Perasaan takut Gia

1144 Kata
Pagi-pagi sekali Gia sudah berada di dapur, ini adalah hari pertama menjadi seorang menantu. Nova memberikan wejangan kalau menantu harus bisa mengambil hati mertua, apalagi dalam kasus Gia ini. Mungkin karena pernikahan Gia dan mantan kakak iparnya itu merupakan sebuah aib, maka dirinya harus pintar-pintar mengambil hati mertua agar tidak di siksa seperti yang sering di tonton oleh Nova.   “Aduh Gia sayang, apa kamu tidak capek jam segini sudah masak?” senyum merekah menemani ucap ramah seorang ibu mertua di pagi hari. Apakah Gia sudah berhasil mengambil hati sang ibu mertua? Ah ini awal yang bagus.   Tapi tunggu, bukankah memang selalu baik di depan saja? Tapi di belakang masih tidak ada yang tau. Lebih baik Gia senyum saja tanpa membalas dan lanjut menata masakan yang sudah dia siapkan. Nasi goreng dan beberapa telur mata sapi. Pelayan juga mengatakan jika Abim tidak menyukai nasi goreng atau roti, suaminya itu menyukai nasi putih dengan lauk sayuran untuk sarapan. Gia juga sudah menyiapkan sayur bening bayam dan tempe goreng beserta sambal nya. Benar-benar menu lengkap.   “Sudah sana bangunkan suami kamu, pasti dia belum bangun. Kebiasaan buruk tidak berubah dari bujang sampek menikah dua kali juga sama.” kata ibu Abim menggerutu.   “Baik tante,”   “Ibu.” Gia hanye tersenyum malu menanggapi apa yang di perintahkan oleh ibu mertuanya. Benar, jika wanita itu sekarang adalah ibunya juga, ibu mertua kan ibunya juga.   Gia berjalan santai ke lantai atas untuk membangunkan suaminya. Suami yang pernah menjadi kakak iparnya. Ah, ini pasti sangat canggung sekali, tapi Gia harus terbiasa dengan hal itu mulai hari ini.   “Bang, bangun.” Gia menusuk-nusuk kan jarinya pada pipi Abim yang masih tidur pulas. Lelaki itu memang tampak sangat lelah sekali, bagaimana tidak lelah? Dia sendiri yang mengatur semua untuk menjadikan sempurna di pernikahan dadakan nya.   “Bang, kalau gak mau bangun juga. Gia siram pakek air segayung lo.” ancam Gia yang membuat mata Abim.   “Kasar sekali sih bangunin suaminya. Kita baru menikah lo, bahkan kamu sudah berani pura-pura pingsan pas mau di cium. Apa aku terlalu memanjakan mu di masa lalu?” kata Abim masih menggoda.   “A…a… ah cepatlah mandi dan pergi bekerja. Sekarang abang udah punya istri harus bisa mencari uang yang banyak buat aku.” kata Gia entah dari mana dia punya keberanian seperti itu.   “No money no cry baby,” kata Abim yang kembali mencuri ciuman dari Gia. Namun karena tidak sempat menghindar, pipi mulusnya menjadi sasaran empuk lelaki m***m itu.   “Apaan no money no cry? Yang ada no money ya nodong. Udah sono mandi.” kata Gia mendorong lelaki yang biasanya menyeramkan itu malah terlihat manja saat ini. Sebenarnya abang ipar nya itu punya kepribadian ganda apa? Ah ini membuat kepala Gia menjadi pusing sekali.   Pada saat Abim di dalam kamar mandi, Gia merapikan tempat tidur dan menyiapkan baju untuk lelakinya kerja. Setidaknya Gia sudah di bekali ilmu seorang istri oleh kakaknya dulu. Bukan di bekali, tapi Gia selalu meniru kebiasaan Giska yang menyiapkan baju untuk ayahnya kala dia menerima cincin pertunangan dari Abim kala itu.   Dia tidak menyangka sama sekali jika apa yang di cita-citakan oleh kakak nya itu Gia lah yang mewujudkan. Bukan hanya itu, pernikahan yang di inginkan Giska juga kini di dapat kan oleh Gia dengan mudahnya. Ini tidak adil untuk Giska seharusnya, namun dia tidak bisa untuk menuntut Gia seperti apa yang di kagtakan oleh Nova sahabatnya.     “Gia,” sebuah panggilan yang keluar dari mulut Abim membuat istrinya kaget dan hampir kehilangan jantungnya. Ah, lebai sekali Gia ini, kaget gitu saja sudah kehilangan jantung. “Mikir apa kamu?” lanjut Abi.   “Tidak, aku hanya mikir kalau kita tidak seharusnya menikah.” kata Gia yang langsung membuat wajah Abim menegang.   “Kamu menyesal? Sayang itu sudah terlambat!” wajah manis yang tadi di tunjukkan oleh Abim pun langsung berubah suram. Lelaki itu bahkan membanting pintunya saat keluar dari kamar   Abim menakuti Gia, bahkan lelaki itu tidak peduli dengan istri kecilnya yang sudah meneteskan air mata. Di masa lalu, jangankan membuat Gia menangis. Siapa pun yang berani membuat gadis itu meringis dirinya, Abim akan maju paling depan untuk memberi pelajaran pada orang itu. Tapi sekarang? Sepertinya berbanding terbalik dengan dia masih menjadi adik ipar. Status istri ternyata tidak sepenting adik ipar. Apa ini yang akan di rasakan oleh Giska jika kakaknya itu masih hidup?   Jawabannya tidak, karena jika Giska masih hidup, Gia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk bersanding dengan lelaki kakaknya itu. Abimana Husain sangat mencintai kakaknya, bahkan lelaki itu memilih status duda dalam beberapa jam setelah ijab qobul karena Giska sudah tidak kuat mempertahankan hidupnya.   Gia tersadar dari lamunan nya ketika ibu mertuanya memanggilnya untuk sarapan. Mungkin ibu mertuanya akan menganggapnya sangat cengeng dan lihatlah itu. Wajahnya sangat datar dan terasa dingin sekali, sangat berbeda dengan yang di tunjukkan tadi pagi.   Ah, Abim sudah tidak ada di rumah ini. Mungkin karena itu pula perlakuan ibu mertua yang tadinya hangat menjadi dingin seperti kerasukan hantu nya Elsa. Tetapi Gia masih berlaku cuek, karena bukan dirinya yang meminta pernikahan ini. Jadi kenapa dia yang merasa tidak enak? Ah, lebih baik kalau dia mengambil beberapa kesibukan di luar dari pada berada di rumah ini yang membuatnya terlihat seperti parasit.   Gia secepat mungkin memakan roti yang di beri selai kacang. Entah kenapa dia merasa tidak bisa untuk tinggal meski dalam sedetik di rumah megah ini. Jika dulu dia sangat di nanti untuk datang ke rumah ini, tapi sekarang? Suasana nya sungguh sangat canggung. Semenjak malam itu, Gia tidak keluar dari rumah itu sama sekali. Sedangkan untuk baju, Gia meminta tolong Nova untuk membawakan beberapa baju untuk dirinya.   Gia tinggal di apartemen selama ini, sehingga orang tuanya tidak tau seberapa bebas kehidupan dirinya tanpa sepengetahuan Abim. Ya, lebih baik Gia pulang ke apartemen nya untuk menenangkan diri karena insiden yang sudah menerpa dirinya belakangan ini.   Gia membawa cincin yang di berikan oleh Ibra namun tidak memakainya. Dia cukup paham seberapa sakral nya cincin kawin yang di semat kan oleh Abim padanya semalam. Gia memang pamit ke kampus, tetapi wanita itu hanya mengisi absen dengan beberapa mata kuliah saja dan akhirnya pulang ke apartemen.   Kehidupan Gia seakan kembali bebas dan menjadi diri sendiri setelah masuk ke dalam apartemen. Ah sial, dia lupa mengatakan pada Nova jika dirinya tidak berada di rumah Abim lagi saat ini. Mengabari saat ini melalui pesan singkat saat ini memang lebih baik dari pada dia menelfon yang akan membuat Ibra juga mengetahui di mana dirinya sekarang.   Gia memang menghindari Ibra karena dia tidak bisa menjadi wanita baik untuk lelaki itu. Tapi memang Gia tidak bisa menjadi kekasih Ibra karena hatinya tidak berada padanya. Ini cukup membuat Gia merasa pusing, dia bahkan merasa ketakutan sendiri sekarang. Dia takut akan apa yang menjadi tanggapan orang luar tentang dirinya yang menikahi lelaki kakaknya. Apalagi alasannya adalah keagresifan nya pada lelaki itu. Ah sungguh memalukan sekali 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN