Alika menyiapkan rekaman suara. "Pak Maman, kapan kali terakhir Septi meninggalkan rumah?"
Maman menunduk. "Septi pamitan kepada saya dua tahun lalu. Ia bilang sudah diterima kerja di Semarang. Sejujurnya saya berat melepas kepergiannya karena itu akan membuat saya sendirian di rumah. Namun melihat kesungguhannya, saya nggak sampai hati mencegahnya. Saya pikir, ia harus maju. Lagipula kalau di rumah, ia nggak bisa memegang uang banyak. Sehingga dengan berat hati saya melepasnya."
"Masih ingat waktu itu bulan apa, Pak?" tanya Alika.
"Kalau nggak November ya Desember," jawab Maman. "Yang saya ingat, Septi pergi beberapa minggu setelah dia merayakan ulang tahunnya bersama teman-temannya."
"Kapan ulang tahun Septi," tanya Alika.
"Tanggal 28 September," jawab Maman.
"Dia nggak menyebutkan akan bekerja di mana?"
"Bilangnya kerja jadi kurir makanan, itu saja. Ia nggak menyebut nama perusahaannya."
"Menjadi kurir, berarti memiliki SIM C?" selidik Alika.
"Seingat saya, Septi belum punya SIM."
Alika mengernyit. "Kok bisa keterima sebagai kurir makanan? Setahu saya biasanya perusahaan mensyaratkan pelamar harus memiliki SIM."
"Itu juga yang saya tanyakan sama Septi," timpal Maman. "Ia menjawab, katanya semua akan diurus sama perusahaan."
Alika merasakan kejanggalan. Ia curiga jangan-jangan perusahaan itu fiktif.
Ezra menatap Alika, meminta izin untuk ikut mewancarai Maman.
Alika mengerjap, sebagai tanda mengizinkan.
"Mmhh, maaf, Pak Maman," sela Ezra. "Di dalam map itu, Septi menulis lamaran kerja kepada kedua perusahaan, salah satunya adalah PT. Eraneo cabang Semarang. Apa Septi pernah membicarakan atau menyebut nama perusahaan tersebut?"
"Enggak, Septi sama sekali belum pernah menyebut nama perusahaan mana pun," jawab Maman.
Alika ingat tadi ia menyuruh Ezra untuk mencari profil PT. Eraneo. Ia penasaran apa hasilnya, tetapi ia tidak mungkin menanyakan itu kepada Ezra di hadapan orang lain.
"Tapi bapak sudah baca surat lamaran itu bukan?" tanya Ezra.
"Iya, sebelum map itu saya berikan kepada Pak Jacky, saya sudah membacanya."
"Apa bapak nggak penasaran kepada perusahaan tersebut?"
"Sangat penasaran!" jawab Maman. "Saya sampai menyewa tukang ojek untuk menemani saya mencari alamat itu. Tapi sayangnya alamat itu palsu."
Alika mengerjap kaget. Ia menoleh kepada Ezra. "Palsu?"
Ezra mengerjap sebagai kode 'iya' kepada Alika.
"Dua hari kami keliling Semarang tapi nggak menemukan perusahaan itu," beritahu Maman. "Firasat saya menjadi nggak enak. Sehingga saya melapor polisi."
"Kapan bapak melapor ke polisi?" tanya Ezra.
"Sudah lama!" jawab Maman. "Lebih dari setahun lalu."
"Ada petunjuk?" tanya Alika.
Maman menggeleng sedih.
"Memangnya sejak pamitan itu, Septi nggak penah mengirimkan kabar sama sekali?" tanya Alika.
"Pernah dua kali kirim lewat WA." Pandangan Maman menerawang jauh keluar rumah. "Pertama, waktu dia baru empat bulan bekerja. Kedua, tiga bulan setelahnya."
"Isi pesan itu masih ada?" Alika berharap.
Maman mendesah. "Mungkin masih."
Alika mengerjap. "Kok bapak nggak yakin?"
"Ngirimnya ke nomor WA Nadia."
"Nadia itu siapa?"
"Keponakan saya."
Ezra menyela. "Kenapa ngirim pesannya nggak ke nomor bapak?"
Maman menggeleng. "Saya juga nggak tahu. Apa mungkin karena ponsel saya cuman bisa buat SMS-an aja?"
"Jadi saya harus menemui Nadia kalau ingin menanyakan isi pesan itu?" tanya Alika.
"Iya," jawab Maman. "Nanti saya pertemukan Nadia dengan Dik Alika."
Alik tersenyum senang. "Rumah Nadia di mana, Pak?"
"Kalau rumahnya nggak jauh dari sini, tapi dia ngekos di Semarang."
"Masih kuliah?" tebak Alika.
"Iya, sekarang sedang menyusun skripsi."
"Bapak punya nomor telepon Nadia? Biar saya saja menemuinya."
