Alika Kenapa?

545 Kata
Wajah Alika tanpa senyum sama sekali ketika Ezra datang. Gadis itu tidak mengucapkan kata sehuruf pun ketika masuk ke mobil. Ekspresinya tegang. Ezra tidak berani berspekulasi, gerangan apa yang tengah terjadi pada Alika. Ia hanya harus bersikap seolah dirinya biasa-biasa saja, meskipun sebenarnya ia sangat kaget. Sejak mengenal Alika, baru kali ini Ezra melihat wajah gadis itu tampak menyeramkan. Gadis itu biasanya berwajah ceria. Dalam situasi sedang marah saja kadang masih bisa tersenyum. Namun kali ini pemandangan itu hilang. "Kenapa bengong?" tegur Alika. Ezra tersenyum. "Kakak mau dianterin ke mana?" "Jalan aja dulu!" Alika mengebakan sabuk pengaman. Ezra mengangguk. Ia menjalankan mobil sambil berpikir harus menuju ke mana. Yang ada dalam benaknya hanya menuju rumah Alika. Ia berpikir gadis itu butuh istirahat. Sepanjang jalan, Alika diam saja. Kepalanya menyandar pada jok. Sejak tadi belum menengok ke kanan atau ke kiri. Ia menatap lurus ke depan dengan sorot nanar.. Ezra menjadi khawatir. Ia harus melakukan sesuatu. "Kakak baik-baik saja?" Alika mengangguk tanpa menoleh kepada Ezra. "Kakak tampak lelah," ujar Ezra. "Aku antar pulang ke rumah ya?" Kembali Alika mengangguk. Ezra mempercepat laju mobilnya. Ia ingin segera mengantarkan Alika ke rumahnya. Sampai di rumah Alika, gadis itu tampak lemas. Ezra berinisiatif membantu Alika keluar dari mobil. Alika menolak halus. "Nggak usah. Aku bisa keluar sendiri." Ia berjalan sempoyongan, mirip orang mabuk. Ezra mengekor Alika, memastikan gadis itu mampu berjalan hingga sampai rumahnya. Alika membuka pintu rumah. Ia menoleh kepada Ezra. "Mobilnya kamu bawa aja!" Bukannya Ezra tidak mau menuruti perintah Alika, tapi ia merasa risih, setiap hari membawa pulang mobil yang bukan miliknya. Ia tidak punya garasi, sehingga terpaksa memarkirkannya di depan rumah. "Kamu nggak mau?" Alika menatap tajam kepada Ezra. "Mau, Kak!" ujar Ezra, terpaksa. Alika masuk ke rumah. Ezra menatap pintu rumah Alika yang daunnya masih terbuka karena Alika tidak menutupnya. Ia penasaran sekaligus prihatin kepada kondisi kesehatan Alika. Ezra kembali ke mobilnya. Ia belum tahu harus ke mana. Ia menjadi asisten detektif dan bekerja sesuai arahan Alika. Sementara Alika sedang tidak bisa fokus. Ia bisa saja bekerja dengan inisiatif sendiri, tapi itu melanggar peringatan Jacky. Situasi ini membuatnya serba salah. Ezra ingin ke kantor saja, tapi di sana tidak ada yang bisa ia kerjakan. Kalau bekerja sebagai office boy lagi seperti sebelumnya, maka percuma saja ia menjadi asisten detektif. 'Apa yang terjadi dengan Kak Alika ya?" gumamnya, bertanya-tanya dalam hati. Tadi pagi Ezra mengantarkan Alika ke Simpanglima dalam keadaan sehat meskipun tampak mengantuk dan lelah. Ia lalu meninggalkannya selama beberapa jam saja, tiba-tiba gadis itu marah-marah dan memintanya untuk menjemputnya. Ezra menjemput Alika dalam keadaan gadis itu tampak kacau. Maka itu ia segera mengantarkannya pulang ke rumah. Ponsel Ezra berdering. Jacky menelepon. Ia segera menjawabnya. "Ezra, kamu sama Alika?" tanya Jacky cemas. "Iya, Pak." "Bisa saya bicara sama Alika?" "Mmhh, Kak Alika barusan masuk rumah. Kelihatannya sedang tidak fit." "Saya coba meneleponnya tapi nggak aktif. Makanya saya menelepon kamu." "Begitu ya, Pak?" "Sekarang kamu di mana?" "Masih di depan rumah Kak Alika, Pak." "Ya sudah, kamu istirahat saja di rumah," suruh Jacky. "Iya, Pak," sahut Ezra. "Saya kok menjadi penasaran dengan apa yang sedang terjadi dengan Kak Alika." "Sudah, jangan berpikir yang enggak-enggak!" tegur Jacky. "Kamu jaga diri saja baik-baik." "Iya, Pak." Panggilan telepon berakhir. Ezra semakin penasaran. Ia curiga, Jacky menutupi sesuatu darinya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN