Tamu sialan

1138 Kata
Malam hari sebelum Gia tidur, dia menerima pesan dari suaminya. Jantungnya sudah tidak normal seketika, memacu begitu cepat seolah dia tengah lari maraton. Gia bukan ikut olimpiade maraton, tapi dia ikut lomba lari dari kenyataan. Pelan-pelan dia membuka pesan seolah dia mendapat pesan keramat dari nenek moyang yang meninggal ribuan tahun lalu.   Bang Abim   Di mana? Apa kamu lupa sudah punya suami? Atau lagi meliukkan tubuh di depan lelaki yang mengajak mu menu bersama? Cepat katakan sebelum aku menemukan itu dan aku buat lelaki itu menerima ganjarannya.   Lari dari kenyataan ternyata juga mampu mengeluarkan keringat ya, itu Gia buktinya. Dia berkeringat dingin setelah mendapat pesan dari suaminya. Gia juga tidak berani menjawab apa-apa karena dia pernah kepergok mabuk di club bersama Ibra. Jujur saja, saat itu Gia bahkan tidak tau perasaan macam apa yang di miliki lelaki itu padanya. Namun kali ini dia bisa menghindar dengan alasan punya suami.   Kembali lagi masalah keberanian dan ketidak tegaan Gia untuk mengungkap kenyataan jika dirinya adalah seorang pengganti. Jelas Gia sangat malu akan hal itu, mengingat betapa tinggi harga diri wanita itu. Semua di tunjukkan oleh sikap Gia yang sedikit memilih saat menerima dengan siapa dirinya akan menjalin hubungan.   Tidak sedikit yang menawari gadis cantik dengan lesung pipi menghiasi pipi tembemnya itu. Bibir tipis yang selalu mengundang sahwat Abim, sudah pasti akan di halangi oleh sang kakak ipar jika mulai dekat dengan lawan jenis. Dan sekarang? Setelah sudah menjadi istrinya yang sah, Gia malah seperti pendapat kan fakta jika kakak iparnya itu memiliki kepribadian ganda.   Belum sempat Gia membalas pesan dari Abim, kembali ponselnya berbunyi. Panggilan masuk dari dewa Eros yang mencari pasangannya. Bukan, dia Abim yang mungkin lelah menunggu balasan dari Gia namun tidak kunjung datang. Mungkin di layar sana hanya menampilkan tulisan sedang mengetik pesan. Namun di sini, Gia hanya membaca dan belum sama sekali memikirkan satu huruf pun yang akan ia ketik sebagai huruf pertama.   “Kamu di mana?” tanya Abim dingin kala panggilannya tersambung.   “Di… di rumah. Eh apartemen.” jawab Gia terbata-bata.   “Buka pintu,”   “Ha? Apa? Pintu siapa?” Gia kelabakan sekali mendengar suara dingin itu kembali membuat dirinya membeku seketika. Namun dia tetap berjalan menuju ke pintu apartemen nya, betapa terkejutnya Gia melihat Abim sudah berada di depan pintunya.   “Abang….?”   “Kenapa? Kaget?  Apa kamu lupa kalau apartemen ini aku yang beli untuk hadiah ulang tahun mu ke delapan belas?” benar, beberapa bulan setelah kematian Giska, Abim memberikan apartemen ini kepada Gia sebagai hadiah ulang tahunnya. Itu semua di lakukan Abim karena gadis ini selalu membantu kelancaran menolak beberapa wanita yang di ajukan padanya oleh para Klien.   “Maaf,” Gia menundukkan kepala dan menyingkir ke samping guna mempersilakan Abim untuk masuk ke dalam apartemen.   Abim masuk ke dalam kamar, dia melihat tempat tidurnya sudah berantakan. Apa wanita ini sudah bersiap untuk tidur, atau dia habis memasukkan lelaki ke dalam kamar? Ah, tidak mungkin Gia berani memasukkan orang selain Nova ke dalam sini. Tapi tunggu, jika dengan Nova adalah hubungan bersahabat jika bisa masuk ke dalam apartemen, terus dengan Ibra? Abim sepertinya sudah kecolongan.   Tidak, Gia bukan orang yang tidak memiliki tata krama dan moral buruk seperti itu. Tapi semua bisa saja terjadi, mengingat keberadaan Gia di club malam itu.   “Siapa saja yang tau apartemen ini?” tanya Abim yang langsung duduk di atas tempat tidurnya.   “Abang saja, memang siapa lagi?” tanya Gia yang merasa di curigai pun menjadi jengkel.   “Ibra mungkin.” benar, Abim benar-benar masih mengira jika Gia berhubungan dengan Ibra. Apa yang di pikirkan lelaki ini coba? Jelas-jelas Gia sudah mau menerima pernikahan itu, tapi masih saja menuduh dengan istrinya itu masih menjalin kasih dengan lelaki lain. Ini sangat keji sekali.   “Gia udah tidak masuk kelas yang sama dengan dia, bang. Jangan buat Gia jadi orang yang sangat keji. Jujur saja aku tidak berani menunjukkan muka ke depan lelaki itu. Abang, Gia tidak suka sama dia, hanya ingin menyelamatkan dia saja dari rasa malu. Makanya Gia mau menerima cincin itu, tapi tidak menjawab iya atau tidak.” kata Gia menunjuk ke arah cincin yang ada di meja depan Abim.   Senyum Abim masih tersimpan rapat di bibir tipis yang berbalut kumis yang terlihat sudah mulai tumbuh. Dia akhirnya mengetahui apa yang ia rasakan pada lelaki yang memintanya menjadikannya sebagai kekasih. Tetapi dia tidak tau perasaan Gia padanya yang mengajaknya menikah tanpa pacaran terlebih dulu.   “Kalau sama abang, apa cuma gak mau abang malu juga?” pertanyaan itu tidak bisa di jawab oleh gadis yang pemalu seperti Gia. Tapi Abim mana mau mengerti hal itu?jadi, mau tidak mau Gia harus tetap menjawabnya.   “Tidak,” jawab Gia malu-malu.   Wajah itu menggemas kan sekali, bahkan Abim bisa melihat telinga Gia memerah karena menahan malu. Tapi permainan ini masih belum berakhir. Sungguh menyenangkan sekali mempermainkan gadis ini.   “Apa? Abang tidak dengar.” kata Abim mempermainkan Gia.   “Malu bang, masa harus bilang begitu.” kali ini Gia menunjukkan sisi manjanya. Aduh, gemas sekali jadi pengen ngarungin deh rasanya.   “Ya sudah sini deketin, bisikin abang aja biar gak di denger pembaca.” goda Abim menarik istrinya duduk di pangkuannya.   Dengan terpaksa Gia pun duduk dan mengalung kan tangan ke leher Abim karena membisikkan kata-kata. “Tidak bang, Gia tidak menerima karena takut abang malu.” senyum Abim pun terbit seperti mentari pagi yang cerah.   “Terus kenapa kamu pura-pura pingsan pas mau di cium Abang?” kali ini Abim yang membisikkan kata-kata di telinga Gia dengan sedikit meniup nya.   “Aku takut, aku takut kak Giska datang dan mengutuk ku karena menikahi abang.” cicit Gia memainkan kancing kemeja Abim. Sadar apa tidak jika apa yang ia lakukan sekarang itu membuat lelaki mana pun bisa bernafsu padanya. Ah dasar Gia.   Tuk   “Punya pikiran dari mana kamu? Giska sudah meninggal dua tahun lalu, jadi apa yang kamu takuti?” tanya Abim sambil memukul pelan kening Gia.   “Abang tau kamu itu polos, tapi abang tidak tau kalau kamu itu bodoh. Ah, pantas saja kamu itu sangat di gilai lelaki. Dan abang kasih tau satu hal sama kamu. Jangan main-main kancing kemeja lelaki, kalau kamu tidak ingin lelaki itu menelanjangi mu saat itu juga.” bisik Abim dengan mencium kecil leher Gia.   “Abang, geli.” suara Gia sama beratnya dengan Abim. Dan lelaki itu menyadari apa yang kali ini tengah di rasakan oleh istrinya. Pun tidak menyia-nyiakan untuk hal lain, Abim langsung mencium bibir Gia sampai wanita itu kehilangan kendali. Tapi sayangnya, pada saat Abim mencoba merasakan wanita itu lebih dalam lagi, ternyata Abim merasakan sesuatu yang tebal.   Ah sial! Gadis ini tengah kedatangan tamu bulanan. Kenapa tidak mendukung sekali sih? Apa semesta memang masih belum mau melepaskan Gia untuk Abim? Tenang, ini pasti cuma satu minggu saja. Sabar sebentar lagi Bim, yakin lah kamu pasti bisa. Semangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN