Tahi Lalat

1398 Kata
Jacky meletakkan satu bendel berkas terbungkus amplop besar ke atas meja. "Ini berkas kasus baru yang harus kamu tangani." Alika mengeluarkan semua berkas dari dalam amplop. Ia memeriksanya lembar demi lembar secara sekilas. "Itu kasus orang hilang dengan korban bernama Septi Noviasari. Identitas lengkapnya bisa kalian pelajari pada berkas." Jacky menatap Alika dan Ezra secara bergantian. "Maman Nurzaman, ayahnya Septi tidak memiliki banyak foto anak gadisnya itu. Ia hanya menyimpan beberapa foto masa kecil Septi. Foto paling baru yang bisa kita jadikan petunjuk hanyalah pas foto dalam ijazah SMA lima tahun lalu. Itu pun hanya fotokopinya saja karena ijazah aslinya entah di mana Septi menyimpannya." Alika mengambil selembar kertas fotokopi ijazah. Dahinya berkerut. Selain hasil fotokopinya kurang bagus juga ukuran fotonya kecil. "Septi bermain di media sosial nggak, Pak?" tanya Alika. Jacky menggeleng. "Septi pernah punya akun i********:, tetapi akun itu sudah ditutup. Lagi pula ia menggunakannya untuk berjualan online. Sama sekali ia nggak pernah mengunggah foto dirinya." Alika mengumpulkan kembali berkas yang tadi diperiksanya. Setelah memasukkan kembali ke dalam amplop, ia menyerahkannya pada Ezra. "Kamu pelajari berkas ini." "Iya, Kak!" Ezra menerima berkas dari Alika. "Ezra!" Jacky menatap Ezra. "Saya tahu kamu bisa bekerjasama dengan Alika karena saya perhatikan kamu sering membantunya. Hanya saja perlu saya ingatkan, tugasmu menjadi asisten detektif itu beda dengan ketika kamu membantunya belakangan ini. Sekarang kamu ikut terlibat dalam pemecahan kasus. Hanya saja, kamu harus melakukan semua pekerjaan atas sepengetahuan Alika. Jangan bertindak sendiri. Jika punya ide, sampaikan kepada Alika, jangan pernah mencoba mengambil inisiatif tanpa mengonfirmasikannya kepada Alika. Paham?" Ezra mengangguk mantap. "Paham, Pak!" "Tugasmu menjadi asisten juga bersifat sementara, hanya berlaku sampai kasus selesai." Jacky menegaskan. Ezra kembali mengangguk. "Iya, Pak!" "Kesempatan ini sangat langka. Baru kamu seorang office boy yang diberi kepercayaan menjadi seorang asisten detektif. Jadi, manfaatkan peluang ini dengan baik." "Iya, Pak," sahut Ezra mantap. Jacky tersenyum puas. "Selama menjadi asisten detektif, kamu dibebastugaskan menjadi office boy." "Terima kasih atas kepercayaan bapak!" ucap Ezra. Semangatnya bertambah. Jacky menatap Alika dan Ezra secara bergantian. "Oh iya, Pak Maman menuturkan kalau sebelum hilang, Septi pamit untuk belerja di Semarang. Sejak itu keluarganya kehilangan kontak dan selama setahun tidak mendapatkan kabar apa pun." "Jadi sejak pamit untuk bekerja di Semarang, Septi belum pernah pulang atau memberi kabar?" tanya Alika memastikan. "Iya, bahkan sejak awal kepergiannya itu korban tidak pernah menghubungi keluarga, juga sulit dihubungi karena nomor teleponnya tidak pernah lagi aktif sampai sekarang." Alika mengangguk paham. "Apa keluarga Septi tidak pernah melaporkannya ke polisi, Pak?" tanya Ezra. "Sudah pernah, tapi sampai sekarang belum ada perkembangan yang signifikan," jawab Jacky. "Tugas kalianlah untuk menemukannya. Selamat bekerja!" *** "Ezra, kamu bisa desain grafis kan?" tanya Alika. "Bisa, Kak!" jawab Ezra. "Aku mau menemui klien kasus lain," beritahu Alika. "Kamu pakailah