Di kampus, Nova tengah kebingungan mencari sahabatnya yang baru saja menikah itu. Ponselnya mati dari semalam, padahal sore nya masih bisa berkomunikasih. Tapi setelah dia sudah pamit mau tidur, sampai detik ini hampir berakhir mata kuliah mereka. Nova menjadi sangat khawatir, dia tidak bisa lagi berpikiran positif. Satu-satunya cara hanya dengan menemui Abim di kantornya, dia suami dari sahabatnya, pasti dia tau di mana Gia berada.
Di tengah perjalanan dia melihat ada seorang yang dia kenal, duduk berdua dengan mesra. Ibra dan Meila, wanita yang bisa di katakan popular di kampus. Ibra semenjak hari itu memang sudah tidak menanyakan apa-apa lagi tentang Gia padanya. Melihatnya dekat dengan Meila, apakah mungkin pernyataan lelaki itu pada sahabatnya hanya sebuah lelucon? Tidak, ini tidak benar.
Nova menepikan mobil nya dan segera berjalan cepat ke arah pemuda pemudi yang tengah duduk mesra di sebuah cafe terbuka. Perempuan tidak tau malu itu seharusnya melihat lelaki yang kini berada di belakang sandaran nya itu mengungkapkan kata cinta pada Gia. Karena saat itu Nova juga mengundang Meila dalam acara ulang tahunnya.
Byur
“Dasar tidak tau malu! Pasangan seperti kalian memang seharusnya tidak muncul di dalam kehidupan ku!” dengan berani Nova menyiram keduanya dengan minuman yang ada di atas meja. Aksinya ini telah mengundang pasang mata untuk melihat pada dirinya. Tidak terkecuali dengan sepasang kekasih yang tengah menikmati makan siang tak jauh dari kejadian.
“Apa kau sudah gila? Datang-datang menyiram kami seperti ini bisa kami laporkan ke polisi dengan tuduhan tindakan tidak menyenangkan. Kamu akan masuk penjara.” kata Meila tersulut emosi.
“Benar, aku gila tidak bisa melihat siapa kalian sebenarnya. Sungguh sangat di sayangkan kalian sudah menghancurkan acara ulang tahun ku.” Nova mengatakan dengan urat saraf yang sudah keluar semua. “Dan kamu! Beruntung Gia tidak memiliki perasaan terhadap b******n seperti mu. Dengan begini aku akan meminta sahabat ku itu mengembalikan cincin yang kau beri padanya.” sungguh sangat emosi Nova melihat keduanya.
Namun pada saat itu juga Ibra memelintir tangan Nova ke belakang. “Silakan kalau bisa. Aku pastikan wanita itu akan menanggung semua akibat…”
Bugh
“Yang sopan pada wanita bung, dia ada untuk di manja kan. Bukan di sakiti!” jiwa casanova yang di miliki Ricky muncul ketika Ibra sudah mulai main tangan pada Nova.
“Siapa kamu yang berani ikut campur? Oh, aku tau. Kamu lelaki yang waktu itu membawa jalang ini keluar dari club kan? Sudah merasakan busuk nya benda yang tersembunyi itu rupanya? Ketagihan? Atau kamu tidak memiliki wanita yang lebih baik dari jalang ini?” senyum mengejek Ibra sungguh tidak bisa di terima oleh Nova sama sekali.
“Jaga bicara mu b******n! Aku tidak sama dengan wanita yang ada di belakang kamu.” Nova berusaha menyerang Ibra namun di tahan oleh pelukan Ricky di perutnya.
“Keluar, jangan kotori tangan mu dengan melakukan itu.” Ricky menyeret Nova untuk menjauh dari meja Ibra. Memberi kartu untuk membayar makanan yang sudah dia pesan dengan wanita lain, Ricky tidak membiarkan wanita yang ada di pelukan nya itu lari.
Sedangkan wanita yang di ajak makan siang tadi susah payah mengejarnya, namun tetap tidak terkejar. Dengan membanting tas nya ke udara, wanita itu kembali ke dalam cafe dan menemui pasangan m***m itu.
Byur
“Kalian memang pantas mendapatkan ini.” kata wanita itu sebelum pergi.
“Nyonya, jangan salahkan kami jika lelaki mu lebih memilih jalang itu dari pada kamu.” teriak Ibra yang masih menyalahkan Nova.
Di dalam mobil yang melaju sangat kencang, Nova sepertinya masih di selimuti oleh amarah. Sehingga tidak sadar siapa yang sudah membawanya keluar dari cafe tadi.
Berhenti di sebuah gedung yang cukup mewah, ini adalah sebuah gedung perkantoran. Benar, ini gedung perkantoran yang merupakan tempat kerja lelaki yang membawanya saat ini.
“Om, aku mau di bawa ke mana? Ini bukan rumah saya atau apartemen saya. Ini juga tidak mirip dengan bangunan hotel.” tanya Nova yang baru merasakan takut setelah melihat lelaki itu membawanya ke sebuah gedung kokoh menjulang tinggi.
“Am om am om, kamu pikir aku setua itu? Kita mungkin cuma terpaut tiga sampai lima tahun. Panggil aku Ricky saja, ini kantor ku dan aku tidak punya nafsu membawamu ke tempat-tempat seperti itu.” Ricky menggandeng tangan Nova sampai ke dalam lift khusus CEO.
Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua. Ini adalah kali pertama bos yang terkenal play boy itu membawa masuk ke dalam kantor seorang wanita. Bahkan wanita itu masih terlihat seperti seorang gadis, bukan wanita yang sering di rumorkan. Wanita pengalaman dan terlihat dewasa, sungguh yang tadi di bawa masuk jauh dari dua kata itu.
Di saat Ricky memasuki lift, ada sepasang mata yang melihatnya dengan senyuman indah. Mungkin ini adalah awal yang baik untuk putranya menjalin sebuah hubungan yang serius. Dia adalah ayah dari Ricky.
“Sepertinya akan ada kabar baik.” kata klien yang kali ini tengah mengadakan pertemuan di kantornya.
“Semoga, anak itu sudah terlalu lama bermain-main di luar.” katanya menjawab perkataan klien.
Tidak tau aja seperti apa hubungan anaknya dengan gadis itu. Mereka berdua kini berdiam diri di sebuah ruangan pribadi yang terlihat seperti sebuah apartemen. Nova awalnya sangat takjub sekali dengan apa yang ada di dalam ruangan itu. Tetapi seketika dia teringat apa tujuan sebelumnya.
“Sial, kenapa aku ikut dengan mu sekarang? Aku mau nyari Gia kok jadi nyasar ke sini sih.” kata Nova yang tadinya duduk diam di sofa bersama dengan Ricky.
“Tunggu dulu sini, kamu belum makan kan? Saku sudah pesan makanan, temani aku makan dulu. Gara-gara kamu aku meninggalkan makanan ku tadi.” kata Ricky menahan Nova untuk meninggalkan dirinya.
“Yah? Siapa yang nyuruh, aku lagi emosi juga kamu ikutan saja. Bukan salah kenapa kamu jadi nyalahin aku sih? Ya sana salahin pasangan tak tau diri itu.” kata Nova kepancing emosi nya.
“Eh iya, kenapa itu tadi? Memang dia kekasih mu?” tanya Ricky, namun belum sempat menjawab ketukan pintu terdengar dari luar ruangan. Ricky keluar ruang dan menemui orang yang mengirim makanan. Dan Nova yang ada di dalam pun menunggu dengan patuh apa yang di lakukan oleh lelaki yang beberapa kali di temui itu.
“Ini makanannya sudah datang. Sambil cerita, sambil makan. Ok!” Ricky menghidangkan makanan yang tadi di pesan olehnya. Makanan itu terlihat sangat enak sekali, sungguh menggugah selera sekali. Tidak segan, Nova langsung mengambil sumpit yang ada di depannya.
“Aku tidak akan segan lagi.” kata Nova sambil makan makanan Jepang kesukaannya.
“Silakan.” Ricky melihat betapa bernafsunya gadis ini makan, sangat berbeda dengan para gadis lainnya yang akan menjaga imejnya.
“Jangan melihat ku seperti itu. Aku tidak akan merasa malu saat makan. Kalau aku malu, aku tidak akan kenyang.” senyum Ricky mengembang, dia gadis yang memang berbeda. Dia berpikir sangat logis.
“Ceritakan apa yang terjadi tadi, sampai kamu sangat marah pada kedua pasangan itu.” Ricky kembali mengingatkan tentang kejadian itu.
“Jangan ingatkan aku pada b******n-bajiingan itu. Aku tidak habis pikir pada Ibra yang begitu mengejar Gia. Dan saat di pesta ulang tahun ku beberapa waktu lalu, dia mengacaukan pestaku dengan mengajak Gia berpacaran. Tadinya itu anak datang sama settan, eh akhirnya tu orang hilang dan Gia pamit mencarinya. Tau-taunya besok siang dia menikah dengan pawangnya itu.” cerocos Nove dengan tangan dan mulut tidak henti memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“Tunggu, tadi kamu bilang Gia menikah? dengan siapa? Siapa pawang nya? Ibra yang tadi bersama dengan kekasihnya? Kenapa gak bilang tadi? Aku siap untuk me….” Nova memasukkan makanan ke dalam mulut lelaki yang tengah nyerocos.
“Bukan dengan Ibra, tapi sama bang Abimana husain. Memang nya kamu gak di kasih tau? Nah, tadi aku mau nyari dia, karena Gia tidak masuk kuliah sejak kemarin. Aku khawatir, eh liat dua orang tidak tau malu itu.” kata Nova membuat Ricky melongo.
“Mereka?” tanya tidak percaya Ricky dan hanya di angguki kepala oleh Nova.