Belajar untuk tujuan guru

1117 Kata
Dari malam ke pagi itu tidak lama, hanya butuh beberapa jam saja. Apalagi di lalui dengan tidur, sumpah berasa hanya sekejap mata. Dan sekarang sudah pagi, Gia bangun untuk membuat sarapan. Ini adalah sarapan pertama mereka berdua setelah menikah.   Gia membangunkan Abim yang masih bergulung selimut dengan baju putih polos karena tidak memiliki baju untuk tidur.  Gia yang baru selesai mandi pun kulitnya terasa dingin, pada saat menyentuh Abim , lelaki itu langsung bangun karena rasa dingin yang bertolak belakang dengan tubuhya yang lain di bawah selimut.   “Abang, bangun. Ini sudah jam setengah tujuh.” kata Gia sambil mengeringkan rambut mengenakan handuk.   “Dingin tau,” Abim yang merasakan tetsan air di beberapa titik badannya secara tidak sengaja pun langsung bangun. “Kamu sudah keramas?” tanya Abim menyirat kan sebuah makna lain.   “Sudah, aku sudah seminggu yang lalu datang bulannya.” jawab Gia santai mengeluarkan pengering rambut.   Abim langsung bangun dan memeluk Gia dari belakang. Dilihatnya pentulan diri di cermin, Gia masih belum sadar jika Abim memiliki pemikiran lain padanya. Tetapi gadis itu cukup peka dengan perubahan sang abang.   “Jangan mecem-mecem bang, Gia lagi pegang setrum, nanti kena gimana?” seketika Abim melepas pelukan nya dan melangkah mundur. Gia merasa kehilangan sih, meski hanya sebuah pelukan, nyatanya dia nyaman di perlakukan demikian. Apalagi oleh suaminya sendiri, tidak ada yang salah kan? Biar pun dia suami bekas kakak nya sendiri.   “Aku akan mandi dulu dan kita sarapan.” kata Abim lalu mengecup bahu Gia yang tertutup handuk sebelum masuk ke dalam kamar mandi.   Ah, begini rasanya memiliki pendamping halal. Rasanya itu gurih-gurih enyoy. Hati Gia berbunga-bunga dengan beberapa perlakuan kecil Abim. Jantung Gia tidak bisa di kondisi kan sekarang, serasa mau meledak saja. Ah, ini gila rasanya.   Dulu Gia juga sering berdekatan dengan Abim, memeluk atau di pangku nya. Tapi Gia tidak merasakan sedikit pun perasaan yang ia rasakan saat ini. Hasi, apa Gia sudah gila saat ini? Tersenyum sendiri di depan cermin dan merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya. Tunggu, bukan kah Gia baru saja mandi dan suhu ruang juga sangat dingin? Dari mana asal rasa panas itu? Aaahh, dari hati yang saat ini lagi di rasuki musim panas rupanya.   Sadar Gia, dia suami kamu jadi kamu bisa mendapatkan itu semua setiap hari. Oke , sekarang harus nyiapin keperluan Abim dan kembali ke dapur. Jangan buat dirimu menjadi tidak berguna untuk suamimu.  Gia langsung mengganti baju dan merapikan tempat tidur yang terlihat berantakan. Setelah itu Gia menyiapkan baju untuk Abim yang entah sejak kapan ada di lemari Gia.   Gia saat ini berada di dapur, entah mengurus apa lagi. Abim kaget ada setelan kemeja dan celana kain di atas tempat tidur yang sudah rapi. Tunggu, ini sepertinya masih baru, sejak kapan ada baju-baju seperti ini di lemari apartemen cewek? Ini adalah kali pertama Abim menginjakkan kaki ke apartemen Gia setelah membelinya saat itu.   Abim melihat merek yang tertera pun seperti yang biasanya ia pakai. Apa semua ini di simpan untuk dirinya? Tapi sejak kapaannn? Bingung, tapi Abim masih mengenakan kemeja berwarna hitam dan celana kain berwarna abu-abu itu. Ada dasi juga warna senada dengan celananya, tampak sempurna seperti kemarin. Hanya saja Gia tidak menyiapkan jas untuk dirinya, peduli setan! Dia akan ke kantor tanpa jas hari ini.   “Pagi sayang,” kata sayang pertama dari Abim membuat Gia terdiam sesaat.   “...Pagi bang.” tampan sekali Ya Allah suami ku. Lanjut Gia dalam hati.   Senyuman Abim merekah melihat istrinya terpesona oleh penampilannya hari ini. Tidak ada yang lebih indah dari pemandangan hari ini, padahal Abim akan menghadapi badai di kantor karena adanya kebocoran dana ke rekening pribadi salah satu petingginya.   “Makanan pagi ini enak sekali, oh iya ini baju siapa? Apa memang kamu siapkan untuk aku?” tanya Abim tak malu lagi.   “Iya, aku beli banyak tapi gak berani ngasih ke abang. Dari pada di bawa pulang dan di lihat ibu dan mereka curiga. Ya aku bawa ke sini saja.” jawab Gia dengan berani mendudukkan diri di pangkuan suaminya.   “Pinter sekali, uangnya dari mana? Nanti abang ganti.” kata Abim.   “Enggak usah, itu juga uang dari abang yang aku pakek beli. Cuma aku gak pernah beliin jas. Mahal.” kata Gia manja.   “Gak apa-apa dengan kamu ingat begini saja aku sudah seneng. Terima kasih istriku.” waktu seakan berhenti, sumpah Gia mendengar kata istriku langsung wajahnya memerah. Satu kata itu membuat jantung Gia kembali tidak normal. Kali ini jauh lebih parah dari sebelumnya, tidak baik kalau terus berlanjut seperti ini. Bisa-bisa Gia mati karena kondisi jantung nya.   “Ya sudah sarapan, aku buat kan minum dulu ya.” Gia berjalan menuju dapur yang berada di depan meja makan. Membuat jus apel untuk sang suami, Abim lebih suka minum jus dari pada kopi atau teh. Itu sangat di pahami oleh Gia, sehingga dia tidak sulit meladeni suaminya.   Tumis sayur pokcay dengan tahu goreng dan ikan goreng adalah menu pagi ini. Abim lebih suka makanan rumahan memang dari pada makanan mewah restoran. Dia itu orang indonesia banget yang mengatakan makan jika sudah kena nasi dan belum makan sebelum kena nasi. Ya padahal sudah makan roti, buah dan s**u. Bukan Abim sekali sarapan seperti itu.   Masakan Gia enak, karena Giska suka masak dan mengajari adiknya. Kata kakaknya dulu adalah. “Menyenangkan laki-laki paling pertama itu bukan dari penampilan. Tapi dari perut, kalau perut sudah kenyang maka dia akan sering mengatakan lapar dari pada kangen,”   Benar juga, kan yang di manja perutnya, terus kangen nya itu untuk siapa dong? Ya tetep untuk kita, kan dengan dia makan dengan kita itu sama dengan bertemu. Tidak ada yang namanya ilmu itu menyesatkan dan untuk siapa kita belajar. Seperti saat ini misalnya. Giska suka masak karena Abim tidak suka makan di luar, dan Gia belajar masakan rumah karena di paksa kakak nya. Suatu kebetulan yang terangkai bukan?   Semua kebiasaan Giska di pelajari oleh Gia dengan paksaan sang kakak. Alasannya untuk menyenangkan sang suami. Ya memang benar jika Gia mempelajari itu semua untuk suaminya, yang secara kebetulan juga suami kakak nya dari perpisahan mati. Yang berbeda hanya, Giska belum pernah menerapkan apa yang di pelajari nya selama ini. Sedangkan Gia yang awalnya terpaksa malah menerapkan pada suami kakaknya yang saat ini menjadi sah suaminya. Kebetulan yang membagong kan.   “Abang berangkat dulu yang sayang. Kamu mau tetap tinggal di sini atau pulang ke rumah? Abang tidak melarang juga memaksa kamu mau tinggal di mana.” kata Abim selesai sarapan.   “Di sini saja boleh? Aku pengen kita berdua dulu, lagian di sana aku canggung Bang.” kata Gia jujur.   “Terserah kamu, nanti abang pulang kamu mau di bawain apa?” tanya Abim dan hanya di sambut senyum oleh Gia tanpa mengatakan apa pun. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN