Siapa bilang Gia tidak punya saingan? Menjadi satu-satunya bukan berarti tidak ada yang menginginkan posisi Gia.
Abim pernah memiliki pacar sebelum bersama Giska. Bukan, tunangan setelah Giska meninggal dunia. Gia kenal, akrab malah dengan wanita kakak iparnya itu.
Model yang tengah membangun karier di luar negeri itu tidak tau apa-apa. Kontrak yang seharusnya berjalan dua tahun, bisa di tempuh hanya dengan satu setengah tahun. Bisa di bayangkan betapa rajinnya Lolita menjadi seorang model papan atas.
Italia, di sana Lolita Putri Juana yang biasa di panggil Loly itu menetap selama satu setengah tahun.
Kini dia telah kembali, muncul pertama di layar televisi. Gua yang baru saja menyalakan televisi pun di buat menggigil. Apa ini saatnya melepas Abim? Baru tiga hari menikah, sudah kedatangan masa lalu. Klise sekali bukan?
Gia lemas duduk di ruang tamu bersama dengan yang lainnya bermain kartu. Namun yang lainnya belum menyadari akan berita tersebut. Di antara mereka berempat, hanya Nova yang tidak tau siapa Loly. Miris sekali nasib pengantin baru.
“Bim, jangan curang dong.” Ricky yang menggerutu karena Abim berlaku curang.
Abim terkekeh namun langsung sirna ketika melihat wajah Gia yang terlihat murung. “Kenapa?” begitu pertanyaan itu muncul. Gia hanya tersenyum simpul memberi tahu betapa dia merasa tidak aman.
Merasakan ada hal yang aneh, Abim tidak begitu saja membiarkan Gia pergi begitu saja. Cekalan tangan Abim yang selalu protektif pada Gia tidak sekali di lihat oleh kedua orang di depan mereka saat ini. Hanya saja, Nova maupun Ricky melihat hal itu saat ada sesuatu terjadi atau mengancam Gia. Tapi saat ini mereka tengah berada di apartemen dan tidak ada orang yang hendak menyakiti Gia atau sebagainya. Tapi kenapa Abim menjadi lebih protect sekarang?
“Ada apa?” Nova angkat bicara.
“Entahlah, bang Abim aneh.” Jawab Gia seolah tidak tau. Tapi raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang membuat risau hatinya.
“Jangan pendam sendiri.” Nova tau apa yang di rasakan sahabatnya itu. Dia bahkan melihat ada rasa takut di mata Gia saat ini. Apa yang membuat wanita itu terlalu takut di tengah orang yang melindunginya?
“Tidak ada, ah sudahlah mungkin aku yang banyak pikiran.” Jawab Gia masih tidak mau jujur.
“Apa kamu memikirkan Ibra? Jangan di pikirkan lagi masalah itu. Dia bajiingan tengiik yang harus kamu jauhi sekarang. Kembalikan cincin yang dia kasih ke kamu, kalau kamu tidak sanggup. Biar aku yang lempar ke muka nya.” Nova kembali tersulut emosi saat ini. Dia benar-benar tidak bisa melepaskan Ibra yang sudah membuat kekacauan salah kehidupan sahabatnya.
“Tidak, aku hanya ingin istirahat sebentar saja.”
Mengerti apa yang di maksud oleh Gia, Ricky membawa gadis berisik itu untuk pulang. Gia dan Abim butuh waktu untuk berdua saat ini, Ricky sebagai seorang pawang wanita, itu tau semua.
“Baiklah kalau begitu. Izinkan aku membawa orang aneh ini untuk pulang. Oh tidak, aku akan membawa dia ke tempat terakhir kali meninggalkan mobilnya.” Mendengar apa yang di katakan orang yang membawanya ke sini pun Nova baru sadar akan mobilnya.
“Mobil kuuuu!!”
Kedua orang itu sudah menghilang dari balik pintu. Gia tiba-tiba memeluk Abim dari belakang, ini tidak pernah terjadi. Apa gadisnya sudah mulai membuka diri untuk dirinya?
Abim terhenti sejenak dan menikmati setiap inci tubuhnya yang di peluk posesif oleh Gia. Tidak, dia tidak menunjukkan rasa nyaman. Dari baling punggungnya, Abim merasakan ada air yang menembus baju yang ia kenakan.
Sekilas Abim memang merasakan tubuh gadis ini bergetar. Tidak, ini pasti ada yang aneh. Oh Tuhan, apa itu?
“Jangan menyembunyikan apa pun dari ku.” Abim membelai lembut tangan yang melingkar di perutnya.
“Biarkan aku begini sebentar.” Suara Gia serak, jelas dia tengah menangis dan sepertinya menangis bukan karena hal yang biasa.
“Apa kamu menyesal menikah dengan ku? Kamu ingin kembali pada Ibra? Kamu bisa melakukannya kalau kau mau.” Abim audah terpancing emosinya. Dengan apa yang Gia lakukan, dia terlihat seperti orang yang tertekan. Apa menikah dengan dirinya adalah sebuah tekanan hidup?
“Kalau kamu tidak mengatakan apa-apa, aku juga tidak tau apa yang ada di pikiran kamu. Jangan membuat ku kehilangan kesabaran.” Abim mengeram emosi.
“Tidak, Abang. Aku tidak menyesal, tapi aku takut kehilangan kamu.” Itu sebuah pengakuan yang akan membuat semua lelaki menjadi sangat bahagia di saat mereka tengah meneguk cinta dari cawan yang sama. Tapi kenapa tiba-tiba seperti ini? Ini mencurigakan.
“Apa aku pernah memiliki niatan untuk meninggalkan mu? Apa pernikahan kita main-main saja di matamu?” tidak, Abim tidak merasa senang akan hal ini.
“Bukan, aku.... Aku...”
“Katakan dengan jelas.” Ucap Abim lembut, senyum Abim tersembunyi di balik bibir tipisnya.
“Kak Loly kembali.”
Deg
Tubuh Abim membeku seketika, dia melupakan wanita itu. Ini akan memberikan Malapetaka untuk Gia jika wanita itu tau dari orang lain. Abim memang menerima pertunangan yang di bawa oleh keluarganya. Tapi dia tidak sekalipun tertarik pada wanita ambisius itu.
“Aku yang akan mengurus masalah ini. Bersikaplah seperti biasa Jan....”
“Aku tidak akan tahan ada wanita lain menempel padamu. Aku tidak cukup kuat untuk melihat itu, berdekatan saja aku gak bisa bayangin. Oh, Abang....” Gia heboh sendiri, sedangkan Abim malah tersenyum.
Ini benar Gia yang selalu cuek pada dirinya di masa lalu, tapi lihat sekarang. Dia mengatakan cinta padanya, terang-terangan kalau cemburu. Lucu sekali, Abim langsung memeluk dan memberikan ciuman di seluruh wajah gadisnya.
“Aku tidak akan dekat-dekat dengan wanita lain. Selain kamu seorang, tidak ada yang boleh memegang tangan ku ini. Apa janji ku ini di terima?” Gia membalas dengan menganggukkan kepalanya yang menempel pada d**a bidang milik Abim.
Raut wajah Abim berubah menegang. Dia tidak menyangka jika wanita itu masih ingat tanah kelahirannya. Wanita yang tidak pernah puas dengan apa yang di miliki saat ini. Jelas sifat seperti itu tidak di terima oleh Abim.
Malam sudah sangat larut, sebuah panggilan masuk menggangu tidur malamnya. Mau tidak mau Abim mengangkat telepon sebelum membangunkan istrinya. Benar, Gia tidak sekalipun melepas pelukannya saat tidur. Pengakuan gadis ini ternyata dari hati dan bukan main-main.
“Katakan.”
“Aku merindukan kamu, tebak aku di mana sekarang?” suara centil dari sebrang terdengar sangat menjijikkan, Abim tau siapa itu.
“Aku tidak peduli di manapun kamu berada. Di neraka sekalipun, tidak ada urusannya dengan ku.” Ucapan Abim audah menunjukkan betapa bencinya dia. Tapi Loly memiliki tanggapan lain yang lebih menggelitik.
“Sayang, aku tau kamu marah padaku. Tapi menjadi model internasional adalah cita-cita ku....”
“Persetan dengan cita-cita mu, jangan mengganggu ku. Aku capek!” Abim memutus sambungan sepihak dan kembali tidur.
Lolita itu gadis pantang menyerah, Abim paham itu. Sehingga dia dengan sadar langsung memblok nomer gadis itu. Ini untuk kebaikan bersama, terutama Gia. Gadis itu sudah mengakui perasaannya dan tidak ingin melihat dirinya dengan wanita lain.