komputerku. Scan pas foto dalam fotokopi ijazah Septi, lalu perbesar dan cetak sepuluh lembar." "Komputernya pakai kata sandi nggak, Kak?" tanya Ezra. Alika mengedarkan pandangam ke sekitar, memastikan tidak ada orang lain dalam radius sepuluh meter. Ia berbisik kepada Ezra. "Kata sandinya: p-a-s-s-w-o-r-d." Ezra mengangguk. "Ada pertanyaan?" Alika memastikan. "Sementara belum ada, Kak!" jawab Ezra. "Okey!" Alika membetulkan posisi tasnya. "Nanti jam tiga sore, kita ke rumah Pak Maman. Kamu pelajari dulu alamatnya." "Baik, Kak!" "Kalau sampai jam dua aku belum sampai kantor, kamu telepon aku ya?" pinta Alika. "Siap, Kak!" "Bagus!" Alika menepuk bahu Ezra, kemudian melenggang pergi. Baru melangkah sejauh lima meter, ia membalikkan badan. "Di deket komputer ada pancake. Kamu boleh habisin!" Ezra mengacungkan jempol. "Iya, Kak. Terima kasih!" Alika mengangguk. Ia meninggalkan Ezra. Sepeninggal Alika, Ezra langsung menuju meja Alika. Ia mengambil kertas fotokopi ijazah Septi dari dalam amplop. Setelah men-scan pas fotonya. Ia mengirimkan filenya ke komputer Alika. Dengan cekatan Ezra meng-crop gambar hasil scan tersebut. Karena itu diambil dari kertas fotokopi, sehingga gambarnya hitam putih. Gambarnya juga kurang jelas. Maka ia harus mengeditnya agar lebih baik. Ketika Ezra sedang asyik mengedit, Jacky datang membawa sebuah map. "Alika mana, Ez?" tanya Jacky. Matanya memperhatikan layar komputer. Ezra menoleh. "Kak Alika sedang menemui klien kasus lain, Pak!" Jacky mengerjap senang, melihat hasil editan Ezra. "Kamu bisa desain grafis juga ternyata. Baguslah, itu sangat membantu." Ezra tersenyum simpul. "Iya, Pak." Jacky terus mengamati hasil editan Ezra pada layar. Tangannya menunjuk sebuah titik di antara lubang hidung sebelah kiri dan bibir objek gambar Septi. "Menurutmu ini efek fotokopi apa tahi lalat?" Ezra segera memperbesar gambar, fokus pada titik yang ditunjuk Jacky. "Ada banyak titik serupa di seluruh gambar. Ukurannya relatif sama. Kemungkinan itu efek fotokopi, Pak!" Jacky mengernyit. "Bukan tahi lalat?" Ezra memperhatikan lebih seksama area perbesaran gambar. Ia menganalisanya lebih teliti. "Saya pikir bukan, Pak!" "Kamu yakin?" Jacky sebenarnya hanya menguji kemampuan analisa Ezra, karena ia juga sependapat bahwa titik itu hanya efek fotokopi, bukan tahi lalat. "Saya yakin, Pak!" jawab Ezra tegas. "Nanti sore kami akan ke rumah Pak Maman. Biar nanti saya akan memastikannya." Jacky mengangguk puas. "Baguslah!" Ia meletakkan map ke atas meja. Ezra memperhatikan map berwarna biru yang baru saja diletakkan Jacky. Ia menduga pasti ada bahan baru yang berkaitan dengan kasus Septi. "Kamu boleh membukanya, tapi beritahu dulu Alika!" ucap Jacky. "Di dalam map itu ada beberapa surat lamaran pekerjaan yang dibuat Septi. Pak Maman barusan mengirimkannya via kurir. Beliau menduga itu adalah surat lamaran pekerjaan Septi yang belum sempat atau memang sengaja tidak dikirimkan." "Atau bisa jadi itu adalah surat lamaran yang belum rapi, sehingga tidak terpakai," analisa Ezra. "Ia hanya mengirimkannya yang menurutnya rapi." Jacky mengangguk, menganggap analisa Ezra logis. "Kamu pelajari nanti sama Alika." "Baik, Pak. Nanti saya sampaikan pada Kak Alika." "Good job!" Jacky menepuk bahu Ezra. Matanya melirik pancake di dekat komputer. "Pancake itu