Ezra menyalin kedua pesan Septi yang dikirimkan kepada Nadia. Kesimpulan awal, isi kedua pesan tersebut adalah sebuah kode. Pertanyaan pertama yang mendarat dalam benak Ezra adalah apa motif Septi mengirimkan pesan berupa kode, kenapa bukan kalimat yang bisa dipahami penerima pesan?
Dalam buku catatannya, Ezra menulis dua kemungkinan motif Septi mengirimkan pesan berupa kode-kode tersebut, pertama adalah hanya iseng semata, kedua adalah gadis itu tidak ingin sembarangan orang bisa menangkap maksud pesan tersebut.
Menurut Ezra, kemungkinan pertama kurang logis. Kalau niat Septi hanya iseng, main-main, atau seru-seruan, seharusnya gadis itu menjelaskannya. Sebuah permainan atau seru-seruan pasti akan anti klimaks jika ujungnya ambigu. Keseruannya tidak akan didapatkan. Atas pertimbangan itulah, Ezra mencoret kemungkinan tersebut.
Kemungkinan kedua, menurut Ezra sangat logis. Septi ingin menyampaikan pesan kepada Nadia tapi ia tidak mau sembarangan orang bisa menangkap maksudnya, sehingga ia menuliskannya dalam bentuk kode. Masalahnya adalah, Nadia yang dikirimi pesan justru tidak paham apa maksudnya.
Lazimnya sebuah kode akan dikirimkan kepada orang yang sudah dipastikan paham atas kode-kode tersebut, jika tidak, maka akan sia-sia. Begitu menurut logika Ezra, Lalu kenapa Septi mengirimkan kode kepada orang yang tidak bisa menangkapnya?
Nadia mengaku, di antara dirinya dan Septi sangat dekat dan bisa memahami satu sama lain, sehingga dalam pemikiran Ezra, Septi pasti tahu banyak hal tentang Nadia. Jika demikian, maka kemungkinan besar, Septi tahu kalau Nadia tidak memahami kode yang dikirimkannya. Tapi kenapa Septi tetap mengirimkannya? Pertanyaan itu membuat Ezra pusing.
Untuk memastikan bahwa Nadia memang benar tidak mengetahui kode tersebut, Ezra menelepon gadis itu.
"Halo, Nad!" sapa Ezra.
"Iya, ada apa, Detektif?" Nadia terkekeh pelan.
Ezra ikut terkekeh geli, mendengar Nadia menyebutnya detektif. "Aku mau tanya soal isi pesan Septi. Aku ganggu kamu enggak?"
"Enggak sih," jawab Nadia. "Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Kamu beneran nggak paham maksud pesan itu?"
"Enggak," jawab Nadia tegas. "Aku kan sudah bilang sama kamu."
"Itulah yang membuatku penasaran."
"Penasaran?"
"Iya, apa motif Septi mengirimkan pesan begituan kalau ia tahu kamu nggak paham maksudnya?'
"Itulah yang bikin aku bingung."
"Nggak mungkin kan kalau Septi mengirim kode itu buat seru-seruan saja?"
"Enggak mungkin!" jawab Nadia tegas. "Septi orangnya agak serius."
Ezra menjadi semakin yakin kalau Septi memang tidak ingin pesan itu diketahui sembarang orang. "Kalau kamu nggak tahu, terus sebenarnya kode itu ditujukan buat siapa?"
"Aku nggak tahu. Nggak mungkin juga Septi mengharap bapaknya bisa memahami kode itu," ujar Nadia.
"Menurutmu, apa mungkin kalau pesan itu sebenarnya ditujukan kepada polisi?" tanya Ezra.
"Bisa jadi!" timpal Nadia. "Tapi kenapa Septi nggak menceritakan dengan kalimat yang bisa dipahami saja?"
"Mungkin Septi takut pesannya akan dibaca orang tertentu, makanya ia menuliskannya dalam bentuk kode," duga Ezra.
"Tapi kalau itu ditujukan kepada polisi kayaknya nggak mungkin. Kode itu aneh dan kayaknya cuman Septi saja yang tahu," argumen Nadia.
"Atau mungkin Septi yakin akan ada orang yang bisa menangkap kode-kode itu?"
"Detektif seperti kamu misalnya?" Nadia terkekeh.
"Aku juga belum bisa memecahkan kode-kode itu," keluh Ezra.
"Aku sangat berharap kamu bisa memecahkannya!"
"Sedang aku coba, Nad."
"Semoga berhasil ya?"
"Makasih, Nad."
"Okey."
Selepas menelepon Nadia, Ezra meninggalkan mejanya. Ia menuju dapur, menyeduh secangkir kopi, lalu kembali ke mejanya.