"Ada!" Maman mengambil ponsel dari atas meja. Ia menggulir tombol down, mencari kontak Nadia. "Nah, ini dia!"
Alika memajukan kepala, lebih mendekat ke layar ponsel milik Maman. Sejurus kemudian ia melirik Ezra.
"Silakan kalau mau menyimpannya." Maman memberikan ponsel kepada Alika.
Alika meneruskan ponsel tersebut kepada Ezra. "Ez, kamu salinlah kontak Nadia ke ponsel kamu!"
Ezra mengangguk. Ia menyalin dua belas digit nomor ponsel Nadia ke ponselnya.
"Kalau kami langsung menemui Nadia nggak papa kan, Pak?" Alika mengembalikan ponsel kepada Maman.
"Ya, bolehlah!" jawab Maman. "Saya percaya penuh kepada Dik Alika dan Dik Ezra."
"Terima kasih, Pak Maman, atas kepercayaan bapak," ucap Alika. Ia melirik arloji. "Kalau begitu kami pamit dulu."
Maman menepuk jidat. "Ya ampun, sampai lupa nggak bikin minuman."
Alika tersenyum. "Nggak usah, Pak, terima kasih. Sebentar lagi maghrib, jadi kami harus pulang."
Maman mengangguk sambil menahan rasa penyesalan karena lupa menyuguhkan hidangan kepada kedua tamunya.
***
Pulang dari rumah Maman, Alika gantian menyetir. Dalam hati, Ezra khawatir kalau itu disebabkan karena tadi waktu berangkat ia salah prosedur dalam menjalankan mobil. Jika benar begitu, maka ia akan kehilangan satu kepercayaan Alika.
Ezra ingin menanyakan itu agar hatinya tenang, namun setiap kali akan melakukannya, lidahnya terasa kelu.
"Kamu mikir apa melamun?" Alika bertanya dengan tetap fokus mengarahkan pandangan ke depan.
"Mikir, Kak!"
"Soal penyelidikan?"
"Enggak sih, tapi ada kaitannya."
Alika terkekeh. "Kok bisa gitu ya?"
"Ya, memang begitu!"
Alika menepikan mobil, lalu berhenti. Dipandanginya Ezra. "Karena ada kaitannya dengan penyelidikan, maka aku harus menanyakannya."
Ezra terkekeh, merasa tidak enak hati kalau harus mengatakannya. "Sebenarnya nggak begitu penting sih, Kak."
Alika menghunus tatapan tajam. "Penting atau enggak, selama berkaitan dengan tugasmu sebagai asistenku, maka aku harus tahu dan kamu tidak boleh menyembunyikannya padaku sedikit pun."
Ezra menjadi semakin tidak enak hati. "Memang ada kaitannya sama penyelidikan tapi sebenarnya ini masalahku sendiri."
Tatapan tajam Alika membuat Ezra tidak berani mengelak.
"Baiklah!" Ezra mendesah pasrah.
Alika terus menatap Ezra, nyaris tidak berkedip. "Jangan biarkan aku menunggu lama!"
Ezra cengar-cengir. "Tadi pas mau berangkat, aku melakukan kesalahan, seharusnya aku melepas rem tangan ketika akan menginjak pedal gas."
"Lalu?"
"Apa karena itu Kak Alika tidak menyuruhku menyetir lagi?" Lega rasanya hati Ezra setelah mengungkapkannya.
Alika menarik napas panjang. "Bagus kalau kamu merasa!"
"Jadi benar?" Ezra memastikan.
Alika menatap Ezra lekat-lekat. "Ezra, jangan membuang banyak kata untuk mengulangi sesuatu yang tidak perlu, paham!"
Ezra mengangguk. "Iya, Kak."
Alika sebenarnya tidak mempermasalahkan kesalahan prosedur menyetir Ezra tadi waktu mau berangkat. Meskipun kesalahan itu bisa berakibat fatal, namun ia bisa memakluminya karena bisa saja Ezra gugup, sehingga tidak bisa fokus. Namun, ia bersikap tegas, sekadar menggembleng asistennya tersebut.
"Mumpung kita berhenti, aku mau tanya!" ujar Alika. "Sudah dapat profil PT. Eraneo?"
"Belum, Kak. Di mesin pencari nggak ada perusahaan bernama Eraneo. Sepertinya itu perusahaan fiktif."
"Coba cari sekali lagi secara teliti. Setelah itu kamu siapkan analisamu karena aku akan menanyakannya besok."
"Iya, Kak."
Alika mengambil lima lembar uang pecahan seratus ribuan. Ia menyerahkannya kepada Ezra.
Tentu saja Ezra bingung. "Apa ini, Kak?"
"Besok kamu nggak usah ke kantor. Kamu langsung saja temui Nadia. Gali informasi sebanyak-banyaknya tentang Septi, termasuk isi dua pesan yang pernah dikirimkan Septi."
Ezra menatap uang di tangannya bingung. "Uang ini buat apa?"
"Kamu butuh BBM!"
"Ya tapi kalau cuman ke kosan Nadia, uang bensin segini kebanyakan!"
Alika mendengus. "Kamu nggak cuman butuh bahan bakar minyak saja tapi juga bahan bakar mulut, alias makan!"
"Bensin sama buat makan seratus ribu saja cukup." Ezra mengembalikan empat lembar kepada Alika.
Alika menolak kembalian uang dari Ezra. "Kamu nggak mau ngajak makan Nadia juga?"
Ezra bingung, kenapa dia harus mengajak Nadia makan segala? Dalam benaknya, ia hanya perlu menemui gadis itu, meminta informasi, terus pulang.
"Kupikir kamu cerdas!" keluh Alika. "Begitu saja nggak tahu!"
Ezra garuk-garuk kepala. "Oke, kalau begitu."
"Kamu akan menyamar atau terang-terangan mengaku sebagai tim detektif?" tanya Alika menguji Ezra. "Berikan alasannya!"
"Menyamar, Kak, karena meskipun Nadia adalah sepupu Septi, tapi segala kemungkinan bisa terjadi, misalnya Nadia terlibat dalam hilangnya Septi. Sehingga lebih aman kalau aku enggak menunjukkan identitas asli." Ezra berkata mantap.
Alika belum puas. Ia masih harus menguji Ezra lebih jauh. "Tapi Pak Maman bisa saja sudah memberitahu Nadia kalau kita adalah detektif yang akan menemuinya."
"Iya memang, tapi Nadia belum tahu identitas kita. Pak Maman mungkin menyebutkan nama kita tapi dia nggak punya foto kita. Intinya masih aman buat menyamar."
"Jangan terlalu percaya diri!"
"Aku pikir itu bukan terlalu percaya diri, tapi memang kita membutuhkan kepercayaan dari dalam diri sendiri."
"Oke!" Alika mengerjap. "Lalu apa rencanamu?"
"Aku akan mengaku sebagai teman sekolah Septi, lalu bikin janji ketemuan sama Nadia untuk membahas itu," ujar Ezra.
Alika mengangguk-angguk. "Rencana yang lumayan bagus buat pemula sepertimu."
"Terima kasih, Kak."
"Alat apa yang kamu butuhkan?" Alika membuaka laci dasbor.
Ezra mengambil dua buah spy camera. "Sementara ini saja dulu."
Alika menutup kembali laci dasbor. "Kamu nggak butuh kendaraan?"
"Sepeda motor saja cukup, Kak."
"Oke!" Alika kembali menyalakan mesin mobil. "Kamu mau pakai sepeda motor butut kamu?"
"Yang penting bisa sampai kosan Nadia," dalih Ezra.
Alika terkekeh. "Kalau aku jadi Nadia, aku akan menolak jalan sama kamu. Ngapain bonceng motor butut sama orang nggak dikenal?"
"Kalau aku pakai mobil, memangnya Nadia akan mau?"
"Belum tentu juga, tapi itu akan menjadi salah satu senjata andalan buat meyakinkan Nadia."
"Nadia belum tentu matre."
"Yang bilang Nadia matre itu siapa?" Alika balik bertanya. "Ini tentang daya tarik. Posisimu adalah mengajak, sehingga harus bisa meyakinkan orang yang kamu ajak."
Ezra mengangguk. "Oke, paham, Kak."
"Jadi besok kamu mau pakai kendaraan apa?"
Ezra diam, berpikir untuk menyewa motor atau mobil.
"Jangan menyewa!" saran Alika seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Ezra. "Kebanyakan biaya!"
"Jadi aku harus gimana?"
"Pikirkanlah!" Alika menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Ezra terus berpikir bagaimana caranya mendapatkan mobil tanpa menyewa. Tidak ada kenalan yang bisa ia pinjam mobilnya secara gratis.
Begitu seriusnya Ezra berpikir, sampai ia baru menyadari kalau mobil sudah sampai di depan rumah Alika.
"Buat apa kamu memfoto Septi yang masih balita?" tanya Alika penasaran.
"Aku cuman mau memastikan Septi nggak punya tahi lalat di wajah."
"Memangnya ada yang mengatakan kalau Septi punya tahi lalat?"
"Nggak ada sih, cuman gara-gara Pak Jacky mengujiku dengan berpendapat bahwa Septi punya tahi lalat, itu membuatku harus memastikannya."
Alika terkekeh. "Iya, iya, iya. Pak Jacky pasti akan menanyakannya lagi."
Ezra tersenyum puas.
Alika menepuk bahu Ezra. "Bawa pulang mobil ini! Kamu membutuhkannya besok buat mengajak Nadia jalan."
Ezra kaget sekaligus senang.