15. Deduksiku

1124 Kata
Tim dari Thailand sudah dijemput. Aku hanya mengambil lima dari sepuluh yang disediakan oleh Kesatuan dalam profil. Di luar dugaanku, tidak semuanya berwajah Asia. Donnie malah dari Peru, dia seorang sniper. Aku sedikit heran kenapa Kesatuan memberiku 10 profil anggota tim berkeahlian berbeda dengan tim yang kupilih saat persiapan ekspedisi Frontier XI.  Apakah karena yang diperlukan berupa negosiasi yang bisa jadi tidak mudah? Mengajak sesama species, yaitu manusia, bisa menjadi jauh lebih sulit daripada melawan alien.  “Jadi, kau seorang sniper?” tanyaku ketika satu per satu dari kelima tim baruku kuminta untuk menghadapku. Aku mengambil Donnie Hooper sebagai peserta pertama, untuk menjajaki keempat anggota yang lain. Jayen kuminta menemani, karena aku memerlukan daya ingatnya. Meski aku punya cara lain untuk mengcopy semua isi kepala Donnie. “Benar, Kapten.” “Kuharap kamu tidak merasa terganggu karena aku akan selalu memakai kaca mata hitam. Aku tidak ingin menakuti semua anggota tim.” Aku tidak membuka kaca mata hitamku, padahal etika kesatuan di manapun berada dan siapapun yang diajak bicara, tidak boleh memakai kaca mata hitam. “Kau tahu riwayat penyakit Kapten Eran, kan? Dia buta parsial. Hanya bisa melihat manusia.” tanya Jayen. Pertanyaan sekaligus pernyataan. Meski dalam status ini dia bawahanku, tapi aku dan dia nyaris mengesampingkan urusan struktur organisasi tersebut. Bila dalam pembicaraan terjadi saling sindir, no heart feeling bagi kami berdua. Donnie mengangguk. “Kami semua sudah tahu semua tentang Kapten, dan kami siap menyukseskan misi ini, mendukung Kapten sepenuhnya.” Aku tidak mengangguk ataupun menggeleng. Tapi menatap gestur di depanku, berusaha memindainya. Siapa tahu dengan melihat dari ujung kepala dan ujung kaki, aku bisa mengetahui karakternya. Karena bila dia memegang kedua pipiku, aku bisa mengcopy semua ingatannya, tapi tidak bisa mengetahui karakternya. Karakter adalah hal manusiawi yang tidak bisa dibahasakan secara ilmiah. Namun akan sangat berpengaruh pada kesuksesan sebuah misi. Aku hanya memerlukan orang-orang yang patuh pada perintah, bukan orang-orang cerdas atau jenius yang kreatif. Kreatif kerap mengundang masalah bila tidak sesuai dengan perintah. “Seberapa jauh target yang bisa kau jangkau?” Donnie terdiam sejenak. “Lima kilometer tanpa halangan. Saat ini aku sedang melatih untuk mencapai enam kilometer. Selama ini nol kegagalan.” Jayen melirikku, aku bisa merasakannya. Donnie jelas bukan profil anggota kesatuan yang biasa-biasa saja. Pandangan mataku bahkan tidak sejauh itu meski memiliki mata Phoserium yang ajaib. “Kau bisa menarget yang lebih kecil dari manusia?” Donnie menatapku. “Aku akan mencobanya Kapten.” “Baiklah,” jawabku sembari memalingkan muka ke luar jendela pesawat. “Selama dalam misiku, kamu tidak boleh menembak manusia satupun. Semua harus berada dalam komandoku Donnie sedikit mengerut kening, tapi kemudian mengangguk sembari berucap, “Aku akan melakukan yang terbaik, Kapten.” Donnie meninggalkan bilik, dan bergabung dengan teman lainnya. Jayen berdiri untuk memanggil anggota berikutnya, tapi aku memberi kode menyuruhnya duduk di sebelahku. “Tidak perlu, Jayen. Aku sudah tahu mereka semua bagaimana.” Jayen duduk di sebelahku. Tentu saja dia heran, karena sebelumnya kami berdua bersepakat akan menginterview semua anggota tim, dengan mengacu pada profil yang diberikan kesatuan. “Kenapa?” “Kurasa aku mulai memahami tujuan Kesatuan dengan misi ini, Jayen.” Jayen menatap lekat-lekat ke arahku, dan aku pun membuka kaca mata hitamku. Memberi perintah dengan mengangkat dagu pada Jayen untuk menutup pintu penghubung antar bilik. Setelah menutup pintu dan menguncinya, Jayen kembali mendekat. “Apa yang kau ketahui, Eran?” Aku tersenyum. Jayen kini adalah temanku, bukan bawahanku. “Kesatuan tidak berniat melakukan misi ini dengan sukarela. Tapi dengan paksaan. Bahwa setiap bangsa harus mengirim wakilnya ke Mars.” “Kenapa? Bukankah menjadikan Mars itu sebagai Bumi kedua, itu adalah cita-cita penduduk Bumi? Aku yakin semua bangsa akan mengirim utusannya untuk bergabung dengan Frontier XII, memulai kehidupan di Mars. Menjaga ras mereka tetap berlangsung ketika bumi mulai …” Jayen menelan ludah. Kurasa dia sudah mulai bisa membaca situasinya.  “Mereka semua menolak?” tanya Jayen setengah berbisik. “Apakah karena hujan sudah turun ke bumi dan membuat bumi menjadi lebih baik?” Aku menggeleng. “Come on Jayen, kau punya sumber literasi lebih bagus dari aku. Apa kau tidak melihat profil semua anggota tim? Mereka bukan ilmuwan atau ahli diplomasi, orang-orang yang diperlukan dalam sebuah negosiasi. Mereka adalah orang-orang yang siap berperang. Donnie si sniper dengan kemampuan lima kilometer. Jacklyn dokter. Yoon An bukan ahli botani seperti dalam profil, dia seorang pilot pesawat tempur.  Dan yang terakhir si kembar Anna dan Onni dari Rusia itu. Mereka ahli mesin dan metafisika.” Jayen mengusap wajah. Dia sudah membaca profil kesepuluh anggota yang dikirim Kesatuan. “Lalu kenapa kamu memilih mereka, padahal mereka adalah yang berkemampuan untuk perang katamu, kan?” “Kesatuan akan mengirim lima sisanya, meski aku hanya mengirim lima. Sisanya adalah cadangan, meski kemampuannya tidak diragukan.” Jayen berdiri lalu berjalan mondar mandir sembari sesekali mengusap wajahnya. Dia kelihatan sedang berpikir keras. “Aku memilih yang lima ini, agar kesatuan tidak mengirim mereka sebagai cadangan dan memback up kita berdua secara sembunyi-sembunyi. Bila mereka cadangan, maka mereka tidak berada dalam komandoku, tapi dalam komando Jenderal Baron. Aku hanya berusaha menyelamatkan misi ini menjadi misi damai, bukan misi peperangan.” “Eran, ada apa sebenarnya?” Aku menghela napas panjang. Meski semua ini masih sebatas kecurigaanku, tapi aku yakin prediksiku mendekati akurat. “Frontier XI telah melakukan kesalahan di Mars, dan mereka berusaha menyembunyikannya.” “Alia?” Aku menggeleng. “Alia hanya korban. Aku paham dia dan idealisnya. Saat ini, semua anggota Frontier XI adalah orang yang masuk dalam blacklistku. Semua adalah orang yang patut aku curigai. Bukan atas kematian Alia, yang mereka sembunyikan kebenarannya. Tapi ada sesuatu yang lain, yang aku tidak tahu.” Jayen menghembus napas. Aku tahu, dia tiba-tiba menjadi kesal. Selama ini, dia selalu mengakui bahwa deduksiku tak pernah salah terhadap sebuah peristiwa, apapun itu. Aku yakin dia tidak menyangka bahwa aku mencium sesuatu yang mencurigakan dengan kembalinya Frontier XI dengan sukes dan selamat, meski tanpa Alia. “Kau yakin dengan yang kau ucapkan, Eran.” “Aku tidak memintamu untuk percaya. Tapi aku akan membuktikannya sendiri, Jayen.” Jayen duduk di sebelahku. Aku tahu, dia mulai gelisah. Seharusnya aku tidak memberitahunya kecurigaanku, tapi aku ingin dia mengumpulkan data tanpa kuminta. Dan itu pasti dilakukannya, dengan caranya. Yang jelas, saat ini aku memerlukan banyak memory dari banyak kepala. Untuk aku gabung-gabungkan, aku pilah-pilah dan membentuk benang merah. Ada sesuatu yang disembunyikan Frontier XI dan kesatuan. Dan mereka mengirimku pergi selama beberapa bulan agar tidak bisa mengendusnya. Jenderal Baron sangat tahu, bahwa semua bangsa tidak akan mudah merelakan penduduknya pergi ke Mars, bila apa yang dia sembunyikan diketahui penduduk bumi. “Tapi Entity Core sukses, Eran.” Aku menoleh ke arah Jayen dan mengembang senyum tipis. “Aku tahu kalau Entity Core akan sukses. Bahkan meski ditanam di Bumi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN