Sedangkan Cherry membekaliku dengan satu kotak obat dan vitamin, yang menurutnya tidak diproduksi di manapun selain di Kesatuan. Jadi, mau tak mau aku harus tetap disiplin kalau tidak ingin Cherry kecewa.
“Jayen, menurutmu apakah Cherry sudah melahirkan saat kita kembali?”
Aku berusaha memecah keheningan, karena sejak tadi Jayen benar-benar terkunci perhatiannya pada buku di pangkuannya. Aku hanya mendengar suaranya membalik lembar demi lembar. Peredam dalam pesawat ini memang luar biasa, hingga seolah aku berada dalam kamar tidurku, hening tanpa suara.
“Sembilan bulan sepuluh hari. Itu usia manusia dalam rahim.”
“Jadi, saat aku pulang, Cherry sudah melahirkan apa belum?”
Jayen mengangkat wajah dan menatapku. “Semua tergantung Kapten. Bila kita bisa menyelesaikan misi ini dalam enam bulan, saat kita pulang maka Cherry belum melahirkan. Tapi bila terlalu lama, bisa-bisa bayi itu sudah merangkak menyambut Kapten.”
“Apa mereka akan baik-baik saja, Jayen?”
Jayen menutup buku dan memberi perhatian padaku. “Kesatuan sudah pasti akan menjaganya, Kapten. Kalian pikir mereka mengirim kita jalan-jalan? Tidak. Mereka mengirim kita agar kelak Cherry dan anak Kapten bisa tinggal di Mars.”
Aku menggeleng. Jujur, aku tidak ingin tinggal di sana, meski Kesatuan sudah menyediakan kapling di Dome 23. Gratis tanpa biaya. Pada orang-orang kaya yang bangsanya sudah bersepakat kontrak dengan Kesatuan, biaya yang harus dibayarkan sungguh fantastis. Iklan-iklan yang bertebaran di seluruh penjuru dunia begitu menggiurkan bagi orang-orang berekening gemuk.
Namun tidak bagiku. Impianku dengan Alia, adalah tinggal di Bumi. Alia bahkan sudah merintis kebun hidroponik di belakang rumah, sehari setelah kami menikah. Kebun itu, aku yakin kini mangkrak. Aku tak berniat menengoknya, karena hanya akan memerihkan hatiku.
Hidupku sekarang hanya untuk Cherry dan calon bayi kami dalam rahaimnya. Aku harus mengubur kenanganku bersama Alia. Dia sudah sangat berjasa padaku, jadi aku cukup mengenangnya di sudut hatiku.
“Kau tidak ingin tinggal di Mars?” tanya Jayen dengan nada menyelidik. “Lalu jatah kaplingmu? Itu tidak murah, Kapt.”
“Kau bisa mengambilnya.”
“What?” Jayen terbahak. “Berangkat ke sana akan membuatku diinfus berbotol-botol.”
“Itu hanya ketakutanmu saja, Jayen. Pada dasarnya, berangkat ke sana tidak jauh berbeda dengan naik pesawat ini, Kau cukup membayangkan hendak pergi ke luar kota.”
Heran, aku berbicara seolah aku sendiri tidak terserang travel sicknes. Padahal saat melongok ke luar jendela dan hanya melihat biru yang hampa, aku mulai mual lagi.