Sambil menunggu Alika, Ezra memutar musik. Sebuah lagu besutan Alan Walker yang tidak ia tahu judulnya, menghentak riang, memenuhi kabin mobil.
Alika biasanya sampai di kantor jam setengah delapan pagi. Ketika gadis itu minta dijemput tanpa memberitahukan jamnya, Ezra sudah sampai di rumah Alika jam tujuh kurang sebelas menit.
Menunggu biasanya sesuatu hal yang membosankan, tapi kali ini tidak buat Ezra. Ia menggunakan kesempatan ini untuk berpikir, mencari tahu apa motif Septi mengirimkan pesan berisi kode kepada Nadia? Semalam ia membuat dugaan awal kalau Septi menghilang setelah masuk ke perusahaan PT. Eraneo. Perusahaan tersebut diduga fiktif, sehingga kemungkinan Septi dalam masalah di sana..
Berdasarkan dugaan awal itu, Ezra mengembangkan dugaan baru, yaitu Septi meminta pertolongan. Gadis itu dalam ancaman atau berada dalam tekanan yang membuatnya tidak bisa atau tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan pihak luar. Karena itulah Septi mengirim pesan, meminta tolong kepada Nadia dengan mengirimkan kode-kode agar orang-orang perusahaan tidak tahu maksud pesannya.
"Malah bengong!" Alika tahu-tahu sudah membuka pintu mobil. Ia duduk di kursi, kemudian menutup kembali pintunya.
Ezra terkesiap. Ia cengar-cengir.
Alika meletakkan tas di atas dasbor. "Lagi ngelamunin Nadia ya?"
"Enggak." Ezra menyalakan mesin mobil.
"Iya juga nggak papa!"
Ezra terkekeh.
Alika menatap Ezra dengan sorot meledek. "Nadia cantik ya?"
"Astaga, Kak!" Ezra terkekeh.
Alika mengatur sandaran kursi agar ia bisa lebih rileks. "Aku pulang subuh masa?"
Ezra kaget. "Bukannya Kak Alika sudah pulang ke rumah semalam ya?"
"Jam sebelas ditelepon klien lagi!" ujar Alika. "Ia minta tolong agar aku mengantarnya ke lembaga perlindungan saksi."
"Itu yang kasus perselingkuhan ya?" tebak Ezra.
Alika mengangguk. "Setelah nggak bisa ngelak lagi karena ketahuan selingkuh, suaminya melakukan KDRT. Atas saranku ia mau melaporkannya ke polisi, tapi itu membuat suaminya semakin kalap. Semalam klien-ku diteror."
"Kok bisa sampai subuh?" tanya Ezra heran.
"Klien-ku shock berat. Mau nggak mau aku menemaninya sampai ia bisa tidur."
Ezra menjalankan mobilnya, meninggalkan halaman rumah Alika.
"Antar aku ke Simpanglima!" suruh Alika.
"Itu kasus teror misterius ya, Kak?" tebak Ezra.
"Iya, itu kasus paling melelahkan!" jawab Alika.
Ezra mengangguk, kagum kepada Alika. Detektif itu bisa menangani beberapa kasus sekaligus. Ezra membayangkan itu pasti sangat melelahkan.
Ezra mengurangi volume audio karena berpikir Alika membutuhkan ketenangan.
Alika protes. "Biarin aja, lagunya enak kok. Gedein lagi volumenya!"
Ezra menambah lagi volume audio. Ia melirik Alika yang sedang memejamkan mata.
Sebenarnya ia ingin segera melaporkan hasil tugasnya dan membahas soal pesan-pesan Septi, namun kesempatannya belum ada.
Ponsel Ezra berdering. Ia memasang handsfree ke telinga. Diliriknya layar, ternyata Nadia yang menelepon.
"Halo, Nad!" sapa Ezra.
"Dik, aku inget sesuatu tentang Septi."
Ezra bersemangat. "Apa itu?"
"Septi suka banget mainan rubik."
Ezra sudah tahu soal itu tapi ia merasa lebih baik mendengar kelanjutan ucapan Nadia.
"Aku pernah minta diajarin cara main rubik sama Septi," lanjut Nadia. "Nah, aku ingat dulu Septi pernah ngasih rumus-rumusnya. Kalau aku perhatikan kode-kode dalam pesan itu ada kemiripan sama rumus rubik."
"Iya, Sep, aku juga berpikir demikian," timpal Ezra. "Aku bahkan sudah menganalisanya."
"Wah, jalan pikiran kita sama dong. Hehehe."
Ezra tersenyum. Ia merasakan nada bicara Nadia berubah signifikan. Sekarang lebih terdengar akrab.
"Syukurlah kalau kamu sudah menganalisanya. Jujur aku penasaran."
"Analisa itu masih harus diuji sih," ujar Ezra. "Aku juga belum membahasanya sama atasanku."
"Semoga analisa kamu tepat," ucap Nadia berharap. "Aku pengen sekali Septi diketemukan."
"Doakan saja, Nad."
"Selalu!"
"Iya, doa seorang sahabat dan keluarga itu sangat penting."
"Iya."
"Kamu lagi kerja ya?"
"Iya."
"Ya sudah lanjutkan," ujar Nadia. "Aku juga lagi otw ke kampung."
"Semoga selamat sampai tujuan. Makasih atas infonya ya, Nad?" ucap Ezra. "Kalau ada sesuatu yang penting soal Septi kamu bisa menghubungiku kapan saja."
"Siap! Hehehe."
Ezra melepas handsfree dari telinga. Ia meletakannya di atas. dasbor.
"Siapa?"
"Nadia." Ezra melirik Alika yang sedang membetulkan posisi duduknya. Ia tidak tahu sejak kapan detektif itu terbangun.
Alika tersenyum meledek. "Cewek kalau menelepon duluan, kalau bukan mau nagih utang biasanya tertarik!"
Ezra terkekeh. Ia enggan mengomentari ucapan Alika.
"Kamu nggak punya hutang sama Nadia kan?" Alika semakin bersemangat meledek Ezra.
"Enggaklah. Masa baru kenal sudah hutang?"
"Kalau begitu berarti bener!"
Ezra mengernyit. "Bener apa, Kak?"
"Nadia tertarik sama kamu."
Ezra tertawa lebar. "Kak Alika ada-ada saja!"
Alika terus meledek Ezra. "Aku serius. Aku bilang begitu karena aku ini cewek."
Ezra diam. Ia tahu Alika sedang meledeknya. Kalau ia meladeninya, urusannya akan panjang.
"Nadia cantik kan?" Alika mendekatkan wajah ke arah Ezra.
Ezra tersenyum. "Astaga, Kak. Aku nggak mau dulu mikirin begituan?"
Alika mengernyit. "Begituan gimana maksudnya? Nggak jelas banget dah. Aku kan cuman nanya, Nadia cantik apa enggak?"
Ezra memilih bungkam. Ia sadar, Alika selalu menang kalau adu argumen.
"Kamu mau menjawabnya, silakan. Enggak juga nggak papa," ujar Alika.
Tujuan Alika meledek Ezra sebenarnya untuk menguji seberapa profesional anak itu. Bukannya ia ingin mencampuri kehidupan pribadi Ezra, ia hanya ingin anak itu fokus pada tugasnya.
"Aku pengen menjawabnya sih, Kak," ujar Ezra, "tapi sayangnya aku nggak tahu harus menjawab apa."
"Tinggal jawab iya atau enggak apa susahnya, sih?" Alika pura-pura menggerutu.
"Nah, itu masalahnya!" ujar Ezra diplomatis.
"Maksudnya?"
Ezra melirik Alika. "Aku ngobrol sama Nadia tapi nggak begitu memperhatikan wajahnya, jadi aku nggak bisa menilai apakah ia cantik atau enggak."
Alika terkekeh. "Kita nggak perlu memperhatikannya secara seksama untuk menilai seseorang cantik atau enggak. Menatap sekilas saja otak kita sudah langsung bekerja dalam hitungan sepersekian detik dan menilainya."
Ezra merasa terpojokan sejak tadi. Ia harus keluar dari situasi ini karena itu membuatnya tidak nyaman. "Saya tahu, Kak, untuk menilai seseorang cantik atau enggak, kita nggak perlu melakukan penyelidikan, mengumpulkan informasi, mengolah data, menganalisanya, kemudian menyimpulkan. Hanya saja ketika bersama Nadia, aku memang lebih fokus sama topik ketimbang memandang wajahnya."
Alika berlagak mendengus. "Aku curiga jangan-jangan kamu bukan lelaki normal."
Spontan Ezra tertawa. Ia memilih mengunci rapat bibirnya, menyanggah Alika hanya akan membuatnya terjebak pada obrolan yang tidak menarik buatnya.
"Kalau seumpama Nadia menyukaimu bagaimana?" pancing Alika.
Ezra mengedikkan bahu. "Ya itu hak Nadia. Kalau aku sih nggak mau mikirin hal begituan."
Alika menggeser pantatnya agar bisa leluasa menghadap Ezra. "Kamu akan mengabaikannya begitu saja?"
Ezra mengangguk mantap. "Iya."
"Serius?"
"Iya."
"Baguslah!" Alika merasa lega karena Ezra tampaknya bekerja secara profesional. "Lagian memang nggak penting membahas begituan. Aku tadi cuman ngetes kamu saja."
Ezra tersenyum geli. "Aku sebenarnya ingin membahas soal pesan-pesan yang Septi kirimkan kepada Nadia, tapi sepertinya kakak sedang butuh istirahat."
Alika mengangguk. "Iya memang. Nanti saja membahas itu. Aku butuh konsentrasi tingkat tinggi buat memecahkan kasus teror klien-ku yang di Simpanglima."
"Iya, Kak." Ezra memahami Alika. "Sebentar lagi sampai, Kak."
"Nanti turunkan aku di depan toko buku langgananku saja ya?" pinta Alika. "Aku janjian sama klien di sana."
"Iya, Kak."
"Apa rencanamu hari ini?"
"Aku mau ke kantor."
"Ngapain?"
"Standbye di sana."
Alika menoleh. "Kamu sedang menjadi asisten detektif, bukan office boy. Jadi kamu lanjutkan saja penyelidikan kasus Septi."
"Oke," sahut Ezra. "Karena aku bekerja dalam pengawasan dan bimbingan kakak, maka aku minta arahannya."
Alika berpikir sejenak. "Kamu sudah menganalisa isi pesannya?"
"Sudah, Kak."
"Kamu bikin file khusus buat kasus itu. Aku nggak perlu mengajarinya lagi, kamu sudah tahu." Alika menatap Ezra serius. "Kamu uji analisa yang sudah kamu buat. Aku memberimu kebebasan buat berkembang. Kalau ada kesulitan jangan ragu hubungi aku."
Ezra merasa senang diberi kesempatan baik ini, namun tiba-tiba ia merasa khawatir. "Tapi kalau Pak Jacky tahu, kita bisa kena masalah."
"Jangan sampai Pak Jacky tahu!" tegas Ezra. "Bukannya aku nggak mengindahkan pesan beliau, tapi aku pikir kamu harus berkembang. Aku percaya kamu bisa. Sehingga jangan sia-siakan kesempatan ini. Jangan salah gunakan kepercayaanku. Paham?"
Ezra mengangguk. "Paham, Kak!"
"Bagus!"
***
Selepas mengantar Alika, Ezra langsung menuju kampungnya Pak Maman. Ia bukan ingin bertemu bapaknya Septi, tapi untuk menguji analisa yang telah ia bikin, seperti yang tadi diperintahkan Alika.
Ezra berhenti di pinggir jalan, persis di depan rumah Pak Maman. Dalam keadaan mesin masih menyala, ia membuka catatan hasil analisanya.
Catatan itu berisi tentang rute perjalanan dari rumah Pak Maman menuju suatu tempat yang ia beri nama X dan rute perjalanan dari X menuju suatu tempat yang ia beri nama Y. Rencananya ia akan menelusuri kedua rute tersebut. Sebelum memulai ia harus menghafal rutenya karena ia tidak bisa menyetir mobil sambil membaca catatan.
Ezra menghafal sambil mengarahkan pandangan ke depan. Tiba-tiba ia melihat sesosok gadis yang tidak asing baginya. Gadis itu sedang menuju ke arahnya sambil menenteng kantung kresek.
"Nadia?" Ezra yakin itu Nadia karena tadi gadis itu memberitahu kepadanya sedang pulang kampung.
Ketika Nadia sampai di dekat mobilnya, Ezra membuka pintu.
"Nadia?"
Selama satu detik wajah Nadia menampakkan keterkejutan, kemudian tersenyum. "Ezra, kamu di sini?"
"Iya, aku mau menguji analisaku," jawab Ezra. "Kamu dari mana?"
Nadia menunjukkan kantung kresek di tangan. "Baru dari warung, beli kopi buat bapak."
"Rumah kamu di sebelah mana?" Ezra mengedarkan pandangan ke sebelah kanan dan kiri rumah Pak Maman.
Nadia menunjuk ke arah sebelah kanan rumah Pak Maman. "Itu yang catnya warna biru langit."
"Sebelahan persis sama Pak Maman ya?"
Nadia mengangguk. "Empat rumah yang berderet itu masih famili semua. Mau mampir?"
Buru-buru Ezra menggeleng. "Makasih, Nad. Aku harus kerja."
Nadia tersenyum paham. "Iya, nggak papa."
Ezra melirik arloji pada pergelangan tanganmya. Sekarang pukul 09:19 wib.
"Dari rumah Pak Maman?" tanya Nadia.
"Enggak," sanggah Ezra. "Aku mau menelusuri rute. Mulainya dari sini."
Mata Nadia berbinar. "Ini ada kaitannya sama kasus Septi kan?"
"Iya."
Nadia tersenyum penuh arti. "Boleh aku ikut?"
Ezra mengerjap. Ia tidak bisa melibatkan orang lain dalam penyelidikannya. Ia menolaknya secara halus. "Nanti kamu jadi susah. Kamu kan barusan sampai kampung."
Nadia menggeleng. "Enggak kok. Kali aja aku bisa bantu. Aku kan hafal daerah ini."
Ezra menyesal tadi tidak tegas menolaknya. Sekarang ia kelabakan sendiri.
"Pliiss!" Ekspresi Nadia seperti anak kecil yang sedang merengek agar diberi uang sama ibunya.
Ezra pikir tidak ada salahnya mengajak Nadia. Juga atas pertimbangan gadis itu hafal daerah sini, maka ia mengangguk.
"Boleh?" Nadia merasa senang.
"Iya, tapi kamu harus pamitan dulu sama oang tuamu."
"Beres!" Nadia melonjak girang. "Aku pamitan dulu ya?"
Ezra mengangguk.
Nadia sangat bersemangat untuk ikut membantu Ezra. Setengah berlari ia masuk rumah. Tidak berselang lama, ia kembali kepada Ezra.
"Masuk, Nad!" Ezra memasuki mobil.
Nadia ikut masuk ke mobil. Ia duduk di jok depan kiri.