Diseruputnya kopi tersebut pelan-pelan. Ia ingin menyegarkan otaknya sejenak. Ia abaikan dulu catatan-catatannya dengan menyandarkan punggung pada kursi sambil bersenandung kecil.
Pandangan Ezra tertambat kepada tumpukan rubik berbagai tipe. Ia sangat mengemari permainan tersebut. Kemampuannya menyelesaikan rubik-rubik itu bisa dikategorikan berada dalam level mahir. Ia bahkan pernah beberapa kali memenangkan kontes permainan tersebut.
Ezra buru-buru memalingkan pandangannya dari rubik-rubik tersebut. Ia tidak mau tergoda untuk memainkannya karena malam ini ia harus fokus pada penyelidikan. Besok ia sudah harus siap memberi analisa atas hasil temuannya siang tadi.
Ezra bangkit dari tempat tidur. Ia kembali ke mejanya. Dipelototinya kode-kode dari pesan Septi yang dikirimkan kepada Nadia.
Ezra mengambil pulpen lalu menuliskan sebuah pertanyaan: kenapa Septi mengirimkan kode kepada orang yang tidak bisa menangkap maksudnya?
Ezra mencoba menghubungkan kode-kode tersebut dengan menghilangnya Septi. Kode-kode itu dikirimkan Septi setelah empat bulan tidak memberi kabar kepada keluarganya.
Sebuah pertanyaan baru, mendarat di benak Ezra: kenapa Septi tidak mengirim kabar kepada orang tuanya? Sekalinya mengirim pesan kepada Nadia justru berisi kode-kode. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Septi?
Seorang anak yang merantau ke luar kampung, pastilah rindu kepada orang tuanya, begitu pikir Ezra. Berbagai cara dilakukan untuk mengobatinya, jika belum bisa pulang, paling tidak berkirim kabar, tapi Septi tidak melakukan itu.
Ezra curiga telah terjadi sesuatu dengan Septi sehingga tidak pernah memberi kabar kepada bapaknya sejak pergi dari rumah hingga sekarang. Jika kecurigaannya benar, misalnya Septi mengalami kecelakaan atau tersangkut masalah, seharusnya ada beritanya. Perusahaan akan memberi tahukannya kepada bapaknya. Namun selama dua tahun ini Septi justru tidak diketahui keberadaannya.
Menurut Pak Maman, Septi selalu menyimpan kertas yang sudah tidak terpakai. Beberapa kertas-kertas tersebut adalah bekas surat lamaran yang rencananya akan diajukan kepada dua perusahaan, yaitu PT. Anugerah Steel Persada yang beralamat di Jakarta dan PT. Eraneo yang beralamat di Semarang. Ezra yakin Septi hanya menulis lamaran kepada kedua perusahaan tersebut saja sebab jika ada lagi pasti bekasnya ditemukan.
Ezra menduga, Septi bekerja pada PT. Eraneo cabang Semarang karena menurut keterangan Pak Maman dan Nadia, gadis itu pamit akan bekerja di Semarang. Sedangkan profil perusahaan tersebut tidak bisa diketemukan pada mesin pencarian Google. Alamatnya juga palsu. Ezra menduga ada yang tidak beres dengan perusahaan tersebut karena menurutnya sangat aneh ada sebuah perusahaan berbentuk perseroan terbatas tidak bisa diketahui publik. Atas dasar itulah Ezra menduga hilangnya Septi berkaitan dengan perusahaan tersebut.
Tiba-tiba Ezra teringat kepada ucapan Nadia yang khawatir kalau-kalau Septi menjadi korban human trafficking alias korban perdagangan manusia. Biasanya korbannya dijebak, diperalat, disekap, dan tidak bisa pulang.
Setahu Ezra korban human trafficking biasanya berada di luar negeri. Mereka diperbudak di negara orang. Seandainya benar, Septi menjadi korban human tfafficking, ada kemungkinan gadis itu berada di luar negeri. Ezra ngeri membayangkan itu. Dalam hati ia berdoa semoga Septi tidak menjadi salah satu korbannya.
Ezra buru-buru menepis dugaan Septi menjadi korban trafficking. Ia ingin fokus untuk memecahkan kode-kode yang dikirimkan Septi kepada Nadia. Sementara ini hanya itu petunjuk yang bisa ia dalami.
Ponsel Ezra berdering. Alika meneleponmya.
"Ezra, kamu sudah ketemu sama Nadia?" tanya Alika.
"Sudah, Kak," jawab Ezra. "Maaf belum melapor."
"Nggak harus setiap saat lapor kali!" timpal Alika. "Aku menelepon cuman mau mastiin kamu sudah bertemu Nadia apa belum. Informasi yang kamu dapetin biar besok saja kita bahas. Sekarang aku juga baru nyampe rumah. Capek banget."
"Iya, Kak." Ezra paham kalau Alika sangat sibuk karena sedang menangangani dua kasus lain.
