Kotak Warna-warni

1570 Kata
Ezra telah menunggu di seberang jalan kantornya, tujuh belas menit lalu ketika Alika datang. Ezra tahu benar, Alika adalah orang yang sangat menghargai waktu dan tidak memberi toleransi untuk sebuah keterlambatan. Ini hari pertamanya menjadi asisten. Ia harus memulainya dengan baik. Alika berpindah posisi ke jok sebelah depan kiri. Ezra paham, gadis itu menyuruhnya menyetir. Maka ia pun bergegas memasuki mobil. Ezra memundurkan jok. Jangkauan kakinya lebih panjang ketimbang Alika. "Sudah aku seting map-nya. Kamu tinggal mengikuti si cerewet dalam alplikasi itu saja!" Alika mengatur sandaran jok lebih ke belakang. Ia sangat lelah, ingin menggunakan kesempatan perjalanan ini untuk beristirahat. Ezra memperhatikan tujuan dalam map yang sudah diatur Alika. Ia punya ide. Ia menoleh kepada Alika yang sudah memejamkan mata. "Titik tujuan berada di wilayah Kendal ya?" Alika mengangguk, masih dalam keadaan memejamkan mata. "Kalau kita lewat jalan alternatif gimana?" Ezra mengusulkan. "Kamu yang nyetir, jadi aku ikut saja gimana baiknya." Alika membuka mata. "Yang penting selama belum sampai tujuan, jangan bangunin aku!" "Oke!" Ezra melepas rem tangan. Kaki kiri menginjak kopling penuh. Ia memindahkan perseneleng manual ke gigi satu. Kaki kanan menginjak pedal gas, bersamaan dengan dilepasnya kopling secara perlahan. Mobil pun bergerak maju. Alika melirik cara Ezra memulai menjalankan mobilnya tadi. "Kamu sering menyetir?" tanya Alika. Ezra menggeleng. "Disebut sering, enggak juga sih." "Pantesan!" gerutu Alika. "Seharusnya rem tangannya jangan dilepas dulu sebelum kamu siap menginjak gas." "Iya, Kak." "Kebetulan saja tadi posisi jalan mendatar. Kalau posisinya menanjak atau menurun, kamu bisa membahayakan kita," kritik Alika. "Ingat-ingat itu!" Ezra mengangguk, meskipun Alika sudah memejamkan mata. "Iya, Kak. Aku akan ingat itu." "Bagus!" Alika merapatkan sweternya. "Aku mau tidur." Ezra melirik Alika yang tampak kelelahan. Ia sangat kagum kepada gadis itu yang bekerja tanpa kenal lelah. Hebatnya gadis itu sekali pun tidak pernah terdengar mengeluh. Ezra ingin seperti Alika, bekerja penuh totalitas, berdedikasi tinggi, dan selalu disiplin. Ia beruntung bisa sekantor dengan detektf itu. Dari gadis itu ia belajar banyak hal, bukan hanya cara menjadi detektif yang baik, tapi juga bagaimana bekerja dengan baik. Satu hal lagi yang selalu ia perhatikan dari Alika adalah detektif itu bukan hanya kerja keras tapi juga keja cerdas. Ini hari pertama Ezra menjadi asisten Alika. Ia akan mempergunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Karena nanti setelah kasus ini selesai ia harus kembali menjadi office boy, maka ia harus membuktikan bahwa dirinya layak untuk terus menjadi asisten detektif. Ezra tidak mau terus-terusan menjadi office boy. Ia harus berkembang menjadi lebih baik. Target jangka pendek, ia harus menjadi asisten Alika dengan baik. Target jangka panjang adalah menjadi detektif sungguhan. Menurut map yang tadi diatur Alika, perjalanan yang harus ditempuh mereka akan membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit, melalui jalan utama. Ezra mengetahui jalan alternatif yang hanya membutuhkan waktu paling lama dua puluh menit saja. Namun kini Ezra menyesali keputusannya untuk melalui jalan alternatif. Jalan yang akan ia lalui adalah jalan perkampungan yang kadang terjal dan berlubang. Itu akan membuat perjalanan sedikit tidak nyaman, padahal Alika sedang tidur. Selain itu, singkatnya waktu perjalanan, otomatis akan membuat Alika memiliki sedikit waktu untuk beristirahat. Sudah terlanjur memilih jalan alternatif, Ezra harus terus melaluinya. Menurutnya menyesal tidak berguna karena yang penting adalah ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia pilih. Pada saat melewati jalan yang kondisinya bagus, Ezra mempercepat laju mobilnya. Sebaliknya ketika melalui jalan bergelombang, ia menurunkan kecepatan dan sebisa mungkin mengendarai dengan halus agar Alika tidak terbangun. Sejauh ini perjalanan mereka lancar dan nyaman, hingga di sebuah desa, mereka terjebak macet. Ezra heran kenapa jalan di tengah area persawahan bisa macet. Setahunya, jalan ini jarang dilewati mobil. Ia menebak, barangkali di depan sana terjadi kecelakaan. Mobil bergerak merayap, sesekali berhenti beberapa saat. "Ada apa, Ez?" Alika terbangun. Ia memicingkan mata, memperhatikan sekitar. "Kita sudah sampai mana?" Ezra merasa bersalah karena kemacetan ini membuat Alika terbangun. "Sebenarnya alamat tujuan kita sudah dekat, Kak, mungkin sekitar tiga kilometer lagi." "Terus kenapa kendaraan bergerak merayap?" "Belum tahu kenapa, Kak." Alika melirik arloji pada pergelangan tangan. "Sudah hampir setengah jam perjalanan kita." Rasa bersalah Ezra semakin besar. Jika jalanan tidak macet, pasti sudah sejak sepuluh menitan lalu mereka sampai di alamat tujuan. Alika menyerahkan sebotol air mineral kepada Ezra. "Kamu pasti haus!" Ezra menerima botol dari Alika. Ia memang merasa sedikit haus. Berada pada ruangan ber-AC membuat kulitnya terasa kering. Ia butuh banyak cairan. Ia meneguk sedikit, kemudian meletakkan botol ke atas dasbor. "Ini jalan alternatifnya?" tanya Alika. Ezra mengangguk, merasa bersalah. "Maaf, ya, Kak. Aku nggak nyangka kalau perjalanannya akan terhambat begini. Niat hati ingin mempercepat waktu malah menjadi nggak nyaman." Alika mengernyit. "Kamu menyesal?' Ezra mengangguk. "Lebih tepatnya merasa bersalah." "Sama siapa?" "Sama Kak Alika." Alika menggeleng. "Jangan menyesali keputusan yang sudah kamu ambil. Itu nggak akan memperbaiki keadaan." Ezra mengangguk. "Iya, Kak." "Ini bukan soal perjalanan saja," ujar Alika. "Kelak ketika nanti menjadi seorang detektif, kamu akan dihadapkan pada satu atau lebih banyak pilihan. Kamu dituntut untuk berpikir cepat dan tepat. Jika ternyata pilihanmu ternyata salah, apa yang harus kamu lakukan?" Ezra berpikir. "Aku harus menghadapinya dan menjadikan itu sebagai pengalaman." Alika mengerjap. "Yah, itu benar, tapi yang penting adalah kamu bertanggung jawab pada pilihanmu." "Iya, Kak." Tanpa Ezra dan Alika ketahui, beberapa ratus meter dari posisi mereka, seorang penggembala sedang mengatur ratusan bebeknya yang memenuhi lebih dari separuh jalan. Perjalanan Ezra dan Alika baru lancar ketika bebek-bebek itu mencebur ke area persawahan yang baru saja dibajak. Mereka akhirnya sampai di tujuan, membutuhkan waktu hampir satu jam. Itu lebih lambat seperempat jam dari perkiraan waktu jika melewati jalan utama. Meskipun demikian, Ezra mengambil satu pelajaran berharga dari perjalanan tersebut. *** Rumah Maman Nurzaman terbuat dari papan kayu jati. Bentuknya limasan, khas Jawa Tengah. Ada tiga pintu tanpa jendela, namun hanya pintu tengah saja yang difungsikan. Ruang tamunya sangat lebar. Ada dua kursi panjang yang saling berhadapan. Keduanya dipisahkan sebuah meja besar dan cukup tinggi. Semuanya terbuat dari kayu jati. Alika dan Ezra duduk bersebelahan. Mereka menunggu Maman yang sedang mandi. "Kamu sepertinya paham daerah sini," tebak Alika. "Soalnya tanpa bertanya bisa langsung menemukan alamat ini." "Dulu aku sering main ke daerah ini," ujar Ezra. Alika mengerjap. "Oh iya?" Ezra mengangguk. "Aku punya beberapa temen SMA yang tinggal di daerah ini." "Bukannya kamu sekolah di Semarang ya? Padahal daerah ini sangat jauh dari sekolahmu. Di sini juga kan ada SMA." "Memang," sahut Ezra. "Aku SMA di pesantren. Kebetulan ada beberapa anak dari daerah ini yang mondok di sana juga." Alika mengangguk paham. Obrolan Ezra dan Alika teralihkan ketika Maman menemui mereka. Kesegaran aroma sabun mandi menyerbak ruangan. "Maaf, membuat adik-adik ini menunggu." Maman duduk di kursi. "Nggak papa, Pak," ujar Alika. "Perkenalkan saya Alika dan di sebelah saya Ezra. Kami detektif yang menangani kasus hilangnya anak bapak." Wajah legam Maman seketika cerah, meskipun sorot matanya menyiratkan kepedihan. "Saya terharu karena Pak Jacky sangat serius membantu saya. Beliau langsung bergerak cepat." Alika mengangguk. Pandangannya tertambat kepada sebuah foto keluarga yang tergantung pada dinding papan, tidak jauh dari posisi Maman duduk. Foto itu adalah sepasang suami istri yang mengapit seorang anak balita. Maman tahu apa yang sedang diperhatikan tamunya. Ia mendongak ke arah foto. "Itu foto saya, almarhumah istri saya, dan Septi ketika masih TK. Perlu saya ambilkan?" Ezra menyahut. "Iya, Pak, jika bapak berkenan!" Alika mengerjap. Ia yakin Ezra memiliki alasan kuat kenapa ingin melihat foto tersebut dari jarak dekat. Baginya, foto itu tidak begitu banyak membantu karena usia Septi masih balita. Maman mengambil bingkai foto itu, kemudian menyerahkannya kepada Ezra. Ezra memfoto bingkai foto tersebut menggunakan ponsel. Alika membiarkannya. Ia menunggu sampai tahu apa sebabnya asistennya itu begitu bersemangat mendokumentasikannya. "Terima kasih, Pak." Ezra mengembalikan bingkai foto tersebut kepada Maman. Maman meletakkan bingkai foto tersebut ke atas meja. "Septi tidak suka berfoto. Ia berbeda dengan kebanyakan anak seusianya yang suka selfi." "Apa Septi seorang anak yang pendiam?" tanya Alika. Maman menggeleng. "Pendiam banget sih enggak, cuman dia nggak banyak bicara. Dia bisa ceriwis kepada seseorang yang menurutnya nyaman. Kalau kepada orang yang belum akrab biasanya dia bicara sekadarnya saja." Alika mengambil map dari dalam tas. Ia meletakkannya ke atas meja. "Bapak memberikan satu bendel berkas ini kepada Pak Jacky. Saya periksa isinya surat-surat lamaran pekerjaan. Bapak menemukannya di mana?" "Saya memeriksa isi lemari Septi. Selain buku-buku, saya hanya menemukan itu. Barangkali saja bisa menjadi petunjuk." "Surat-surat lamaran itu semuanya ada kesalahan pada penulisan. Apa Septi selalu menyimpan kertas-kertas yang sudah tidak terpakai?" tanya Alika. "Iya," jawab Maman. "Dia suka origami, beberapa kertas yang tidak terpakai ia jadikan mainan." Sekarang Alika paham kenapa Septi tidak membuang surat-surat lamaran yang salah tulis tersebut. "Anak bapak cukup kreatif," puji Alika. "Selain origami, Septi hobi apa saja, Pak?" "Septi suka mainan kotak...." Maman berpikir cukup lama. "Aduh, apa ya namanya?" Alika mengerjap. "Kotak apa ya, Pak?" Maman terus berpikir. Ia pernah mendengar nama kotak permainan itu, tapi sekarang lupa. "Kotaknya seperti apa?" tanya Alika. Maman garuk-garuk kepala, belum menemukan istilahnya. "Ukurannya seberapa, Pak?" tanya Alika, membantu Maman berpikir. "Kotak segini." Jari telunjuk dari tangan kanan dan kiri Maman membentuk kotak. "Warna-warni, ada putih, kuning, merah, saya lupa, apa lagi warnanya." "Kubus?" tebak Ezra. Wajah Maman langsung cerah. "Iya!" "Rubik kubus?" Ezra memastikan. "Nah, itu namanya!" Maman terkekeh senang karena akhirnya tertebak juga. Alika tersenyum. Ia kagum kepada Ezra yang cukup cepat menebak nama mainannya hanya dengan clue 'kotak' dan jenis warna-warna, padahal kotak dan kubus adalah dua bentuk yang berbeda. "Kita lanjutkan dengan beberapa pertanyaan yang harus kami ajukan ya, Pak?" ujar Alika. "Kami membutuhkan banyak informasi tentang Septi." Maman mengangguk. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN