Janji Ketemuan

1267 Kata
Intensitas gerimis cukup rapat. Hantamannnya pada asbes membuat kamar Ezra serasa sedang dihujani mortir. Ezra sudah terbiasa dengan fenomena seperti itu, terutama di musim penghujan seperti sekarang ini. Itu baru permulaan. Ketika hujan turun, ia harus menyiapkan setidak enam ember untuk menadah kebocoran air. Sebagai anak orang miskin yang tinggal di sebuah rumah yang atapnya sudah lapuk, membuatnya tidak lagi mengeluh. Ia bersyukur karena di luar sana masih banyak orang yang tidak memiliki tempat tinggal. Sebagai anak lelaki tertua, Ezra harus bisa menambal kebocoran atap, mengganti kayu yang lapuk, dan pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya dilakukan ahlinya. Ia melakukannya sendiri untuk menghemat pengeluaran. Jika semua serba dikerjakan tukang, gajinya bisa habis. Kemiskinan membuatnya mandiri. Bahkan kadang ada tetangga yang meminta tolong padanya untuk membetulkan masalah rumah, mulai dari kebocoran atap, saluran mampat, sampai merenovasi dinding. Seperti tadi sehabis maghrib, seorang tetangga meminta tolong padanya untuk membetulkan talang saluran air yang dipenuhi daun-daunan. Ia sebenarnya cukup lelah, apalagi waktunya sudah gelap, tetapi mengingat cuaca sedang mendung sehingga ia khawatir rumah tetangganya akan mengalami kebocoran jika nanti hujan turun. Maka itu, ia tidak tega untuk menolaknya. Pekerjaan itu sebenarnya ringan. Ezra hanya perlu menaiki anak tangga. Dibersihkannya talang saluran air menggunakan sapu, kemudian turun. Namun karena itu dilakukan pada malam hari dalam keadaan lelah dan lapar, sehingga membuatnya harus berhati-hati. Pemilik rumah memberi Ezra uang yang lumayan banyak, tapi ia menolaknya. Ia ikhlas membantu, sama sekali tidak mengharap imbalan. Ia pun pulang ke rumah, mengeringkan keringat, kemudian mandi. Selepas mandi, ia dikagetkan dengan banyaknya makanan enak di atas meja. Ibunya bilang, tetangga sebelah yang mengiriminya. Ia memakannya dengan lahap, karena jarang sekali ibunya memasak menu semewah itu. Selepas makan, Ezra baru sadar kalau sekarang sudah jam sembilan. Ia pun menjadi galau karena tadi rencananya sekitar jam tujuh ia akan mengirim chat kepada Nadia. Jika mengirimkannya sekarang, ia khawatir itu dianggap tidak etis karena sudah cukup malam. Apalagi Nadia katanya sedang sibuk menyusun skripsi, sehingga ia berpikir itu akan mengganggu gadis itu. Namun jika Ezra tidak mengirim chat sekarang, ia akan kesulitan untuk mengajak ketemuan. 'Apa besok pagi saja ya?' gumamnya mempertimbangkan. Namun ia berpikir itu terlalu mendadak, bisa saja Nadia keburu ada janji dengan orang lain atau ada kegiatan kampus. Intensitas Gerimis semakin rapat. Bunyinya semakin berisik. Ezra pun semakin gelisah. Ponsel Ezra berdering. Alika meneleponnya. Ezra menjawab panggilan sambil rebahan. "Halo, Kak!" "Ez, kamu sudah janji ketemuan belum dengan Nadia?" tanya Alika setengah berteriak karena terganggu berisik bunyi atap. "Belum, Kak, ini baru mau chat dia." "Hah, apa?" Alika tidak bisa mendengar dengan jelas suara Ezra. "Berisik banget sih! Suara kamu nggak jelas." "Iya, Kak, memang begini kalau lagi hujan, berisik." "Nggak jelas!" Ezra bangkit dari rebahan. Ia bingung harus pindah ke mana yang tidak berisik. Seluruh atap rumahnya terbuat dari asbes, sehingga semua ruangan di dalam rumahnya sama berisiknya. "Kamu lagi di mana sih, berisik banget!" keluh Alika. "Di rumah, Kak." "Chat aja!" Panggilan telepon berakhir. Kurang dari satu menit, sebuah notifikasi WA masuk. Alika: Sudah janji ketemuan sama Nadia belum? Ezra: Ini mau chat dia, Kak. Alika: Astaga, kirain sudah. Ezra: Hehehe. Ezra: Btw, chat jam segini masih etis nggak ya, Kak? Alika: Etis! Buruan chat dia! Ezra: Iya, Kak. Alika menutup chat dengan sebuah emoji marah. Ezra merasa bersalah karena ia belum melaksanakan tugasnya untuk menghubungi Nadia. Ia tidak mungkin menyalahkan tetangga yang menyuruhnya membersihkan talang saluran air. Alika tidak mau menerima alasan apa pun. Maka meskipun merasa ragu, Ezra beranikan diri mengirim pesan WA kepada Nadia. Setelah ketik-hapus selama beberapa kali, akhirnya Ezra mengirimkan chat: Hai, Nadia. Aku Dika dari Semarang, temannya Septi. Boleh aku bertanya sesuatu tentang Septi? Info yang aku dapat dari Pak Maman, katanya kamu cukup dekat dengannya. Mohon maaf kalau chat ini mengganggumu. Ezra sengaja memperkenalkan diri dengan nama 'Dika' yang merupakan nama belakangnya: Ezra Ardika. Cukup lama chat itu belum terbaca. Ezra memeriksa last seen Nadia. Gadis itu terakhir kali online setengah jam lalu. 'Mungkin Nadia masih sibuk,' pikir Ezra. 'Atau mungkin sudah tidur?' Hujan turun dengan deras. Bunyi atap rumah semakin berisik. Perasaan Ezra semakin gelisah. Jika sampai besok Nadia belum membalas chat-nya, itu akan merepotkannya. Setelah menunggu lebih dari satu jam, akhirnya chat Ezra terbaca. Sayangnya Nadia tidak membalasnya, padahal Ezra perhatikan gadis itu masih online. Pukul 22:19 wib. Hujan mulai reda, menyisakan tetes gerimis yang instensitasnya mulai berkurang. Nadia belum juga membalas chat Ezra. Ezra mulai mengantuk, tapi ia tidak bisa tidur sebelum mendapat balasan dari Nadia. Baru saja Ezra akan menarik selimut ketika sebuah notifikasi baru saja masuk. Ia segera membuka layar, berharap itu pesan dari Nadia. Namun ternyata pesan dari Alika: Gimana, sudah janji ketemuan sama Nadia belum? Ezra mendengus panjang. Ia merasa tidak enak hati kalau menjawab jujur. Namun ia tidak pernah bisa membohongi Alika. Dengan menanggung perasaan bersalah, Ezra mengetik kalimat: Maaf, Kak, belum ada respon dari Nadia. Sambil memejamkan mata ia bersiap mengirimkan chat tersebut. Beberapa milimeter sebelum jempolnya menekan tombol kirim, sebuah notifikasi masuk. Ia pun mengurungkan untuk mengirimkan chat tersebut. Ezra mengetuk notifikasi. Dalam hati ia bersorak gembira ketika ternyata Nadia membalas chatnya: Dika mana ya? Perasaan Septi nggak punya temen bernama Dika deh. Sesuai rencana tadinya Ezra ingin mengaku sebagai temen sekolah Septi, tapi mempertimbangkan bahwa bisa saja Septi tidak memiliki teman sekolah bernama Dika, maka Ezra harus mengarang lagi. Selain itu, Ezra juga tidak tahu Septi sekolah di mana. Ia juga tidak paham karakternya. Ia takut itu menjadi bumerang dan penyamarannya akan terbongkar. Tiba-tiba sebuah ide mendarat di benak Ezra. Ia mengirim chat balasan: Aku temen online Septi. Sudah dua tahun dia nggak ada kabar. Nadia langsung membalas, sehingga terjadilah percakapan serius. Nadia: Kamu kenal Pak Maman? Ezra: Baru pernah sekali menemui beliau di rumahnya. Nadia: Tahu rumah Pak Maman dari mana? Ezra: Septi pernah memberi alamatnya. Nadia: Terus kenapa malah tanya sama aku? Kenapa nggak langsung tanya sama Pak Maman saja? Ezra: Pak Maman tidak tahu keberadaan Septi. Beliau bilang kalau Septi pernah mengirim chat sama kamu. Nadia: Terus mau kamu apa? Ezra: jika kamu berkenan, aku ingin bertemu sama kamu, membahas soal Septi. Waktu dan tempatnya aku ikut saja. Nadia cukup lama tidak membalas chat. Itu membuat Ezra bingung harus bagaimana. Yang ia lakukan hanyalah menunggu sampai Nadia membalasnya. Malam semakin merayap. Ezra gelisah. Ingin sekali ia menelepon Nadia, atau kembali mengirim chat kepada gadis itu untuk meminta kepastian, namun jempolnya terasa kaku dan enggan digerakkan. Pukul 22:41 wib. Ezra semakin gelisah. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak terbiasa chat dengan orang yang baru dikenalnya lewat online. Ponsel Ezra berdering. Ia mendengus karena mengira Alika yang meneleponnya, namun ketika melirik layar, ia terlonjak girang karena ternyata Nadia yang menelepon. Dengan semangat menyala, Ezra menjawab panggilan telepon tersebut. "Hai, Nadia!" sapa Ezra. "Maaf aku mengganggumu." Terdengar desahan lembut Nadia. "Nama kamu Dika?" "Iya." "Seberapa penting informasi tentang Alika, sehingga kamu mengajakku ketemuan?" "Penting buat Pak Maman juga karena aku sudah bersedia membantu beliau buat menemukan keberadaan Septi," jawab Ezra jujur. "Penting buatmu juga?" "Iya, karena aku harus konsekuen dengan ucapanku kepada Pak Maman buat membantu beliau." Nadia mendesah. "Oke, aku bersedia. Besok jam sembilan pagi kamu datanglah ke kosan. Nanti aku share loc." Kepalan tangan Ezra teracung di udara, sambil dalam hati berteriak 'yess!'. Oke, aku tunggu share loc-nya. Makasih ya, Nad?" "Iya." Selepas teleponan dengan Nadia, Ezra melempar ponsel ke udara, hingga jatuh menghempas ke bantal. Ia senang sekali karena sudah berhasil melaksanakan tugas malam ini dengan baik, meskipun sedikit terlambat. Ezra mengambil ponsel. Ia membuka profil akun WA Nadia. Ia berharap gambar profilnya asli foto Nadia, agar hafal wajahnya sehiingga akan memudahkannya dalam menemukan gadis itu besok. Namun ternyata gambar profilnya hanya sebuah foto kucing imut. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN