Mulai Dari Depan Rumah

1654 Kata
Karena Ezra telah diberi kesempatan untuk berkembang dan diberi kepercayaan untuk menguji analisa yang telah ia buat, maka ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Setelah pengujian pertama mengalami kebuntuan, Ezra mencari tahu sebabnya. Ia punya keyakinan kuat kalau rute yang ia buat benar, sehingga ia menduga kesalahan berada pada start-nya. Kemarin ia memulai dari jalan raya, padahal ada kemungkinan Septi menuliskan mulai rutenya sejak dari depan rumah. Ezra akan menguji sekali lagi rute tersebut. Ia pun kembali ke rumah Pak Maman. Ezra memarkirkan mobil persis di depan rumah Pak Maman. Sebelum kembali menguji rute yang telah ia susun, ia menghafalnya dulu. Meskipun nanti ia tidak hafal seluruhnya, paling tidak ia harus melirik catatan setiap kali ada persimpangan. Keberadaan mobil Ezra mengundang perhatian Pak Maman. Lelaki itu masih mengenali mobil itu karena pernah dibawa Alika dan Ezra ketika mengunjunginya dua hari lalu. Pak Maman mendekati mobil. Kedatangannya membuat Ezra keluar dari mobil. Ezra menyalami Pak Maman. "Pak Maman?" Pak Maman tersenyum gembira, mengira Ezra ada keperluan dengannya. "Silakan masuk, Mas Ezra." Ezra tersenyum bimbang. Kedatangannya ke sini bukan untuk bertemu Pak Maman. Kalau ia mampir, waktunya akan terbuang. "Kita ngopi-ngopi dulu." Pak Maman terkekeh. "Kemarin kan saya lupa nggak menyajikan minum." Ezra terkekeh. "Wah, terima kasih, Pak. Saya ke sini sebenarnya untuk menguji sebuah rute. Mulainya dari sini." Pak Maman mengangguk-angguk, antara paham dan bingung. "Oh pantesan kemarin Nadia cerita sama saya, katanya ikut Mas Ezra menelusuri rute Septi." Ezra garuk-garuk kepala. Ia khawatir ucapan Nadia kepada Pak Maman membuat lelaki itu salah persepsi. "Sebenarnya belum bisa disebut sebagai rute Septi, Pak. Ini baru dugaan dari analisa yang saya buat." Pak Maman bingung, meskipun begitu ia sangat gembira karena berarti ada usaha untuk mencari petunjuk. Tadi siang Nadia diperkenankan ikut menguji rute. Itu membuat Pak Maman pun ingin ikut juga. Apalagi ia merasa lebih berhak ketimbang Nadia karena ia bapaknya Septi. "Maaf, apa saya boleh ikut?" Pak Maman berharap. Ezra bingung harus mrnjawab apa. Jika menolak, maka ia akan merasa tidak enak hati kepada Pak Maman, terpaksa ia mengangguk. Wajah Pak Maman semringah. "Beneran boleh, Mas?" "Boleh, Pak." Ezra mendesah tertahan. Saat Ezra sedang menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menolak, tahu-tahu Pak Maman sudah masuk ke mobil. Mau tidak mau, ia harus membiarkan Pak Maman ikut. Ia pun segera masuk ke mobil. Agar Pak Maman tidak kecewa jika rute yang akan ia uji mengalami kebuntuan, maka Ezra harus menjelaskannya kepada lelaki itu. "Jadi begini, Pak Maman." Ezra mencari diksi yang tepat agar penjelasannya bisa dipahami Pak Maman. "Saya sudah membaca dua pesan yang Septi kirimkan kepada Nadia. Isi pesan-pesan itu berisi semacam kode." Pak Maman mendengarkan dengan seksama. "Saya telah menganalisanya. Kode-kode itu mirip dengan algoritma ... maksud saya rumus rubik yang biasa dimainkan Septi." Ezra menarik napas. Tadi ia hampir saja membuat bingung Pak Maman dengan menyebut kata 'algoritma', untung ia segera menggantinya dengan kata yang mudah dipahami. "Kemudian saya mencoba menerjemahkan kode-kode tersebut ke dalam sebuah petunjuk lalu lintas. Saya menduga Septi sedang memberi petunjuk perjalanannya dari rumah menuju suatu tempat." Wajah Pak Maman semakin semringah. Hatinya membuncah, berharap rute yang dibuat Ezra akan segera mengarahkannya ke tempat Septi berada. "Rute yang saya buat baru sebatas teori ... maksud saya baru sebatas usaha awal. Rute itu bisa saja salah karena sangat mungkin saya salah dalam menerjemahkan kode-kode itu." Ezra ingin agar Pak Maman tidak terlalu berharap banyak dulu. "Oleh karena itulah saya harus mengujinya. Tadi saya sudah mengujinya bersama Nadia dan mengalami kebuntuan." Pak Maman mengangguk paham. Meskipun ia sangat berharap tapi ia sudah siap seandainya usaha Ezra kali ini belum membuahkan hasil. "Ini usaha saya yang kedua. Kemungkinan mengalami kebuntuan sangat terbuka. Maka itulah saya meminta Pak Maman agar jangan dulu berharap banyak." Pak Maman mengangguk. "Iya, Mas Ezra. Saya paham." "Jika nanti ternyata rute yang saya buat salah, maka saya akan mencoba menganalisanya lagi. Itu artinya saya akan memulainya lagi dari awal." "Iya." Pak Maman tersenyum, membesarkan hati. Ezra tersenyum, menguatkan hati Pak Maman. "Mari kita mulai, Pak!" "Mari!" timpal Pak Maman bersemangat. Ezra meletakkan catatan ke atas dasbor dengan cara memberdirikannya agar ia bisa membacanya saat ia lupa nanti. Ezra menyalakan mesin. Ia mengatretkan mobil hingga posisinya membelakangi rumah Pak Maman. Pak Maman bingung. "Kenapa malah mundur, Mas?" Ezra tersenyum. "Tadi siang, saya memulai dari jalan raya dan mengalami kebuntuan. Sekarang saya akan memulainya dari depan rumah Pak Maman." Pak Maman mengangguk, meskipun tidak paham. Ia hanya berharap kali ini tidak mengalami kebuntuan. Kertas catatan di atas dasbor miring. Ezra membetulkannya. Pak Maman melirik kertas catatan tersebut. "Biar saya bantu memeganginya, Mas!" Ezra mengerjap. "Nanti merepotkan bapak!" Pak Maman menggeleng. "Cuman megangin saja, nggak merepotkan. Kalau diminta untuk bantu membacakannya, saya bisa kok, Mas." Ezra termenung, tidak ada salahnya ia menerima tawaran bantuan Pak Maman. "Baiklah, kalau memang enggak merepotkan, saya mau minta tolong bapak untuk membacakannya." Pak Maman mengambil kertas catatan dari atas dasbor. "Jadi apa yang harus saya lakukan?" "Bapak fokus ke depan. Kalau ada persimpangan, bapak bacakan petunjuk yang tertera pada catatan itu, apakah belok kanan, belok kiri, jalan terus, atau putar arah." Ezra memberi pengarahan. "Saya harap bapak tidak salah baca dan melewatkan urutannya." Pak Maman mengangguk. "Kalau' jalan terus' itu pas kapan?" "Jalan terus itu ketika jalan yang kita lalui tidak melewati persimpangan sampai menemukan persimpangan." Pak Maman tersenyum gembira, terlibat dalam peyelidikan detektif. "Bapak siap?" Ezra memindahkan perseneleng ke gigi 1. Ia melepas rem tangan. "Bapak boleh membacakannya sejak dari sekarang." "Belok kanan?" Pak Maman membacanya dengan ragu. Ezra memasuki jalan raya dengan berbelok kanan. "Selanjutnya apa, Pak?" "Terus!" Kali ini Pak Maman membacanya dengan lantang. Ezra menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Ia melirik Pak Maman. Pak Maman balas melirik. "Belok kiri!" Ezra berbelok kiri. Ia tersenyum karena jalannya tidak buntu. "Tadi siang bersama Nadia, di perempatan itu, kami belok ke kanan." "Itu kan gang buntu, Mas!" beritahu Pak Maman. "Iya, makanya tadi kami tidak melanjutkannya," timpal Ezra. "Sekarang ke mana, Pak?" "Belok kanan, Mas!" jawab Pak Maman. Ezra berbelok ke kanan. Di depannya ada sebuah angkot sedang menurunkan penumpang. Ia pun berhenti. Ia bisa saja mengambil lajur sebelahnya tapi ia tidak ingin buru-buru. "Terus saja!" ujar Pak Maman, memberi petunjuk sesuai catatan. "Tunggu angkot jalan, Pak!" timpal Ezra. Angkot kembali melanjutkan perjalanan. Ezra punya ide untuk terus berada di belakang angkot. Ia menduga kalau rute yang ia buat akan sama dengan rute angkot karena logikanya rute itu lazim dilalui kendaraan yang menuju ke kota. "Waktu pamit ke Semarang, Septi naik kendaraan apa, Pak?" tanya Ezra memastikan. "Naik angkot," jawab Pak Maman. Ezra tersenyum. Dalam hati ia bersorak. Jika rute yang ia buat sama dengan rute trayek angkot, maka ada kemungkinan analisanya benar. "Sekarang belok kiri, Mas." Ezra melambatkan lajunya karena angkot di depannya berhenti. "Angkot kalau menurunkan penumpang sembarangan!" gerutu Pak Maman kesal. "Sudah tahu di tikungan, malah berhenti. Harusnya kan belok dulu, biar nggak mengganggu kendaraan lain." Ezra tersenyum saja. Ia tidak merespon gerutuan Pak Maman. Ia sedang merasa senang karena sejauh ini rute yang ia buat sesuai dengan rute trayek angkot. Begitu angkot berbelok kiri, Ezra ikut berbelok kiri. Ia terus menjaga jarak dengan angkot. "Sekarang ke mana, Pak?" tanya Ezra. Ia yakin Pak Maman akan memberi petunjuk belok kanan seperti angkot di depan yang baru saja berbelok ke arah kanan. "Belok kanan!" jawab Pak Maman. "Yess!" ucap Ezra, girang. Ia melirik spion dan menyalakan sein kanan. Mobil Ezra berbelok ke kanan, terus menjaga jarak dengan angkot. "Belok kiri!" beritahu Pak Maman. Ezra paham daerah ini. Belasan meter di depan adalah sebuah jalan raya besar. Ada traffict light yang sedang menyala hijau. Di bawahnya ada sebuah papan bertuliskan 'Belok Kiri Terus Jalan'. Pelan-pelan ia berbelok kiri sambil matanya mengawasi arah dari kanan. Sekarang Ezra berada di jalan raya yang sangat ramai dengan berbagai macam jenis kendaraan, dari mulai sepeda motor sampai truk-truk besar. Ezra semakin bersemangat karena hingga beberapa persimpangan setelahnya, rute yang ia buat sesuai dengan rute trayek angkot yang melewati rumah Pak Maman. Ia sangat optimis rutenya akan berakhir ke sebuah tempat yang Septi beri kode sebagai 'Layer Kuning'. Perjalanan Ezra masih panjang. Masih banyak petunjuk yang belum Pak Maman baca. Hingga di sebuah ruas jalan, sedang ada operasi polisi. "Astaga!" Ezra baru ingat kalau ia tidak membawa STNK. Alika hanya memberikan kunci mobil tanpa memberinya STNK. Sekarang ia mengutuk dirinya sendiri, kenapa surat penting tidak ia tanyakan kepada Alika? "Kenapa, Mas Ezra?" Ezra tersenyum agar Pak Maman tidak panik. Sambil terus menjalankan mobil yang jalanannya sedang merayap, ia memasang handsfree ke telinga, lalu menelepon Alika. Sial! Nomor Alika tidak aktif. Ia terus menghubungi nomor tersebut tapi hasilnya sama saja, panggilan teleponnya tidak terhubung. Seorang petugas polisi menghentikan laju mobil Ezra. Terpaksa ia pun berhenti. "Selamat sore, Pak?" sapa petugas polisi ramah. "Tolong tunjukkan SIM, STNK, dan KTP bapak!' Ezra berusaha tenang. "KTP juga ya, Pak?" "Benar, Pak, ini operasi gabungan, bukan hanya pemeriksaan surat-surat kelengkapan berkendara tapi juga pemeriksaab KTP." Petugas polisi menjelaskan. "Jadi semua yang ada di dalam kendaraan bapak, harap menunjukkan KTP. Bapak sebagai pengemudi harap menunjukkan SIM dan STNK juga." Pak Maman gerak cepat. Ia menunjukkan KTP-nya. Setelah diperiksa, petugas polisi mengembalikannya. Ezra membuka dompet. Ia hanya bisa mengambil KTP dan SIM saja. Ia menyerahkannya kepada petugas polisi. Petugas polisi memeriksa KTP dan SIM Ezra. "STNK-nya mana, Pak?" Ezra menelan ludah. "Maaf, Pak, STNK-nya ketinggalan." Petugas polisi tersenyum. "Kalau begitu bapak menepi dulu!" Dengan hati berdebar, Ezra menepikan mobil sesuai arahan petugas. Ia dan Pak Maman disuruh turun. "Kenapa bisa ketinggalan, Pak?" tanya polisi menyelidiki. Ezra cengar-cengir. "Mobil ini pinjaman, Pak. Saya lupa tidak meminta STNK-nya sekalian." "Tapi bapak yakin kalau mobil yang bapak bawa memiliki STNK?" Ezra mengangguk. "Iya, Pak." Petugas polisi bijak. "Kalau begitu saya beri kesempatan bapak untuk mengambil STNK. Sampai bapak kembali ke sini, SIM bapak saya pegang dulu. Mobilnya biar di sini saja. Kalau nanti bapak tidak bisa menunjukkan STNK, saya akan memberikan surat tilang." Ezra mendesah pelan. Terbayang betapa repotnya ia harus ke rumah Alika hanya untuk mengambil STNK. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN