Sesuai perintah Alika, Ezra mendatangi kosan Nadia menggunakan mobil. Tujuannya sebagai daya tarik agar Nadia mau diajak jalan untuk membahas soal Septi. Namun ternyata mobil tersebut tidak banyak memberi manfaat karena Nadia lebih memilih bertemu di teras kosan. Mahasiswa tingkat skripsi itu tidak bersedia diajak keluar.
Ezra bahkan harus memarkirkan mobil itu di dekat lapangan karena akses menuju kosan Nadia sempit. Ia harus japan kaki sejauh ratusan meter untuk mencapainya.
Teras kosan Nadia cukup sempit, hanya ada dua kursi yang dipisahkan sebuah meja. Ezra duduk, menunggu tuan rumah keluar menemuinya.
Seorang gadis berhijab berdiri di dekat Ezra. "Dika?"
Ezra mengangguk ramah. "Iya, aku Dika."
Nadia duduk di kursi satunya. "Maaf, waktuku nggak banyak. Jam sepuluh nanti aku harus menemui dosen pembimbing."
Ezra mengangguk sebagai tanda memahami. "Iya, sebelummya terima kasih kamu bersedia menemuiku."
Nadia mengerjap. "Jadi apa yang bisa kubantu?"
Ezra senang karena Nadia langsung menanyakan pokok bahasan, sehingga ia tidak perlu berbasa-basi. Situasi ini sangat cocok dengan dirinya yang lugas dan tidak suka bertele-tele.
Sebelumnya Ezra membayangkan betapa rumitnya harus mengajak Nadia ke sebuah kafe, memesan menu, lalu berbasa-basi, hanya untuk menanyakan sebuah pesan.
"Pak Maman bilang kalau Septi pernah mengirimimu dua pesan WA. Boleh aku membaca pesannya?"
Nadia mengacungkan ponsel yang sejak tadi digenggamnya. "Sebenarnya kamu nggak harus repot-repot datang ke sini cuman buat ingin melihat pesan itu karena kamu bisa meminta aku meneruskannya ke nomor WA kamu."
"Aku pikir, kurang etis kalau aku langsung begitu karena kita belum kenal," dalih Ezra.
Nadia mengerjap. "Jadi kamu ingin kenalan dulu?"
Ezra sedikit kaget mendengar pertanyaan Nadia dengan nada ketus. Buru-buru ia meluruskan. "Maksudku karena ini menyangkut sesuatu yang serius, maka aku perlu menunjukkan keseriusan dengan menampakkan diri, bukan hanya sekadar lewat online."
"Oke!" potong Nadia ketus. Ia mengusap layar ponsel, lalu meneruskan pesan Septi kepada Ezra. "Sudah aku forward pesannya!"
Ezra membuka pesan dari Nadia. Serta merta ia mengernyit melihat kedua pesan tersebut yang berisi kode.
Pesan pertama:
3x3x3. Layer putih r f l r f l r l l r f r r u r l f l f r l f r. Layer kuning.
Pesan kedua:
3x3x3. Layer kuning. f u l r l r. Layer biru.
"Aku nggak paham apa maksud Septi mengirimkan pesan itu," ujar Nadia. "Tadinya kupikir salah ketik, atau layarnya tidak sengaja kesentuh lalu terkirim, maka aku coba menanyakannya, tapi balasanku centang satu hingga saat ini."
"Kalau nggak sengaja kesentuh, aku pikir nggak mungkin bisa mengetik 'layer putih', 'layer kuning', dan spasinya rapi per huru," analisa Ezra.
Nadia mengangguk sepakat. "Aku juga berpikir begitu."
"Kedua pesan itu dikirim bersamaan atau ada jeda waktu pengiriman?"
Nadia memeriksa ponselnya. "Pesan pertama dikirim tanggal 12 April 2020, pukul 17:23 wib. Pesan kedua dikirim tanggal 17 Juli 2020, pukul 08:11 wib. Keduanya menggunakan nomor yang berbeda."
"Cukup lama juga ya?" ujar Ezra. "Untung kamu masih menyimpannya sampai sekarang."
"Aku nggak menghapusnya karena kupikir suatu saat akan berguna," timpal Nadia. "Pesan-pesan itu pernah aku tunjukan kepada penyidik."
"Jadi Pak Maman melaor kepada polisi?" tanya Ezra.
"Iya," jawab Nadia. "Dua hari setelah mendapat pesan kedua, Pak Maman melapor ke polisi. Nadia dianggap hilang karena lebih dari setengah tahun tidak ada kabarnya. Sekalinya mengirimkan pesan isinya aneh."
"Kamu paham isi pesan itu?"
"Enggak."
"Lalu sejauh mana perkembangan kasus yang pernah dilaporkan ke polisi itu?"
Nadia menggeleng. "Aku nggak tahu. Pak Maman nggak pernah menceritakannya padaku. Apalagi aku jarang pulang kampung."
Ezra membaca kembali kedua pesan itu. Otaknya bekerja keras, mencoba memahami isi pesan tersebut.
"Sudah hampir dua tahun, Septi pergi dari rumah," ujar Nadia sedih.
"Aku turut prihatin." Ezra menunjukkan ekspresi simpati. "Oh iya, kamu ingat kapan Septi meninggalkan rumah?"
Pandangan Nadia menerawang langit. Ia mencoba mengingat-ingat sesuatu.
Ezra memberi kesempatan Nadia mengingat-ingat kejadian itu.
"Aku sedang ikut seminar di kampus ketika Septi memberitahu akan mengunjungiku di kosan," kenang Nadia. "Waktu itu ia ngasih tahu akan bekerja di Semarang. Ia bilang setelah menemui manajer tempatnya bekerja, akan mampir ke kosanku. Katanya kantornya nggak jauh dari mes karyawan yang akan ditempatinya."
"Septi jadi mampir?"
Nadia menggeleng. "Nggak pernah, bahkan sejak hari itu nomor ponselnya nggak pernah aktif lagi."
"Kamu masih ingat tanggal berapa waktu itu?"
"Aku nggak ingat, tapi sebentar...." Nadia bangkit dari tempat duduk. Ia masuk ke kamarnya.
Tidak berselang lama kemudian, Nadia kembali ke teras. Ia menunjukkan sebuah selembaran kepada Ezra.
Ezra menerima selebaran dari Nadia yang berisi sebuah pemberitahuan acara seminar dua tahun lalu. Ia membacanya dan fokus pada tanggal diadakannya acara tersebut.
"Acara seminar itu diselenggarakan pada hari Sabtu, tanggal 7 Desember 2019, bertepatan pada hari di mana Septi memberitahuku akan ke Semarang untuk bekerja dan tinggal di sebuah mes," kenang Nadia.
"Hampir dua tahun," desah Ezra. Ia memfoto selebaran tersebut menggunakan kamera ponsel.
Nadia membetulkan posisi duduk. Ia menatap lekat-lekat Ezra. "Jadi nama kamu Dika ya?"
Ezra mengangguk. Ia bisa menangkap sorot kecurigaan pada tatapan Nadia. "Iya."
Nadia mengernyit. "Kamu teman online Septi?"
Ezra diam. Ia tidak terbiasa berbohong.
Tatapan Nadia penuh selidiik. "Sejak kapan kenal Septi?"
Ezra menjadi tidak enak hati karena telah berbohong.
"Di dunia nyata, Septi nggak mudah mengenal orang lain. Ia hanya nyaman kepada orang tertentu saja," beritahu Nadia. "Sementara di dunia maya, ia punya banyak teman online. Ia bukan anak pemalu atau tertutup, hanya saja ia selalu canggung untuk memulai pembicaraan tatap muka."
Ezra mengangguk paham.
Nadia mengerjap. "Jadi kamu salah satu teman online Septi?"
Ezra menunduk, merasa bersalah karena harus berbohong demi penyelidikan.
"Maaf kalau aku kepo," ujar Nadia.
Ezra menoleh kepada Nadia. Ia merasa perlu untuk mengakui identitas yang sebenarnya. "Maaf ya, Nad, sebenarnya aku bukan teman online Septi."
Nadia mematung, menatap Ezra nyaris tanpa berkedip.
"Saya tidak berniat untuk membohongi kamu. Ini tuntutan pekerjaan." Ezra merasa bersalah. "Iya, memang tidak ada satu alasan pun yang memperbolehkan kita untuk berbohong. Sekali lagi, aku minta maaf."
Nadia mengerjap, mengatupkan bibir, lalu menyandarkan punggung pada kursi. Ia bersedekap sambil terus menatap Ezra. "Dika juga bukan nama kamu?"
"Dika itu nama belakangku." Ezra menegaskan. "Nama lengkapku Ezra Ardika."
Nadia bersedekap. Ia memajukan badannya. "Jika kamu bukan teman Septi, lalu buat apa kamu bertanya tentangnya?"
Ezra menarik napas dalam-dalam. "Aku bagian dari tim detektif yang diberi kuasa sama Pak Maman untuk menemukan keberadaan Septi."
Nadia tersenyum. Tatapannya kepada Ezra tidak setajam tadi. "Jadi aku panggil kamu Dika apa Ezra?"
"Dika boleh, tapi kebanyakan orang memanggilku Ezra."
Nadia menyilangkan kaki. "Aku menghargai keterusteranganmu. Sebenarnya tanpa kamu mengakuinya, aku tidak akan memaksamu untuk jujur."
Ezra kaget. "Jadi kamu tahu kalau aku bukan teman Septi?"
Alih-alih menjawab, Nadia terkekeh. "Semalan aku menelepon Pak Maman. Aku bertanya kepada beliau, apa benar ada orang bernama Dika menemuinya?"
Ezra tersenyum geli. Ia merasa dirinya bodoh yang tidak berpikir kalau Nadia bisa mengonfirmasikannya kepada Pak Maman.
"Pak Maman kaget. Lalu beliau menjelaskan kalau sore itu ada dua detektif mengunjunginya, satu bernama Alika dan satunya bernama Ezra," beritahu Nadia. "Itu membuatku penasaran, makanya setelah itu aku menyampaikan padamu kalau aku bersedia ditemui."
Ezra terkekeh malu.
"Kamu masih muda tapi sudah jadi detektif," ujar Nadia.
"Ini kasus pertamaku," beritahu Ezra. "Aku juga hanya asisten detektif."
"Oh iya?" Nadia mengangguk-angguk. "Pantas saja kamu terlihat kaku. Maaf aku terlalu terus terang. Bukan maksudku untuk meremehkanmu."
Ezra mengangguk. "Iya, kamu benar. Aku masih kaku dan sedikit gugup."
"Tapi tidak buruk sih untuk kasus pertama." Nadia mengedikkan bahu. "Aku salut sama kamu malahan."
"Salut kenapa?"
"Kenapa ya?" Nadia berpikir, mencari kata yang pas untuk menjawab. "Mmhh, mungkin karena profesi itu masih sangat jarang. Ini kali pertama aku bertemu detektif lho."
"Seriusan?"
Nadia mengangguk.
Ezra tersenyum. Ia merasakan sikap Nadia berubah lebih 'bersahabat' ketimbang sebelum-sebelumnya yang tampak ketus dan sedikit formal. Ia menduga barangkali itu karena ia berterus terang dan meminta maaf.
"Aku akan bantu sebisanya," ujar Nadia. Tiba-tiba matanya terlihat sayu. "Aku juga kangen sama Septi. Kami cukup akrab, bukan hanya karena kami sepupuan tapi juga karena bisa saling memahami satu sama lain."
"Terima kasih, Nad," ucap Ezra. "Aku membutuhkan banyak informasi tentang Septi yang barangkali belum diketahui Pak Maman."
Nadia memajukan kepala. "Apa yang ingin kamu ketahui tentang Septi?"
"Apa saja yang sekiranya bisa menjadi petunjuk buatku mencari keberadaannya," jawab Ezra. "Septi itu berhijab apa nggak?"
"Enggak."
"Kamu punya fotonya?"
Nadia menggeleng. "Septi nggak permah mau difoto. Bahkan pada perayaan kelulusan SMA saja ia nggak mau foto bareng."
"Gadis yang unik!" celetuk Ezra.
"Ya begitulah," timpal Nadia. "Aku sering tanya sama Septi kenapa ia nggak pernah mau difoto."
"Terus apa jawabannya?"
Nadia memiringkan kepala, mengingat-ingat sesuatu. "Alasannya beragam sih, katanya malulah, nggak pede sama dandanannyalah, tapi aku menduga ia nggak mau difoto dalam keadaan nggak berhijab!"
Ezra mengerjap. "Kenapa?"
"Septi pernah mengikuti sebuah pengajian. Waktu itu penceramahnya bilang kalau seorang perempuan mengumbar foto di media sosial tanpa menutup aurat, itu akan menjadi dosa jariyah selama foto itu dilihat orang."
Ezra tercenung. "Jadi karena itu Septi nggak mau difoto?"
"Itu dugaanku saja sih!"
"Jika begitu kenapa Septi nggak berhijab saja?"
Nadia mendesah tertahan. "Septi merasa belum siap."
Ezra mengangguk paham. "Septi punya tahi lalat di wajah?"
"Kalau di wajah setahuku nggak ada."
Ezra teringat sesuatu. "Setahu kamu, Septi punya SIM?"
Nadia menggeleng. "Belum."
"Tapi bisa saja Septi sudah bikin SIM tanpa sepengetahuan kamu kan?"
Nadia menggeleng tegas. "Septi selalu cerita sama aku. Ia mau beli bandana saja minta pendapatku, apalagi bikin SIM."
"Ia selalu cerita sama kamu kan?" tanya Ezra memastikan. "Kalau begitu, apa ia pernah mengatakan sama kamu, ia akan bekerja pada perusahaan apa?"
"Septi cuman bilang ia diterima kerja sebagai kurir makanan di daerah Semarang. Nama perusahaannya nggak ia sebut," ujar Nadia. "Coba saja kamu tanya Pak Maman. Beliau pernah mencari alamat sebuah perusahaan yang diduga menjadi tempat Septi bekerja."
"Pak Maman sudah cerita soal itu," timpal Ezra. "Nama perusahaannya PT. Eraneo cabang Semarang, tapi setelah ditelusuri, ternyata alamat itu palsu. Beliau menduga nama perusahaan itu fiktif."
Nadia menatap Ezra nanar. Wajahnya menjadi sedih. "Itu yang aku khawatirkan. Aku sering mendengar berita tentang human trafficking. Kebanyakan korbannya diperalat, disekap, bahkan sebagian besar tidak bisa pulang ke rumah."
"Semoga saja tidak!" ucap Ezra. "Kita doakan saja semoga Septi segera ditemukan."
Nadia menggigit bibirnya sendiri. Matanya sembab.
"Kami akan berusaha memecahkan kasus ini," hibur Ezra. "Karena itulah kami sangat membutuhkan bantuanmu. Jadi, setelah ini, mungkin kami akan menghubungimu lagi."
Nadia mengangguk. Ia menyeka air mata yang belum sempat jatuh. Buru-buru ia tersenyum sambil melirik arloji pada pergelangan tangannya.
"Terima kasih atas informasinya ya, Nad? Pertemuan ini cukup membantu," ucap Ezra. "Sebentar lagi kamu mau ada keperluan bukan?"
Nadia mengangguk.