“Kita akan sampai di Thailand dalam lima jam.”
Ucapan pramugari tidak mendapat respon dari dua penumpangnya. Jayen asyik membaca buku sedangkan aku menatap ke luar jendela. Pramugari itu pasti yakin aku sedang melamun, tidak melihat sesuatu. Bukankah dia hanya bisa melihat manusia dan hewan saja?
“Kapten Eran,” ucap pramugari sembari memperpendek jarak dengan dua penumpang VVIP pesawat ini. “Di Thailand akan ada tim tambahan untuk misi ini.”
“Tim tambahan?” tanyaku sembari memindainya, gesturnya mirip Cherry. Apa semua wanita memang seperti ini gesturnya, terutama yang bekerja di Kesatuan? Namun Cherry semenjak hamil sudah mulai berubah gestur tubuhnya, tidak lagi lansing seperti sebelum aku menikahinya.
Pramugari itu berdiri di sebelahku dan menyerahkan sebuah benda. “Ini profil tim tambahan Kapten. Kapten bisa memilihnya mulai sekarang, jadi Thailand akan mempersiapkannya,”
“Berapa orang tambahannya?”
“Sekitar sepuluh.”
Aku mengangguk dan pramugari itu berlalu dan menghilang. Mungkin masuk ke dalam kokpit. Aku memegang benda persegi dari pramugari itu dan langsung mengenalinya sebagai Pod. Mirip dengan Pod Alia setiap mengirim pesan.
“Kau mau aku membantumu, Kapten?” tanya Jayen memastikan, yang aku jawab dengan gelengan. Lelaki itu menutup buku dan sepertinya bersiap untuk mendengarkan. Dia memang tahu cara menempatkan diri, meski aku teman baiknya.
“Ini Pod seperti yang biasa dikirim Alia, aku bisa melakukannya sendiri.”
“Mungkin Kapten perlu pertimbangan, aku siap membacakan profil satu per satu. Kita punya waktu sangat panjang.”
Aku rasa itu bukan keputusan yang tepat. Lebih baik memilih anggota tim berdasarkan intuisiku saja. Karena aku tidak lagi bisa melihat profil, hanya bisa melihat fisik. Itupun hanya cahaya biru pekat yang membentuk gestur sebuah kehidupan. Jadi, aku hanya mengandalkan apa yang kurasakan dalam jiwaku pada setiap profil yang diberikan dalam pod ini.
Aku menempelkan headset, lalu rekaman suara pun terdengar di telingaku. Kulihat Jayen kembali tenggelam dalam buku-buku tebalnya.
Dalam satu jam aku sudah menentukan siapa saja yang akan menjadi Timku. Kesatuan memang punya cabang pelatihan di Thailand. Banyak jebolannya yang akhirnya masuk Kesatuan, termasuk Alia.
Aku ingat benar bagaimana ahli botani bernama Alia itu tahu-tahu muncul di kantorku dan menyerahkan surat tugas padaku. Dia akan bergabung dalam timku yang sejak awal berdiri tidak punya ahli botani. Padahal ilmu botani sangat berguna di Mars, planet yang kami buat sebagai Bumi Kedua.
Dan sudah bisa ditebak, Alia menjadi idola dalam team Frontier XI. Ada lima bujangan di team itu termasuk aku. Tak ada yang berani mendekati Alia tanpa seijinku, tentunya. Semula, aku menganggapnya wanita biasa, sebagaimana wanita lain dalam team. Namun lama kelamaan berinteraksi menimbulkan perasaan yang berbeda padanya.
Alia dekat dengan Jayen. Dia rupanya penggila buku, sehingga sering bertandang ke perpustakaan Kesatuan. Aku ingat, saat hendak berpamitan berangkat ke Mars, Alia mengatakan kalau Jayen membekalinya banyak buku. Katanya, biar dia ingat untuk kembali. Tentu saja hal itu sempat ditepisnya. Bahwa meski kecintaan pada buku sangat besar, dia lebih mencintai aku. Dan itu adalah alasannya untuk kembali.
Untuk pertama kalinya, Alia berbohong. Dia benar-benar tak kembali ke Bumi.
“Kapten, anda baik-baik saja?”
Jayen menutup buku, lalu duduk di bangku tak jauh dariku. Mungkin raut wajahku saat mengenang Alia tampak menyedihkan, hingga Jayen bisa langsung mengetahuinya.
“Hanya teringat Alia,” jawabku yang disambut anggukan Jayen.
“Aku juga masih sering ingat dia. Dia sudah menghabiskan semua buku di Perpustakaan yang bertema serangga. Dia suka pada makhluk itu, dengan jenis apa saja.”
“Ya, dia bahkan mengoleksi beberapa serangga. Ada di kamarku, Jayen. Aku menyimpannya dalam kotak, tidak berani memasangnya di tembok.”
Jayen cengar cengir. “Kapten takut pada serangga? Aku baru tahu.”
“Jijik, bukan taket. Alia menghibernasi semua serangga yang berhasil ditemukannya, tidak dibunuh untuk diawetkan. Bila suatu ketika masa hibernasinya berakhir, aku yakin mereka semua akan keluar dari pigura dan menyerangku.”
Jayen tergelak namun setuju dengan pendapatku.
“Boleh aku bertanya, Kapten?” tanya Jayen, terdengar hati-hati. Dia lelaki yang pandai merangkai kalimat dan suka berbicara apa adanya, to the point.
“Silakan,” jawabku mencoba ramat.
Jayen tampak berhenti sejenak. “Bagaimana jika, Alia masih hidup?”
Jika Alia masih hidup? Kesatuan sudah mengkonfirmasi kematiannya, terjatuh dalam jurang yang sangat dalam hingga mencapai inti Mars. Mustahil manusia bisa selamat dari sana. Aku bahkan hanya mendapat foto bendera dikibarkan di dekat lubang itu, dengan ucapan bela sungkawa pada kartu ucapan ketika mereka kembali.
“Kenapa kau bertanya seperti itu, Jayen?”
Jayen menatapku tajam dari arah samping. “Aku hanya tidak ingin Cherry bersedih, apalagi dai sedang mengandung.”
Aku terdiam. Bila itu memang benar, aku akan membuat sedih dua perempuan. Walaupun aku disuruh memilih, Alia adalah prioritas hidupku. Selamanya.
Jayen mendekatkan wajah, hingga berbisiknya terdengar cukup jelas di telingaku.
“Ada satu orang di Frontier XI yang percaya kalau Alia masih hidup. Dia sempat menolak di bawa kembali ke bumi karena ingin menunggu Alia kembali. Eran, aku membawa gosip ini tanpa menyebut jabatanmu, jadi kau pasti sudah mengerti bahwa informasi ini di bawah tangan.”
Aku terdiam beberapa saat. Pramugari keluar lagi dari kokpit dan meminta profil yang sudah aku pilih. Aku menyerahkan pot padanya dan dia kembali menghilang. Tinggal aku dan Jayen.
“Kenapa kau tidak mengatakan hal ini saat aku belum menikahi Cherry?” tanyaku sedikit gusar. Bila ada dugaan Alia masih hidup, aku akan tetap bertahan untuk menunggu Alia. apapun yang terjadi, meski setiap pod yang dikirimkan tentang keberhasilan Frontier kadang masih membuatku patah.
“Aku baru tahu satu jam sebelum kita terbang,” bisik Jayen. “Kau masuk toilet untuk muntah-muntah dan lelaki itu memberitahuku. Dia sengaja melakukannya saat kamu tidak ada.”
“Siapa? Lloyd?”
Jayen terdiam beberapa saat, lalu mengangguk pelan. “Jadi kau sudah tahu soal Lyod? Seluruh kesatuan membicarakannya sebagai orang yang paling patah hati saat Alia tidak kembali ke pesawat. Aku yakin berita itu tak secuilpun sampai di telingamu.”
Bagaimana mungkin aku bisa mendengar berita dari kesatuan kalau bukan Jayen yang membawanya padaku. Terkadang aku merasa bersyukur dia menjadi tukang ghibah.
“Lyod menyukai Alia sejak awal.” Entah kenapa nada bicaraku terdengar ketus, untuk seorang wanita yang sudah dikonfirmasi telah tiada. “Aku melamar Alia sebelum Lyod.”
“Hah? Jadi?”
Ak mengangguk. “Lyod sempat depresi dan nyaris mundur dari kesatuan. Aku tidak pernah tahu saat itu bahwa dia diam-diam menyukai Alia, padahal Alia sudah menjadi kekasihku. Dan saat kami menikah, dia tidak datang.”
Jayen mengernyit. “Kau tidak mencurigai sesuatu, pada dirinya?”
Aku mengendik bahu. “Tidak ada. Alia telah menjadi istriku, apa lagi yang harus membuatku curiga?”
Jayen menghela napas panjang. “Maafkan bila aku menjadi tukang gosip, kurasa aku aku tidak pernah salah dengar, meski itu hanya gosip. Selama dalam eskpedisi itu, mereka berdua …”
Jayen memainkan jari telunjuk dan tengahnya, saling beradu berkali-kali.
“Jayen, kau ingin membuatku kembali ke rumah apa tetap melanjutkan misi?”
Jayen menunduk dalam. Nada bicaraku pasti terdengar sangat kesal. Aku tidak ingin mengetahui apapun tentang Alia selama ekspedisi ke Mars, karena aku pernah menduga demikian. Prasangka burukku pada Alia yang ternyata berujung kematiannya, sungguh aku sesali. Alia tak pernah mengkhianatiku meski dia dikelilingi lelaki-lelaki normal.
“Mulai sekarang, saat bersamaku, diamlah. Jangan pernah ungkit soal Alia.”