"Kamu ngajak Nadia jalan?" tanya Alika.
"Enggak, Kak."
"Kenapa?"
"Nadia sibuk, jadi kami ngobrol di teras kosan. Itu aja nggak ada satu jam."
"Yah, nggak bisa pedekate dong. Hehehe!"
"Apaan sih, Kak?" Ezra terkekeh.
"Besok, ke kantornya, kamu jemput aku dulu ya?"
"Oke, Kak."
"Sampai ketemu besok!"
"Oke."
Sebenarnya Ezra ingin membahas soal isi dua pesan Septi, tapi karena Alika kecapaian, ia harus menundanya sampai besok. Padahal ia sangat penasaran dengan kode-kode dalam pesan itu.
Dalam pemikiran Ezra, Alika kemungkinan bisa memecahkan kode-kode tersebut. Detektif cantik itu paling jago dalam bidang tersebut. Reputasinya dalam memecahkan kasus orang hilang juga tidak diragukan lagi.
Meskipun begitu, Ezra akan berusaha memecahkan kode-kode tersebut. Sekarang pukul 19:18 wib, masih terlalu sore baginya untuk tidur.
Ezra mengambil kertas dari atas meja. Ia menganalisa kode-kode itu sambil rebahan di atas kasur. Ia takjub pada setiap huruf yang diselingi spasi pada kode tersebut. Ia merasa tidak asing dengan pola tersebut. Ia mencoba mengingat-ingat namun meskipun sudah memeras otak tetap saja buntu.
Ezra mencoba menebak apa maksud dari frase 'layer putih', 'layer kuning', dan 'layer biru', tapi sama saja, jalan pikirannya buntu. Matanya mulai lelah. Ia pun meletakkan kertas ke atas sambil tetap rebahan. Tanpa sengaja tangannya menyenggol rubik kubus.
Seketika matanya berbinar. Hatinya melonjak gembira. Melihat kubus rubik itu membuatnya baru sadar kalau kemungkinan besar kode-kode yang Septi bikin itu diadaptasi dari algoritma rubik kubus.
Ezra bangkit dari tempat duduk. Ia mengambil kertas dari atas meja dan kembali menganalisa kode-kode tersebut.
Pada pesan pertama, Septi menuliskan '3x3x3'. Ezra menduga kalau itu adalah sebuah petunjuk bahwa kode yang digunakan diadaptasi dari algoritma rubik kubus 3x3x3. Untuk pemula biasanya langkah pertama menyelesaikan rubik adalah dengan menyamakan sisi warna putih. Ezra yakin istilah 'Layer putih' dimaksudkan sebagai langkah pertama.
"Langkah pertama dari mana dan menuju ke mana?" Ezra berkata sendiri sambil bertanya kepada diri sendiri. "Apakah dari rumah menuju ke suatu tempat?"
"Aha!" Ezra menduga kalau huruf-huruf yang diselingi spasi itu adalah rute perjalanan dari rumah Septi menuju ke suatu tempat. Jika dugaannya benar berarti Septi sedang mengarahkan langkah menggunakan petunjuk.
Dalam algoritma rubik, kode 'r' adalah gerakan memutar searah jarum jam sisi sebelah kanan. Ezra berpikir, mungkin itu petunjuk belok kanan. Sedangkan kode 'l' adalah kebalikannya.
Kode 'f' adalah gerakan memutar searah jarum jam untuk sisi depan. Ezra menduga itu petunjuk untuk jalan terus. Sedangkan kode 'u' ia duga sebagai petunjuk putar arah.
"Layer kuning biasanya adalah langkah terakhir dalam menyelesaikan permainan rubik," ujar Ezra. Ia menduga itu petunjuk lokasi terakhir. "Apakah yang dimaksudkan adalah tempat Septi bekerja?"
Ezra mengambil gelas kopi dari atas meja, lalu meneguknya sedikit. Hatinya membuncah hampir berhasil menyelesaikan analisanya. Ia tinggal mencari tahu apa maksud layer biru?
Ezra mengambil kertas kosong. Ia membuat denah perjalanan dari rumah septi ke suatu tempat berdasarkan petunjuk dari analisa yang ia buat untuk pesan pertama. Hasilnya mencengangkan, ia berhasil membuat sebuah rute.
Selanjutnya Ezra membuat denah dengan cara yang sama untuk pesan kedua. Ia tersenyum gembira, merasa yakin analisanya bisa memberinya petunjuk awal untuk menemukan keberadaan Septi.
Dua buah rute perjalanan telah Ezra bikin. Tiba-tiba ia punya ide untuk menyambungkan keduanya. Ia menduga rute pertama bermula dari rumah Septi menuju tempat kerja Septi dan rute kedua dari tempat kerja Septi kerja menuju sebuah tempat lain.