punya kamu?" "Punya Kak Alika tapi saya boleh menghabiskannya." Jacky mengerling. "Saya beli dua seringgit, boleh?" Ezra terkekeh. Ia tahu Jacky sedang menggodanya. "Ambil saja, kalau bapak mau. Ini nggak dijual." Jacky tertawa geli. "Enggak, enggak, terima kasih. Alika menyediakannya biar kamu nggak kelaparan." Ezra punya ide. Ia mengambil sepotong pancake lalu memakannya dengan lahap. Ekspresinya sengaja dikondisikan seolah makanan itu paling lezat sedunia. "Enak banget, Pak!" Jacky menelan ludah. "Habiskan!" Ezra melirik Jacky. "Yakin bapak nggak mau?" Jacky menggeleng sambil tertawa. "Saran saya, segera habiskan, sebelum saya berubah pikiran." Ezra tertawa. "Siap, Pak!" "Teruskan pekerjaanmu!" Jacky menepuk bahu Ezra, kemudian berlalu. Ezra meneruskan pekerjaannya mengedit foto Septi. Foto itu diambil lima tahun lalu untuk kepentingan ijazah. Ia membayangkan seperti apakah wajah Septi sekarang? Selesai mengedit dan mencetak foto Septi, Ezra segera menelepon Alika. "Ada apa, Ezra?" Alika menjawab panggilan telepon Ezra. "Barusan Pak Jacky memberikan map. Beliau bilang itu dikirim Pak Maman. Isinya berkas-berkas surat lamaran Septi," beritahu Ezra. "Kamu buka saja sekarang!" suruh Alika. Ezra membuka map menggunakan tangan kanan, sementara tangan kiri ia gunakan untuk menempelkan ponsel ke telinga. Diperiksanya berkas-berkas tersebut. "Sudah kamu buka?" tanya Alika. "Apa isinya?" "Ada enam lembar halaman. Empat lembar surat lamaran untuk PT. Anugerah Steel Persada dengan alamat Jakarta dan dua lembar untuk PT. Eraneo kantor cabang Semarang." Ezra menjelaskan. "Kamu cari profile lengkap kedua perusahaan tersebut. Cari di Google dan media sosial. Kamu rangkum ya, terus print out," suruh Alika. "Kalau bisa sebelum aku sampai kantor semua sudah siap." "Baik, Kak!" "Fotonya sudah kamu edit?" "Sudah dicetak juga, Kak." "Bagus!" puji Alika senang. "Jangan lupa pancake-nya kamu makan ya?" "Iya, Kak, nggak usah khawatir." "Anak pintar!" Alika kembali memuji Ezra. "Oh iya, kamu bisa nyetir mobil kan?" "Bisa, Kak!" "Punya SIM A?" "Punya, Kak!" "Mantaplah!" Alika terkekeh senang. "Aku capek banget. Jadi nanti ke rumah Pak Maman kamu yang nyetir." "Siap, Kak!" "Dari tadi kamu 'iya, Kak!', 'siap, Kak!'. Kamu ini kebiasaan sih jadi office boy." "Hehehe!" "Ya sudah, kamu cari profil dua perusahaan itu sekarang!" "Oke!" "Nah gitu! Itu baru asisten detektif!" "Hehehe!" Panggilan telepon berakhir. Ezra segera membuka aplikasi browser di komputer. Ia mengetikkan kata kunci PT. Anugerah Steel Persada pada mesin pencarian. Terpampanglah link-link yang berkaitan dengan perusahaan tersebut. Baru saja Ezra akan membuka salah satu link, Alika menelepon. Ia segera menjawabnya. "Iya, Kak, ada apa?" sapa Ezra. "Kamu ingat nggak tadi Pak Jacky bilang kalau Septi kerja di Semarang?" tanya Alika. Ezra mengingat-ingat ucapan Jacky. "Iya, benar. Septi pamit untuk bekerja di Semarang." "Nah, sekarang kamu fokus saja untuk mencari profil PT. Eraneo cabang Semarang!" saran Alika. "Soalnya PT. Anugerah Steel Persada berlokasi di Jakarta." Ezra memahami saran Alika. "Oke, Kak!" Selepas teleponan dengan Alika, Ezra segera mencari profil PT. Eraneo. Namun sayang ia tidak menemukannya. Tidak ada perusahaan bernama Eraneo. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN